
Ruuuuunngg...
Ruuuuunngg
Akia mengecek kondisi motor besarnya. Kali ini dia memakai si Black kesayangannya selain si merah. Kedua motor sport kebanggaannya selama ini yang selalu membuatnya merasa sangat puas.
Sebuah tepukan halus dipundaknya membuat gadis itu berpaling kebelakang. Dahinya berkerut menatap pada gadis yang saat ini berdiri didepannya dengan kepala tertunduk.
"Kenapa lo ! Kepala berat kok nunduk gtu." Guraunya mencoba menghilangkan rasa canggung didalam hati gadis itu.
"Maafin gue ya Kia." Lirih Luna berucap.
"Maaf..emang lo punya salah kok bilang maaf ke gue." Celetuk Akia heran.
"Sikap gue ke elo sudah keterlaluan, gue minta maaf karena nggak dengerin apa yang lo bilang."
"Its ok. No problem." Jawabnya cuek lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
"Kia.." Panggilnya lagi membuat Akia menoleh padanya lagi.
"Apa."
"Lo yakin mau ngambil tantangan kali ini." Tanyanya lugu.
Akia berdiri dengan kedua mata yang memicing. Entah kenapa melihat sikap aneh sahabatnya membuatnya merasa heran.
"Kenapa lo ! Tidak biasanya lo kayak gini. Biasanya malah lo yang paling semangat deh." Ucapnya lagi.
Luna terdiam, entah kenapa diapun merasa heran dengan tingkahnya, karena tidak biasanya dia bersikap seperti itu.
"Entahlah, cuma tiba tiba perasaan gue ngerasa ga enak. Gue sedikit resah dan takut."
"Lo takut gue mati." Celetuknya spontan.
"Kia !!" Pekik Luna dengan mata melotot tajam. " Bisa ga lo kalo ngomong itu ga asal nyeletuk aja."
"Ya kali." Cengir gadis itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Akia menghentikan kegiatannya setelah dirasa kondisi motornya nampak sangat bagus. Gadis itu memandang wajah sahabatnya yang terlihat sangat muram. Dengan senyum tipis yang hampir saja tidak terlihat, Akia merangkul pundak Luna dengan hangat.
"Daripada wajah loe kusut gitu, mending temenin gue minum. Masih ada waktu 10 menit lagi sebelum pertandingan." Ajaknya berusaha menenangkan kegalauan Luna.
Dengan pelan Luna memgangguk mengiyakan ajakan sahabatnya, keduanya lantas pergi kearah dimana para anggota genknya berkumpul. Mengabaikan tatapan seseorang yang sedari tadi memperhatikan keduanya dengan seringaian tipis dibibirnya.
__ADS_1
***
Malam semakin larut, dan kedua manusia yang sudah siap melakukan pertandingan dengan motor kebanggaan masing masing.
Akia menatap fokus kearah jalanan, sesekali dia melirik lawannya dengan sudut matanya. Sedikit heran karena kali ini lawannya terlihat sangat acuh dan dingin. Ada perasaan janggal dihatinya, namun dia mengabaikannya karena dia belum mengetahui pasti apa perasaannya kali ini.
Saat aba aba pertandingan sudah di berikan,, keduanya langsung melesat menunjukkan kebolehannya dalam mengemudi kendaraanya masing masing.
"Ooiii...kenapa loe ? Sakit ? Dari tadi gue perhatiin loe terlihat aneh deh." Celetuk Chiko yang tidak bisa menahan diri lagi karena sedari tadi sikap Luna terlihat sedikit aneh dimatanya.
Luna menggendikkan kedua bahunya pelan.
"Entahlah, gue hanya ngerasa tidak enak saja, hati gue tiba tiba jadi deg degan. Gue ngerasa akan terjadi sesuatu pada Akia, apalagi sebelumnya gue pernah dapet pesan dari Ryan." Sahut gadis itu pelan.
"Maksud loe ?" Tanya Chiko.
"Jelaskan apa pesan dari pria berengsek itu." Sela Dhafa dengan cepat.
"Dia bilang Akia harus berhati hati dengan Viona, setau dia, Viona adalah wanita licik yang tidak akan pernah melepaskan mangsanya sampai keinginannya terpenuhi. Awalnya gue ngerasa kalo itu hanyalah pesan basa basi, tapi sekarang gue sadar jika pesan itu sangatlah serius. Gue takut..."
"Shit !" Umpat Dhafa memotong perekataan Luna, membuat ketiga sahabatnya langsung mengernyitkan dahi karena bingung dengan sikapnya.
Semakin bingung karena dengan cepat pria itu berlari menuju motornya dan melajukannya cepat menyusul Akia.
Dengan kecepatan penuh, Dhafa akhirnya bisa menyusul keberadaan sahabatnya. Namun dahinya berkerut saat melihat dari agak jauh ada yang aneh dengan laju motor Akia. Gadis itu seperti berusaha mengendalikan laju motornya yaang seperti kehilangan kendali. Meliuk liuk tidak jelas dengan kecepatan tidak beraturan, dibelakang Akia nampak lawannya yang berusaha mensejajarkan kendaraannya dengan motor Akia.
Dengan perasaan tidak menentu, Dhafa semakin mempercepat laju motornya menyusul kearah sahabatnya. Namun semua terlambat, karena tiba tiba...
Ckiiiitt
Bruak
Boom
"KIA !!!!!!!"
Dhafa mendadak menginjak rem motornya dengan tiba tiba, hingga menimbulkan decitan keras diatas aspal. Matanya membelalak melihat pemandangan mengenaskan yang terjadi didepan matanya. Dengan cepat dia berlari menuju arah dimana Akia tergeletak dengan tubuh yang berlumuran darah. Sedangkan lawannya nampak sudah kehilangan nyawanya.
Dapat dia lihat dengan jelas, bagaimana tiba tiba lawan Akia yang menabrakkan motornya pada motor Akia yang nampak masih mengendalikan laju motornya. Membuat Akia kehilangan kendali sepenuhnya. Motor besar itu nampak terpental dan terguling guling sejauh beberapa ratus meter. Hingga akhirnya meledak dan terbakar.
Sementara Akia nampak terlempar dijalanan setelah tubuhnya sempat menabrak sebuah pohon. Bahkan helm gadis itu sampai terlepas, dan memperlihatkan wajah gadis itu yang berlumuran darah.
__ADS_1
Dhafa menghampiri Akia yang nampak lemah dengan nafas yang tersengal sengal. Menatap wajah Dhafa dengan senyuman tipis. Membuat Dhafa menangis untuk yang pertama kalinya.
"Kia bertahanlah. Loe pasti selamat." Ucapnya dengan memangku kepala gadis itu yang terus mengeluarkan darah segar.
"Fa...gu..e..li..hat..ma..ma..apa..kah..gue..akan..ikut..ma..ma." Tanya gadis itu dengan nafas yang terputus putus.
"Nggak, loe ga gue ijinin buat pergi. Loe harus selamat, gue mohon jangan tinggalin gue Kia. Gue sayang sama loe."
"Fa..saha..bat..gue..yang..ter...ba..ik.." Putus Akia sebelum kesadaran gadis itu hilang.
"Kia !! Buka mata loe ! Gue mohon jangan tinggalin gue. Tolooong." Teriaknya histeris dengan tangisan yang menyayat hati. Pria itu memeluk tubuh Akia yang nampak lemas, dan mengabaikan bajunya yang penuh dengan darah.
Beberapa detik kemudian bantuan segera datang, bahkan nampak sebuah helikopter yaang Dhafa sendiri tidak tahu dari mana datangnya. Dilihatnya ketiga sahabatnya yang lain juga sudah ada di dan dengan ekspresi syok mereka. Bahkan Luna Dan Arumi nampak menangis histeris dan berlari kearah dirinya yang saat ini sedang memangku Akia.
Dengan segera Dhafa membopong tubuh lemah Akia dan membawanya kedalam heli yang segera melaju kerumah sakit. Sedangkan ketiga temannya menyusul dengan memakai mobil Chiko. Beruntungnya pria jenaka itu tidak memakai motornya kali ini. Walaupun hatinya sangat syok, tapi Chiko berusaha mengendalikan hatinya karena teringat bahwa saat ini dia harus membawa mobilnya dengan perasaan tenang, mengabaikan kedua sahabat wanitanya yang masih asik dengan isaakan tangis mereka.
Tidak jauh dari tempat kejadian, seorang pria nampak berdiri disana dengan sorot mata yang memerah dan kedua tangan yang mengepal kuat. Rahang pria itu mengeras hingga memunculkan urat urat didahinya. Berkali kali pria itu mengucapkan istighfar mencoba menetralkan emosi didalam hatinya.
"Yo, selidiki kasus ini, gue yakin ada sesuatu dibalik musibah ini. Gue ngerasa kejadian ini seperti sudah direncanakan." Perintahnya sembari melirik pada pria yang tergeletak dijalan dengan kondisi yang sudah kehilangan nyawa. Terlihat kondisi pria itu nampak mati mengenaskan dengan kepala yang pecah karena membentur aspal jalan dengan keras karena helmnya lepas sebelum dia terlempar dari motornya.
"Siap." Jawab pria yang dipanggil Yo tersebut dengan sangat antusias. Beruntung mereka tidak terlambat, dan segera memanggil heli pribadinya disana hingga gadis itu bisa tertolong dengan cepat.
****
Mansion keluarga Khanza.
Malam ini Tuan Aryan nampak tidur dengan raut wajah yang terlihat gelisah. Bahkan pria itu nampak membolak balikkan tubuhnya pertanda bahwa dia tidak bisa nyenyak dengan istirahatnya.
Pria itu akhirnya terbangun karena merasa kesal dengan dirinya. Mengusak wajahnya dengan kasar sebelum akhirnya duduk bersender di head ranjang. Entah kenapa hari ini perasaannya sangat tidak enak, dan bwrkali kali kepalanya terlintas wajah Akia, putrinya.
Diliriknya jam diatas nakas, menunjukkan waktu sudah jam 12, sudah sangat larut. Tapi putrinya belum jugaa kembali. Hatinya sangat cemas, tidak biasanya dia merasakan cemas yang berlebih.
Tuan Aryan meraih foto mendiang istrinya yang terlihat tersenyum dengan posisi memeluk dirinya dari belakang. Wajah Kayla terlihat sangat cantik. Itu adalah foto dimana mereka saat itu masih kuliah tahap akhir. Dan foto tersebut di ambil setelah Tuan Aryan melamar istrinya.
"Kay..aku merindukanmu." Gumamnya lirih.
Suara dering ponsel begitu nyaring membuatnya berpaling kearah benda pilih tersebut. Kedua matanya menyipit saat melihat ID pemanggil yang berasal dari anakbuahnya yang dia tugaskan mengawasi putrinya dari jarak jauh. Karena rasa penasaran yang tinggi akhirnya membuat pria itu mengangkat ponselnya dan menempelkannya diteilnganya.
"Apa !! Jangan bercanda kalian !" Teriak pria itu dengan suara yang sangat keras. Bahkan pria itu langsung berdiri seketika dengan raut wajah penuh ketakutan.
Tubuhnya gemetar dengan nafas yang naik turun. Hatinya terasa sesak dan pandangannya perlahan mengabur, sebelum akhirnya tumbang dilantai setelah memanggil nama putrinya.
__ADS_1
"Sya, putriku."
TBC.