
"Lalu apa yang Marco lakukan saat itu mas ? Bukankah dia tahu jika kecelakaan yang menimpa Riva adalah murni bukan kesalahanmu ? Semua adalah takdir, dan kita sebagaimana manusia tidak akan pernah tahu takdir yang Allah gariskan untuk kita." Tanya Akia sembari menatap langit malam dengan banyaknya bintang bertaburan disana.
Saat ini keduanya sedang berada dibalkon kamar mereka. Setelah kegiatan panas mereka tadi sore, Azriel memutuskan melanjutkan ceritanya setelah berkali kali gadis itu mendesaknya, bahkan sampai mengancamnya. Tentu saja pria itu langsung menyetujui permintaan istrinya daripada dia harus tidur sendiri disofa.
Jangankan tidur disofa sendirian, satu detik aja tanpa belaian istrinya membuat pria itu kelabakan. Dan pria itu tidak mau bernasib mengenaskan seperti itu. Berpikir kearah sana pun dia tidak mau.
Azriel membelai lembut surai hitam dan panjang milik istrinya, menghirup aroma wangi rambutnya yang begitu memabukkan. Mendekap erat tubuh Aira yang berada didepannya, dengan menyenderkannya di dada bidangnya. Sungguh pria itu sangat menyukai posisi seperti ini, memeluk istri tercinta dari arah belakang.
"Berkali kali aku mencoba memberi pengertian padanya bahwa semua yang terjadi adalah takdir. Aku tidak berniat untuk membunuhnya ataupun menjadi penyebab kematiannya. Namun tetap saja Marco menyalahkan aku atas semua yang terjadi pada Riva.
Dan waktu itu masih teringat jelas dalam ingatanku, Marco yang penuh dengan rasa amarah yang menguasai hatinya, berjanji jika suatu saat dia akan membalas semua yang telah terjadi pada Riva. Dia akan membuatku merasakan sakitnya kehilangan orang yang sangat aku cintai sama seperti dia yang kehilangan Riva, gadis yang dia cintai.
Aku tidak terlalu memperdulikan ancaman nya. Aku pikir dia hanya perlu menenangkan diri, tanpa aku tahu jika dia sudah berkhianat dan masuk kedalam kubu musuh. Hingga pada akhirnya aku mengalami peristiwa yang membuatku sadar jika selama ini yang aku lakukan adalah salah dan dosa yang sangat besar." ucapnya sembari memejamkan matanya mengingat semua kejahatannya dulu.
"Waktu itu aku ada perjalanan bisnis yang hanya aku sendiri yang bisa menanganinya. Dan ketika pesawat baru saja lepas landas, tiba tiba tanpa sebab pesawat meledak di udara seakan akan ada yang mengendalikannya.
Aku tidak sempat melarikan diri saat ekor pesawat meledak. Masih dapat aku rasakan bagaimana saat itu pesawat yang terjun bebas kebawah karena mesin yang sudah tidak berfungsi. Aku hanya pasrah menunggu kematian itu datang menghampiriku, hingga aku merasa seakan ada sosok seseorang yang menarik tanganku dengan lembut, mengajakku untuk ikut bersamanya.
Sebelum kesadaranku hilang aku sempat melihat wajahnya yang tersenyum manis, dan kau tahu sayang siapa dia. Dia adalah dirimu, aku melihatmu tersenyum sembari mengulurkan tanganmu mengajakku melompat dari pesawat terjun kelaut bebas sebelum pada akhirnya aku tidak sadarkan diri."
Alis Akia mengerut heran, lalu mendongak menatap Azriel dengan berbagai macam pertanyaan.
"Bagaimana bisa aku menolongmu mas, sedangkan kita saja baru bertemu beberapa tahun kemudian kan."
"Kamu benar Sya, tapi entahlah aku sendiri merasa bingung. Mungkin itulah cara Allah memberikan aku hidayahnya, pertolongan Allah datang begitu cepat disaat aku sudah berpikir jika nyawaku akan berakhir mengenaskan.
Beberapa hari aku tidak sadarkan diri, dan ketika membuka mata, aku melihat Rio dan juga kedua orangtuaku yang nampak khawatir dengan wajahnya yang pucat. Dan semenjak itu aku memutuskan untuk menjalani kehidupanku dengan normal dan meninggalkan duniaku. Aku memberikan Black Dragon pada Antoni, orang kepercayaan ku yang tersembunyi.
Dan aku sendiri mulai menjalani bisnis halalku dari nol, dan mulai kembali belajar agama. Dan dengan seiringnya waktu usahaku mengalami perkembangan yang pesat dan sampai ketahap sekarang, walaupun tidak sebesar perusahaan papa Aryan, tapi berkat kemampuanku dan juga Rio yang selalu setia disampingku, membuat semua kehidupanku berjalan seperti semestinya." Ucap Azriel diakhir akhir ceritanya.
"Lalu bagaimana dengan Marco ? Apa yang terjadi setelah peristiwa itu ?"
__ADS_1
"Sesuai dugaanku dan Juga Rio, Marcolah dalang dibalik peristiwa meledaknya pesawat yang aku tumpangi. Dan sesuai dengan bukti bukti yang akurat, polisi membawanya ke penjara federal yang ada Di Amerika, menetapkannya sebagai penjahat paling berbahaya.
Aku selalu memantau gerakannya hingga saat ini, sampai aku mendengar jika dia sudah bebas setelah menjalani hukuman selama kurang lebih 15 tahun lamanya. Dan aku tidak menyangka jika pada akhirnya dia nekat menampakkan dirinya dihadapanmu Sya. Aku benar benar khawatir, aku merasa takut jika sampai dia mencelakaimu. Aku tahu bagaimana kejamnya dia yang selalu menghalalkan berbagai cara demi keinginannya tercapai. Aku tahu betul bagaimana hatinya karena aku sendiri lah yang sudah melatihnya untuk menjadi manusia kejam." Ucap Azriel sendu.
Akia merenung mencerna semua perkataan suaminya. Jujur didalam hatinya, gadis itu juga merasakan ketakutan yang besar. Tapi seperti biasa Akia selalu berusaha bersikap tenang dan berpikir keras.
Saat ini yang harus mereka berdua lakukan adalah saling menguatkan satu sama lainnya, jangan sampai pertahanan mereka goyah. Akia berbalik lalu membenarkan posisi duduknya. Menatap penuh serius wajah suaminya.
"Hanya ada satu cara yang harus kita lakukan saat ini mas, dan aku pikir ini adalah jalan satu satunya supaya kita bisa memikirkan langkah selanjutnya. Menilik dari penjelasanmu tentang bagaimana sadis nya Marco yang lebih cenderung seorang psikopat, aku rasa tidak ada salahnya kita mengambil langkah ini."
"Apa maksudmu sayang ? Apa yang harus kita lakukan ?"
Akia menatap kedua manik mata tajam itu, lalu bangkit dari duduknya.Kedua tangannya bersikuku pada pagar balkon dengan tatapannya menjurus tajam ke langit.
"Kita harus memberitahu papa dan abah mas." Ucapnya dengan nada tegas.
"Tapi Sya.." Kelu Azriel berucap, ada nada ragu yang tersimpan disana.
"Apa kamu yakin Sya."
"Insya Allah mas, lagipula kita bisa meminta bantuan papa, sebagai pengusaha yang sukses papa jelas mempunyai banyak koneksi yang kuat, tidak hanya di negara ini saja, tapi kekuatan papa juga menyebar diberbagai negara. Siapa yang tidak mengenal pengusaha besar dan kuat nomer 2 di seluruh Negara." Ucap Akia yakin dengan kekuatan milik keluarga Khanza.
"Apa kamu yakin papa akan membantu kita."
"Aku sangat yakin mas, bahkan keyakinan ku pada papa jauh melebihi keyakinanku pada diriku sendiri. Sebenarnya papa adalah orang yang sangat baik, tegas dan kuat. Selama ini tidak ada satupun yang berani mengusik ketenangan keluarga Khanza. Karena sikap papa yang bisa dipercaya makanya Kakek merestui mama Keyla untuk menikah dengan papa. Dan menyerahkan seluruh kerajaan bisnis kakek untuk dipercayakan pada papa."
Azriel menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menyetujui usulan istrinya.
"Baiklah jika itu memang pilihan yang terbaik. Kita harus bergerak cepat Sya, jangan sampai kita terlambat...."
Belum selesai Azriel berucap, mendadak ponsel Akia berbunyi nyaring, membuat gadis itu dengan segera meraih ponselnya yang ada diatas meja.
__ADS_1
Dahinya berkerut saat melihat ID pemanggil yang tertera di layar ponselnya.
Papa ? Malam malam begini ? Ada apa papa menelponku ?
"Siapa yang menelpon malam malam begini Sya ?" Tanya Azriel saat melihat kerutan didahi istrinya.
"Papa mas."
"Papa Aryan ? Ada apa, tidak biasanya beliau menelpon malam begini."
"Entahlah mas, tapi perasaanku mendadak gelisah mas."
Dengan ragu dan hati was was, Akia menggeser layar hijau lalu menempelkannya ditelinga.
"Assalamualaikum pa.."
📞 Sya....bla..bla..bla..
Tut
Panggilan langsung terputus sebelum Akia sempat membalas perkataan papanya. Namun yang pasti, wajah gadis itu berubah dingin dan menakutkan. Ada kemarahan yang begitu dalam terlihat jelas disana.
"Sya.." Panggil Azriel karena istrinya yang tidak kunjung bersuara setelah mendapat telepon dari mertuanya.
"Kita terlambat mas."
"Apa maksudmu ? Terlambat bagaimana.?"
"Akan aku jelaskan dijalan, sekarang kita harus kerumah papa, saat ini, malam ini juga. Aku tidak ingin terlambat lebih jauh lagi. Ayo mas !" Seru Akia yang langsung berkelebat menuju rumah mangambil jaket kulitnya.
TBC
__ADS_1