
Azriel nampak berdiri menatap ramainya jalanan ibukota dari ruangannya yang berada dilantai atas gedung kantornya yang menjulang tinggi. Pikiran pria tampan itu nampak bercabang kemana mana.
Azriel menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya kembali duduk di kursi kekuasaannya. Pandangan pria itu lurus menatap ke sebuah foto yang diletakkan dimeja. Foto seorang gadis yang diam diam dia ambil tanpa sepengetahuan gadis itu.
Seorang gadis cantik berpakaian syari dengan hijab panjang menjuntai kebawah menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tersenyum manis seakan tiada beban dihatinya.
Senyum dibibir Azriel sedikit terangkat tiap dia memandang foto tersebut. Sungguh hatinya merasa tenang dan damai tiap dia memandang foto tersebut. Dikala kerinduan melandanya, selama berjam jam Azriel menatap wajah itu dengan perasaan rindu yang menggebu gebu.
Itu adalah foto terakhir Akia yang di potret anak buahnya dua tahun yang lalu. Selama satu tahun mengawasi Akia, akhirnya Azriel menyuruh anak buahnya untuk berhenti mengikuti dan mengawasi gadisnya. Karena dia pikir jika disana Akia sudah menemukan kebahagiaan nya.
Aku merindukanmu Sya, berapa rindu ini terasa sangat besar dihatiku. Ya Allah maafkan hamba karena mempunyai rasa rindu yang begitu besar melebihi rinduku padamu.
Pria itu memejamkan kedua matanya, bayangan Akia yang tersenyum dengan sangat manisnya kembali melintas dipikirannya. Azriel mengerjapkan matanya guna mengusir bayangan Akia yang tidak pernah pergi dari kepalanya.
Cklek
Pintu terbuka dan muncul sosok Rio sang asisten sekaligus sahabatnya.
"Riel.."
Pria itu menoleh memandang wajah tampan didepannya.
"Kenapa Yo."
"Abah memanggilmu. Ada yang ingin beliau sampaikan padamu."
"Apa hari ini jadwalku sudah kosong Yo ?"
"Waktumu free Riel."
Azriel langsung berdiri dari duduknya lalu merapikan jas hitamnya.
"Kalau begitu ayo kita pulang. Jangan buat Abah menunggu lama."
Rio tersenyum lebar mendengar ucapan Azriel. Sungguh pria itu memendam perasaan kagum yang begitu besar pada sosok bos sekaligus sahabatnya itu. Rasa bakti Azriel pada kedua orangtuanya benar benar membuatnya salut.
Rio tidak pernah sekalipun mendengar Azriel membantah ataupun berkata kasar pada kedua orangtuanya. Semenjak Azriel bertekad untuk bertaubat, pria itu benar benar berubah drastis.
Rio selalu merasa bersyukur karena pada akhirnya sahabatnya itu menemukan kebahagiaan dan ketenangan setelah meninggalkan dunia hitam yang selama ini dia geluti.
__ADS_1
Rio tersentak dari lamunannya saat telinganya mendengar suara pintu yang tertutup. Bergegas pria itu berlari menyusul langkah Azriel yang sudah hilang dari pandangan matanya.
Beberapa saat setelah melewati jalanan ibukota yang macet karena hari sudah menjelang sore. Pada akhirnya mobil sedan hitam itu berhenti tepat didepan pelataran pondok pesantren Al-Amin.
Kericuhan pun terjadi tiap pria tampan itu menginjakkan kaki di Ponpes milik kakeknya. Berbagai pujian dan bisikan dari para santriwati yang selalu mengidolakannya selalu dia dengar tiap dia melewati ruangan kelas. Begitu juga dengan beberapa ustazhah yang diam diam memandangnya dengan tatapan takjub dan terpesona akan sosoknya yang tampan.
Ingin rasanya Azriel membuat pintu ajaib layaknya seperti milik doraemon. Pasalnya jika harus menuju rumah utama, dia harus melewati beberapa ruangan kelas. Bukan apa apa dia justru merasa takut karena pujian yang tertuju padanya.
Dengan langkah cepat dan tanpa menghiraukan bisik bisik para siswanya, Azriel terus melangkah hingga sampai dirumah utama. Segera setelah mengucapkan salam, pria itu langsung merebahkan badannya di sofa panjang dengan nafas yang terengah engah.
Abah Ahmad hanya terkekeh melihat kondisi putranya. Tentunya pria paruh baya itu hafal betul apa yang menjadi penyebab putranya seperti itu.
"Makanya kalau punya wajah itu jangan terlalu tampan le, ya begitu akibatnya banyak dikejar kejar oleh kaum hawa." Goda Abah Ahmad dengan tawa renyahnya.
Azriel memberengut mendengar godaan abahnya.
"Abah ini, jangan salahin putramu, salahin saja ummi."
"Loh loh kok jadi Ummi yang disalahin. Yang menggoda Azriel kan Abah." Tidak terima dirinya disalahkan, Ummi Hana pun membela diri.
"Ya Azriel punya wajah begini kan karena turunan dari Ummi to. Coba kalau wajah Abah menurun sama Azriel ya nggak bakalan sampe begini." Ucap Azriel membela diri.
Abah Ahmad semakin tergelak karena yang dikatakan putra bungsunya adalah kebenaran. Raut wajah Azriel semua Karena faktor warisan dari Umminya yang memang asli orang Korea. Sementara Abah Ahmad sendiri cenderung lebih mirip seperti orang Arab, karena Kakek Manaf yaitu ayahnya Kyai Ahmad adalah keturunan asli Negara Arab Saudi.
Ummi Hana yang mendengar itu hanya tersenyum tipis. Merasa malu sekaligus bangga karena pada akhirnya gen nya ada yang menurun pada anaknya.
"Kamu harusnya bangga loh punya wajah tampan seperti oppa artis korea itu. Jadi kan Ummi nggak harus menonton TV kalau cuma untuk melihat artis idola Ummi. Cukup lihat kamu Ummi sudah senang." Ucapnya dengan senyum simpul menghiasi bibirnya.
Azriel melongo sempurna lalu menepuk keningnya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Umminya.
"Ya Allah Ummi, ingat loh, Ummi ini istri seorang pemuka agama. Masa iya ngefans sama artis korea yang mirip perempuan itu sih."
"Loh apa hubungannya Ummi ngefans sama Ummi istrinya Abah ? Lagipula siapa yang mirip perempuan ? Sembarangan kamu."
"Gimana nggak kayak perempuan, masa iya laki laki tapi pake anting, trus make up kayak perempuan gitu mi."
"Ya itu kan..."
"Sudah sudah, kalau diterusin debatnya, nih sampai lebaran monyet pun nggak bakalan selesai." Sergah Abah Ahmad yang pusing mendengar perdebatan antara istri dan anaknya itu.
__ADS_1
Keduanya langsung terdiam tanpa membantah satupun ucapan pria didepan mereka. Ruangan sejenak menjadi sunyi dengan pemikiran masing masing. Hingga akhirnya Azriel memberanikan diri untuk bertanya.
"Ehm..ada apa Abah memanggil Azriel kesini ?" Tanyanya dengan suara yang berubah lembut.
Abah Ahmad tersenyum lalu membenarkan posisi duduknya.
"Kamu sudah lama le nggak datang kesini. Apa kamu nggak kangen sama Abah dan Ummi ?"
"Maaf Abah, mulai besok Azriel akan sering pulang." Cicitnya dengan kepala tertunduk.
Melihat itu senyum pria paruh baya itu kembali terbit. Dengan lembut dan penuh kasih sayang diusapnya kepala putranya.
"Sudah lupakan saja, Abah tahu jika kamu sangat sibuk. Jangan memaksakan diri, kalau kamu sempat pulanglah, jika tidak ya tidak apa apa. Yang penting kamu selalu sehat dan tidak lupa menunaikan kewajibanmu."
"Iya Abah."
"Bagaimana dengan Nak Akia ? Mau sampai kapan kalian akan berjauhan ? Abah sudah semakin tua Riel, dan Abah ingin sebelum meninggal bisa melihat cucu dari kalian."
"Itu..."
"Pergilah..sudah saatnya kamu menjemput calon menantu Abah itu. Abah dengar dia sudah banyak berubah menjadi lebih baik lagi. Jangan sampai kamu ke duluan dengan pria lain nak. Karena sebuah berlian walaupun berada ditengah tengah lumpur, sinarnya akan tetap menerobos keluar. Jangan sampai kamu menyesal karena terlambat untuk bertindak." Titah beliau dengan nada pelan namun tegas.
Azriel tersentak, sejenak dia menyadari ucapan Abah nya. Tersadar jika selama ini dia terlalu mengulur ulur waktu. Karena terlalu kecewa dengan penolakan Akia pada akhirnya dia membuang begitu banyak waktu yang berharga. Dengan tegas pria tampan itu berucap.
"Baik Abah, Azriel akan segera menjemputnya. Kali ini Azriel akan memaksanya pulang jika dia tidak mau."
"Abah percaya padamu le." Balas beliau dengan senyum bangga.
TBC
Assalamualaikum..maaf ya pembaca setiaku author sekarang bisa update jika sudah malam, karena jika siang hari begitu banyak pekerjaan yang menyita waktu. Maafkan diriku yang tidak bisa up siang hari maklum mempunyai baby kecil itu sungguh membuat tenaga dan pikiran terkuras habis. Tapi alhamdulillah rasa capek selalu hilang tiap melihat senyuman dan damai nya baby saat tidur.
hehe sedikit curhat jadinya.
Oh iya satu lagi, di episode sebelumnya yaitu eps 9 pada akhirnya author memutuskan untuk revisi ceritanya.bukan cerita yang direvisi ya..tapi nama azriel dan Dhafa.
Berhubung banyak yang bingung karenna persamaan nama, akhirnya author mengganti nama depan Azriel, yaitu yang semula bernama Daffa Azriel El Fahrenzi, sekarang menjadi Sultan Azriel El Fahrenzi. Dan nama Dhafa hanya satu yaitu Dhafa sang sahabat Akia seorang.
Udah segitu aja, semoga tidak kebingungan lagi ya.
__ADS_1
Happy reading..jangan lupa tinggalkan meja ya..
Jaga kesehatan, daan jangan lupa bahagia..bahagia itu sederhana. Melihat kalian senang saja sudah membuatku bahagia ..🤗