Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S.2. Gadis tengil


__ADS_3

Bandara Soekarno-Hatta


Pesawat jurusan Semarang - Jakarta baru saja mendarat dibandara Soetta sekitar 10 menit yang lalu. Dan dari kejauhan nampak berjalan sosok wanita berhijab dengan setelan kulot panjang dan long tunik selutut, tidak lupa pasmina panjang menjuntai menutupi hampir seluruh tubuh bagian depan dan belakang. Tidak lupa kacamata bening yang bertengger cantik dihidungnya yang tidak dikatakan mancung, tapi juga tidak dikatakan pesek, standar.


Gaya jalannya sunguh terlihat sangat anggun, apalagi wajahnya yang manis khas orang jawa, kulitnya tidak hitam juga tidak putih, wajahnya juga tidak putih cantik, tapi terlihat sangat imut menggemaskan. Semua orang yang berpapasan dengannya nampak ternganga karena sungguh manusia satu ini begitu imut dan menggemaskan Membuat ada rasa tertarik yang gimana gitu jika menatapnya.


Namun rasa kagum orang orang disekitarnya hilang seketika saat gadis itu tiba tiba mengeluarkan tingkah konyolnya.


"Welcome too Jakarta ! Miss you so much." Teriaknya dengan suara cemprengnya yang lantang dan keras membahana dengan kedua tangan yang merentang lebar.


"Astaga, berhijab tapi kok ga taunya tengil gitu ya."


"Cantik sih cantik tapi nggak nyangka sikapnya konyol, ga punya malu."


"Hilang rasa kagumku barusan."


Fitria Tsabita Nasha, atau lebih dikenal dengan panggilan Pipit itu nampak tertawa cekikikan. Pasalnya gadis itu sebenarnya mendengar ocehan yang dilontarkan oleh beberapa orang yang berpapasan dengannya. Dan rupanya Pipit sengaja bersikap seperti itu, selain karena memang begitulah sifatnya, Pipit ingin membuat orang memandang jelek padanya lalu mengabaikannya. Gadis itu terlihat sangat risih akan pandangan mereka yang menatap kagum padanya.


Mengabaikan tatapan penuh selidik dari orang orang disekitarnya, Pipit melenggang santai dengan senyum ramah yang selalu menghiasi bibirnya. Lagi saat sampai diluar Bandara, gadis itu memperlihatkan tingkah konyolnya.


"Aahh...senangnya, setelah sekian lama akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki dikota ini." Teriaknya lagi sambil berlompat lonpat kecil.


"Norak."


Pipit sontak menoleh kearah asal suara itu berbunyi, dan dilihatnya seorang pria berkemeja hitam yang begitu melekat pas ditubuhnya dengan kacamata hitam yang terselip ditengah tengah kemejanya.


Wajah tampannya begitu membuat para wanita terutama gadis disekitarnya berteriak histeris, dengan tatanan rambutnya yang dibiarkan teracak, semakin membuatnya terlihat manly.


"Astaghfirulah..."


Pipit langsung mengucapkan istighfar berkali kali karena tanpa sengaja tidak bisa menjaga pandangannya terhadap lawan jenis.


Sementara pria yang tadi mengatainya mengerutkan keningnya saat tanpa sengaja mendengar gadis itu mengucapkan istighfar. Sembari mendengus kasar, pria itu kemudian melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti.


Apa dia pikir aku ini hantu sampai dia harus mengucapkan istighfar. Dasar gadis aneh. Gumamnya dalam hati.


Sementara Pipit hanya memandang punggung pria itu dari belakang. Menggendikkan bahunya tanda acuh, lalu berjalan acuh menuju mobil yang dia yakini adalah taksi bandara.


"Pak tolong antar kealamat ini ya." Ucapnya sesaat dia sudah didalam mobil tanpa melihat keadaan sekitarnya.


"Tapi nona..."


"Udah pak, saya bayar lebih nanti. Saya udah ditunggu sahabat saya ini." Ucapnya lagi sembari membuka tasnya lalu mencari ponselnya.


Sang sopir menghela nafas panjang lalu melirik seseorang yang duduk dikursi belakang. Sorot matanya yang tajam membuat sang sopir menelan salivanya yang agak susah.


"Nona, ini bukan taksi Bandara, tapi mobil pribadi Tuan saya." Akhirnya kata kata itu keluar juga dari mulut sang sopir setelah dari tadi berusaha keras menjelaskannya pada gadis itu.


Pipit langsung menghentikan kegiatannya lalu menatap intens pada sang sopir.


"Maksud bapak ?"


Mengerti, sang sopir memberikan isyarat matanya lewat kaca spion. Dan seketika Pipit menoleh kearah samping kanan. Dan sontak saja kedua matanya melebar saat melihat pria yang mengumpatinya tadi duduk tepat disampingnya.


"Kamu !" Pekiknya yang langsung dihadiahi tatapan tajam dan dingin khas miliknya.


"Beliau majikan saya nona, jadi anda sebenarnya salah mobil." Jelas sang sopir.


Wajah Pipit langsung memucat, tidak menyangka jika dia bisa bersikap bodoh.

__ADS_1


"Kenapa bapak nggak bilang dari tadi." Cicitnya lirih.


"Saya sudah berusaha menjelaskannya dari tadi nona. Tapi nona sendiri tidak mau mendengarkan ucapan saya." Jelasnya lagi.


Pipit menghela nafas panjang. bagaimanapun ini salahnya, dia terpaksa harus turun. Tapi yang jadi masalahnya dia harus menunggu lama lagi untuk mendapatkan taksi.


"Baiklah pak, saya minta maaf." Ucapnya dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Jalan saja pak." Celetuk pria disamping Pipit.


"Tapi Tuan..." Sang sopir terperangah, baru kali ini tuannya mau berbagi mobil dengan orang lain. Biasanya tuannya itu akan langsung mengamuk dan mengomel tanpa henti.


"Jalan." Perintahnya lagi dengan nada dingin dan tidak ingin ada kata penolakan.


Sang sopir hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian perlahan menjalankan mobilnya menuju alamat gadis itu. Ngomong ngomong masalah alamat, sang sopir lalu meraih kertas yang tadi diberikan oleh Pipit. Keningnya berkerut saat melihat tukisan alamat yang begitu dia kenal.


"Tuan."


Pria itu tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang mendongak. Membuat Pipit mencibir sinis.


Ck, sombongnya. Apa rata rata orang kaya seperti itu, tapi Akia kayaknya enggak tuh. Gumam Pipit dalam hati.


"Alamat ini..." Ucapnya terhenti sembari memberikan secarik kertas itu pada tuannya. Nampak sudut bibir pria itu sedikit terangkat sambil melirik gadis itu.


"Antarkan saja gadis ini pak, itung itung dia dapet tumpangan gratis. Kan lumayan." Ketusnya pedas.


Pipit langsung melotot dengan sempurna mendengar ucapan pedas pria disebelahnya.


"Hei ! Aku masih bisa membayar taksi pakai uangku sendiri ya. Kamu pikir aku nggak punya uang, kalau ngomong itu disaring dulu, siapa tahu perkataan kamu itu membuat orang lain tersinggung." Teriaknya dengan suara cemprengnya.


Pria itu menoleh dan langsung memberikan tatapan mautnya, namun sama sekali tidak membuat Pipit merasa takut.


Sang sopir membelalakkan matanya melihat bagaimana gadis ini mempunyai keberanian yang bahkan orang lain tidak mempunyainya.


"Lalu apa maumu nona ? Sungguh mulutmu tidak secantik penampilanmu." Sindir pria itu sembari mendekatkan dirinya dengan mata yang menatap Pipit dari atas kebawah. " Apa kamu mau turun disini sekarang ?"


Glek


Pipit menelan salivanya keras keras, menelisik keadaan sekitarnya yang berada dijalanan tol membuatnya menggelengkan kepalanya keras.


"Berhubung kamu sudah memberiku tumpangan jadi aku akan turun ditempat tujuanku." Ketusnya sembari memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.


Aduh, malu malu deh, biarin ajalah daripada turun dijalan tol begini, lebih baik ikut saja sama pria aneh ini.


Sementara pria itu mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk lingkaran keatas. Walaupun hanya sesaat tapi sang sopir bisa melihatnya demgan jelas.


Baru kali ini aku melihat tuan tersenyum pada orang lain. Nona ini benar benar gadis ajaib, bisa meluluhkan hati tuan yang sekeras batu dan sedingin kutub es.


"Sudah bosan dengan profesimu itu pak Adi ? Jika iya aku akan dengan senang hati memecatmu." Suara bariton itu membuat lamunan pak Adi sang sopir langsung memucat seperti layaknya sebuah kapas.


"M-maaf tuan." Gugupnya.


"Fokus kejalanan." Titahnya lagi dengan wajah yang sudah berubah datar dan dingin.


Pak Adi langsung fokus kejalanan dan enggan untuk berfikir yang macam macam lagi, kalau tidak dia akan benar benar dipecat dan kehilangan pekerjaannya.


Sekitar 30 menit kemudian mobil itu sampai dipelataran rumah yang begitu besar tapi tidak semewah mansion milik keluarga Khanza. Dan disana sudah berdiri dengan anggunnya Akia yang sepertinya menunggu kedatangan sahabatnya.


Sementara Pipit sendiri sebenarnya agak bingung dengan para penjaga yang tiba tiba menunduk hormat padanya saat mobil yang dia tumpangi memasuki pelataran rumah Akia.

__ADS_1


Apa aku begitu berharga hingga mereka menunduk hormat padaku. Xixixi aku membayangkan kalau aku ini seorang putri.


Pipit cekikikan menahan geli saat membayangkan dirinya adalah seorang putri yang begitu dihormati oleh semua bawahannya.


Haish..aku ini ngelamunin apa sih.


Gadis itu lalu bersiap siap turun, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada sang sopir dan juga seseorang yang masih terduduk diam disampingnya.


"Pak Adi makasih ya tumpangannya, dan sampaikan pada tuanmu ini terima kasihku."


"Anda bisa menyampaikannya secara langsung nona." Seloroh pak Adi.


Pipit melirik sekilas pada pria yang terlihat acuh dan cuek dengan tangannya yang bermain main dengan ponselnya.


"Lewat pak Adi saja, sepertinya tuan anda sedang sibuk." Ketusnya dingin.


Tanpa berkata kata lagi Pipit langsung keluar dari mobil dengan tas ranselnya yang berada dipunggungnya. Gadis itu langsung berlari sembari berteriak kencang kearah Akia.


"Akia sahabatku, aku kangen sekali." Teriaknya dengan suara lantangnya.


"Haissh..sikapmu benar benar tidak berubah Pit. Kaleman dikit napah." Gerutu Akia pada Pipit.


Kemudian keduanya saling memeluk menumpahkan segala rasa rindu yang memenuhi hati keduanya.


"Hahaha..aku geli karena perutmu yang besar ini Kia." Gelaknya dengan tangan yang mengelus lembut perut sahabatnya.


"Udah berapa bulan ?"


"Sembilan bulan, dan aku tinggal menunggu detik detik hari itu tiba."


"Aku tidak menyangka jika sahabatku ini akan segera menjadi seorang ibu. Rasanya baru kemaren kita berpisah ya Kia."


"Makanya aku menyuruhmu kesini supaya aku ada teman. Soalnya mas Azriel sendiri sedang sibuk akhir akhir ini Pit. Kamu sendiri kapan menyusul ? Usiamu sudah semakin tua loh." Godanya pada gadis didepannya ini.


"Jangan menyinggung usia napa sih, sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan masalah jodoh. Aku yakin suatu saat Allah akan memberikanku jodoh yang terbaik untukku." Ucapnya dengan mimik muka cemberut.


Akia mengangguk pelan, lalu matanya menatap pada sebuah mobil yang masih terparkir didepannya dengan seseorang yang sudah keluar dari dalam mobil tersebut. Seakan tersadar, wanita itu menoleh kearah Pipit.


"Kamu kenapa bisa bareng sama dia ?" Tunjuknya pada pria yang mulai melangkah kearahnya.


Pipit menoleh lalu mengerutkan keningnya bingung.


"Kami bertemu diBandara, eh tapi kenapa dia malah turun kemari sih. Bukannya tugasnya sudah selesai ya."


"Maksudmu ?" Tanya Akia heran


"Maksudku aku tadi salah naik mobilnya yang aku kira taksi, tapi ternyata dia mau mengantarku kesini. Ya sudah aku terima aja, kan nggak baik menolak rezeki."


"Dia ? Mau mengantarmu ?"


"Hooh..emangnya kenapa sih ? Lagi kenapa wajahmu terlihat terkejut gitu Kamu kenal dia Kia ?"


Akia mengulum senyum lalu melirik kearah orang itu.


"Tentu saja aku mengenalnya, sangat kenal malah."


TBC


Maaf ya authornya baru up, 2 hari berkelana ditempat tidur..semoga tidak membuat para readers sahabatku ini tidak kecewa.🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya sahabat.😘


__ADS_2