Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S.2. Aku rindu perhatianmu


__ADS_3

Yang kangen sama couple A acungkan tangan..☝ aku salah satunya..hehe


happy reading ya sahabatku..


💕 💕 💕


Akia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah wangi dan rambut panjangnya yang terurai basah. Wanita cantik itu melihat kearah suaminya yang sedang duduk ditepi ranjang dengan laptop yang ada dipangkuannya.


Pria itu bahkan terlihat sangat serius menyelesaikan pekerjaannya yang belum sempat diselesaikan dikantornya tadi. Dengan kaca mata bening yang bertengger dihidungnya membuat Azriel berkali kali lipat terlihat sangat tampan dan berkharisma.


Bahkan Akia harus mengakui hal itu, dia selalu saja terpesona dengan ketampanan suaminya. Belum jika Azriel mengeluarkan aura dinginnya, membuat gadis itu semakin terlena.


Aneh tapi nyata, karena kebanyakan orang takut pada sosok manusia yang dingin dan kejam. Namun rupanya hal itu tidak berlaku pada wanita itu, Akia malah suka jika Azriel selalu bersikap dingin pada orang lain. Alasannya sepele saja, biar ga diambil orang katanya.


Melihat suaminya yang bahkan tidak menyadari kehadirannya, membuat jiwa usilnya muncul. Wanita yang perutnya sudah begitu besar dan saatnya menunggu beberapa minggu untuk melahirkan itu pelan pelan mendekat kearah Azriel. Saat sudah sampai dengan sengaja dia mengibaskan rambut panjangnya yang masih basah hingga membuat tetesannya mengenai tepat kearah suaminya.


Azriel berjengit kaget, saat tiba tiba ada percikan air yang mengenai kulitnya. Pria itu mendongak dan seketika disambut dengan wajah cantik istrinya yang sedang tersenyum cengengesan. Tanpa berkata apapun Azriel meletakkan laptopnya disisi ranjang lalu menarik lembut tubuh istrinya.


Akia yang merasa berhasil membuat Azriel mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya itu, hanya bisa tertawa dengan mimik muka yang terlihat senang dan puas. Dengan manja wanita itu duduk dipangkuan suaminya lalu tangannya bergelayut manja dileher kokoh suaminya.


"Ratuku ini kenapa sangat jahil sekali hmm." Ujarnya dengan menatap lembut wajah cantik Akia yang terlihat sangat berisi.


"Aku tidak jahil mas." Elaknya dengan senyuman masih terlihat diwajahnya.


"Lalu ?"


"Aku hanya ingin membuatmu memperhatikan aku saja. Kamu selalu saja sibuk dengan pekerjaanmu itu hingga melupakan jika dirumahmu adalah waktunya untuk memanjakan istrimu. Memang sepenting apa pekerjaanmu daripada istrimu ini." Gerutunya mengeluarkan uneg uneg yang sudah beberapa hari ini dia tahan.


Azriel terkekeh lalu menciumi seluruh wajah istrinya dengan gemas. Lalu tangannya beralih pada perut istrinya yang membesar seperti bola karet.


"Jangan marah marah, nanti cantiknya ilang."Godanya sambil mengulum senyum.


Mendengar itu malah membuat Akia semakin memasang wajah cemberut.


"Dengarkan suamimu ini ratuku, tidak ada yang lebih penting dihidupku ini selain hanya dirimu seorang. Bahkan aku bisa saja setiap hari dirumah menemanimu dan selalu memanjakanmu. Tapi jika aku melakukan itu bagaimana nasib para karyawanku nanti. Apa kamu ingin suami tampanmu ini memecat seluruh karyawannya hanya karena aku bangkrut karena tidak mengurusi perusahaan lagi."


"Eh jangan..nggak boleh begitu."


"Lalu ?" Tanyanya dengan mengulum senyum.


"Aku hanya ingin kamu meluangkan waktu setidaknya jika sudah dirumah. Tidak bisakah kamu mengerjakan pekerjaanmu saat dikantor. Aku mau perhatianmu hanya untukku saja saat kamu sudah dirumah ini. Tidak ada pekerjaan ataupun yang lainnya. Aku sangat merindukan perhatianmu seperti dulu mas." Ucapnya dengan suara lirih.

__ADS_1


Azriel menatap lembut wajah istrinya yang tertunduk didepannya, sekilas dia melihat rona sedih dimata Akia saat mengutarakan keluh kesahnya itu. Membuatnya sadar jika selama ini tanpa disengaja dia memang mengabaikan istrinya itu. Kesibukan kantor yang terlalu padat membuatnya sekilas melupakan sosok istrinya yang juga butuh perhatian dan kasih sayangnya.


"Oke." Jawabnya singkat.


"Hah.." Akia mendongak menatap bingung wajah Azriel, membuat pria itu mengecup singkat bibir Akia yang menganga.


"Mulai sekarang mas tidak akan pernah lagi membawa pekerjaan kantor kerumah. Dan mas akan memberikan seluruh perhatian mas untuk istri tercintaku ini."


Raut wajah Akia berubah ceria, binar bahagia terlihat jelas disana.


"Benarkah ?" Azriel mengangguk namun dia menjadi heran saat melihat wajah istrinya kembali berubah murung.


"Ada apa ?" Tanyanya dengan mengangkat dagu istrinya supaya menatapnya.


"Apa aku egois mas ? Maksudku mengenai permintaanku barusan. Tapi aku memang sangat merindukan perhatianmu seperti dulu."


Kening Azriep berkerut, lalu sekian detik berikutnya pria itu tertawa terbahak bahak.


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu sih. Tentu saja tidak, justru mas yang sebenarnya egois hanya memikirkan pekerjaan saja tanpa berpikir kalau istri mas juga butuh perhatian dan kasih sayang. Maafkan mas ya ratuku, mulai sekarang mas janji akan selalu meluangkan waktu yang banyak untuk kamu dan juga anak anak kita nanti."


"Makasih mas." Cicitnya dengan mata yang berkaca kaca karena terharu, wanita itu lalu memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat, walaupun terhalang dengan perutnya yang besar.


"Karena kamu sudah mengganggu mas, maka saatnya istriku ini diberi hukumman." Seringainya sambil menaikturunkan alsinya dengan tangan yang sudah mengembara kemana mana.


"Mas nggak lihat ini perut aku yang sudah seperti bola karet. Tinggal ditendang aja langsung melayang."


Pletak


"Kalo ngomong tu suka ngawur kamu tu."


Akia meringis sambil mengusap usap keningnya yang disentil oleh Azriel.


"Habisnya mas selalu mesum begitu."


"Mesum sama istri itu ibadah sayangku. Lagipula emang kamu nggak ingat kata dokter. Kita disuruh melakukan olahraga malam setiap hari loh, untuk memperlancar proses melahirkan katanya. Jadi supaya proses melahirkan kamu nanti lancar, sekarang waktunya mas menjalankan perintah dokter." Ucapnya langsung menyerbu istrinya.


"Mas itu mah alasanmu aja."


"Hahahaha... Love you istriku."


💕 💕 💕

__ADS_1


Akila menatap bingung tempat yang dia rasa asing untuknya. Saat ini gadis itu tengah berbaring disebuah ranjang empuk dan besar yang dia sendiri tidak tahu siapa pemiliknya.


"Aku dimana ini." Gumamnya pelan.


Akila tersadar lalu gadis itu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Nafas lega terdengar keluar dari hidungnya saat dia mendapati jika pakaiannya masih menempel ditubuhnya. Itu berarti tidak terjadi sesuatu pada dirinya.


Akila mengingat ingat kejadian sebelum dia berada ditempat ini. Terakhir kali yang dia ingat adalah Dhafa yang membawanya kemobil dan setelah itu dia tidak sadar karena rasa kantuk yang menyerangnya dan pada akhirnya dia tertidur pulas.


"Apa ini kamar simanusia es itu ? Sepertinya iya, pantas saja sikapnya seperti es, suasana kamarnya saja terlihat mencekam." Gerutunya dengan mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar yang berwarna lebih dominan ke abu dan putih.


Akila turun dari ranjang lalu membuka pintu kamar. Aroma wangi masakan langsung masuk keindra penciumannya yang mana langsung membuat cacing cacing diperutnya berdemo.


Gadis itu menuruni tangga lalu bergerak kearah dapur. Sepanjang perjalanan Akila menatap kagum ruangan yang ada disana. Rata rata semuanya bergaya klasik modern.


Aroma wangi tercium tajam saat kakinya sudah sampai diarea dapur. Dari sini dia bisa melihat sosok tubuh kekar milik Dhafa yang tengah memasak. Membuat pria itu semakin terlihat terlihat tampan dan...macho.


"Kamu udah bangun sayang." Sapanya yang membuat gadis itu tertegun.


Lagi lagi dia memanggilku sayang..hahh..


"Kenapa kamu membawaku kesini." Ketusnya dingin.


Dhafa menghela nafas panjang, lalu perlahan meletakkan peralatan masaknya.


"Bukankah kamu lapar ?" Tanyanya lembut.


"Tapi tidak dengan membawaku kesini."


"Akila aku.."


"Aku mau pulang." Lagi nada bicara gadis itu terdengar dingin dan ketus.


"Aku akan mengantarmu pulang, tapi paling tidak makanlah dulu.Aku sudah membuatkan makanan untukmu. Setidaknya hargailah kerja kerasku."


"Apa aku menyuruhmu untuk melakukannya ? Tidak bukan, lalu apa yang harus aku hargai Tuan Dhafa." Ketusnya sembari menatap sinis pria didepannya.


"Akila..aku.."


"Aku bisa pulang sendiri. Permisi." Sentak Akila lalu berjalan kearah sifa dan meraih tasnya.


Tanpa memperdulikan tatapan sedih Dhafa, Akila mulai menarik handle pintu aparten Dhafa. Namun gerakannya terhenti saat pria itu menarik tangannya lalu menyudurkan tubuhnya ketembok.

__ADS_1


"Akila."


TBC


__ADS_2