
Aqila menghentikan langkahnya kemudian berbalik sambil berkacak pinggang. Wajahnya benar benar sudah memerah, antara marah dan malu.
"Kamu ngapain sih ngikutin aku mulu, udah kayak ekor aja tahu nggak." Ketusnya pada pria yang selalu mengikuti kemanapun dia melangkah. "Emang kamu nggak capek apa, lagian kamu itu harusnya kekantor kan."
"Kamu khawatir ya, makasih ya sayang udah ngawatirin aku." Jawab Dhafa sembari bibirnya mengurai senyuman manis.
"Siapa yang khawatir sama kamu, pede banget. Aku cuma khawatir sama karyawan kamu, kasihan banget kalau sampai diphk karena bangkrut gara gara bosnya yang tidak profesional bekerja."
"Aku profesional kok sayang."
"Mana ada profesional tapi malah santai santai begitu."
"Kan aku b...."
"Bosnya..terserah kamu dah." Potongnya cepat lalu kembali berjalan untuk mencari angkotan umum.
"Mau kemana sih jalan mulu dari tadi."
"Bukan urusanmu." Ketusnya tanpa menoleh kebelakang.
Gemas akan sikap Aqila, Dhafa lalu berjalan agak setengah berlari. Setelah tepat sampai dibelakang gadis itu, dengan cepat Dhafa menarik tangan Aqila hingga gadis itu menghadap padanya. Dan tanpa aba aba, pria itu memanggul Aqila dipundak selayaknya karung beras.
"Dhafa ! Turunin nggak." Teriaknya keras sambil memukul mukul punggung pria itu, untung saja hari ini dia memakai celana jins panjang, coba kalau rok span, Aqila sudah tidak bisa membayangkannya.
Aqila memasang wajah cemberut saat dia sudah duduk didalam mobil sport Dhafa yang terparkir didepan gang rumahnya. Bahkan gadis itu tetap diam dan membisu saat pria itu memakaikan safety belt padanya.
"Mau kemana ?" Tanyanya lembut dengan wajah yang mendekat.
Aqila menoleh menatap wajah pria yang selama ini memenuhi ruang hatinya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini ? Apa yang kamu inginkan Dhafa ?" Bukannya menjawab pertanyaan pria itu. Aqila malah berbalik memberikan pertanyaan.
Dhafa tersenyum. "Hatimu."
Aqila terdiam lalu memalingkan wajahnya yang sudah memerah. Bahkan degupan jantungnya terasa begitu kencang.
__ADS_1
"A-aku mau kejalan Merpati." Gugupnya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oke."
Dhafa melajukan mobilnya sambil sesekali melirik kearah gadis itu, sementara Aqila sendiri hanya terdiam menikmati pemandangan diluar jendela mobil.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai didepan sebuah bangunan ruko yang berada tidak jauh dari kediaman Aqila. Dhafa nampak mengrenyit heran, dalam hatinya pria itu menebak nebak ada kepentingan apa kekasihnya itu ditempat ini.
"Kamu ada keperluan disini ?"
Aqila enggan menoleh, hanya suaranya saja yang terdengar lirih berucap.
"Aku..ingin menyewa salah satu ruko disini."
Dhafa menghela nafas panjang, dengan kedua tangan yang mencengkeram erat kemudi. Rahangnya mengeras dengan sorotan matanya yang berubah dingin, dan itu semua tidak luput dari pandangan mata Aqila.
"Apa kamu benar benar tidak ingin kembali bekerja dikantor Qila." Tanya Dhafa dengan mata masih menatap kedepan, pria itu berusaha keras mengontrol emosinya, dia tidak ingin lagi melukai gadis yang sangat dicintainya.
"Aku tidak ingin lagi bekerja dikantor Fa, bukan karena dirimu atau siapapun. Tapi aku ingin menenangkan pikiranku, lagipula ini adalah impianku dan ibu sejak dulu. Membuka usaha kecil kecilan dengan tanganku sendiri."
Puk
Sebuah tepukan lembut dikepalanya membuatnya spontan mendongak kearah Dhafa, dan dia melihat pria itu mengembangkan senyuman yang begitu manis.
"Lakukanlah apapun yang membuatmu bahagia, aku tidak akan lagi mengekangmu Qila."
"Kamu tidak marah ?" Tanyanya dengan rasa tidak percaya.
"Kenapa harus marah sayang ? Apapun akan aku lakukan asalkan kamu bahagia. Aku tidak perlu lagi mengikatmu dengan amarahku, aku hanya akan mengikatmu dengan cinta dan kepercayaan. Dengan begitu aku tidak akan khawatir lagi kamu akan pergi dariku, karena aku yakin kalau kamu pasti juga sangat mencintaiku bukan." Ucap Dhafa sembari mengusap kepala Aqila dengan kasih.
Sementara mata gadis itu mengerjap berkali kali, seakan hatinya benar benar tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
"Ini benar dirimu bukan ? Apa ada roh yang masuk kedalam tubuhmu." Tanya Aqila dengan mimik muka yang menggemaskan dimata Dhafa.
"Ya Allah Aqila, kamu itu aneh. Aku marah kamu takut, giliran akunya manis begini kamu bilang aneh, perempuan memang selalu benar ya." Keluh Dhafa dengan menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1
Mendengar hal itu Aqila seketika terdiam dengan masih memasang wajah datar. Benar yang dikatakan oleh pria itu jika dirinya memang sangat mencintai Dhafa. Tapi cinta aja tidak cukup bukan jika tidak dibarengi oleh rasa percaya pada pasangan. Dan Aqila ingin membuat Dhafa menyadari tentang semua itu.
Dia ingin pria ini tahu bahwa didalam sebuah hubungan sangat penting akan adanya saling mempercayai satu sama lain. Aqila masih ingin lebih tahu lagi sedalam apa pria ini mencintainya. Walau terdengar sangat kejam setelah melihat bagaimana perjuangan Dhafa, namun itu semua belum cukup baginya.
Masalah apakah dia akan menerima pria ini atau tidak biarlah waktu yang menjawabnya. Saat ini dia hanya ingin fokus pada tujuannya yang harus segera dia wujudkan.
Menyadari sikap gadis itu yang berubah diam lagi lagi membuat Dhafa harus menelan pil pahit. Helaan kasar keluar dari hidungnya yang mancung.
"Aqila..." Panggilnya lirih.
"Aku mau turun." Jawab Aqila singkat kemudian membuka pintu mobil namun belum kakinya menginjak tanah gadis itu kembali berbalik tapi masih enggan menatap wajah Dhafa. "Terima kasih sudah mengantar, aku hanya ingin bilang, tolong jangan terlalu berharap lebih jauh karena saat ini aku tidak yakin dengan perasaanku padamu. Dulu aku mungkin begitu mencintaimu bahkan mungkin memujamu. Tapi semenjak kejadian itu, entah kenapa secara perlahan rasa kagum dan cintaku mulai luntur dan menghilang. Maaf aku harus mengatakan ini walaupun pahit setidaknya aku tidak harus berpura pura untuk menerimamu."
Deg
Dhafa tertegun dengan hati yang berdenyut sakit. Pria itu membisu dengan pandangan mata yang terus menatap punggung Aqila yang semakin menjauh. Bahkan gadis itu mengatakan semuanya dengan sangat santai dan tanpa sedikitpun menoleh padanya.
Dhafa memegang dadanya yang berdenyut sakit, tangannya sedikit meremas kemeja dengan perasaan yang berkecamuk.
*Apa sesakit ini hatimu dulu saat aku berkali kali menyakitimu Aqila. Kamu hanya berkata satu kalimat saja tapi sudah membuatku merasakan sakit yang begitu besar, lalu bagaimana dengan hatimu yang sudah berkali kali kusakiti dengan perkataan pedasku bahkan dengan perbuatanku juga. Maaf Aqila aku sungguh minta maaf.
Akan aku perjuangkan apa yang sudah seharusnya aku perjuangkan. Dan aku akan kembali membuatmu mencintaiku sekali lagi*.
Dhafa mulai melajukan mibilnya meninggalkan tempat itu setelah Aqila menghilang dari pandangan matanya. Pria itu akan kembali memikirkan cara untuk bisa menaklukkan kembali hati gadis pujaan hatinya itu, bagaimanapun caranya.
Sementara Aqila yang merasa Dhafa sudah pergi dari tempat itu, secara perlahan membalikkan badannya untuk menatap kepergian Dhafa yang semakin menjauh dan akhirnya hilang dari pandangan matanya.
Ada pancaran iba namun lebih dominan ke luka hati saat menatap mobil Dhafa yang semakin menghilang. Aqila memegang dadanya yang masih saja terasa sesak walaupun dia tahu pria itu sudah meminta maaf dan dia pun sudah memaafkannya.
Namun yang namanya luka hati tidak akan pernah bisa sembuh dengan mudah seperti membalik telapak tangan. Semuanya membutuhkan waktu yang mungkin agak lama untuk dia menyembuhkan lukanya. Bagaimanapun masih ada sedikit luka didalam hatinya, apalagi jika dia teringat bagaimana pria itu yang selalu menyakitinya.
Aqila hanya ingin menenangkan dirinya supaya dia bisa ikhlas berdamai dengan keadaan. Bagaimanapun pria itu sangat dia cintai walaupun mulutnya selalu berkata pedas. Dia sendiri heran kenapa hatinya bisa berlabuh pada pria berhati es itu.
Maafkan aku, tapi aku harus melakukan ini, supaya kamu bisa menghargai apa arti sebuah hubungan, agar kelak dimasa depan kamu tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama.
TBC
__ADS_1