
"Ekhem..."
Suara deheman membuat kedua makhluk Tuhan yang sedang asik bercengkerama sontak menghentikan obrolannya lalu menoleh kearah asal suara. Wajah Akia berubah ceria saat melihat pria tampan yang berdiri didepan pintu.
"Mas , kamu udah pulang ? Kok nggak ucap salam sih." Ujarnya sembari berdiri kemudian berjalan kearah suaminya, diraihnya tangan Azriel dan dikecup punggung tanggannya dengan lembut.
"Mas udah ucap salam sampai sepuluh kali Ratu, tapi sepertinya istriku terlalu larut dalam senda guraunya hingga tidak memperhatikan jika suaminya sudah pulang." Sahutnya dengan meraih pinggang istrinya yang sudah berubah lebar lalu mengecup singkat perut Akia.
"Hehehe..maaf ya mas. Aku tidak mendengar kalo mas sudah pulang." Ucapnya dengan wajah memelas.
Azriel tersenyum lalu mengecup kening istrinya tidak kalah lembut. Perhatian kecil Azriel ini tanpa sengaja membuat Pipit menjadi baper.
"Masya Allah so sweetnya mereka." Gumamnya sembari menyangga gemas dagunya dengan kedua tangannya.
"Jaga pandanganmu nona." Ketus Rio dengan wajah datarnya.
Pipit mendecak sebal, lalu memalingkan wajahnya tanpa menanggapi ucapan Rio. Gadis itu terlalu malas berdebat dengan pria yang menurutnya aneh itu.
"Kamu itu wanita berhijab, tidak pantas memandang lawan jenismu yang bukan mahramnya. Kalau tidak salah bukankah seperti itu ?" Celetuk Rio tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari laptopnya.
Semenjak pulang dari kantor, Rio bukannya bergegas membersihkan diri dikamar miliknya, tapi pria itu malah membuka laptopnya dan mulai mengontrol kembali pekerjaan yang belum diselesaikan dikantor. Begitulah sehari harinya yang dilakukan Rio jika ada dirumah. Kegiatannya tidak jauh jauh dari kata kerja dan kerja.
Selain Azriel yang tinggal disana, Rio juga mempunyai kamar sendiri yang ada dilantai 2. Bahkan sebelum Azriel menikah mereka memang tinggal bersama, maka dari itu tidak heran jika sehari hari Rio ada dirumah tersebut. Walau kadang kala pria itu sesekali juga bermalam diapartemennya.
Kembali ke Pipit, gadis itu langsung berjalan menuju kamarnya sendiri mengabaikan Rio yang menatapnya heran. Sudut mata Rio memperhatikan punggung Pipit yang semakin lama semakin jauh dan menghilang dibalik tangga.
Ada apa dengannya ? Apa begitu caranya berpamitan pergi ? Benar benar gadis yang aneh.
Akia yang menatap tingkah Rio menjadi sedikit heran, sejak kapan pria itu suka memperhatikan seorang wanita. Bahkan dia hafal betul jika Rio sangat alergi dengan yang namanya kaum hawa. Menurutnya kaum hawa itu sangat merepotkan.
Akia mencoba berpikir dan tidak lama kemudian dia tersenyum smirk. Entah apa yang ada dikepala wanita hamil itu, intinya yang pasti tidak jauh jauh dari kata jahil.
"Jangan suka mengusik kehidupan orang lain ratuku, nggak baik. Lebih baik usik suamimu ini saja, selain menyenangkan hati suamimu, kamu juga bisa dapet pahala." Godanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iiihh..nggak mau ah. Mas nggak lihat apa, gara gara mengusik mas perutku jadi membesar begini." Cetusnya spontan.
Azriel tidak dapat lagi menahan tawanya, sungguh rasa lelahnya hilang seketika saat melihat tingkah lucu istrinya yang semakin hari semakin menjadi. Inilah yang dia sukai dari Akia, walaupun gadis itu terlihat bar bar, tapi sejujurnya Akia hanyalah seorang gadis manja dan lucu.
"Kamu lucu sekali istriku, membuatku ingin sekali memberimu sebuah hadiah."
"Paling hadiahmu tidak jauh jauh dari kata ranjang mas." Gerutunya dengan wajah cemberut.
"Tepat sekali, istriku memang paling pintar." Jawabnya sambil menepuk pelan ujung kepala Akia.
💕 💕 💕
Pagi hari...
Aqila yang sudah rapi nampak bersiap siap hendak keluar dari rumahnya. Hari ini gadis itu tidak berniat untuk mencari pekerjaan. Setelah kejadian kemaren hingga hari ini Dhafa memang sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Bahkan mengabari lewat sms ataupun WA juga tidak.
Nampaknya pria itu benar benar membuktikan ucapannya. Walau ada rasa sedih dan kehilangan namun tidak membuat Aqila terpuruk, dia mencoba menerima dengan ikhlas. Kalau memang Dhafa jodohnya pasti Allah akan membuat mereka bersatu.
Bahkan pagi ini ponselnya terus berdering dan itu panggilan interview dari beberapa perusahaan yang selama ini dia masuki untuk melamar pekerjaan. Namun dengan halus gadis itu menolak permintaan mereka.
Aqila sudah membukatkan tekad untuk tidak lagi mencari pekerjaan. Setelah semalam berbicara dengan ibunya dan mengatakan semuanya yang telah terjadi, dengan wajah tetap mengulas senyuman sang ibu menerima segala keputusan putri sulungnya.
Bu Ningrum berlapang dada dan tidak mempermasalahkan jika putrinya itu mengundurkan diri dari perusahaan yang selama ini sudah membantu kehidupan ekonomi keluarga mereka.
"Rezeki, jodoh dan maut sudah diatur sama gusti Allah nak, jangan khawatir kalau kita nggak bisa makan. Siapa tahu setelah ini Allah memberimu rezeki yang tidak disangka sangka. Tetap berpikir positif dan jangan putus asa, Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan hambanya." Ucap Bu Ningrum semalam.
Dan pagi ini Aqila berniat untuk membuka usaha saja walaupun kecil kecilan. Dia dan ibunya sangat pintar membuat kue dan cake, jadi apa salahnya mencoba untuk berjualan. Dan semalam juga Aqila sudah mencari info tentang bangunan ruko yang disewakan.
__ADS_1
Masalah modal ? Aqila menarik sedikit uang ditabungannya untuk modal dia membuka usaha, dan uang itu akan dia kembalikan saat usahanya nanti berhasil, semoga saja.
Cklek
Pintu terbuka dan gadis itu sedikit mengerutkan kening saat dia membuka pintu disuguhi oleh adanya sebuah buket bunga yang begitu besar hingga menutupi seluruh wajah sang pengirim.
"Permisi pak, cari siapa ?"
"Nona Aqila ?"
"Iya saya sendiri."
"Ada paket buat anda nona."
"Dari siapa ?"
"Saya kurang tahu nona, yang pasti cowoknya tampan, gagah dan tidak sombong serta rajin menabung." Jawab kurir tersebut.
Aqila mengrenyitkan dahinya heran dengan jawaban kurir tersebut. Dan lagi dia merasa kenal dengan suara itu, penasaran gadis itu langsung menarik buket bunga tersebut.
"Hai sayang."
"Kamu !"
Pekiknya dengan mata membulat saat melihat sosok yang berdiri didepannya itu dengan wajah cengengesan. Seketika Aqila memasang wajah juteknya.
"Ngapain kesini ? Eh...eh...eh..main masuk aja." Ketusnya saat pria itu main nyelonong masuk kedalam rumahnya.
"Ah lega..capek tahu berdiri lama didepan pintu." Ujarnya dengan wajah lega.
"Siapa suruh."
"Ada tamu tu kasih minum kek, tega banget kamu. Haus tahu."
"Astaghfirullahallazhim, kejamnya kekasihku."
"Siapa yang kekasihmu."
"Kamulah sayang, siapa lagi. Udah ah marah marah mulu, minta minum dong sayang, pacarmu ini haus banget, sampe kering ni tenggorokan."
Aqila masuk menuju dapur lalu setelah meletakkan buket bunganya dimeja, mengambil segelas air putih dengan wajah yang cemberut. Lalu menaruh gelas itu dimeja dengan sangat kasar.
Tak
"Ya Allah kaget aku." Pekiknya pelan kemudian meminum air itu hingga habis, terlihat sekali kalau memang dia kehausan.
"Alhamdulillah, makasih sayang."
Aqila menatap dengan tajam pada pria yang ternyata adalah Dhafa. Mendapati tatapan tajam Aqila bukannya takut, tapi pria itu malah semakin santai dengan tangan yang memegang ponselnya.
"Mau ngapain kamu kesini." Ketus Aqila dengan wajah juteknya.
"Mau ketemu calon mertualah." Jawab Dhafa santai.
Aqila melotot dengan mulut terbuka.
"Sembarangan kalau ngomong."
"Nggak sembarangan sayang, memang benar kok. Kan aku mau nglamar kamu." Ucapnya lalu mengedipkan sebelah mata pada Aqila sembari tersenyum menggoda.
Aqila bergidik, aneh dengan perubahan sikap pria didepannya ini yang mendadak alay. Gadis itu mendekat lalu memegang kening Dhafa.
__ADS_1
"Nggak panas, tapi kok sikapnya kayak orang lagi sakit." Gumamnya.
Cup
Aqila membeliak, saat pria itu meraih tangannya yang menempel dikening Dhafa lalu mengecupnya singkat.
"Bilang donk kalau mau dicium, jangan malu malu gitu. Kalau orangnya minta pengen dicium juga ya sini tak cium juga."
Aqila langsung mundur kebelakang dengan tatapan penuh selidik pada pria itu.
"Ini Dhafa kan ? Dhafa Resmana Khanza, simuka es itu."
"Iya sayang, Dhafa pacarnya Aqila, kok simuka es sih. Aku sakit hati tau."
Aqila memijat keningnya yang mendadak pusing, melihat itu Dhafa beringsut mendekatinya.
"Sakit ya sayang, sini aku pijitin."
"Stop disitu, diem dan jangan bergerak." Teriak Aqila dengan tegas, sementara Dhafa langsung duduk dengan wajah mengulum senyuman manis.
"Assalamualaikumm, kaka...k." Sapa Amanda lalu menghentikan ucapannya saat melihat ada orang lain dirumahnya.
"Waalaikumussalam..halo kamu pasti sicantik Amanda ya, adik pacar kakak ini. Kenalkan kakak Dhafa calon kakak iparmu yang ganteng."
Amanda melongo melihat pria yang sangat tampan berada dirumahnya, sampai uluran tangan Dhafa pun tidak dia sambut. Sementara Aqila semakin pusing dengan sikap Dhafa yang benar benar berubah sangat narsis.
"Hai adik manis, kok malah bengong." Dhafa melambai lambaikan tangannya didepan wajah Amanda.
"Kakak tampan." Cetusnya pelan namun masih didengar oleh Dhafa membuat pria itu tertawa keras.
"Kakak memang tampan, kamu aja sampai bengong gitu."
Amanda tersadar lalu cengengesan untuk menutupi rasa malunya.
"Kakak memang tampan sih, tapi sayang udah tua bukan levelnya Manda."
Aqila tertawa sementara Dhafa melongo. Dengan gemas pria itu mengacak acak rambut Amanda hingga berantakan.
"Kamu lucu sekali sih, berhubung kamu sudah memuji ketampanan kakak, maka kamu akan kakak kasih hadiah." Dhafa melirik buket bunga yang tergeletak begitu saja dimeja, kemudian meraihnya lalu memberikannya pada Amanda. "Nih buat kamu."
"Waaahhh, cantik banget. Ini pasti mahal ya kak, secara ini bagus banget, wangi lagi. Beneran ini buat aku kak."
Dhafa mengangguk. " Oke makasih kak, oia Manda lupa bilang. Kakak disekolah lagi ada rapat makanya siswanya disuruh belajar dirumah." Lanjutnya lagi seraya menatap pada Aqila.
Amanda langsung berjalan menuju kamarnya dengan membawa buket bunga yang diberikan oleh Dhafa, tanpa dia sadari jika buket itu milik kakaknya. Dan sang pemilik sudah memberikan sorotan mata tajamnya pada pria didepannya itu.
"Kenapa ? Katanya tadi nggak mau." Tanya Dhafa santai, padahal dalam hati dia tertawa melihat bagaimana marahnya Aqila karena dia kerjai.
Aqila mendengus lalu duduk kembali dikursinya dengan hati yang mendongkol. Namun kemudian gadis itu teringat dengan rencananya hari ini dan hampir saja dia lupa. Itu semua karena kedatangan manusia es didepannya itu.
"Mau kemana ?"
"Bukan urusanmu." Ketusnya sembari meraih tasnya lalu keluar dari rumah.
Dhafa sendiri hanya tersenyum menatap punggung Aqila yang sudah menjauh, lalu perlahan pria itu bangkit berdiri dan menyusul Aqila yang sudah berjalan didepannya.
Aku pasti bisa mendapatkanmu kembali Qila.
TBC
Karena banyaknya readers aku yang masih bingung dengan nama Akia dan Akila yang hampir mirip, maka mulai sekarang nama Akila author ganti salah satu hurufnya saja ya untuk membedakannya. Karena jika mengganti nama akan terasa beda lagi karakternya, karena dari awal karakter dan nama Aqila sudah cocok.
__ADS_1
Mohon maaf kalau selama ini tidak nyaman ya sahabatku.
udah gitu aja pemberitahuannya..jangan lupa tinggalkan jejak ya..makasih..😊🤗m