
"Papa ayo cepetan nanti kita terlambat." Seru bocah lelaki berusia 5 tahun itu dengan tangan yang bersidekap didada memperhatikan kedua orangtuanya yang berjalan seperti siput.
"Hei boy, kenapa terburu buru ? Papa kan harus menunggu mama, apa kamu tidak kasihan sama mama hm ?" Tanya Dhafa lembut sembari berjongkok menyamakan tingginya didepan putranya.
"Niel sayang sama adik bayi yang ada diperut mama, tapi Niel juga nggak mau nanti Inces marah sama Niel papa, gara gara kita telat datangnya." Gerutunya dengan mata yang berkaca kaca. "Opa, Oma dan Uncle Aul aja udah berangkat duluan tadi." Imbuhnya dengan bibir mengerucut.
"Maaf ya sayang, apa mama tidak usah ikut aja, jadi biar Abang Niel dan papa yang kesana." Sahut Aqila lembut.
"Nggak mau kalau mama nggak ikut, nanti siapa yang jagain mama. Ya udah kalau mama nggak ikut, Niel nggak usah kesana." Lirihnya sembari menundukkan kepalanya. " Niel sayang mama."
Dhafa dan Aqila saling berpandangan dengan wajah yang mengurai senyuman. Walau terlihat dingin dan datar, Niel sebenarnya bocah yang sangat manja dan lembut, sama persis dengan Dhafa, tapi sifat itu hanya dia tunjukkan pada papa dan mamanya saja.
"Yuk berangkat, nanti kalau disini terus kapan nyampenya."
"Tapi mama gimana pa ?"
"Mama ikut donk, masa udah cantik begini nggak ikut sih."
Seketika wajah murung itu berubah sumringah, dengan manja Niel menggandeng tangan lembut milik mamanya.
"Adek bayi, Abang sayang sama adek, tapi maaf sekarang sayangnya sama Inces dulu. Nanti kalau adek bayi udah lahir abang janji akan sayang dan jagaian adek." Janjinya yang membuat kedua orangtuanya menggelengkan kepala.
"Menggemaskan." Ucap Aqila pelan.
"Seperti kamu sayang, apalagi kalau kita lagi ehem, suaramu sangat seksi dan menggemaskan." Bisiknya ditelinga Aqila.
Aqila melotot tajam pada suaminya yang asal bicara tidak memperhatikan tempat. Tangannya bergerak ingin mencubit suaminya, namun keburu pria itu berlari menghindar masuk kedalam mobil dengan tawa yang sudah membuncah.
Mobil sedan warna hitam metalik itu keluar dan melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman Rio dan Pipit yang tidak jauh dari mansion Utama. Sejak dalam perjalanan bocah lelaki itu tiada henti berceloteh ria, rupanya dia tidak sabar untuk segera bertemu dengan adik sepupunya itu.
Selama hampir 3 bulan mereka tidak pernah bertemu, rasanya dia menjadi sangat rindu pada Inces, bocah perempuan yang hanya berbeda beberapa bulan saja dengannya. Inces, putri pertama Rio dan Pipit itu memang menjadi kesayangan Niel. Saat sedang berkumpul 3 minggu yang lalu, Inces tidak datang karena ikut orangtuanya ke Singapure menemani papanya yang sedang dalam perjalanan bisnis.
Inces bocah yang sangat lembut dan penurut, makanya Niel sangat menyayanginya selain karena dia memang adik sepupunya. Berbeda dengan Azura yang sifatnya bertolak belakang dengan Inces, bahkan bisa dilihat tiap mereka bertemu sudah seperti api dan air saja.
Kediaman Rio
Rumah besar dua lantai tapi tidak terlalu besar itu nampak begitu ramai. Hiasan dan pernak pernik khas perempuan terlihat jelas disana, bahkan dekorasinya semua bertema tentang Frozen, yaitu kartun kesayangan Inces, lebih tepatnya Princes Humaira Zahrani.
Hari ini gadis kecil itu sedang merayakan ulang tahunnya yang ke- 5. Raut wajah bahagia terlihat jelas diwajah imut gadis kecil yang mengenakan hijab tersebut. Sama seperti Azura, Inces juga sudah diajarkan untuk menutupi auratnya sedari kecil.
__ADS_1
Dikamar...
Pipit sedang memakai hijab pasminanya didepan cermin saat tiba tiba dia merasakan sepasang lengan kekar meraba perutnya dan melingkarinya dengan erat. Disusul kepala suaminya yang bertengger manja dipundaknya. Senyum menghiasi wajah tampan Rio yang menatap tidak berkedip istrinya.
"Achaku sangat cantik." Bisiknya lalu mengecup singkat pipi Istrinya.
"Gombal."
Pria itu terkekeh lalu membalikkan tubuh Pipit supaya menghadap padanya. Tangannya bergerak membenahi pasmina Pipit yang belum selesai.
"Itu benar, bahkan aku tidak rela kalau mereka yang diluar sana melihat kecantikan Achaku."
"Abang terlalu lebay."
"Apa kamu dikamar aja sayang."
"Sudah seperti burung didalam sangkar emas akunya abang."
Kekehan itu kembali terdengar, saat ucapan spontan istrinya keluar dari bibirnya yang seksi.
"Kan enak, sangkarnya loh dari emas, bisa dijual lagi."
Bibir tipis itu mengerucut, membuat sang empunya nampak terlihat menggemaskan.
Cup
Cup
Pria itu malah kembali melabuhkan ciumannya kembali, dan kali ini bukan hanya sekedar kecupan singkat tapi ciuman yang panjang dan memabukkan. Membuat Pipit yang ingin memberontak pun percuma. Wanita itu tahu kalau suaminya sudah berbuat maka tidak ada yang bisa mencegahnya.
"Masih tetap sama, manis." Godanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Wajah istrinya itu sudah memerah dan memanas, kata kata mesra suaminya selalu sukses membuat dirinya tersipu. Dengan manja dia memeluk tubuh kekar Rio dan menemggelamkan wajahnya diceruk leher sang suami. Rasanya sangat nyaman ketika dia menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh Rio.
Pipit semakin menggesekkan hidungnya dileher suaminya, sesekali wanita itu mengecupnya singkat. Lalu beralih pada dada bidang Rio dan kembali melabuhkan ciumannya disana. Membuat kedua mata pria itu memejam menikmati sentuhan istrinya.
"Sepertinya istriku sangat manja hari ini, ada apa Acha." Gumamnya pelan sembari menahan gairah akibat sentuhan istrinya.
"Hmm."
__ADS_1
Hanya deheman yang dia dengar karena sekarang tangan sang istri yang tidak bisa dikondisikan. Pipit sendiri tidak tahu akhir akhir ini dia ingin selalu berdekatan dengan suaminya, dimanja, disentuh bahkan ingin setiap detik dan menit selalu bersama sang suami merasakan sentuhan sentuhan tangan nakalnya.
"Sayang." Suara Rio sudah berubah serak karena gairah yang sudah naik keubun ubun." Ingat sebentar lagi acara putri kita akan dimulai. Kita bisa melakukannya setelah acara selesai hm." Bujuknya pelan dan hati hati.
Mendadak Pipit melepaskan pelukannya lalu berjalan kearah ranjang dengan wajah sedih dan mata yang sudah berkaca kaca. Entah kenapa penolakan suaminya membuat wanita itu merasa sedih dan sakit.
Rio mengrenyit bingung melihat tingkah aneh istrinya. Berjalan pelan menuju ranjang lalu berjongkok didepan Pipit yang langsung memalingkan muka.
"Hei kenapa marah ? Abang bukannya menolak tapi acara putri kita akan segera dimulai. Mungkin para tamu juga sudah ada yang datang sayang, percayalah abang pun menginginkannya tapi waktu kita tidak tepat Achaku."
Bukannya menjawab wanita itu malah menangis membuat Rio seketika panik.
"Sayang."
"Turunlah, aku mau disini saja." Ketusnya lalu berdiri dan berjalan kearah walk in kloset hendak mengambil baju santainya.
Rio menghela nafas panjang melihat perubahan sikap istrinya yang mendadak aneh. Diliriknya jam yang melingkar dilengannya, masih ada waktu 1 jam setengah.
Pipit yang sudah melepaskan gamis panjangnya dan hendak memakai baju santai tiba tiba mengurungkan niatnya saat tubuhnya dipeluk dari belakang. Disertai kedua tangan Rio yang sudah berkelana diseluruh tubuhnya.
"Abang.."
"Sstt..kita bisa bermain cepat, masih ada waktu satu jam setengah sayang."
"Tapi.."
"Abang juga menginginkanmu." Jawabnya singkat membuat Pipit seketika tersenyum ceria, awan mendung sudah hilang berganti dengan awan cerah secerah langit sore yang berwarna Jingga.
Membalikkan tubuh istrinya lalu mulai mendekatkan wajahnya kewajah Pipit. Mengeksplor semua yang ada diwajah dan tubuh sang istri. Perlahan Rio menggendong tubuh Pipit lalu membawanya keatas ranjang.
"Kenapa abang begitu tampan sih, membuatku selalu mengagumi wajahmu ini." Celetuk Pipit ditengah tengah suaminya yang bergerak memanjakannya.
Rio tergelak mendengar ucapan Pipit.
"Kamupun sangat cantik Achaku, membuatku selalu tergila gila padamu. Bukan hanya wajahmu, tapi semua tentang dirimu membuatku menjadi gila."
"Aku mencintaimu sayangku." Ucap Rio disela sela kegiatannya.
Dan hari itu disaat para tamu mulai berdatangan dibawah, sepasang suami istri itu malah asik bertempur didalam kamar menikmati suasana panas yang semakin membuat panas. Bahkan rengekan gadis kecil dibawah sana tidak mereka hiraukan karena asiknya mereka tenggelam didalam kenikmatan indahnya surgawi.
__ADS_1
Dibawah para art nampak sibuk membujuk sang putri yang merengek karena lama menunggu kedatangan orangtuanya yang tidak kunjung turun kebawah. Hingga rengekannya berhenti saat melihat sebuah mobil sedan hitam yang muncul dipelataran rumahnya.
TBC