
Tuan Aryan memandang lekat pada kedua putra, menantu dan juga putrinya dengan perasaan haru. Suasana dimansion kembali ramai, dan dia sudah tidak merasa kesepian lagi. Sekarang ada orang yang akan selalu menaninya sarapan dan juga makan dirumah makan ini. Biasanya hanya ada dirinya saja yang duduk disana.
Setelah sarapan pagi, mereka lalu beranjak ke ruang keluarga, karena seperti yang Tuan Aryan katakan semalam, ada beberapa hal penting yang ingin dia bicarakan dengan anak anaknya dan juga menantunya.
"Ada yang ingin papa bicarakan pada kalian semua."
Semua mata memandang pria itu dengan bibir yang membisu.
"Dhafa tolong persiapkan semua kebutuhan kita, besok pagi kita akan kembali berkunjung ke Semarang." Ucap beliau pada Dhafa.
"Untuk apa pa ?"
Tuan Aryan tersenyum mendengar pertanyaan Dhafa, membuat semua anaknya menjadi curiga.
"Semalam Kyai Lutfi yang menghubungi papa, dan beliau bilang jika uztazhah Syifa sudah memberikan jawaban atas permintaan papa."
"Lalu apa jawabannya pa ?" Akia nampak tidak sabar mendengar jawaban yang sudah diberikan oleh kakaknya itu.
Tuan Aryan lagi lagi tersenyum melihat putrinya yang nampak tidak sabar, sama seperti dirinya semalam yang tidak sabar mendengar jawaban yang selama ini dia nantikan.
"Beliau bilang jika ustazhah Syifa bersedia untuk menerima lamaran papa. Dan papa akan kembali kesana, karena dia meminta untuk acara nikahnya dilakukan diponpes milik Kyai Lutfi."
"Alhamdulillah.." Jawab mereka dengan serentak.
"Yes, akhirnya punya mama lagi." Celetuk Akia dengan wajah yang sangat bahagia.
"Sayang..jaga sikapmu." Bisik Azriel ditelinga istrinya pelan.
"Issh..kau ini menggangguku saja mas, aku ini sedang senang senangnya tahu." Cibir Akia pada suaminya.
Pria itu menarik pinggang istrinya untuk semakin dekat dengan dirinya, berbisik pelan ditelinga istrinya.
"Mas sudah merasa gemas denganmu semenjak dari semalam, jaga sikapmu atau mas cium kamu disini."
Akia mincep dengan bibirnya yang maju kedepan. Tuan Aryan yang melihat bagaimana putrinya yang tunduk pada Azriel hanya tersenyum dengan hari bahagia.
Papa bahagia karena sekarang kau terlihat bahagia sayang, Azriel memang pria yang ditakdirkan untukmu Sya. Semoga kalian selalu berbahagia.
Suasana berubah hangat dengan pembicaraan mereka, terkadang gelak tawa terdengar diruang keluarga. Membuat beberapa art dan Mbok Inem ikut merasakan kebahagiaan sang tuan rumah.
Mansion yang biasanya terlihat sepi, kini nampak begitu ramai dan hangat. Mbok Inem masih betah berdiri diujung sudut ruangan itu menatap haru keruang keluarga.
Semoga kebahagiaan selalu menghampiri keluuarga ini Ya Allah.
***
Setelah melewati beberapa hal akhirnya waktu yang dinantikan datang juga. Hari ini pernikahan kembali digelar diponpes milik Kyai Lutfi. Ruang aula yang besar itu nampak sesak dengan penuhnya lautan manusia yang ikut hadir menyaksikan orang nomer dua dinegaranya itu yang sedang melangsungkan pernikahan.
Kabar pernikahan Tuan Aryan memang selalu menjadi sorotan publik. Bahkan kabar kehidupan pribadi pria itu selalu dinanti nanti oleh beberapa channel TV. Pasalnya sebagai pembisnis sukses di negara nya beliau adalah orang yang terbilang jauh dari kabar miring.
__ADS_1
Akia memandang wanita yang sedang memakai baju pengantin dengan niqab menutupi wajahnya itu dengan hati yang bahagia. Disebelah mereka nampak Pipit yang ikut terharu melihat semua pemandangan indah tersebut.
"Kakak cantik sekali, papa beruntung bisa memiliki kakak."
Ustazhah Syifa tersenyum dibalik cadarnya, lalu memegang lembut lemgan Akia.
"Kakak yang beruntung bisa memiliki Akia didalam hidupku. Bersamamu hari hari kakak begitu berwarna. Terima kasih sudah mau hadir didalam kehidupan kakak yang membosankan ini."
"Kia titip papa ya kak, tolong jaga dan cintai papa dengan sepenuh hati. Kia tahu jika selama ini papa haus akan kasih sayang, Kia tahu kalau papa selama ini juga menderita dan kesepian. Tapi Kia egois dan tidak ingin tahu. Semoga dengan menikahi kakak, hidup papa akan kembali cerah."
Ustazhah Syifa mengangguk perlahan dengan kedua mata yang berkaca kaca.
"Insya Allah."
"Kalian berdua mau sampai kapan berhenti dari acara nangis nangisnya ? Aku juga ikut nangis karena sebentar lagi akan kembali kehilangan sosok sahabat dan kakak seperti kalian. Hiks.."
Suara tangisan Pipit membuat mereka berdua serentak menoleh kearah gadis itu. Lalu tertawa serempak melihat Pipit yang nampak menangis.
Mereka kemudian berpelukan seperti layaknya tertubbies. Hingga terbukanya pintu membuat mereka berpaling kesana.
"Sayang bawa ustazhah Syifa keluar, papa sudah menunggu disana."
"Iya mas." Sahut Akia pada Azriel yang berdiri didepan pintu.
Akia memandang lekat wanita bercadar itu, lalu memeluk tubuhnya dengan erat.
Mereka lalu membawa pengantin perempuan untuk duduk disamping penganti pria. Rona gugup dan canggung
melanda hati keduanya. Bahkan Tuan Aryan yang biasanya bisa bersikap tegas, kini beliau nampak sangat gugup dan itu terlihat jelas diwajahnya.
Pria itu belum pernah merasakan hal ini, sewaktu dengan almarhum istrinya, Keyla pria itu juga merasa gugup tapi tidak sehebat sekarang. Pria itu masih bisa menetralkan emosi hatinya.
Setelah acara pernikahan itu selesai digelar, mereka langsung mengundurkan diri dari ponpes tersebut dan langsung kembali Ke jakarta dengan menggunakan pesawat pribadi milik Tuan Aryan. Sementara Akia, Dhafa dan juga Azriel memutuskan untuk pulang melalui jalur darat, selain ingin melihat pemandangan disepanjang jalan, mereka juga ingin memberikan papanya waktu berduaan dengan istri barunya.
Sekitar dua jam kemudian Tuan Aryan sudah tiba mansion miliknya. Dengan tangannya yang selalu menggenggam tangan istrinya, pria itu turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk istrinya.
"Ayo turun." Ucapnya lembut terdengar ditelinga Syifa.
Wanita itu mendongak, melihat tangan suaminya yang terulur padanya. Tanpa ragu dan takut dia menyambut ukuran tangan suaminya yang langsung menggenggam erat.
"Selamat datang dirumah suamimu."
Syifa memandang takjub bangunan indah yang berdiri tegak didepannya itu. Bangunan yang begitu sangat luas dan megah.
"Ini rumahmu mas ?"
"Lebih tepatnya mansion milik keluarga kita. Milikku, milikmu, milik putra putriku dan putra putrimu." Bisik pria itu lembut ditelinga Syifa.
Syifa tersipu lalu memalingkan wajahnya kesamping. Mereka masuk ke dalam mansion dan disambut oleh semua pekerja yang ada disana, termasuk juga pak Min yang saat ini sedang tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan dan Nyonya."
"Mereka para pekerja yang ada disini, ini Mbok Inem, pak Min, kau pasti sudah kenal kan ? Lalu..bla ..bla..bla."
Syifa menganggul tanda mengerti.
"Kau pasti lelah kan, ayo kuberitahu kamar kita."
Deg
Deg
Deg
Jantung Syifa mendadak berdetak kencang saat kakinya melangkah mengikuti suaminya menuju kamar utama, yaitu kamar mereka berdua.
"Ini kamar kita, kau bisa langsung istirahat atau kau mau bersih bersih dulu ?" Tanya Tuan Aryan sesaat mereka sudah sampai didalam kamar.
"Aku ingin mandi mas, badanku lengket sekali."
Pria itu mengangguk lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya dan melangkah mendekati istrinya yang sedang tertunduk malu. Pria itu tersenyum lalu membawa tubuh Syifa untuk duduk di pinggiran ranjang.
"Syifa ada ingin mas katakan padamu." Ucapnya dengan mata memandang lekat kearah wanita yang masih memakai cadar itu.
"Kau tidak ingin menunjukkan wajahmu pada suamimu ?"
Syifa mendongak menatap sepasang mata elang didepannya, walaupun gugup tangan wanita itu bergerak perlahan untuk membuka niqabnya. Namun gerakannya berhenti saat suaminya memegang tangannya.
"Boleh mas saja yang membukanya ?" Ijinnya dengan mata masih terarah pada wanita didepannya.
Perlahan Syifa menganggukkan kepalanya tanda setuju. Pria itu lalu membuka penutup wajah istrinya dan lagi dia begitu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki syifa. Ini kedua kalinya dia melihat wajah istrinya, bedanya sekarang dia bisa sepuas hatinya memandang wajah cantik itu.
"Kau sangat cantik istriku."
Semburat merah muncul di pipi Syifa yang disambut oleh senyuman manis suaminya. Syifa memejamkan kedua matanya dengan jantung yang bergemuruh saat tangan itu membelai lembut pipinya dan berganti dengan benda kenyal dan dingin mengecup keningnya.
"Kau malu ?" Bisiknya dengan saling menempelkan keningnya dengan kening istrinya. Tidak dapat dia pungkiri, jika saat ini dirinya juga merasa gugup dengan jantung yang terus berdetak kencang.
"Syifa terima kasih karena sudah mau menerima lamaran ku dan bersedia menjadi istri dari pria tua sepertiku. Walaupun kau bukan yang pertama untukku, tapi aku berjanji akan menjadikanmu satu satunya wanita yang ada dihatiku selamanya, sampai akhir hayat ku. Dan aku akan menepati janjiku ini. Aku tidak bisa menghapus nama Keyla dihatiku, karena dia adalah sosok cinta pertamaku, tapi aku berjanji akan menempatkan posisi kalian sama besarnya dihati ini."
Syifa memandang wajah suaminya lalu memberanikan diri meraih tangan kekar milik suaminya.
"Mas tidak perlu menghapusnya dari hatimu, cukup jadikan dia sebagai kenangan indah yang akan selalu bersemayam dihatimu. Aku bersyukur dan berterima kasih pada kak Keyla karena mengijinkan aku untuk menjadi bagian dari hidupmu."
Tuan Aryan terharu mendengar ucapan istrinya, lalu dia memeluk erat tubuh itu dengan perasaan bahagia.
Aku berjanji kali ini tidak akan pernah menyia-nyiakan seseorang yang berharga dihatiku. Aku akan selalu membahagiakanmu. Istriku.
TBC
__ADS_1