Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Kecantikan alami dibalik cadar


__ADS_3

Jantung itu berdetak saling bersahutan dengan indahnya, memercikkan api yang belum mereka tahu apa sebabnya. Kedua mata itu masih saling menatap menyelam lebih dalam kerelung hati keduanya.


Desiran indah dihati mereka begitu terasa, dan tanpa sadar keduanya merasakan kenyamanan didalam hati pada sosok masing masing.


Tuan Aryan masih betah dengan tatapan matanya yang tertuju pada sosok wanita didepannya. Dia begitu terpesona dengan indahnya mata hitam jernih milik wanita itu. Dan wajahnya yang ternyata sangat menawan yang disembunyikan dibalik niqabnya. Entah kenapa muncul rasa tidak suka jika wajah itu dilihat orang lain selain dirinya.


"Ekhem..mau sampai kapan kau berada dipelukanku ? Apa kau begitu ingin menggodaku nona ?" Ketusnya berusaha menyadarkan wanita itu.


Ustazhah Syifa terkejut, lalu dengan segera berdiri dan berbalik cepat membelakangi pria itu. Wanita itu menoleh kesana kemari mencari niqabnya yang tanpa sengaja dia lempar entah kemana.


Tuan Aryan yang melihat tingkah mendadak wanita itu, menjadi tidak suka. Ada rasa kesal saat wanita itu malah berbalik membelakanginya.


"Apa yang kau lakukan ? Kenapa kau berbalik dan membelakangiku." Dengusnya dengan suara agak keras.


Ustazhah Syifa terkejut, lalu menjawab dengan terbata bata.


"Ma-maf tuan, bukan maksud saya, tapi saya sedang mencari niqab saya."


Pria itu menyeringai, ingin dia menggoda wanita yang terlihat panik didepannya. Entah kenapa berhadapan dengan wanita itu, jiwa usilnya kembali datang. Dia seakan kembali menjadi sosok anak muda.


Perlahan pria itu melangkah mendekati ustazhah Syifa yang masih membelakanginya, tidak ingin menunjukkan wajahnya karena pria itu bukan muhrimnya.


Jantung pria itu berdetak semakin kencang saat dia semakin dekat dengan wanita itu, dan dia tahu apa artinya itu. Dia bukan pria yang baru mengenal apa itu cinta, dia adalah pria berpengalaman akan hidup. Dan dia tahu apa yang diinginkan hatinya saat ini. Walau mungkin itu terkesan tiba tiba dan mendadak.


Tuan Aryan menghela nafas dalam, sebelum akhirnya mengulurkan tangannya yang memegang niqab milik ustazhah Syifa. Dan tanpa diduga oleh ustazhah Syifa, pria itu memasangkan niqabnya pada ustazhah Syifa yang nampak terkejut dengan tindakannya.


"Jangan tunjukkan wajah cantikmu itu didepan pria lain, atau aku akan menghukummu." Bisiknya ditelinga Ustazhah Syifa dengan tangannya yang menepuk lembut pucuk kepala wanita yang tertutup hijab itu.


Tuan Aryan melangkah keluar pintu dengan gayanya yang cool habis. Meninggalkan ustazhah Syifa yang masih membeku ditempatnya mencerna maksud perkataan pria itu.


Tuan Aryan menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap ustazhah Syifa yang masih berdiri terdiam.


Key, apa kau merestuiku jika aku kembali merajut rumah tangga ? Aku harap keputusanku ini benar, akupun ingin merasakan hidup bahagia dengan keluarga yang utuh. Maafkan aku yang tidak bisa membahagiakanmu Key.


"Bersiap siaplah dan kemasi semua barang barangmu."


Wanita itu tersentak saat suara bariton itu kembali terdengar.


"Bersiap untuk apa Tuan ?" Tanyanya heran dengan kedua mata yang


menyipit.


Tuan Aryan tersenyum tipis, sangat tipis.


"Tentu saja menyiapkan dirimu untuk segera menjadi Nyonya Khanza. Aku akan menikahimu." Ucapnya yang terdengar seperti nada perintah.


Lalu pria itu kembali berbalik dan melangkah meninggalkan Ustazhah Syifa yang kali ini benar benar syok dengan apa yang didengarnya. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan jantung yang terus bergemuruh.


Apa katanya tadi ? Nyonya Khanza ? Menikah ? Apa dia tidak waras ? Astagfirullah kenapa aku bisa bertemu dengan pria gila seperti dia.


Wanita itu memukul keningnya berkali kali, seperti hendak mengusir pikiran gila di kepala nya. Lalu tanpa berucap lagi wanita itu pergi dari sana dengan pikiran berkecamuk.


***


Waktu menunjukkan pukul 3 sore saat mobil lambhorgini milik Azriel masuk dipelataran ponpes Daarul Mukminin. Dipintu masuk sudah berdiri seorang gadis cantik dengan senyuman indah yang selalu menghiasi bibirnya.

__ADS_1


Disamping gadis itu berdiri dengan wajah datar dan dingin khas milik seorang Dhafa. Akia mendecak pelan melihat raut wajah pria itu yang tidak pernah berubah.


"Ck, dasar pria batu, dari dulu tidak pernah berubah, kapan dia bisa dapet jodoh kalau wajahnya saja seperti itu, seperti kanebo kering, kusut." Gerutunya yang langsung dilirik oleh suaminya.


"Siapa yang kamu maksud sayang ? Sepertinya kamu terlihat sangat kesal."


Akia menunjuk kearah Dhafa dengan menggunakan dagunya.


"Siapa lagi kalo bukan si Dhafa pria batu itu." Sungutnya kesal. "Terkadang aku kasihan sama Akila, pasti dia sangat kerepotan menghadapi sikap arogan muka batu itu." Mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan yang bersidekap didada.


Azriel tertawa keras mendengar umpatan istrinya pada sosok pria yang dia ketahui sebagai sahabat kecil istrinya itu. Dengan gemas pria itu mengecup singkat bibir istrinya.


"Bibirnya di kondisi kan Nyonya." Ujarnya dengan mengedipkan sebelah matanya, membuat Akia tersipu malu.


"Ih mas dasar mesum, main serobot aja. Kalau sampai terlihat orang bagaimana ?"


Pria itu kembali tertawa, mengusap pucuk kepala istrinya dengan kasih.


"Ayo kita turun, kasian semua pasti sudah menunggu kita." Ajaknya lalu turun terlebih dahulu, kemudian pria itu memutari mobilnya guna membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Silahkan ratu." Senyum indah menghiasi wajah Akia melihat perlakuan spesial dari suaminya. Wajahnya sudah berubah menjadi kemerahan karena tersipu malu, lagi dan lagi pria itu selalu membuat hatinya berbunga.


"Makasih sayang." Bisiknya lirih.


Senyum Azriel merekah mendapat panggilan sayang dari istrinya. Pria itu mendekat kearah Akia dengan berbisik.


"Aku senang dengan panggilan itu, mulai sekarang kau harus tetap memanggilku seperti itu, mengerti."


Bagaikan terhipnotis Akia menganggukkan kepalanya dengan wajah yang benar benar memerah. Pipinya terasa semakin panas, dan itu tidak luput dari perhatian Azriel.


"Aku suka dengan pipi merahmu itu. Menggemaskan." Bisiknya lagi sembari mencubit pipi Akia dengan ekspresi gemas.


"Ayo." Pria itu mengulurkan lengannya supaya istrinya bergelayut di disana. Tanpa membantah, gadis itu menakutkan tangannya di lengan kokoh suaminya dengan manja.


Berdua melangkah mendekat kearah dimana Dhafa dan Akila berdiri. Melihat Akia datang, gadis itu langsung memasang wajah ceria, dan berjalan cepat ke arah Akia.


"Kakak, aku merindukanmu." Beo Akila dengan langkah yang sedikit berlari.


Akia menyambut kedatangan gadis itu lalu memeluknya erat dengan hati yang sangat bahagia.


"Bagaimana kabarmu ?"


"Aku baik, baik sekali. Apalagi kalau melihat wajah kakak, hatiku semakin membaik." Senyum indah menghiasi wajah cantik Akila.


Akia tertawa renyah lalu menggandeng tangan gadis itu untuk bersama sama masuk kedalam pesantren.


"Riel, semua sudah menunggu kalian diruang utama." Sahut Dhafa dengan wajah datarnya.


Azriel menganggukkan kepalanya singkat, tanpa mengeluarkan suaranya. Sama seperti Dhafa pria itu selalu memasang wajah dingin tiap berada diluar rumah, baginya wajah ramahnya hanya untuk diperlihatkan pada istri dan keluarganya saja.


Di sepanjang perjalanan kedua gadis itu asik berceloteh ria, membicarakan hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Namun bagi Akila ada kebahagiaan tersendiri saat dia bersama Akia. Hatinya begitu tenang saat berada disamping Akia.


Mereka sudah sampai diruang utama dirumah Kyai Lutfi yang memang berada didalam pondok pesantren miliknya. Ruangannya tidak begitu luas, namun cukup untuk menampung semua orang yang ada disana.


Setelah mengucapkan salam, Akia melangkah kearah mertuanya, mencium kedua tangan mereka, lalu beralih ke pada papanya. Akia duduk disebelah Tuan Aryan setelah sebelumnya mencium pipi sang papa. Gadis itu bergelayut manja dilengan papanya, membuat hati Tuan Aryan merasa bahagia.

__ADS_1


Tentu saja pria itu begitu merindukan sosok putrinya yang selalu bersikap manja padanya. Tuan Aryan hanya tersenyum sembari mengusap kepala putrinya dengan kasih.


"Riel ada hal penting yang ingin papa bicarakan dengan kalian berdua, makanya kami para orangtua meminta kalian untuk datang kemari dan membahasnya bersama." Tuan Aryan mulai membuka suaranya, setelah anak dan menantunya itu duduk.


"Silahkan pa, kami akan mendengarnya." Jawab Azriel dengan nada sopan.


Tuan Aryan melirik kearah kyai Ahmad yang dijawab dengan anggukan kepala oleh pria bersorban itu.


"Kami memutuskan untuk menggelar acara perpisahan Akia dari pondok pesantren ini dengan memberikan beberapa bantuan untuk kaum Dhu'afa dan juga beberapa anak yatim piatu. Apakah kamu keberatan Riel ?"


"Azriel tidak keberatan pa, justru Azriel merasa senang dengan keputusan papa dan abah." Ujar pria itu sembari mengurangi senyuman.


"Apa itu tandanya Kia akan pergi dari sini pa ?" Tanya gadis itu dengan raut muka sedih.


Tuan Aryan menoleh pada putrinya lalu mengusap lengannya lembut.


"Kamu sudah menikah putriku, dan sudah kewajiban kamu untuk mengikuti kemanapun suamimu pergi. Apa kamu ingin menjadi istri durhaka yang tidak mau menuruti keinginan suamimu ?"


"Naudzubillahi minzdalik, nggak pa, jangan sampai Kia menjadi istri yang seperti itu. Kemanapun suami Kia melangkah, Kia akan selalu mengikuti langkahnya dibelakang pa." Ucap gadis itu yang sadar jika saat ini dirinya sudah tidak sendiri lagi.


Tentu saja jawaban gadis itu membuat semua orang yang berada disana bernafas lega, begitu juga dengan Azriel yang sejak tadi tiada berhenti memperlihatkan senyumannya.


"Baiklah berhubung semuanya setuju, maka acaranya akan kita laksanakan besok. Oh iya Sya, papa juga ingin meminta pendapatmu tentang perusahaan."


"Maksud papa ?"


"Papa berniat menyerahkan perusahaan kita untuk dipegang oleh Dhafa, karena sekarang papa sudah mengangkat Dhafa sebagai putra papa dan itu berarti dia adalah kakakmu. Apa kamu setuju."


Gadis itu melongo mendengar kabar gembira itu, tentu saja dia setuju, pasalnya dia sudah lama menginginkan Dhafa menjadi kakaknya.


"Kia setuju pa." Jawab gadis itu cepat.


Semua orang disana terperangah dengan jawaban spontan Akia, namun sedetik kemudian mereka tertawa melihat betapa antusiasnya gadis itu menyetujui permintaan papanya.


"Segitunya kau ingin menjadi adikku." Ketus Dhafa dengan wajah datarnya.


Akia mendengus kesal dengan sikap Dhafa.


Belum juga sehari menjadi saudaraku, dia sudah bertingkah menyebalkan, tapi aku memang menginginkan dia jadi kakakku sih, walaupun sikapnya dingin begitu.hehe


"Ekhem, papa ada satu lagi kabar yang ingin papa sampaikan padamu Sya, Azriel dan juga Dhafa."


Semua mata kini kembali melihat kearah Tuan Aryan kecuali Abah Ahmad dan juga Kyai Lutfi.


"Papa..."


TBC


Assalamualaikum..jangan marah. authornya gantung lagi..🤣🤣🤣


kabur ah..keburu dimarahi nanti.hehe..



Author mau bilang ini cover baru author yang diganti oleh pihak noveltoon. Karena karya author adalah karya kontrak jadi pihak noveltoon berhak untuk merubah ataupun mengganti cover maupun isi didalam cerita. Makasih ya Noveltoon, covernya sangat bagus dan Author suka sekali.🤗🤗😘

__ADS_1


satu bab lagi insya Allah malam ya..authornya ada pekerjaan didunia nyata..my baby abis imunisasi, jadi sedikit rewel..


Happy reading jangan lupa tinggalkan jejak..Jaga kesehatan dan semoga diberi rezeki yang melimpah oleh Allah SWT. Aamiin.


__ADS_2