Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Rahasia Jodoh


__ADS_3

"Ekhem...dipandangin terus itu cincin. Nggak bakalan lari kemana mana itu cincin Sya." Celetuk Ustazhah Syifa yang langsung membuat gadis yang sedang asik melamun tersenyum malu.


"Eh kakak bisa aja. Nggak kok." Elaknya sambil menahan malu karena kepergok oleh perempuan yang sudah dia anggap seperti saudaranya itu.


"Kamu ini dari dulu nggak pernah berubah Sya, sering melamun aja sendiri. Awas nanti kesambet."


"Ih..kaka apaan sih."


"Kenapa sih ? Aku dengar gosip yang beredar katanya adik kakak ini besok akan menikah ya. Wah besok pasti bakal jadi hari patah hati sedunia donk." Godanya dengan senyuman di balik cadarnya.


"Maksud kakak ? Siapa yang akan menikah." Tanya Akia heran.


"Loh aku salah berarti ya. Tapi kabar yang beredar kenapa bisa begitu ? Calonmu ustadz yang kemaren memberikan ceramahnya itu kan ? Kalo tidak salah namanya Ustadz Azriel. Tadi Kyai lutfi mengatakannya padaku, katanya ustadz Azriel sudah meminta pada beliau untuk meminangmu besok disini."


Akia melongo, dia benar benar terkejut, pasalnya pria itu tidak mengatakan apapun tadi waktu bertemu dengannya. Ada rasa kesal dihatinya karena pria itu berbuat semaunya tanpa meminta ijin dulu padanya. (Padahal jelas jelas tadi Azriel sudah mengatakan kalo dia akan menikahiinya bukan ? Oh dasar Akia, selain cantik dia juga pikun ya 🤣)


Melihat wajah Akia yang kembali termenung membuat Ustazhah Syifa merasa heran, perempuan itu memeluk pelan bahu gadis itu lalu menggerakkan dagunya seakan bertanya kenapa.


"Hhh....entahlah kak..aku sendiri bingung, apa harus bahagia ataupun sedih. Aku sangat bimbang. Semua terjadi begitu tiba tiba, dan itu membuatku terkejut." Keluhnya lirih berucap.


"Kau ragu ?"


"Aku tidak ragu kak, aku hanya..."


"Takut ?"


Perlahan Akia mengangguk membenarkan ucapan ustazhah Syifa. " Tapi aku juga tidak tahu takut akan apa kak."


Ustazhah Syifa tersenyum, lalu menarik lengan gadis itu untuk duduk disisi ranjang miliknya.


"Apa kau percaya jika Allah sudah mempersiapkan jodoh kita bahkan sebelum kita lahir didunia ini Sya ?"


Akia mengangguk. " Aku tahu kak."


"Lalu apa lagi yang kau ragukan ? Mintalah petunjuk pada Nya, Insya Allah Dia akan memberikanmu jalan supaya kau tidak lagi merasa ragu."


Akia terdiam namun hatinya membenarkan ucapan perempuan itu.


"Kau beruntung Sya bisa mendapatkan jodoh dengan cepat tidak seperti diriku." Sambungnya lagi.

__ADS_1


Akia mengerutkan keningnya, memandang intens ustazhah Syifa seakan menunggu kelanjutan ceritanya.


Ustazhah Syifa tersenyum manis dibalik cadarnya.


"Ya, aku bilang kau beruntung, kau tahu Sya, bahkan diusiaku yang melebihi kepala tiga, Allah belum mempertemukan jodohku. Aku selalu dihujat dan dianggap remeh oleh masyarakat. Mereka dengan seenaknya mengatakan jika aku tidak laku, atau aku perawan tua."


"Astaghfirullah trus kakak diam saja mendengar semua itu." Tanya Akia dengan mimik muka yang kesal.


"Awalnya aku juga ingin marah, mulai menyalahkan takdir Allah. Namun aku sadar jika Allah pasti mempunyai takdir yang indah untukku, aku anggap Allah sedang menguji kesabaranku. Pada akhirnya aku hanya bisa pasrah dan sabar melewati ujian ini. Hanya lewat doa tengah malam yang selalu aku panjatkan, semoga selain diberikan jodoh yang menurut Allah terbaik untukmu, aku juga meminta agar Dia memberiku kesabaran yang begitu besar."


Akia sekali lagi menatap penuh rasa kagum pada sosok didepannya. Perempuan satu satunya yang selalu bersikap sabar padanya semenjak pertemuannya dulu.


"Kau tahu apa artinya aku berkata seperti ini Sya ? Aku ingin kau selalu bersyukur atas apa yang sudah digariskan oleh Allah padamu. Jangan ada keraguan lagi dihatimu. Percayalah mungkin ustadz Azriel memang jodoh yang sudah Allah persiapkan untukmu."


Akia memeluk erat tubuh ustazhah Syifa, dan ada kedamaian dihatinya saat perempuan itu mengusap punggungnya dengan lembut. Sekilas gadis itu berpikir jika saja sosok didepannya itu menjadi ibunya pasti dia akan sangat merasa beruntung.


"Makasih kak, setelah mendengar cerita kakak sekarang aku sangat yakin dengan hatiku. Terima kasih sudah menyadarkanku."


***


Berjalan sendirian di gelapnya malam mungkin membuat sebagian orang merasa takut. Namun tidak dengan gadis berhijab itu, tanpa ditemani oleh Pak Min, Akia dengan santai berjalan menuju rumahnya yang memang dekat dengan ponpes tempatnya mengabdikan dirinya. Tidak ada rona katakutan ataupun kekhawatiran diwajah gadis itu. Padahal sudah jelas keadaan jalanan disana nampak sunyi dan mencekam.


Ada penyebab kenapa Akia selalu berjalan hampir di setiap malam, bisa saja gadis itu menginap di ruangan nya yang ada di ponpes, tapi tidak dia lakukan.


"Mak.." Panggilnya pada seseorang.


Mak Ijah, perempuan paruh baya yang biasa nongkrong berjualan dipinggir jalan yang biasa gadis itu lalui. Hari ini jualan beliau masih terlihat banyak, maka dari itu Mak Ijah belum pulang. Padahal hari sudah mulai larut, namun demi bisa memberikan sesuap nasi untuk anak anaknya, mak Ijah harus berusaha lebih keras lagi.


Dan malam ini nasib baik datang pada perempuan paruh baya itu, Akia pulang agak malam, jadi gadis itu berpapasan dengan mak Ijah.


"Mak jualan apa ?" Tanyanya dengan senyuman masih terukir di bibirnya.


Raut wajah wanita itu berubah ceria setelah tadi sempat redup. Dengan antusias wanita itu memperlihatkan dagangannya.


"Ada pecel sayur neng, kebetulan masih hangat, sayur nya baru direbus. Ini juga ada kacang rebus." Jawabnya dengan hati senang.


Akia tersenyum sembari memperhatikan dagangan mak Ijah.


"Mak tolong bungkusin semua ya, kebetulan orang rumah juga belum makan. Sekalian sama kacang rebusnya, saya mau lembur tugas malam ini." Perintahnya dengan nada lembut.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas rezeki yang Engkau berikan." Sujud syukur mak Ijah berucap atas rezeki yang Allah berikan padanya melalui perantara gadis didepannya itu, bahkan nampak airmata menetes dari sudut matanya yang sudah mulai keriput.


Selesai dari sujud syukurnya, mak Ijah dengan segera mulai membungkus pesanan Akia dengan hati yang begitu bahagia. Terlihat jelas dikedua matanya yang memancarkan sinar ceria.


"Mak sudah lama jualan disini ?" Tanya Akia disela mak Ijah membungkus pesanannya.


"Mak sudah lama jualan disini neng, kurang lebih sudah 10 tahunan."


"Kok saya nggak pernah tahu ya mak, saya sudah 3 tahun loh disini."


"Mak jualan pas siang hari neng, hanya sampai sore saja, setelah itu mak pulang."


"Trus kenapa hari ini sampe malam mak ?"


"Hari ini sepi neng, dagangan emak masih banyak, kalo mak pulang tanpa hasil nanti anak anak kasian nggak bisa makan."


Nyess


Hati Akia perih bagai disayat sembilu, lalu kembali terdiam enggan untuk menanyakan sesuatu yang sudah pasti membuatnya kembali terenyuh.


"Sudah semua mak ?" Tanyanya saat mak Ijah memberikan bungkusan itu pada Akia.


"Sudah neng, semuanya 50 ribu." Ucapnya dengan raut wajah senang.


Akia membuka tas kecilnya lalu mengambil uang berwarna merah sebanyak 10 lembar, lalu memberikannya pada mak Ijah. Nampak wanita paruh baya itu terkejut dengan apa yang dilihat didepan matanya.


"Neng ini kebanyakan, semuanya hanya 50 ribu." Ujarnya dengan tangan sedikit gemetar.


"Tidak apa apa mak, hari ini saya dapat rezeki jadi saya membaginya sama mak. Semoga bermanfaat ya mak, kalau begitu saya pulang dulu, mak juga pulang ini sudah malam." Jawab Akia lalu bergegas pergi meninggalkan mak Ijah yang masih terpaku disana dengan tangan yang menggenggam uang pemberian Akia.


Tersadar mak Ijah segera bersujud kembali bersyukur atas rezeki yang diterima hari ini. Lalu segera membereskan dagangannya dengan tubuh yang bergetar hebat.


Dari jauh Akia melihat bagaimana bahagianya mak Ijah saat mendapat rezeki yang tidak seberapa menurutnya. Bagi kalangan rakyat kecil seperti mak Ijah, mendapat uang sebesar itu sudah merupakan anugerah besar dari yang Kuasa. Tanpa sadar Akia meneteskan airmatanya karena sedih dengan kehidupan yang dijalani oleh mak Ijah.


Betapa ruginya diriku yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini. Aku merasa menjadi orang yang sangat kecil jika dibandingkan dengan orang orang seperti mak Ijah. Allah memang memberikan harta yang berlimpah padaku, tapi Allah memberikan hati yang luas dan kesabaran yang begitu besar pada mak Ijah. Terima kasih mak, darimu aku belajar apa arti hidup yang sebenarnya.


Gadis itu kembali melangkahkan kedua kakinya menuju rumahnya yang tinggal beberapa blok lagi. Tidak lupa dia memberikan bingkisan yang dia beli dari mak Ijah pada beberapa orang yang dia temui dijalan.


Tidak jauh dari tempatnya saat ini, nampak sosok pria yang terus mengikutinya sedari tadi, dan tentu saja tingkah laku Akia tadi tidak luput dari pandangan matanya. Pria itu tersenyum tipis memandang punggung gadis itu yang sudah mulai masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


"Calon istriku memang tidak pernah berubah, dari dulu selalu berhati malaikat." Gumamnya pelan lalu pergi setelah memastikan gadis itu sudah masuk kedalam rumah.


TBC


__ADS_2