
Amanda Cake & Cokie
Seperti biasa Aqila mulai menutup pintu rolling door toko kuenya tepat pukul 10 malam. Setelah dirasa pintu sudah tertutup dengan sempurna, Aqila mulai merenggangkan sedikit tubuhnya yang terasa kaku.
"Mbak Qila mau bareng ?" Tanya Ani, salah satu pegawainya.
" Nggak usah, saya naik taksi saja. Rumah saya lumayan dekat kok, kamu hati hati ya dijalan. Jangan ngebut bawa motornya." Pesannya pada gadis berusia 20 tahun tersebut.
Ani mengangguk lalu berpamitan untuk pulang duluan sama bosnya. Aqila memang sudah selama dua mingguan ini menambah tenaga kerja ditokonya. Hanya dua orang saja, mengingat sang ibu yang sudah tidak terlalu bisa bekerja hingga melewati batas kemampuannya.
Aqila tidak ingin ibunya semakin kelelahan, maka dari itu dia berinisiatif untuk menambah jumlah tenaga untuk membantunya di toko. Sementara Bu Ningrum sendiri saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah.
"Udah selesai Nyonya." Suara bariton milik seseorang yang dia kenal sontak membuatnya langsung berpaling kebelakang.
Wajah tampan milik sang kekasih sukses membuat senyuman indah terbit diwajahnya yang cantik.
"Kamu sudah datang." Sapanya pada pria didepannya yang selalu sukses membuat hatinya berdesir tiap bersama dengannya.
"Hmm, buatmu sayang." Menyodorkan buket bunga mawar merah pada kekasih hatinya.
Aqila meraih buket bunga tersebut dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Mencium aromanya yang wangi memabukkan.
"Makasih."
"Kembali kasih, pulang yuk."
Aqila mengangguk kemudian ikut berjalan disamping Dhafa yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Capek ?"
"Alhamdulillah, akhir akhir ini toko semakin ramai, aku menambah dua tenaga kerja jadi nggak terlalu kewalahan."
"Jangan terlalu memaksakan diri, kalau capek istirahat sayang."
"Hmm." Menoleh kearah Dhafa dengan tatapan penuh arti.
"Kenapa ?" Tanya Dhafa yang mengerti arti tatapan kekasihnya itu.
"Kamu tiap hari selalu jemput aku trus nganter pulang emang nggak capek yank. Jarak rumah aku sama kamu lumayan jauh loh, belum besoknya kamu kan juga harus kerja. Aku takut kamunya nanti jadi sakit karena kelelahan menjemputku tiap hari." Lirih gadis itu berucap.
Dhafa yersenyum lalu menggenggam jemari Aqila erat, membawanya kedalam bibirnya kemudian mengecup punggungnya dengan lembut.
"Makanya kamu terima mobil pemberian aku ya."
"Aku nggak bisa yank, maaf."
"Kalau begitu jangan pernah lagi bilang seperti itu ya, bagiku keselamatanmu adalah tanggung jawabku. Aku tidak mau kamu naik taksi apalagi di malam hari, lebih baik aku menjemputmu tiap hari seperti ini. Memastikan keselamatanmu didepan mataku sendiri. Kamu jangan khawatir, aku lelaki dan insya Allah bisa menjaga diriku sendiri."
Aqila tersenyum dengan kedua mata yang sudah berkaca kaca. Pria dingin disampingnya ini benar benar menjelma menjadi sosok yang hangat dan selalu melindunginya. Perhatiannya dan terkadang sikapnya yang romantis terkadang mampu membuatnya enggan untuk berjauhan.
__ADS_1
Dengan manja Aqila melingkarkan pelukannya dilengan kokoh Dhafa dengan kepala yang bersender dibahu kekar milik Dhafa. Dhafa menyambutnya dengan kecupan singkat diujung kepala gadis tersebut.
"Besok luangkan waktu ya."
"Mau kemana ?" Tanyanya dengan sedikit mendongakkan kepalanya menatap rahang kokoh didepannya.
Dhafa terkekeh pelan, mengecup cepat sudut bibir kekasihnya.
"Toko nggak terlalu ramai kan ? Ada Ani dan Selly." Bukannya menjawab pertanyaan Aqila, pria itu malah ganti memberikan pertanyaan padanya.
"Insya Allah nggak ada pesanan sih. Kalau tidak terlalu ramai, mereka masih bisa menghandlenya."
"Besok aku akan mengajakmu menemui Merry, kita fitting baju pengantin ya. Sekalian kita cari perhiasan buat mas kawinnya, dan juga beberapa kebutuhan lainnya buat seserahan."
Aqila langsung duduk tegak mendengar pernyataan Dhafa, seakan tidak percaya dengan ucapan pria itu.
"Ada apa ? Wajahmu seakan kamu nggak suka dengan pernikahan kita. Apa kamu memang nggak mau menikah denganku." Tanyanya dengan suara sendu, kekhawatiran seketika menyergap hatinya.
Plak
"Kalau ngomong tu suka seenaknya." Gerutu Aqila sembari memukul lengan Dhafa.
"Trus kenapa kok mukanya begitu."
"Aku hanya kaget saja, abisnya kamu ngabarinnya dadakan. Nggak dari kemaren kemaren."
"Jadi mau nggak, kalau nggak mau aku telpon Merry nih, buat batalin pertemuannya." Goda Dhafa dengan senyuman jahil membingkai wajahnya yang tampan.
Dhafa tergelak lalu kembali membawa kepala Aqila supaya bersender dibahunya kembali.
"Siap Nyonya, sesuai keinginanmu."
Apartement Rio
Rio baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit dipinggangnya, menampilkan perutnya yang liat dan menggoda. Membuat Pipit yang baru saja menyelesaikan sholat sunnahnya tertegun dan berusaha menelan salivanya yang mendadak terasa kering.
Cup
Kecupan dibibirnya membuat gadis itu tersentak dan kembali sadar dari lamunannya. Menatap wajah tampan suaminya yang berdiri didepannya dengan senyuman jahilnya.
"Aku seksi ya sayang." Bisiknya ditelinga Pipit. " Kamu sampai bengong loh ngeliatnya."
Pipit gelagapan lalu berdehem demi menetralkan deru nafasnya yang seakan berhenti dan degupan jantungnya yang hendak melompat keluar dari sarangnya.
Dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya dengan berpura pura membereskan kembali peralatan sholatnya. Melihat itu Rio terkekeh lalu menarik lengan istrinya hingga tubuh kecil itu masuk kedalam pelukannya.
"A-abang.."
"Apa ?" Jawabnya dengan tatapan mata menggoda.
__ADS_1
"Lepas, a-aku mau nyiapin makan malam. Abang pasti lapar kan."
"Hhm, aku memang lapar, tapi aku nggak mau makan nasi."
"Lah terus kalau nggak makan nasi mau makan apa memangnya." Tanyanya polos.
"Makan kamu." Bisiknya sensual ditelinga Pipit.
Blush
Pipit gelagapan dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan kekar suaminya. Namun rasanya percuma saja, pelukan Rio begitu kuat hingga akhirnya membuatnya pasrah dan membiarkan kemauan suaminya.
"Kamu wangi sayang."
Pipit diam saja dengan kepala tertunduk. selain karena dia malu, dia juga berusaha menetralkan degupan jantungnya yang kian berdetak sangat kencang.
"Abang.."
"Hmm." Hanya gumaman kecil yang terdengar, selanjutnya pria itu sudah asik dengan kegiatan favoritnya menjelajahi tubuh istrinya dengan tangan dan juga bibirnya.
Pipit berusaha sekuat mungkin menahan suaranya supaya tidak mendesah keluar. Karena saat ini ada yang lebih penting yang harus dilakukan dari sekedar melakukan kegiatan panas mereka.
"Abang.."
"Apa sayang." Kali ini menjawab dengan kata kata namun tangannya masih tidak mau diam.
"Aku lapar."
Seketika mulut dan tangannya berhenti dan ganti menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu lapar ? Emang belum makan ?" Tanyanya dengan nada khawatir.
Pipit menggeleng. " Kenapa belum makan sayang."
"Nunggu abang selesai mandi." Jawabnya singkat.
Rio kembali terkekeh lalu mencubit gemas hidung istrinya.
"Kenapa nggak bilang dari tadi ?"
Pipit mencibir dengan bibir yang mengerucut kedepan.
"Gimana mau bilang, abang aja main sosor kayak bebek gitu."
Tawa Rio langsung membuncah, mencium bibir istrinya sekilas lalu menggandeng tangan Pipit keluar kamar menuju meja makan.
"Maaf ya, abisnya kamu menggemaskan sih. Bikin abang mau nerkam kamu terus, ya sudah ayo kita makan setelah itu kamu yang gantian abang makan." Ucapnya dengan seringaian licik terukir diwajahnya yang tampan.
Pipit merinding, membayangkan jika malam ini dia akan kembali diterkam oleh harimau ganas itu seperti hari hari sebelumnya. Dan sudah dipastikan tubuhnya akan terasa remuk bahkan sekedar berjalan pun dia akan kesusahan akibat tenaga suaminya itu yang begitu kuat dan tahan lama.
__ADS_1
TBC
Assalamualaikum. sekedar pemberitahuan mungkin beberapa part lagi menuju akhir ya sayang. Bisa satu part atau dua part lagi. Makasih udah tetap bertahan dikarya receh author..🤗🤗😘