Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Masih Truma


__ADS_3

Pondok Pesantren Daarul mukminin


Kedua orangtua Akia dan juga Azriel saat ini masih berada di ponpes milik Kyai Lutfi. Mereka sengaja masih berada disana selain karena Kyai Ahmad yang masih ingin melepas rindu dengan sahabatnya Kyai Lutfi, mereka juga berencana ingin mengadakan acara perpisahan Akia.


Terutama Tuan Aryan, pria itu sampai rela mengabaikan pekerjaannya dan menyerahkan semuanya pada orang kepercayaannya dikota. Demi sang putri tercinta pria yang masih terlihat muda dan tampan walaupun di umur nya yang sudah hampir menginjak kepala 5.


Diusianya yang sudah sangat matang yaitu berumur 46 tahun, Tuan Aryan tidak terlihat tua selayaknya orang lainnya. Malah pria paruh baya itu terlihat semakin mempesona dengan tubuhnya yang tegap dan kekar berotot.


Dulu dia memutuskan menikah muda dengan sang istri Keyla, saat itu usianya baru berumur 20 tahun, dan Keyla 19 tahun. Namun usia muda tidak menyurutkan langkahnya untuk meminang sang kekasih tercinta.


Saat ini bersama Dhafa, pria itu mengelilingi ponpes milik Kyai Lutfi sembari menunggu kedatangan putri tercintanya. Pria itu begitu tertarik dengan kondisi ponpes yang sangat nyaman walaupun berada didekat perkampungan. Pria itu berniat untuk menjadi pendonor dana tetap diponpes tersebut.


"Sudah kau siapkan semuanya Fa ?"


"Sudah Tuan, anda jangan khawatir."


Pria itu menghentikan langkahnya lalu mengernyit heran saat mendengar bahasa formal yang diucapkan oleh asistennya itu.


"Kau memanggilku apa ? Sudah kukatakan berkali kali panggil aku dengan sebutan papa, kau putraku sekarang. Suatu saat kaulah yang akan menggantikan posisiku di perusahaan Fa."


"Tapi tuan.."


"Papa sudah lelah Fa, papa ingin sekali berhenti dan menikmati hidup papa yang sudah semakin tua. Akia tidak mungkin menggantikan posisi itu, karena Azriel pasti tidak mengijinkan untuk putriku itu bekerja." Ucap Tuan Aryan lesu.


"Anda masih muda Tuan, tidak terlihat tua seperti kebanyakan orang."


"Fa.."


Menyadari kesalahannya Dhafa akhirnya hanya bisa menghela nafasnya secara perlahan.


"Baiklah tu- papa, Dhafa akan berusaha keras membantu papa diperusahaan." Ucapnya dengan sedikit kikuk. Pemuda tampan itu belum terbiasa dengan panggilan baru itu.


Tuan Aryan tersenyum lembut, ditepuknya pundak pemuda itu dengan perasaan haru.


"Kau putraku sekarang, setelah Akia papa tidak mempunyai siapa siapa lagi. Tapi sekarang papa sudah merasa tenang, karena ada kau yang bisa papa andalkan. Mulai besok pindah lah kemansion milik papa, sekarang kau juga berhak tinggal disana. Kau bisa menemani papa yang sendirian."


Dhafa merasa iba dengan kehidupan miris papa angkatnya itu. Dia tahu bagaimana rasanya hidup sendiri karena diapun hanya seorang anak yatim piatu. Tapi keberuntungan masih berpihak padanya, Allah mempertemukannya dengan Akia, sosok sahabat kecil yang sudah dia anggap sebagai saudaranya itu.

__ADS_1


"Pa.."


Kembali Tuam Aryan menoleh kearah Dhafa, putra angkatnya.


"Menikahlah kembali, mungkin jika papa menikah lagi papa akan kembali merasakan kebahagiaan."


Tuan Aryan mendadak berubah lesu. Pria itu menghela nafasnya dalam.


"Papa masih trauma Fa, kesalahan yang papa buat begitu besar. Papa takut jika nanti papa tidak sengaja melakukan kesalahan lagi, dan akhirnya istri papa meninggalkan papa lagi seperti almarhum Keyla."


Pria itu memejam kala teringat bagaimana dia menyakiti hati istri tercintanya dan dia jugalah penyebab kematian istrinya. Sungguh jika waktu bisa diputar kembali dia tidak akan melakukan hal bodoh. Keyla adalah sosok istri yang lembut, sholehah dan penurut tidak sekalipun dia membantah perkataan suaminya.


Mengingat itu membuat hatinya kembali teriris, sungguh penyesalan itu memang datang disaat terakhir. Saat dia sudah kehilangan orang yang sangat dicintainya.


Key, akankah kau memaafkan suamimu yang buruk ini. Aku minta maaf sayang, penyesalan ini selalu menghantuiku dan tidak membuatku merasa tenang.


"Pukul berapa Akia datang Fa ?" Tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sebentar lagi mereka sampai pa, tadi Akia memberi kabar jika dia sudah di jalan dan kira kira 15 menitan mereka sampai."


Tuan Aryan mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan buku yang terlihat banyak sehingga sedikit menutupi pandangan orang tersebut.


"Astagfirullah..Ya Allah Robbi." Pekik orang itu yang ternyata seorang wanita.


"Maaf anda tidak apa apa ? Saya tidak sengaja." Sahut Tuan Aryan lalu bergegas membantu wanita bercadar itu membereskan buku buku yang berserakan.


"Tidak apa apa tuan, saya yang harus minta maaf, karena kesalahan memang terletak pada saya. Saya begitu banyak membawa buku sampai menghalangi pandangan mata saya." Ucap wanita itu yang ternyata adalah Ustazhah Syifa.


Pria itu tanpa berucap lagi segera membereskan buku buku tersebut, dan semua itu tidak luput dari pandangan mata Dhafa yang menatap keduanya penuh arti.


Papa adalah orang yang sangat intovert semenjak kepergian Akia, dan baru kali ini aku melihat papa mau berinteraksi dengan lawan jenis. Apakah ini pertanda ? Aku merasa bersyukur jika yang aku pikirkan adalah benar. Ucap Dhafa didalam hati.


"Fa, kamu duluan menunggu Akia, papa mau membantu nona ini membereskan buku buku ini." Perintahnya tegas.


"Baik pa." Jawabnya dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya.


Setelah kepergian Dhafa, Tuan Aryan membantu Ustazhah Syifa mengangkat semua buku itu.

__ADS_1


"Tuan bagi setengah dengan saya, pasti itu terlalu berat untuk anda." Ucap wanita itu dengan suara lembut.


"Saya lelaki dan sudah sewajarnya saya melakukan yang berat berat. Dan sudah menjadi tugas saya mempertanggung jawabkan kesalahan saya." Ucapnya dengan nada berubah dingin.


Astagfirullah, pria ini sombong sekali, ya Allah berikan kesabaran pada hambamu ini. Sya papamu ternyata orang yang sangat sombong dan angkuh ya. Bathin wanita itu berucap.


"Dimana saya harus membawa semua buku ini ?" Masih dengan nada dingin dan datar, tuan Aryan bertanya pada wanita bercadar itu.


"Silahkan ikut saya tuan." Jawab Ustazhah tidak kalah dingin.


Ini perempuan tidak ada lembut lembutnya bersikap, bagaimana bisa putriku berteman dan dikelilingi dengan orang orang seperti dia, Ucapnya dalam hati tanpa menyadari jika sikapnya juga sangat dingin pada wanita itu.


Dengan hati kesal, ustazhah Syifa memberi petunjuk pada pria dibelakangnya menuju ke arah perpustakan. Karena buku buku itu memang baru datang dan harus segera didata.


"Silahkan Tuan." Ucapnya sembari membuka lebar pintu perpustakaan. "Anda bisa meletakkan semua buku itu dimeja sebelah sana." Lanjutnya dengan menunjuk ke sebuah meja yang ada dipojok ruangan.


Pria itu mendengus, melihat bagaimana wanita itu memberi perintah padanya. Padahal selama ini tidak ada satupun orang yang berani melakukan hal itu, sekalipun Keyla istrinya.


Wanita ini begitu menyebalkan. Gerutunya dalam hati.


"Kau tidak ingin mengucapkan terima kasih karena aku sudah membantumu." Tanyanya dengan nada kesal terdengat jelas disana.


"Tidak ada yang menyuruh anda untuk membantu saya tuan, tapi supaya anda senang, baiklah saya ucapkan terima kasih karena sudah membantu saya, Tuan." Ucapnya dengan menekan kata tuan.


Tuan Aryan mendengus, wanita itu sukses membuatnya kesal. Pria itu melangkah ingin keluar, namun secara bersamaan ustazhah Syifa juga hendak keluar. Namun malang kaki wanita itu menginjak gamisnya sendiri yang menjuntai kebawah, dan dia tidak sempat berpegangan pada sisi kursi disebelahnya.


Kedua mata itu terpejam dan pasrah jika tubuhnya akan mendarat sukses dilantai. Tangannya tanpa sadar berpegangan pada ujung khimarnya yang mana malah berakibat fatal, karena kini tindakannya itu malah membuat tali niqabnya terlepas dan memperlihatkan wajahnya yang cantik jelita.


"Astagfirullah halladzim."


Wanita itu beristighfar karena perbuatannya, kini dia malah melakukan kesalahan. Wanita itu masih terpejam hingga dia merasa ada sepasang tangan kekar dan kokoh menahan tubuhnya yang nyaris mencium lantai.


Hingga pada akhirnya matanya terbuka dan menatap wajah seseorang didepannya yang saat ini menatap tajam padanya.


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


TBC


__ADS_2