
Cklek
"Assalamualaikum.."
Suara Rio menggema diruang depan apartemennya. Keningnya berkerut saat dia tidak mendapati sambutan istrinya yang setiap hari menunggunya pulang.
Setelah menutup kembali pintu apartemen dan menguncinya, Rio melangkahkan kakinya menuju ruang TV. Senyuman langsung terbit diwajah tampannya saat dia melihat sang istri yang sedang duduk disana dengan tangan yang menyangga dagunya.
Namun dahinya kembali mengerut ketika sadar Pipit sedang melamun dan keningnya semakin berkerut ketika diatas meja begitu banyak paperback yang tergeletak disana.
"Assalamualaikum.." Sapanya kembali dan itu sukses membuat lamunan gadis itu buyar.
Pipit terkejut saat melihat sosok suaminya yang sudah berada didepannya, pasalnya dia sendiri tidak mendengar suara pria itu pulang.
"Sudah pulang ? Kok aku tidak mendengar suaramu sih." Tanyanya dengan kening berkerut.
Rio terkekeh, dia memposisikan tubuhnya duduk disamping istrinya, menepuk gemas ujung kepala Pipit kemudian mengendurkan dasinya yang terasa agak kencang.
"Bagaimana kamu bisa dengar jika istri mas ini asik dengan lamunannya." Goda Rio sembari melirik wajah Pipit yang bersemu merah, dia memang sengaja memanggil dirinya sendiri dengan sebutan mas, supaya istrinya itu terbiasa dengan panggilan itu.
"Abis borong yank, kayaknya banyak banget nih." Tanyanya menyelidik, bukannya curiga pasalnya dia tahu jika istrinya itu bukan tipe perempuan yang suka belanja, apalagi dengan barang barang branded itu, sekali lirik saja Rio sudah tahu jika barang barang itu adalah barang mahal.
"Itu..." Ingin menjawab jujur tapi ragu, dia menimang, takut kalau yang dia katakan nanti bisa membuat Rio tersinggung atau marah.
"Dari abang Fa ?" Tebak Rio, pria itu juga harus terbiasa memanggil rivalnya itu dengan sebutan abang, bagaimanapun Dhafa memang kakak iparnya sekarang.
"Hehehe..iya." Cengirnya. " Kamu marah ya."
Rio menoleh dan menatap tajam wajah Pipit membuat gadis itu susah menelan salivanya.
"Jelas marah lah." Jawabnya singkat membuat gadis itu lagi merasa dag dig dug.
Dia marah ? Beneran marah ? Ya Allah harusnya aku tadi menolak saja pas abang Fa mengajakku berbelanja, eh tapi kan abang Fa yang memaksaku tadi.
"Maaf." Cicitnya lirih.
__ADS_1
Rio kembali menatap Pipit, tapi kini dengan pandangan mata heran.
"Kenapa minta maaf ?"
"Maaf karena sudah menerima pemberian dari abang Fa."
"Ya memang seharusnya begitu yank, kamu harus meminta maaf padaku." Sejenak dia menghentikan ucapannya melirik kearah Pipit yang sedang tertunduk, dalam hati pria itu ingin tertawa. " Aku marah karena kamu itu cuma minta dibelanjain segini."
"Hah..maksudnya gimana." Tanyanya dengan ekspresi bingung.
"Astaga, kamu itu harusnya minta lebih yank, masa iya cuma minta segini aja. Harusnya kamu itu sekalian minta seluruh isi Mallnya kalau perlu nih tambahin beli mobil sport, rumah, atau kalau perlu suruh si Abang Fa mu itu bikinin Mall khusus untukmu."
Duar
Bagai tersambar petir, gadis itu seakan jantungnya lepas seketika. Dia melongo dengan mulut yang terbuka.
Ini kenapa laki gue jadi matrenya kebangetan gini.
"Kenapa bengong ?" Tanya Rio.
"Kamu kenapa mendadak jadi matre begini, udah kayak perempuan saja."
Pipit memegang keningnya yang mendadak pusing, suaminya mendadak berubah cerewet menjadi emak emak yang kurang diberikan jatah belanja hariannya oleh suaminya.
"Kamu mendadak kenapa jadi cerewet kayak emak emak sih." Sungutnya kesal. "Boro boro minta dibikinin Mall, aku sendiri aja bingung ini barang mau diapain. Mending dijual lagi aja ya, trus uangnya didonasiin tu buat orang orang yang tidak mampu, kan lumayan dapet pahala." Imbuhnya.
Rio tersenyum dibalik wajah tengilnya, dia begitu bersyukur mempunyai istri sebaik Pipit. Walaupun diluarnya gadis itu terlihat selengekan, tapi sebenarnya Pipit adalah sosok gadis yang lembut dan perduli sesama.
"Mas bercanda, apapun itu yang penting kamu bahagia, tapi lebih baik kamu pakai saja pemberian dari abang kamu, mas yakin dia akan merasa bahagia karena pemberiannya dipakai oleh adiknya. Mas bangga dan bersyukur, pada akhirnya kalian berdua sudah akur dan mulai menerima kembali satu sama lainnya."
Pipit memandang haru suaminya yang terlihat dewasa dan bijak. Dengan cepat dia menghambur kepelukan Rio, dan disambut oleh kecupan singkat dikeningnya.
"Tapi ingat ini pertama dan terakhir kamu menerima pemberian simuka es itu. Selebihnya kamu harus meminta ijin suamimu ini jika ingin menerima pemberian darinya dalam bentuk apapun. Suamimu ini masih mampu untuk memberimu nafkah, bahkan untuk membuatkanmu Mall pun aku masih bisa." Ucapnya dengan nada sombong tapi lebih terkesan keposesif.
Pipit menatap jengah pria didekatnya ini, sikap posesifnya mulai keluar.
__ADS_1
Kumat.
"Kamu mau mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, setelah itu ayo kita makan, aku sudah lapar." Ajaknya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Rio menganggukkan kepalanya kemudian bangkit menuju kamarnya dengan diikuti oleh Pipit dari belakang. Melangkah menuju kamar mandi namun saat sampai didepan pintu mendadak pria itu berhenti dan menoleh kebelakang.
"Yank.." Panggilnya dengan senyuman menyeringai.
"Hmm." Jawab Pipit lalu memandang wajah Rio dengan tatapan heran.
"Mau mandi bareng nggak."
Blush
Seketika wajahnya memerah dan panas, bagaimana bisa pria itu menggodanya dengan mimik santainya itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Pipit langsung keluar dari kamar Rio dengan jantung yang sudah berdetak kencang seakan mau melompat keluar.
"Dasar suami tampan kurang belaian kasih sayang, kukutuk supaya makin tampan nanti." Umpatnya kesal, namun sedetik kemudian dia terkikik geli saat sadar akan umpatannya barusan. Bagaimana bisa dia mengutuk suaminya itu supaya lebih tampan.
Sementara disana, didalam kamar mandi lebih tepatnya, Rio tertawa terbahak bahak. Bahkan perutnya sampai terasa kaku dan sakit. Membayangkan wajah istrinya yang memerah karena malu dengan ucapannya tadi. Rasanya dia begitu bahagia menggoda istrinya itu.
"Baru aku goda begitu saja dia sudah malu setengah mati, bagaimana kalu aku menggodanya lebih. Bisa bisa dia pingsan lagi. Kenapa dia bisa begitu menggemaskan sekali sih, rasanya aku tidak sabar untuk segera memakannya." Kikiknya lagi.
Rio segera menuntaskan acara mandinya, setelah itu dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit sebatas pinggang, hingga membuat perutnya yang kotak kotak seperti roti sobek itu terlihat sangat seksi.
Rio berjalan dengan santai menuju ranjang dimana pakaian ganti miliknya yang sudah disiapkan istrinya tergeletak disana. Namun naas, apa karena lantainya licin atau memang nasibnya yang hari ini sial, kakinya terpeleset dan membuatnya jatuh dilantai dengan handuk yang sudah terlepas menampilkan tubuhnya yang polos.
"Ya Allah pantatku sakit sekali." Ringisnya saat pantatnya memang terasa nyeri karena mencium lantai dengan sangat keras.
Rio berdiri pelan dengan tangan yang mengusap usap pantatnya. Bersamaan dengan itu suara pintu terbuka dan menampilkan wajah cantik Pipit.
Cklek
"Yo makan malam su...Aaaaaaaaaa."
Brak
__ADS_1
Suara jeritan istrinya yang disusul dengan pintu yang kembali tertutup membuat Rio tersadar akan keadaan dirinya. Tapi emang dasar Rio, bukannya panik pria itu malah mengulum senyum dan dengan santainya berjalan kearah pintu dengan tubuh polosnya.
TBC