
Kukuruyuuukkkk
Suara ayam berkokok di pagi buta membuat kedua mata yang terpejam itu langsung terbuka sempurna. Tubuh kecil itu menggeliat melemaskan urat urat nya yang terasa kaku. Wajah cantiknya tertutupi dengan rambut yang menjuntai kedepan. Dengan sedikit malas gadis itu bangun dari tidurnya lalu bersender di dinding kamar yang tidak terlalu besar, bahkan terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan kamarnya yang mewah.
Akia, gadis itu tengah menikmati suasana pagi dengan mata yang terpejam. Suasana pedesaan yang masih sepi jika di pagi buta menciptakan ketenangan dihatinya. Tidak sia sia gadis itu berada didaerah ini.
Segera Akia beringsut dari ranjang kecilnya lalu melajukan kursi rodanya menuju kekamar mandi yang berada diluar kamarnya. Setelah setengah jam lamanya akhirnya gadis itu keluar dari kamar mandi dengan badan yang sudah fres dan pakaiannya sudah terganti dengan baju santai.
"Selamat pagi kak ?" Sapa Arfan dengan wajah bangun tidurnya.
"Pagi..kau sudah bangun ?"
Dengan malas remaja itu menganggukkan kepalanya. Lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Kau sekolah hari ini Arfan ?"
"Iya kak..Arfan mulai sekolah hari ini. Arfan mau siap siap dulu kak."
Dengan tidak mengurangi senyuman dibibirnya Akia kembali melanjutkan laju kursi rodanya keluar rumah.Merentangkan kedua tangannya lebar sembari menghirup sejuknya udara pagi. Sungguh suasana pagi yang cocok untuk terapi hati dan pikiran.
"Selamat pagi neng Akia.." Sapa Bu Ani, Istri dari ketua Rt di kampung tersebut.
"Eh Bu Rt..selamat pagi. Mau kepasar bu ?" Sapanya ramah.
"Iya neng,,kalau begitu ibu duluan ya." Pamitnya ramah.
"Mari silahkan bu." Balasnya tak kalah ramah.
Akia menatap punggung perempuan paruh baya itu dengan senyuman tipis. Merasa senang dan bahagia dengan sikap ramah para warga disini. Sungguh jauh berbeda dengan tingkah orang orang kota yang jauh dari kata ramah. Mereka hanya terlalu sibuk dengan mengejar uang hingga melupakan tata Krama bahkan bersikap acuh dan cuek dengan tetangga.
Sudah satu bulan ini Akia tinggal didesa yang jauh dari kata mewah. Namun hati dan perasaan Akia merasa jauh lebih tenang daripada dia tinggal di ibukota yang ramai padat dan bising. Dan sudah beberapa kali juga gadis itu melakukan terapi pada kedua kakinya. Dan kini dia sedikit merasa ada perubahan, terbukti dengan kakinya yang sedikit demi sedikit mulai merasakan respon jika dia mengusapnya pelan.
Sungguh perubahan yang begitu membahagiakan, dia yang awalnya merasa pesimis kini mulai merasakan semangat dalam hidupnya. Dan hari ini adalah jadwalnya untuk kembali melakukan terapi dengan Ustazhah Syifa.
__ADS_1
Dan disinilah Akia berada sekarang.
Berada didalam salah satu ruangan pengobatan yang ada di pondok pesantren Daarul mukminin, Akia akhirnya bisa kembali bertemu Ustazhah Syifa.
"Assalamualaikum Akia." Sapa perempuan dewasa itu namun masih terlihat sangat cantik diusianya yang sudah matang.
"Waalaikumsalam Ustazhah Syifa." Sambut nya dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Bagaimana kabarmu ? Maaf ya sudah menunggu lama, tadi masih ada kajian dikelas." Ucapnya meminta maaf.
"Tidak apa apa Ustazhah, saya baru sampai kok."
"Jangan panggil saya Ustazhah ya, panggil kakak saja. Sepertinya umur kita tidak terlalu jauh. Lagipula kalau kamu panggil seperti itu, saya merasa ada jarak diantara kita." Ujarnya dengan senyuman indah terukir di bibirnya.
"Baiklah kak."
"Oke, kita mulai terapi nya ya. Bismillahirrohmanirrohim..." Ucapnya membaca basmallah sebelum melakukan pekerjaannya.
Sembari tersenyum Kak Syifa mulai melakukan pekerjaannya. Menekan beberapa titik saraf dipangkal kaki Akia dengan menggunakan sebuah benda yang sedikit tajam. Mata Akia selalu menyipit saat melihat benda itu, dihatinya seakan ragu apa benar dengan benda itu bisa membuat kedua kakinya pukih kembali.
"Bukan benda ini yang bisa membuatmu sembuh Sya, tapi hanya Allah yang maha mempunyai kekuatan yang bisa menyembuhkan setiap luka yang diderita oleh hambanya. Ngomong ngomong kakak sepertinya nyaman dengan panggilan tadi ya. Mulai sekarang kakak akan memanggil mu dengan panggilan Sya."
Akia tersipu, bagaimana bisa perempuan bercadar di depannya ini begitu sabar dan lembut padanya, jujur didalam hatinya dia merasakan kehangatan yang sudah lama hilang semenjak kepergian mamanya.
"Aaaaaa..." Teriaknya keras saat tiba tiba perempuan didepannya itu memukul kedua kakinya hanya dengan sebatang sapu lidi. Walaupun mustahil secara itu hanyalah satu batang sapu tapi Akia benar benar merasakan sakit yang luar biasa di kaki nya. Nampak keringat dingin sampai menetes membanjiri wajahnya yang cantik.
"Istighfar Sya..sebut nama Tuhanmu bukannya malah berteriak." Perintah Kak Syifa dengan senyum dibalik cadarnya.
"Maaf kak..tapi ini terasa sakit sekali."
"Itu berarti ada perubahan yang bagus Sya, kedua kakimu masih bisa untuk disembuhkan . Allah mendengar permintaanmu selama ini. Yang penting jangan putus asa dan terus berusaha. Karena Allah tidak akan membiarkan usaha hambanya menjadi sia sia."
Pak Min yang sedari tadi hanya melihat, pria paruh baya itu terlihat terharu dengan kedua mata yang berkaca kaca. Dengan kasar pria itu mengusak air mata nya yang hendak keluar saking bahagianya.
__ADS_1
"Cukup untuk hari ini ya Sya, dua hari lagi datang kesini. Jangan lupa ramuan obatnya diminum. Dan terus berdoa meminta sama Yang Kuasa."
Akia mengangguk lalu beringsut menuju kursi rodanya dengan dibantu Kak Syifa. Saat dia hendak berbalik tangan lembut gadis itu menyentuh lengannya.
"Sya." Panggilnya pelan.
Akia menoleh menatap wajah yang tertutup niqab itu.
"Kamu sangat cantik, tapi perempuan akan lebih cantik lagi jika dia menutup auratnya. Ingat didalam agama kita, Allah mewajibkan hambanya terutama wanita untuk menutup seluruh auratnya dari pria lain kecuali pada muhromnya. Kakak harap selain kau mengobati kedua kakimu, kau juga harus mengobati hatimu. Percayalah, dengan tertutupnya dirimu kau akan memdapatkan ketenangan hati."
Akia menunduk dalam sembari merenungi perkataan Kak Syifa.
"Hubungi kakak jika kau merasa siap, dengan senang hati kakak akan membantumu. Kakak yakin kau adalah gadis yang sangat baik dan sholeha."
Akia mengangguk lalu kali melanjutkan laju rodanya meninggalkan pondok pesantren tersebut.
Selama perjalanan gadis itu hanya terdiam membisu. Pikirannya melayang mengingat kata kata yang diucapkan oleh Ustazhah Syifa. Walaupun sedikit aneh dengan perasaannya yang tiba tiba bergemuruh, Akia merasa tenang dan nyaman saat perempuan itu berada di dekat nya. Seperti ada magnet untuk dia selalu mendekat pada Ustazhah itu.
Saking asiknya dia melamun, tanpa dia sadari jika saat ini mereka sudah sampai didepan rumah. Pak Min yang mendorongnya dari belakang nampak mengrenyit saat melihat Akia yang masih saja sibuk dengan lamunannya. Memang jarak antara rumah dan pondok sangat lah dekat, sehingga Akia tidak membutuhkan kendaraan untuk pergi kesana. Cukup dengan jalan kaki sembari menyapa beberapa warga yang kebetulan berpapasan dengannya.
Akia yang masih melamun tidak menyadari jika saat ini didepannya telah berdiri seseorang dengan posisi yang menyender pada bagian depan mobil sedan berwarna hitam. Kedua kakinya menyilang dengan tangan yang bersidekap di dada.
Wajah tampan dan teduh mirip oppa namun memiliki mata yang setajam elang
membuat daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Dan jangan lupa dengan kacamata yang bertengger cantik dihidungnya yang mancung, semakin menambah pesona pria itu.
"Sepertinya aku terlalu lama membiarkanmu menjauh ya. Sampai sampai kau lupa jika kau masih mempunyai hutang padaku. Bagaimana bisa kau melupakan hutangmu yang begitu besar, Sya."
Deg
Akia tersadar dari lamunannya seiring dengan detak jantungnya yang bergemuruh cepat. Wajahnya yang cantik menjadi pucat saat mendengar suara yang begitu familiar di telinga nya. Semakin memucat saat pria itu membuka kacamata hitamnya dan memperlihatkan wajah tampannya.
"Loe !"
__ADS_1
TBC