Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Extra part. 3


__ADS_3

Niel bersorak saat mobil papanya mulai masuk dipelataran rumah adik sepupunya, bocah kecil itu tiada hentinya berceloteh panjang lebar. Membuat kedua orangtuanya tersenyum kecil sembari menggelengkan kepala.


"Sayang pelan pelan turunnya, jangan buru buru." Ucap Aqila ketika Niel tidak sabaran untuk segera turun.


"Maaf ma."


Aqila tersenyum manis lalu memandang kearah suaminya yang sudah turun lebih dulu dan saat ini sedang membuka pintu mobil untuk anaknya.


"Sepertinya putraku tidak sabar ingin segera bertemu dengan Inces. Dia sama sepertimu selalu tidak sabaran." Seru Aqila dengan kekehan kecil.


"Sayangnya kamu mencintai pria tidak sabaran ini." Bangganya.


Aqila memutar bola matanya malas menanggapi ucapan suaminya yang mendadak berubah tinggi tingkat kepedeannya. Wanita yang 3 tahun yang lalu memutuskan untuk menutup auratnya itu nampak turun dari mobil dengan sangat pelan dan hati hati.


Perutnya yang sudah membesar membuatnya sedikit kesusahan dalam bergerak. Dhafa yang berubah menjadi suami siaga pun tidak hanya diam, dia ikut membantu sang istri dengan lembut.


"Hati hati."


"Ini juga gara gara kamu."


"Kenapa bisa aku ?"


"Iyalah, kalau kamu tidak menyerangku setiap malam mana mungkin perutku jadi besar begini." Gerutunya.


Dhafa tergelak, lalu merangkul mesra istrinya.


"Kamupun menikmatinya sayang."


Aqila hanya mencebik, malas menanggapi ucapan suaminya.


Sementara didalam rumah..


Inces berlari kegirangan menyambut kedatangan abang Nielnya yang sedang berjalan menuju pintu rumah. Wajah cantiknya terlihat sangat sumringah, sepertinya gadis kecil itu sudah melupakan rengekannya karena kedua orangtuanya yang tidak juga kunjung turun kebawah.


"Abang Niel kenapa baru datang."


Pria kecil itu menampilkan senyum manisnya, lalu menepuk pelan ujung kepala adiknya dengan sayang. Terlihat sekali jika dia begitu menyayangi adik sepupunya.


"Maaf ya, abang terlambat, tapi kan belum dimulai acaranya. Dimana orangtuamu ?"


Wajah gadis kecil itu berubah cemberut, mengingat orangtuanya yang belum juga menampakkan diri. Sementara para tamu sudah mulai berdatangan.


"Tau ah, Inces males."


"Hei kenapa wajahmu murung begitu."


"Abang ayo kita kesana." Ajaknya manja sembari menarik lengan kakak sepupunya menuju Taman belakang yang luas dimana acara ultahnya digelar.


Tanpa bantah Niel menuruti keinginan adiknya dan melupakan pertanyaannya tadi. Saat tiba di Taman dimana sudah disulap menjadi istana princes, kedua matanya berubah tajam dengan wajah yang mendadak dingin.


Disana dia melihat pemandangan yang sukses membuatnya jengah. Sosok Uncle kecilnya, Arsyif sedang duduk berdua dengan Jeje dan saling melemparkan canda. Jangan lupakan tangan Arsyif yang nampak sibuk menyuapi cemilan pada gadis berusia 9 tahun tersebut.


"Niel." Panggil Arsyif melambaikan tangannya pada keponakannya itu.

__ADS_1


Niel hanya melirik sekilas lalu berjalan menjauh menghindari dua makhluk yang sedang asik dengan dunianya itu.


"Dia kenapa ?" Tanya Arsyif pada Jessy.


Gadis kecil itu mengangkat kedua bahunya acuh dan tidak mau tahu dengan apa yang terjadi pada Niel.


"Mana aku tahu."


"Kau itu terlalu cuek dengannya Je."


"Apa urusannya denganku ? Aku juga tidak terlalu dekat dengannya. Lagian aku kurang suka dengan sikapnya yang dingin dan jutek."


Arsyif menghela nafas lega, sebenarnya dia tahu penyebab Niel bersikap seperti itu, tidak lain karena keponakannya itu menyukai sahabatnya ini.


"Aku rasa dia suka sama kamu deh Je."


Gadis kecil itu melotot, memandang Arsyif dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apa kau sudah tidak waras Ar ? Kita bahkan masih kecil, masih bau kencur. Gimana bisa ada perasaan seperti itu." Seru Jeje dengan gelak tawanya yang membuncah.


"Hei, yang namanya suka itu tidak harus muncul ketika kita dewasa Je, bahkan kita bisa menyukai seseorang diwaktu masih kecil."


Seperti aku yang menyukaimu Je.


"Udah ah, jangan ngomongin masalah gitu. Aku aja masih SD, masih jauh buat ketahap orang dewasa." Menatap wajah Arsyif dengan mimik muka yang berubah serius. " Lagipula kalau sudah dewasa nanti aku hanya mau menikah dengan orang yang namanya sudah ada disini." Imbuhnya sembari menunjuk dadanya.


"Siapa ?"


Jeje tersenyum lalu mencomot cemilan yang dipegang Arsyif, menggigitnya sedikit lalu memberikannya pada Arsyif, menyuruh bocah kecil itu memakannya.


Arsyif termangu mencerna maksud dari kata kata Jessy.


"Sahabat..apa itu artinya adalah aku." Gumamnya.


"Je berhenti, katakan padaku siapa dia." Teriaknya sambil berdiri dan mengejar gadis itu yang tengah berlari sambil tertawa.


Tanpa mereka tahu sikap dan tingkah laku keduanya tidak luput dari penglihatan kedua wanita cantik. Siapa lagi jika bukan Viona dan Syifa.


"Apa nanti kita akan menjadi besan kak ?" Tanyanya pada Viona.


"Apa kamu mau jadi besanku ?"


"Kenapa tidak, Jessy adalah anak yang baik dan ramah. Putrimu anak yang humble kak, dalam sekejap bisa membuat banyak orang menyukainya."


Viona tertawa mendengar penuturan Syifa, lalu memandang penuh kagum pada wanita disebelahnya ini.


"Dia memang gadis yang ceria, mirip seperti papanya. Dan aku bersyukur bisa mendapatkan keduanya."


Syifa tersenyum, menggenggam erat tangan Viona dengan hangat.


"Ada kalanya kita harus menderita terlebih dahulu sebelum akhirnya kebahagiaan datang kak. Tapi apapun itu percayalah, takdir Allah tidak pernah salah."


"Kamu benar, dan aku juga sangat beruntung bisa mengenalmu dan mendapatkan adik sepertimu. Apapun hubunganku dimasalalu dengan mas Aryan, percayalah aku sekarang tidak pernah lagi berpikir untuk kembali padanya. Dengan adanya Jason dan Jessy disisiku, aku sudah mendapatkan arti apa itu kebahagiaan."

__ADS_1


"Aku tahu kak."


Meninggalkan kedua wanita yang sedang asik dengan obrolannya, kini beralih pada sepasang suami istri yang sedang menuruni tangga dengan saling bergenggaman tangan. Senyuman lebar terukir diwajah cantiknya ketika melihat tamu yang sudah memenuhi Taman belakang.


"Mereka sudah datang semua ya." Tanyanya polos tanpa rasa bersalah.


"Sepertinya mereka menunggu kita sayang."


"Aku harap mereka tidak kecewa abang, maaf sudah membuatmu harus membersihkan diri lagi." Ucapnya dengan kepala tertunduk.


"Tidak masalah manis, kebahagiaan istriku jauh lebih penting dari segalanya." Bisiknya mesra ditelinga Pipit.


"Kalian ini sampai kapan mau bermesraan seperti itu ? Apa tidak melihat jika kami disini semua sudah menunggu kalian yang ternyata malah asik dengan dunia kalian sendiri." Ketus Akia dengan kedua tangan yang sudah berkacak pinggang.


Rio dan Pipit terkejut lalu tersenyum kikuk saat mendapati Akia yang sudah berdiri dengan sorotan mata tajamnya. Pipit sendiri bahkan sampai cengengesan tidak jelas sembari perlahan menghampiri sahabatnya itu.


Sementara Rio jangan ditanya lagi, Rio tetaplah Rio. Manusia es kedua setelah Dhafa. Pria itu tetap melangkah santai menuju Taman belakang seolah olah tidak pernah berbuat salah. Padahal jangan salah hatinya saat ini sedang bergemuruh menahan malu.


Acara ulang tahun Inces berjalan dengan lancar. Gadis kecil itu tiada henti menampilkan wajah cerianya saat menerima berbagai macam bungkus kado, entah itu dari teman temannya ataupun dari kedua orangtuanya.


Disampingnya berdiri abang Niel yang seolah olah menjadi bodyguard nya. Menjaga adiknya dengan sangat posesif,, seakan akan adiknya itu akan ada yang melukainya. Sesekali sudut matanya melirik kearah dua anak kecil yang berdiri berdampingan dengan bergandengan tangan.


TBC


Part bonusnya sudah selesai ya, dilanjut nanti dengan cerita anak anak mereka. Tapi masih nanti, saat ini Mama Nisharaa masih fokus dengan babang Alex dan Aira yang masih on going. Disusul dengan kisah Arfan tapi dikamar sendiri.


Jangan lupa terus dukung author ya.mampir juga dinovel author yang lain.




Airaku sigadis tangguh




Revenge of Love.




Oh iya Aira ikut lomba minta dianya semoga Aira ikut menjadi pemenang ya. Tapi author nggak terlalu berharap menang sih, saingannya eeyyy dahsyat.


See you dinovel author lainnya.😘😘


Love love love love love love love


Love love love love love love love


Love love love love love love love

__ADS_1


Love love love love love love love


Love love love love love love love


__ADS_2