
Akia terus saja mengusap airmatanya yang tiada henti menetes. Gadis itu masih merasakan kesedihan yang mendalam dihatinya. Kepalanya terus saja berpaling menatap kebelakang dimana orang orang yang sangat disayanginya berdiri disana, didepan ponpes Daarul Mukminin.
Bahkan gadis itu masih melihat jelas, bagaimana sahabatnya Pipit, kakaknya Ustazhah Syifa dan juga beberapa anak didiknya tngah menangis sesenggukan saat melepas kepergiannya.
Waktu 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dirinya mengenal dan akrab dengan orang orang disekitar ponpes. Dia sudah begitu dekat dengan tempat itu, dimana yang awalnya tempat untuknya berobat, kini berubah menjadi tempat untuknya menimba ilmu dan juga mengamalkannya.
Azriel menarik pelan tubuh istrinya yang masih terlihat sedih itu kedalam pelukannya. Mengusap lembut punggungnya yang masih bergetar. Pria itu berusaha keras untuk menghilangkan kesedihan Akia, dan menggantinya dengan kebahagiaan.
"Kita akan datang lagi berkunjung kemari nanti. Jangan bersedih lagi, mas nggak sanggup melihatmu menangis sayang." Bisiknya lembut ditelinga istrinya
Akia mengangguk, walau dalam hatinya gadis itu merasa sedih, tapi dia sadar, bagaimanapun saat ini dia sudah tidak sendiri lagi. Ada seseorang yang harus dia jaga dan dia perhatikan. Ada seseorang tempatnya untuk berbakti dan mengabdikan dirinya.
Gadis itu perlahan tersenyum, mendongak menatap wajah tampan suaminya. Tangannya terangkat keatas guna mengusap pipi Azriel.
"Maaf." Senyumnya mengembang saat tatapan damai milik suaminya tertuju padanya.
"Mas tahu kamu masih begitu sulit untuk melakukan semua ini, tapi mas yakin suatu saat nanti kamu akan terbiasa."
Akia mengangguk kembali, lalu merebahkan kepalanya didada bidang suaminya dengan kedua tangannya melingkari tubuh Azriel. Disambut oleh suaminya yang langsung memeluknya erat dan mengecup keningnya sayang.
Rio yang sedang fokus menyetir dengan sesekali melirik kearah belakang lewat kaca spion didepannya. Merutuk dirinya sendiri yang harus terjebak didalam mobil bersama dengan pasangan bucin itu.
Nasib jomblo, harus melihat sesuatu yang membuat jiwa kejombloanku berontak. Jika terus disuguhi pemandangan seperti ini setiap hari, lama lama akupun bisa gila. Menikah... aku juga ingin menikah. Tapi pacar saja nggak punya. Nasib jomblo. Pacar..mana pacar...
"Cari pacar Yo, biar nggak iri kalo melihat kami bermesraan." Celetuk Azriel dengan senyum jahilnya saat tanpa sengaja melihat sahabatnya itu sesekali melirik kearahnya.
Rio mencebik mendengar ledekan sahabat sekaligus bosnya itu.
"Ngomong sih gampang Riel, ngejalaninnya yang susah. Gimana mau cari pacar, tiap hari kerjaan selalu menumpuk dimeja, hari libur juga terus di telponin mulu sama bosku itu."
Azriel tergelak keras, namun seketika tawanya langsung berhenti kala merasakan gerakan istrinya yang tertidur. Pria itu membenarkan posisi tidur Akia supaya lebih terasa nyaman.
"Mulai besok ambillah cuti Yo, biar pekerjaan Ryan yang memegang. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk mencari pasangan. Masa kau kalah dengan Ryan sih, sekretaris ku saja sudah mau punya anak." Godanya lagi.
__ADS_1
Dasar, mentang mentang sudah menikah ngomong seenaknya. Emang dulu siapa yang setiap hari galau karena ditinggal pergi sama pujaan hatinya itu. Dasar menyebalkan.
"Emang dipikir cari pacar kayak cari ikan dipasar. Langsung dibeli setelah merasa cocok." Dengusnya keras.
Azriel kembali tertawa, kali ini tanpa suara yang keluar dari mulutnya. Dia tidak ingin suara tawanya mengusik ketenangan Akia yang sedang tertidur.
Tapi menggoda sahabatnya saat ini menjadi kegemaran barunya. Ada kesenangan tersendiri saat melihat wajah kesal Rio itu. Rio yang datar dan dingin nampak sebelas duabelas dengan Dhafa yang sekarang menjadi kakak angkat istrinya, itu berarti kakak iparnya juga.
Membayangkan hal itu Azriel merasa geli sendiri. Bagaimana seseorang yang biasanya menjadi sahabat istrinya, kini berubah setatusnya menjadi kakak iparnya. Pria itu menggelengkan kepala sembari mesam mesem.
"Riel.."
Azriel mengarahkan pandangannya kepada Rio yang kali ini nampak menatapnya dengan wajah serius.
"Hmm."
"Marco."
Satu kata, satu nama, tapi sukses membuat wajah pria tampan itu berubah 360 derajat. Tatapan matanya berubah tajam, dengan rahang yang mengeras. Ada guratan yang muncul dikeningnya. Tanpa Rio jelaskan dia sudah tahu maksud dari perkataan sahabatnya itu.
"Belum, kau jangan khawatir aku sudah mengerahkan seluruh anak buah kita untuk berjaga jaga."
"Aku tahu.." Sejenak menghentikan ucapannya lalu memejamkan kedua matanya. " Tapi tetap saja aku khawatir, ada istri yang harus aku lindungi dan juga kedua orangtuaku. Jangan sampai mereka terkena imbasnya akibat dari kesalahanku." Keluhnya dengan nada lirih.
Rio menganggukkan kepalanya berulangkali. Dia paham apa yang dirisaukan pria itu.
"Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi juga Yo. Walaupun aku sudah keluar dari dunia itu, dan menjalani kehidupan normal ku, serta walaupun aku sudah bertaubat, tetap saja aku tidak bisa seratus persen lepas dari sana. Perlahan mereka akan keluar satu persatu membalaskan apa yang selama ini sudah aku lakukan pada mereka."
"Tenanglah, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi apa yang harus kau lindungi Riel. Bagiku kebahagiaan mu adalah kebahagiaanku juga. Aku sudah berjanji untuk selalu mengabdikan seluruh hidupku untukmu."
Sejenak suasana berubah hening, mereka berdua larut dalam pikiran masing masing.
"Lalu bagaimana dengan istrimu ? Lambat laun dia akan tahu. Maksudku..jangan sampai dia tahu dari orang lain Riel." Melirik Azriel yang nampak termenung dari kaca spion.
__ADS_1
"Aku tahu, aku akan memberitahunya nanti. Terima kasih sudah mengingatkanku Yo."
"Jangan terlalu dipikirkan, nikmati masa masa pernikahanmu saat ini. Aku sudah menempatkan beberapa pengawal bayangan di seluruh titik pondok pesantren milik Abah. Dan juga dibeberapa titik di rumah mu. Untuk sementara kau akan aman."
"Aku percaya padamu Yo, kau selalu bisa diandalkan."
Rio mengangguk lalu kembali fokus dengan jalan didepannya. Hari sudah mulai petang dan jalanan pun nampak ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang.
Beberapa menit lagi mereka akan tiba dikediaman Azriel, sementara orangtua Azriel langsung pulang ke Kuningan, ke pondok pesantren mereka. Dan Tuan Aryan, tentu saja pria itu juga langsung menuju mansionnya dengan Dhafa dan Akila.
***
Sementara itu di keheningan malam, didalam kamar sederhana yang ada diponpes Daarul mukminin, seorang wanita berbalut kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya tengah menengadahkan kedua tangannya sembari mengucapkan beberapa bait doa kepada sang pencipta.
Dengan aliran airmata yang terus membasahi kedua pipinya, wanita itu terus berucap menyalurkan semua kata semua rasa yang ada dibenaknya pada sang Kholiq.
"Ya Allah Ya Robbi aku tidak tahu tulisan takdir yang akan engkau tulis untukku. Aku tidak tahu bagaimana nanti engkau meenggariskan jalan hidupku akan menjadi seperti apa. Tapi aku yakin bahwa takdir yang engkau tulis dan garis yang engkau ciptakan untukku sangatlah indah.
Ya Robbi , aku begitu memujamu hingga apa yang ada dihatiku ini seluruhnya hanya milikmu. Aku hanya melakukan apa yang selama ini engkau ridhoi.
Ya pemilik hatiku, aku tidak pernah merasa diriku rendah hanya karena engkau belum memberikan seorang imam yang bisa menjadikan ku makmumnya. Belum bisa memberikanku rangka tempat untukku bernaung sebagai tulang rusuknya.
Tapi aku sudah merasa bahagia dengan hidupku saat ini. Dicintai olehmu selalu membuatku merasakan kedamaian. Aku tidak membutuhkan hal lainnya.
Ya pemilik hatiku, jika takdir yang kau simpan untukku begitu indah, maka berikanlah untukku. Aku pasrahkan seluruh hidupku dan berikanlah petunjuk padaku. Berikanlah secercah harapan untukku dan damaikanlah hatiku yang sedang gundah ini.
Ya pemilik hatiku, siapapun jodoh yang engkau gariskan untukku, akan aku terima dengan ikhlas, karena aku yakin jika pilihanmu adalah yang terbaik untukku."
Wanita itu mengusap pelan wajahnya yang berurai airmata, lalu melipat sajadah dan mukenanya. Diliriknya jam yang menggantung di dinding kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Langkahnya bergerak menuju ranjang lalu segera merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Hari ini dia melewati hari yang sangat melelahkan, bukan karena pekerjaannya, tapi karena kejadian hari ini yang membuatnya sangat syok dan terkejut.
Tidak menunggu lama kedua mata itu mulai merasakan kantuk yang sedari tadi menyerangnya. Dalam tidurnya yang mulai lelap, tanpa sadar dia bergumam.
__ADS_1
Sya, kakak merindukanmu.
TBC