Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Pembalasan cantik


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Mansion kediaman keluarga Khanza hari itu terlihat sangat sibuk, bagaimana tidak hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi sang Tuan rumah. Untuk pertama kalinya Tuan Aryan mengadakan acara ijab qabul pernikahan putra sulungnya, Dhafa Resmana Khanza, sang pewaris kerajaan bisnisnya.


Ya, sesuai janjinya, Dhafa akhirnya tinggal selangkah lagi untuk meminang sang kekasih hati, Aqila. Untuk acara resepsi sendiri, Dhafa memilih tema dengan latar belakang outdoor sesuai keinginan sang calon istri yang menginginkan suasana alam dihari bahagia mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, dan Bapak penghulu pun sudah siap duduk ditempatnya dengan sang mempelai pria yang juga sudah siap disana. Namun ada yang sedikit berbeda dari pria tersebut, nampak telihat wajahnya yang pucat dengan keringat yang menetes disela sela keningnya.


"Nak, kamu sakit ?" Suara lembut sang mama Syifa terdengar mengalun ditengah tengah suasana tegang, hingga membuat beberapa orang yang disampingnya sontak memandang kearah sang mempelai.


"Hah..nggak ma, Dhafa baik baik saja." Jawabnya dengan suara agak gugup.


"Tapi wajahmu pucat loh." Kekeh Mama Syifa dengan raut wajah khawatir.


Tuan Aryan sedikit menyenggol lengan sang istri, pria itu tahu apa yang dirasakan sang putra.


"Dia bukan sakit sayang." Bisiknya ditelinga sang istri.


"Trus ?" Dahinya mengerut dengan menatap bingung sang suami.


"Dia gugup, lihat saja tangannya sampai gemetaran itu."


Mama Syifa melirik kearah putranya, dan benar saja dia bisa melihat bagaimana sesekali Dhafa nampak meremas tangannya sendiri. Seketika perempuan itu cekikikan dibalik cadarnya.


Rio yang melihat sang kakak ipar nampak gugup, timbul niatnya untuk berbuat jahul. Berjalan mendekat kearah Dhafa dengan seringaian diwajahnya. Dhafa yang melihat wajah iparnya itu mendadak merasa aneh dan perasaannya sedikit tidak enak, seakan ada sesuatu yang akan terjadi.


"Jangan gugup bro, santai saja. Ingat nanti malam loh, rasanya enak tenan dijamin ketagihan." Ucapnya mencoba mengompori simuka es.


"Apa maksud loe, awas aja kalo berani macam macam." Sungutnya dengan memberikan tatapan tajam seakan ingin melahap habis pria didepannya ini.


"Nggak ada bro, mana berani aku. Nikmati harinya, dan selamat menempuh hidup baru. Jangan lupa minum obat kuat buat nanti malam." Selorohnya lalu beranjak berdiri dari duduknya, tapi sebelum itu Rio sempat berucap pada pak Penghulu.


"Pak cepetan dimulai, mempelai prianya sudah tidak tahan tuh." Candanya lalu segera berjalan menjauh sebelum dia diamuk oleh Dhafa, dalam langkahnya timbul seringaian licik diwajahnya yang tampan sembari menatap wajah Dhafa yang kini mulai berjabatan tangan dengan penghulu pertanda acara ijab Qabul segera dimulai.


Selamat bersenang senang nanti malam, bro.


Suasana berubah menjadi khidmat, tidak ada candaan ataupun hiruk pikuk. Semuanya larut dalam keheningan ketika sang mempelai melafalkan kata kata sakralnya. Dan mansion besar nan mewah itu ikut menjadi saksi ketika kata kata sah terucap lantang dan membahana disana.


"Sah."


Suasana haru dan bahagia turut menyertai langkah sang mempelai wanita yang berjalan penuh anggun menuju tempat dimana pria yang beberapa detik lalu sudah berubah menjadi suaminya. Dengan ditemani sang ibu dan adik perempuannya serta adik laki lakinya yang berjalan didepannya. Aqila menatap dunianya yang saat ini sedang berdiri menyambutnya dengan tatapan matanya yang memancarkan aura kebahagiaan.


Terpesona dengan kecantikan sang istri yang memakai kebaya pengantin berwarna putih yang menjuntai kebawah dibagian belakangnya. Dengan riasan khas Jawa Timur dan mahkota kecil yang menghiasi kepalanya, menjadikan Aqila benar benar menjelma bak dewi kahyangan.


Sementara Dhafa sendiri memakai setelan celana dan jas pengantin berwarna senada dengan kain batik yang melingkar dipinggangnya. Jangan lupakan dengan kopiah putih khas Jawa Timur yang bertengger dikepalanya. Membuat mereka menjadi pasangan yang begitu serasi.


Setelah acara Ijab Qabul selesai, mereka beristirahat sejenak sebelum acara inti yang akan dilaksanakan nanti malam dihotel milik keluarga Khanza. Mereka memilih hotel yang berada didaerah Bogor, selain karena memang disanalah hotel yang didesain khusus dengan tema alam, suasana disana sangat mendukung bagi sepasang pengantin baru.


Dan malam harinya semua sudah nampak siap dan langsung menuju ketempat acara. Dimana disana suasana sudah sangat ramai oleh datangnya para tamu undangan. Dan dialtar pelaminan sudah nampak pengantin yang berdiri menyambut para tamu yang ingin bersalaman dan mengucapkan selamat.


Akia menatap sekeliling dengan perasaan haru. Ibu dua anak itu terlihat sangat bahagia karena pada akhirnya semua mendapatkan kebahagiaan mereka. Kedua matanya terus menatap kearah sepasang pengantin yang tiada henti memamerkan senyuman kebahagiaan diwajah mereka berdua. Tanpa dia sadari airmata menetes diwajahnya yang cantik.


"Maaf, waktu pernikahan kita, aku tidak sempat mengadakan resepsi yang meriah seperti ini. Apa kamu sedih Ratu, apa perlu aku mengadakan resepsi buat kita juga." Bisik Azriel yang mengira istrinya sedih karena dulu tidak mengadakan resepsi pernikahan mereka.


Akia berbalik dan memberikan senyuman manis pada suaminya.


"Abi bicara apa, aku bahagia. Bagiku tidak perlu adanya resepsi mewah seperti ini, hanya dengan dan terus bersamamu aku sudah merasakan kebahagiaan yang sempurna. Aku hanya seorang gadis biasa tapi saat bersamamu aku merasa menjadi wanita yang paling sempurna. Karena engkaulah yang menyempurnakan hidupku mas."


"Ana Uhibbuki Istriku, Ratuku, belahan jiwaku." Bisik Azriel sembari memeluk erat tubuh istrinya.


Disisi lain, Rio pun tiada henti memandang wajah istrinya yang terlihat sangat cantik malam ini.


"Yank, benar kamu tidak ingin bulan madu gitu. Masa iya pengantin baru kayak kita ini nggak ngerasain honeymoon." Gerutunya sembari mencoba membujuk Pipit yang masih kekeh enggan untuk berbulan madu.


"Abang, setiap hari kan kita sudah bulan madu, tanpa harus berkeliling negara. Cukup disini dan hanya bersamamu bagiku sudah membuatku sangat bahagia. Tapi kalau abang memang tetap menginginkan honeymoon, baiklah aku mau. Tapi aku yang menentukan tempatnya." Ucap Pipit yang sudah lelah mendengar rengekan sang suami yang tiada henti.


"Oke, kemana kita akan honeymoon sayang." Jawab Rio antusias.


"Bolehkan kalau aku meminta ke Semarang saja ? Selain aku ingin berziarah kemakam orangtuaku, aku juga ingin berkunjung ketempat Kyai Lutfi. Aku janji setelah itu aku akan menyetujui kemanapun engkau membawaku pergi."


Rio menatap iba pada istrinya yang mendadak berubah sedih saat mengucapkan kalimat tadi. Tidak ingin istrinya bersedih lama, pria itu langsung mengiyakan keinginan Pipit.


"Oke, kita akan keSemarang dua hari lagi setelah acara ini. Setelah itu jangan menolak kemanapun abang akan membawamu pergi, setuju." Tawarnya yang langsung membuat sang istri kembali ceria.


"Aku mencintaimu abang."


"Abang lebih mencintaimu istri bawelku." Kekehnya sembari mendaratkan kecupan lembut dikening sang istri.


Sementara itu..


Dhafa menatap keseluruh ruangan dengan rasa bahagia yang membuncah dihatinya, lalu beralih menatap wajah sang istri yang nampak terlihat lelah. Tersenyum manis saat mata keduanya saling bertemu, dengan lembut meraih jemari sang istri dan menggenggamnya erat.


Sebenarnya ada perasaan sedih melanda hatinya dihari bahagianya itu. Bagaimana tidak, Arfan adik laki lakinya tidak bisa hadir diacara pernikahannya. Pemuda itu sedang sibuk dengaan kegiatan pendidikannya yang menyita banyak waktu, hingga membuatnya tidak bisa pulang keIndo.

__ADS_1


Walaupun bukan adik kandungnya, tapi rasa sayangnya pada Arfan begitu besar sama seperti sayangnya dia pada kedua orangtuanya. Dan dengan wajah sedih pemuda itu meminta maaf karena tidak bisa hadir dipernikahan abangnya. Dan dia berjanji akan pulang jika Dhafa junior nanti sudah hadir kedunia.


Malam semakin larut, dan kini para tamu sudah mulai mengundurkan diri pulang kerumah masing masing. Begitupun dengan keluarga lainnya yang juga mulai masuk kedalam kamarnya masing masing.


Didalam kamarnya Dhafa duduk dipinggiran ranjangnya menunggu sang istri yang sedang membersihkan diri sembari memainkan ponselnya sekedar mengecek perusahaan. Walaupun ini hari bahagianya, tidak membuat pria itu acuh dengan pekerjaannya. Disela senggangnya Dhafa tetap mengecek data data perusahaannya melalu Rama sang asisten.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan wajah polos Aqila yang tanpa makeup tapi terlihat sangat cantik. Dengan segera pria itu meletakkan ponselnya diatas nakas setelah sebelumnya menonaktifkan ponselnya supaya tidak ada yang mengganggu malam pertamanya.


Menghampiri sang istri yang hanya berbalut handuk kimono, lalu menarik pinggangnya hingga tidak ada jarak diantara mereka.


"Kamu cantik." Ucapnya lalu mengecup kening Aqila dengan lembut, dapat dia lihat wajah istrinya yang merona.


Dhafa terkekeh kemudian masuk kedalam kamar mandi meninggalkan sang istri yang sibuk dengan dunianya sendiri sembari memegang dadanya yang berdetak sangat kencang. Dalam hati gadis itu merasa bingung, apakah malam ini waktunya dia untuk menyerahkan mahkotanya pada pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Saking asiknya dia melamun, Aqila tidak menyadari jika Dhafa sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk sebatas pinggangnya. Pria itu mengrenyitkan dahinya saat melihat sang istri yang sedang duduk dipinggir ranjang dengan lamunannya.


Gadis itu tidak sadar dengan kehadiran Dhafa yang sudah berdiri tepat dihadapannya. Karena tidak ada respon sedikitpun akhirnya Dhafa berdehem keras demi membuyarkan lamunan sang istri.


"Ekhem."


Aqila kaget mendengar deheman keras dan seketika langsung kembali kedunia nyata. Namun dia semakin kaget saat melihat penampilan sang suami yang hanya mengenakan handuk. Dengan wajah memerah karena malu, gadis itu beranjak berdiri hendak menyiapkan pakaian suaminya.


"A-aku ambilin baju kamu dulu ya." Ucapnya gugup dengan jantung yang meloncat loncat ingin keluar.


Dhafa menarik lengan Aqila hingga gadis itu terjatuh dalam pangkuannya. Dengan cepat kedua tangannya melingkar dipinggang ramping sang istri, menatap penuh cinta wajah Aqila yang sudah memerah.


"Nggak usah pakai baju, nanti juga dilepas lagi." Bisiknya sensual ditelinga istrinya.


"Tapi.."


"Aku menginginkanmu sayang, sudah lama loh aku nahannya. Masa iya kamu nggak mau sih." Ucapnya dengan mimik muka melas.


"Nggak gitu..aku hanya takut."


"Takut apa ?"


"Itu..ehm..katanya kalau baru pertama kali itu rasanya sakit." Ucapnya dengan suara lirih.


Dhafa termenung, namun sejurus kemudian dia menahan senyum geli. Istrinya ternyata sangat polos, walaupun dia juga baru pertama, tapi dia bukanlah orang yang bodoh pengalaman.


"Aku akan melakukannya dengan lembut dan pelan, dan aku jamin pasti nanti kamu yang malah ketagihan yank." Bisiknya lalu langsung melancarkan serangannya.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu seketika menghentikan niatan Dhafa yang tinggal selangkah lagi membobol gawang istrinya. Enggan meladeni pria itu meneruskan kegiatannya.


Tok


Tok


Tok


Dhafa menggeram kala ketukan itu kembali menggagalkan kegiatan panasnya yang sebentar lagi masuk gol. Tetap tidak memperdulikan ketukan dipintunya, Dhafa kembali berniat meneruskan langkahnya. Namun ternyata sang istri kali ini yang tidak merasa nyaman.


"Yank, lihat dulu deh kayaknya penting itu, sampai dua kali loh ngetuknya."


"Biarin ajalah, nanggung ini yank." Desisnya pelan sembari menahan nyeri didaerah pusakanya.


Aqila melotot sembari menggeram kesal.


"Lihat atau nggak sama sekali." Ancamnya memberi ultimatum pada suaminya.


Dhaga terperangah, dengan terpaksa akhirnya pria itu bergerak menuju pintu setelah memakai handuk untuk menutupi pusakanya. Menuruti perintah istrinya dengan bibir yang mendumel memaki sang pengganggu.


"Maaf Tuan sudah menganggu malam anda, saya hanya ingin memberikan titipan ini untuk anda." Ucap sang pegawai hotel dengan kepala tertunduk takut melihat wajah garang Dhafa.


"Hmm."


Brakk


"Astaghfirulah Ya Allah, untung aku nggak punya riwayat jantung. Tuan Dhafa terlihat serem kalau lagi marah." Ucap sang pegawai lalu buru buru pergi dari tempat itu sebelum dilahap habis oleh bosnya yang seperti singa kelaparan.


Didalam Dhafa membawa bingkisan kotak kado yang berpita, mengrenyit bingung sembari berjalan kembali kearah ranjang.


"Siapa yank." Tanya Aqila.


"Entah, tadi pegawai hotel yang ngasih ini, katanya dari orang spesial gitu. Siapa ya."

__ADS_1


"Ada namanya nggak ?"


Dhafa mencari cari dan ada inisial R di ujung paling atas kotak tersebut.


"Dari R aja yank, cuma inisial aja, nama sih nggak ada."


"Coba buka yank."


"Jangan ah, nanti kalau bom gimana ?" Jawab Dhaga setengah panik.


"Kamu itu yang benar saja. Sini aku aja yang buka kalau kamu nggak mau buka." Tangan Aqila bergerak meraih kotak namun langsung dicegah oleh Dhafa.


"Eee..jangan, aku saja. Aku kan laki laki, masa iya kamu yang buka, kalau nanti beneran bom gimana, lebih baik aku yang terluka daripada kamu."


"So sweetnya suami aku." Jawab Aqila dengan wajah terharu.


Dengan jantung yang berdebar Dhafa membuka kotak tersebut dan seketika langsung membuang kotak itu saat sesuatu melompat keluar.


"Astaga..copot..ayam..tikus yank." teriaknya langsung menghambur kedalam pelukan Aqila dan membawanya keatas ranjang.


"Yank..yank, itu geli ya ampun, kurang ajar siapa sih yang sudah berani ngasih hewan menggelikan itu." Hebohnya sembari berteriak kesana kemari.


Aqila pun tidak kalah terkejut, wajahnya pucat pasi, diapun juga takut melihat hewan putih itu bergerak kesana kemari.


"Yank, kamu tangkep deh itu tikusnya." Perintah Aqila sembari memegang lengan suaminya.


"Lebih baik aku ditembak yank, daripada megang tu hewan. Hiiii."


"Yannnk." Pekik Aqila kesal karena tingkah suaminya yang penakut.


"Marah deh yank gapapa, asalkan jangan suruh aku buat megang tu hewan." Pasrahnya.


Aqila geram, lalu mendorong tubuh suaminya hingga meluncur kelantai dimana ada sang tikus berada disampingnya. Sontak pria itu berteriak keras sembari berlari ketakutan menuju sofa.


"Telpon pegawai hotel yank, minta tolong kek, atau apa gitu." Geram Aqila.


Dhafa cengo, kenapa nggak dari tadi pria itu menelpon pihak hotel. Dengan berjingit pria itu mengendap endap menuju ponselnya yang ada diatas ranjang sesekali mengawasi takut jika tikus kembali muncul dihadapannya.


Selang 30 menit kemudian pegawai hotel sudah bisa menangkap sang tikus putih, tidak lupa disertai bonus kecil dari Dhafa berupa omelan. Pria itu menggeram, pasalnya dia sudah tahu siapa dalang dibalik semua ini, siapa lagi jika bukan adik ipar tercintanya, Rio.


Dengan nafas yang masih setengah setengah, Dhafa kembali menghampiri sang istri yang sudah bersiap siap tidur.


"Yank, mau ngapain ?"


"Tidur." Jawab Aqila singkat, gadis itu masih kesal karena sikap suaminya yang penakut.


"Jangan tidur dong yank, kita belum iya iya nih."


"Nggak ada iya iya, aku udah nggak nafsu."


"Yank, jangan gitu dong. Trus ini gimana ?" Tanyanya sembari menunjuk kearah baby kecilnya.


"Bodo ah, aku ngantuk, noh ada sabun dikamar mandi, main aja sana sama sabun."


Dhafa menatap frustasi pada sang istri yang terlelap membelakangi dirinya. Mengacak kepalanya dengan wajah yang terlihat kesal.


"Aaakkkhh..Rio sialan. Lihat aja apa yang akan aku lakukan besok." Geramnya sembari menyumpah nyerapahi iparnya.


Sementara yang dimaki maki kini terlihat sedang menetralkan deru nafasnya setelah pergulatan panasnya dengan sang istri. Sesekali dia cekikikan membayangkan wajah frustasi dan kesal milik simuka es.


"Kenapa bang ?" Tanya Pipit dengan suara seraknya khas bangun tidur, gadis itu terlelap sebentar setelah digempur habis habisan oleh suaminya.


"Nggak apa apa sayang, hanya senang saja karena olahraga malam kita. Abang berharap semoga cepat hadir Rio junior disini."


"Aamiin."


TBC


Assalamualaikum, author menyapa.


Wah fantastis ini part terpanjang selama author menulis, 2400 kata, author persembahkan buat readerku tersayang..love..love..love..


Ada yang bertanya kenapa kok cepet banget tamatnya. Dari awal author sudah setting kalau kisah Dhafa, rio dan Aqila hanya sedikit. karena mereka hanyalah sekedar pelengkap dicerita author ini sayang. Lagipula mereka juga sudah menemukan kebahagiaan masing masing.


Lalu apa yang harus dibahas lagi, palingan nanti masalah hamil dan punya anak. ya ceritanya begitu begitu aja, takut malah bosan.


Nah nanti setelah cerita ini end, sesuai janji author akan buat kisah tentang Alex, masih adakah yang inget dengan babang tampan alex siketua gangster, nanti ceritanya tidak kalah seru dan banjir air mata ya.


kisah anak anaknya nanti dulu, authornya belum ada pandangan. Masih mau rilis cerita Alex dulu.


oke segitu aja dulu. tetap pantengin ya..love you full semua kesayangan akuh.


jangan lupa mampir dicerita author yang lain, AIRAKU SI GADIS TANGGUH. banyak bawangnya disana..hehehe

__ADS_1


secara author itu minik bikin kisah romangis, tapi kalau kisah sedih author bakatnya..hehehe..see you. Satu part lagi end ya..pantengin terus.


__ADS_2