Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Isi Hati suami


__ADS_3

Malam semakin larut meninggalkan teriknya panas matahari dan menyisakan hawa panas yang semakin lama berubah menjadi sejuk dan dingin.


Suasana malam yang semakin dingin membuat setiap manusia semakin lelap dari tidurnya dan tidak ingin beranjak dari selimut yang membungkus tubuh mereka.


Namun hal itu sepertinya tidak berlaku untuk dua anak manusia yang saat ini tengah berada didalam kamarnya dengan aktifitas dan pikirannya masing masing.


Pipit yang tengah tertidur namun tidak bisa terlelap, gadis itu terus saja membolak balikkan badannya kekiri dan kekanan dengan keningnya yang sesekali berkerut pertanda ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikirannya.


Sementara Rio sendiri duduk disamping istrinya dengan kepala yang bersandar di head bad dengan tangan yang sesekali mengusap kening istrinya jika gadis itu kembali gelisah. Dan kemudian kembali terlelap karena belaian lembut tangan suaminya yang begitu menenangkan.


Pria itu dengan telaten merawat dan menemani istrinya semenjak siang. Karena lukanya yang tidak segera ditangani membuat gadis itu akhirnya mengalami demam tinggi, dan tentu saja membuat Rio menjadi khawatir.


Namun setelah ditangani oleh Dokter gadis itu kini mulai berangsur membaik walau masih terlihat sangat lemah.


"Apa kamu lapar ?" Tanyanya ketika melihat istrinya terbangun kemudian duduk bersender dibahunya.


Pipit menggeleng dengan gerakan yang sangat lemah, gadis itu masih merasakan pusing dikepalanya, walaupun suhu tubuhnya sudah kembali normal.


"Setidaknya isi perutmu sedikit saja sayang, dari siang kamu belum makan satu suap pun nasi." Ucapnya dengan nada khawatir.


Melihat istrinya hanya diam tanpa mengatakan apapun, pria itu mendesah pelan.


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu ?"


"Hmm.."


"Bagaimana perasaanmu ? Maksudku...hatimu padaku ?" Tanya Rio hati hati.


"Aku.."

__ADS_1


"Apa ada rasa suka dihatimu padaku sedikit saja ?"


"Itu..."


Rio meraih tangan kanan Pipit dan mengecup punggung tangannya dengan lembut. Karena tidak ada penolakan sedikitpun dari gadis itu akan sikapnya, membuat Rio sedikit merasa senang.


"Apa kamu tahu ingin sekali rasanya saat ini aku membawamu pergi jauh ketempat yang hanya ada aku dan kamu. Disana kita berdua bisa menghabiskan waktu bersama, saling mengenal satu sama lainnya, dan pastinya supaya aku bisa selalu menjagamu."


Pipit masih terdiam tanpa mengeluarkan suaranya, gadis itu menikmati momen momen yang membuat hatinya tersentuh dengan perlakuan lembut suaminya.


"Acha, bolehkah jika aku memanggilmu dengan sebutan itu ? Aku juga ingin menjadi sosok yang spesial untukmu dan menyebut namamu dengan nama yang spesial juga." Terkekeh pelan kemudian malanjutkan perkataannya. " Maukah kamu menikah kembali denganku ? Kali ini aku akan melakukannya dengan cara yang benar, lagipula sudah ada walimu yang sesungguhnya bukan. Sungguh rasanya aku ingin sekali memelukmu dan membuatmu menjadi milikku, walaupun sekarang pun kamu sudah menjadi milikku, tapi rasanya masih ada yang mengganjal."


Rio mendongakkan kepalanya dengan mata yang terpejam, menahan debaran jantungnya yang semakin menggila. Pasalnya pria itu baru kali ini mengungkapkan isi hatinya pada seorang gadis dan itupun hanya pada Pipit, istrinya.


Keringat dingin mulai merembes semakin deras membasahi tubuhnya. Dengan perasaan bercampur aduk antara malu dan gugup Rio terus saja berusaha menyampaikan apa yang saat ini dia rasakan.


"Sepanjang aku hidup baru kali ini aku merasakan perasaan yang berbeda pada seorang gadis, karena biasanya hatiku tidak pernah merespon tiap ada seorang wanita yang mencoba mendekatiku. Hatiku malah seakan merasa geli dan jijik ketika beberapa wanita mencoba merayuku ataupun mendekatiku. Aku sendiri tidak tahu ada apa dengan diriku ini.


Gadis aneh dengan tingkah lakunya yang bar bar dan tengil padahal dia berhijab membuat otak dan pikiranku langsung tertuju pada satu arah yaitu dirinya. Aku menyukainya, dan rasa suka itu lambat laun berubah jadi cinta, dan aku tidak suka saat dia mengagumi pria lain. Dan apa kamu tahu siapa gadis itu Cha ? Ya...gadis itu adalah dirimu, istriku."


Rio menjeda kalimatnya sejenak dengan kening berkerut, istrinya itu terlihat masih diam dengan kepala yang semakin menelusup didadanya.


Kenapa dia diam ? Apa dia malu ?


"Jadi Cha apakah kamu...astaga."


Pertanyaan yang akan dia lontarkan mendadak berhenti saat dia menoleh kearah istrinya. Pria itu mengusap wajahnya kasar dan sedikit frustasi kala mendapati istrinya yang sudah tertidur pulas. Pantas saja dari tadi dia tidak mendengar sedikitpun Pipit menanggapi ucapannya. Seketika Rio terkekeh dengan kejadian lucu barusan sembari menggelengkan kepala gemas.


"Aku sudah mengumpulkan keberanianku selama ini, dan ketika aku bertekad untuk menyatakan perasaanku, bagaimana bisa kamu malah tertidur sayang. Jadi dari tadi kamu nggak dengar satu katapun ungkapan cintaku ? Ya Allah Pipit, kamu memang menggemaskan." Ucap Rio sembari mencubit hidung istrinya dengan gemas.

__ADS_1


Hah..masa iya aku harus kembali menyatakan cintaku lagi sih, dasar Pipit setidaknya tahan dulu kek kantuknya.


Rio kembali merebahkan kepala istrinya dipembaringan dengan hati hati. Ditatapnya wajah cantik dan manis Pipit dengan seksama, kemudian dia tersenyum simpul. Pria itu mengingat kejadian barusan yang membuatnya terkikik geli.


Dia yang merasa mulutnya sudah kebas karena terlalu banyak bicara, tidak tahunya yang diajak ngobrol malah sudah terbang kealam mimpi. Sebenarnya salah dia sendiri kenapa mengajak ngobrol orang yang baru bangun tidur yang sudah dipastikan nyawanya belum terkumpul.


"Sepertinya aku harus mengulang kembali untuk menyatakan cintaku padamu dilain hari sayang, dan akan aku pastikan kamu tidak akan tidur sebelum mendengarkan ungkapaan cintaku ini." Kekehnya kemudian menyelimuti tubuh istrinya sampai batas dada.


Rio berdiri dan berjalan kekamar mandi, pria itu ingin membersihkan dirinya sebelum kemudian pergi istirahat. Sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging baginya untuk mandi sebelum tidur.


Sementara diranjang besar kedua mata milik seorang gadis yang tadi terpejam langsung membuka ketika mendengar pintu kamar mandi tertutup dari dalam.


Rupanya gadis itu hanya pura pura tertidur untuk menutupi rasa malu dan gugupnya. Dan tentu saja dia mendengar semua yang dikatakan oleh pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


Pipit berbalik arah menghadap kekamar mandi dengan pikiran yang melanglang buana. Senyumnya muncul seiring dengan jantungnya yang berdesir indah dan aliran darahnya yang mengalir hangat.


Entah kenapa hatinya berbunga ketika mendengar perkataan cinta Rio yang ditujukan untuknya.


Dia mencintaiku ? Sejak pertama bertemu denganku, Berarti perasaanku berbalas, tapi kenapa waktu itu sikapnya begitu menyebalkan.


"Terima kasih sudah mencintaiku...suamiku." Gumamnya lirih lalu kembali melanglang buana dalam mimpinya.


Kali ini gadis itu bisa tidur demgan sangat pulas, aneh memang semenjak Rio menyatakan perasaannya, hati gadis itu merasa plong dan seakan tidak memiliki beban apapun didalamnya.


Aku juga mencintaimu suami.


TBC


Maaf ya partnya sedikit pendek, nanti jika sudah membaik insya Allah akan aku bikin part yang panjang seperti biasanya..🙏

__ADS_1


makasih ya karena masih betah dan tetap mendukung author. Terima kasih juga atas doanya dari kalian, kesayangan author..aku terharu...😭


__ADS_2