
Dimalam yang sama...
Dhafa terus saja melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Sesekali hembusan nafasnya terdengar keluar dari indra penciumannya, sembari melirik kearah gadis yang saat ini sedang sibuk dengan laptopnya.
"Yank masih lamakah ? Ini sudah pukul 5 loh."
Gadis itu memijat keningnya, kala telinganya mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Dhafa untuk kesekian kalinya.
"Mau kemana sih ? Dari tadi nanya begitu mulu."
"Surprise dunk, kalau tak kasih tahu ya bukan surprise namanya."
"Tapi toko masih rame Dhafa."
Bibir seksi nan sedikit tebal namun berisi itu cemberut dengan mimik muka yang terlihat lucu.
"Ada ibu kan ? Lagi Amanda juga ada disini, ayolah sayang ya ya." Bujuknya saat melihat sang adik yang melintas didepannya.
"Udah si kak, kasian abang tu dari tadi nungguin kakak, sampe rela ninggalin kerjaannya buat kakak." Timpal Amanda dengan senyum tipisnya kemudian membentuk tanda oke dibelakang Aqila.
Sementara Dhafa mengerlingkan sebelah matanya pada sang calon adik.
"Ck, palingan kalian berdua itu sudah sekongkol dibelakang aku." Tebak Aqila dengan memberikan lirikan maut pada sang kekasih.
Glek
Dhafa mendadak susah menelan salivanya, tatapan tajam Aqila seakan mampu menembus tantungnya.
"Nggak yank, suer deh."
Aqila meroling matanya malas dengan sikap kekasihnya yang mendadak alay.
"Sudah sana pergi saja nak, biar toko ibu dan adikmu yang jaga."
Akhirnya suara sang malaikat menyelamatkannya juga, tadinya Dhafa berfikir untuk meminta bantuan sang ibu kekasihnya, tapi pucuk dicinta ulam tiba. Yang diharapkan akhirnya datang membantu sebelum dia meminta tolong.
"Tapi bu.."
"Udah ga papa, mungkin nak Dhafa memang ada keperluan penting denganmu nak."
Aqila menghela nafas kemudian mulai membereskan pekerjaannya, hingga beberapa menit kemudian gadis itu kembali menghampiri Dhafa dengan tas jinjingnya.
Setelah berpamitan dengan calon ibu mertuanya, Dhafa berjalan menyusul langkah Aqila yang sudah lebih dulu berjalan didepannya.
"Ibu yang terbaik...cup." Bisiknya ditelinga wanita paruh baya itu dengan memberi senyuman termanisnya.
__ADS_1
Bu Ningrum mengulum senyum tipis sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah calon menantunya itu. Beberapa bulan mengenal pria yang diketahui adalah mantan bos putrinya itu, membuat Bu Ningrum tahu seluk beluk tentang pria itu. Bahkan dialah yang meminta Aqila untuk menemani Dhafa waktu pergi ke Semarang beberapa hari yang lalu.
Bu Ningrum merasa kebahagiaan putrinya berada ditangan orang yang tepat. Walau sempat merasa kecewa pada Dhafa yang pernah menyakiti hati putrinya, tapi kini wanita paruh baya itu percaya kalau pria itu sudah berubah total, dilihat bagaimana perilaku Dhafa akhir akhir ini yang sangat kentara pria itu begitu mencintai putrinya.
"Mau kemana sih ?"
Dhafa tersenyum tipis mendengar kekasihnya itu kembali memberikan pertanyaan yang sama. Pria itu tidak menjawab hanya fokus pada jalanan didepannya, dengan tangan yang selalu menggenggam erat jemari tangan kekasihnya.
"Nanti kamu juga akan tahu." Jawabnya singkat.
Aqila enggan mempertanyakan lagi apa yang ingin dia tanyakan, mengingat jawaban pria itu yang selalu menjawab dengan kata kata yang sama. Gadis itu memalingkan wajahnya kesamping jendela dengan tangan yang masih ada di dalam genggaman tangan besar milik Dhafa.
Kedua mata cantik itu mengrenyit heran saat mobil yang mereka tumpangi belok kesebuah butik ternama. Dengan masih memasang wajah bingung, Aqila tetap saja mengikuti langkah Dhafa setelah pria itu mengajaknya turun dari mobil.
Sesampainya disana seorang pria gemulai menyambutnya dengan segala recehannya yang mampu membuat Dhafa bergidik, tapi tidak dengan Aqila. Gadis itu justru cepat akrab dengan pria gemulai yang dia ketahui bernama Sis Merry, begitu dia menyebutnya.
"Jangan macam macam, cepat selesaikan tugasmu kalau kau tidak ingin butikmu ini aku tutup." Ujar Dhafa dengan tegar dan datar.
"Aduuh, ayang ekye ini galak banget sih. Ekye kan kangen banget sama ayang Dhafa." Jawab Merry sembari menghampiri Dhafa dengan kedua tangan yang merentang lebar.
Dhafa melotot dengan mata yang siap keluar dari sarangnya. Jemarinya bergerak meraih ponselnya hendak menelpon sang asisten, Rama.
Melihay gelagat yang dia rasa tidak baik, Si Merry mengurungkan niatnya yang hendak memeluk pria pujaan hatinya itu. Dengan wajah cemberut, pria melambai itu akhirnya berbalik kembali dan melangkah menghampiri Aqila yang saat ini sedang senyum senyum sendiri.
"Hei nona cantik..apa yey itu pacarnya pacar ekye tu ?" Tanyanya dengan centil menunjuk kearah Dhafa dengan dagunya.
"Naksir banget tahu, dia itu pria idaman ekye gitu loh."
"Kok bisa naksir sih, dia itu pria yang sangat menyeramkan tahu. Aku aja takut kalau lihat dia marah." Mendekati wajah Merry lalu berbisik ditelinga pria melambai itu. " Apa kamu tahu dia itu dinginnya melebihi kutub es."
"Iihhh..Yey ga tahu ya, justru pria dingin itu terlihat sangat seksi dan hot diranjang loh. Yey bisa tahu kalau nanti sudah nikah sama pacar ekye itu." Ucapnya berapi api, sementara Aqila sendiri saat ini terlihat syok berat dengan wajah yang sudah memerah, karena tanpa sadar dia ikut membayangkan tubuh Dhafa yang memang sangat seksi itu.
"Wajah yey merah cyin..pasti lagi ngebayangin malam pertama sama pacar ekye ya." Kikiknya geli karena melihat wajah Aqila yang memerah.
"Enak aja, kalau ngomong tu kadang suka bener hihihi."
Mereka tertawa bersamaan membuat sosok yang menunggu dikursi depan nampak mengrenyitkan dahinya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Ekhem...aku membayarmu bukan untuk bercanda dan bergosip Mer."
Suara deheman Dhafa disusul celetukan pria dingin itu, membuat keduanya menghentikan tawanya dan kembali dalam posisi diam, namun masih ada sisa sisa tawa yang sesekali mereka lepaskan.
"Dia benar benar sangat menyeramkan." Desis Aqila disela sela Merry merias wajahnya.
Setelah menunggu hampir 1 jam lamanya, akhirnya Merry berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sangat sempurna. Lihatlah kini penampilan Aqila yang menjelma bak seorang bidadari yang turun dari kahyangan.
__ADS_1
"Gimana ayang beb, sempurna kan ?"
"Perfeck." Gumamnya pelan namun masih bisa didengar oleh Aqila.
"Aku sudah menstransfer kerekeningmu Mer."
Merry langsung membuka pesan yang masuk kedalam ponselnya, dan pria gemulai itu berteriak histeris saat melihat jumlah bayarannya yang sangat fantastis. Berkali kali mengucapkan terima kasih pada sang sultan yang sudah membayarnya dengan harga tinggi.
Sementara Dhafa hanya tersenyum tipis sebagai ungkapan hatinya yang begitu terpesona akan penampilan kekasihnya yang menjelma sebagai bidadari. Baginya uang segitu tidak ada artinya dibandingkan dengan sosok gadis cantik yang berdiri didepannya saat ini, karena apapun akan dia lakukan demi membuat sang pujaan hatinya itu bahagia.
Lihatlah kekasihnya terlihat sangat cantik dengan balutan gaun merah panjang menjuntai hingga ke tumit dengan belahan samping sebatas dengkul dan lengan panjang hingga kepergelangan tangan. Wajah cantiknya hanya cukup dipoles dengan riasan tipis dan itu sudah membuatnya berkali lipat cantik.
"Kamu cantik sekali sayang." Ucapnya dengan matanya menatap penuh damba.
"Terima kasih." Balas Aqila dengan suara lirih dan senyuman yang sudah mengembang karena bahagia. Matanya pun menatap pria didepannya dengan sorot mata penuh cinta.
Dhafa tersenyum dengan mata yang tidak beralih sedikitpun dari wajah kekasihnya. Namun Dhafa masih merasa ada yang kurang dari penampilan kekasihnya itu, dan tersadar jika dia melupakan sesuatu, sesuatu yang akan membuat gadis itu semakin terlihat sempurna.
Merogoh saku jasnya dan mengeluarkan benda melingkar yang berkilauan. Aqila sendiri hanya terpaku dan membiarkan kekasihnya itu memakaikan benda itu dilehernya. Sebuah kalung yang sama dengan yang dipakai oleh Pipit, adiknya.
"Sekarang terlihat sangat sempurna." Ucapnya dengan senyum puas membingkai wajah tampannya.
"Dhafa ini..."
"Cantik, apa kamu tahu siapa yang memilihkan kalung ini sayang ?"
Aqila menggeleng polos membuat pria itu terkekeh.
"Kamu terlalu polos, Achaku yang memilihnya untukmu. Dia bilang ingin mempunyai benda yang sama dengan calon kakak iparnya. Dan aku tentu saja menyambutnya dengan gembira bukan. Dan dia benar saat mengatakan padaku jika kakak ipar akan terlihat cantik dengan kalung ini, dan itu benar. Kamu terlihat sangat sangat cantik hingga membuatku enggan untuk berpaling dari wajah cantikmu ini."
Aqila tersipu tapi dia sangat bahagia, hingga kedua matanya berkaca kaca. Apalagi saat dia tahu kalau Pipit sudah menerima kehadiran Dhafa sebagai kakaknya.
"Apa itu berarti dia..." Ucapnya tertahan karena tidak bisa menahan perasaan bahagia yang membuncah.
"Iya, dia sudah menerimaku sebagai abangnya dan dia juga sudah memaafkanku. Aku bahagia, akhirnya aku bisa memiliki dua wanita yang sangat aku cintai dan dua duanya begitu berharga dihidupku. Pertama Achaku dan kedua adalah kamu sayang, Qilaku, wanitaku."
Tes
Airmata bahagia itu akhirnya menetes dan dengan cepat gadis itu mengusapnya.
"Jangan menangis, ayo kita pergi. Kini saatnya kita merayakan kebahagiaan ini bukan." Ajak Dhafa lalu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Aqila.
"Love you." Bisiknya ditelinga Dhafa membuat pria itu tersenyum.
"Aku tahu."
__ADS_1
TBC