Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Akhir dari pertarungan


__ADS_3

Akex menatap satu persatu anak buah Gin dan Marco yang masih tersisa. Ada sekitar 50 orang dan selebihnya sudah tewas. Alex menyeringai lalu melangkah kearah mereka yang nampak terduduk ditanah tanda menyerah.


"Aku akan memberikan kalian keringanan. Kalian tinggal memilih diantara dua pilihan. Pertama serahkan diri kalian kekantor polisi dengan sukarela atau..." Alex menghentikan ucapannya sejenak, melihat wajah wajah pria didepannya.


Nampak raut wajah mereka mendongak lalu saling melemparkan tatapan bingung antara satu dan yang lainnya. Bahkan Rio, Dhafa dan Vino pun nampak bingung dengan ucapan Alex yang menggantung.


Sementara Akia hanya mengulum senyuman tipis, gadis itu sudah menebak apa yang bakal diucapkan oleh sahabatnya itu.


"Aku akan membebaskan kalian semua, bahkan dari penyelidikan kepolisian, dengan satu syarat, kalian harus ikut bergabung denganku. Jika kalian menolak, maka bersiaplah aku sendiri yang akan mengantar nyawa kalian menyusul kedua bos kalian ini."


Wajah wajah itu saling berpandangan penuh arti, saling menyiratkan pertanyaan dan pertimbangan mendalam. Lama mereka membisu, hingga pada akhrinya salah satu dari mereka berdiri lalu melangkah maju.


"Kami memutuskan untuk ikut bergabung denganmu bos." Ucapnya dengan nada tegas penuh keseriusan, yang diikuti lainnya dengan nada serempak.


Alex menyeringai penuh kemenangan, lalu memberi isyarat pada Vino untuk membantu mereka yang terluka. Dengan sigap Vino, sang kaki tangan Alex berdiri lalu melaksanakan perintah bosnya.


"Kau benar bemar manusia paling licik yang pernah aku kenal Bang, ck bisa bisanya kau menggunakan kesempatan dalam kesempitan."


Alex menoleh keasal suara lalu meringis sembari menggaruk tengkuknya. Disana Akia tengah berdiri sembari menyender disamping mobil dengan kedua tangan yang bersidekap didepan dada.


"Bagaimana lagi Sya, sangat disayangkan jika membuang kesempatan yang terpampang jelas didepan kita bukan."


Akia mencebik lalu menggelengkan kepalanya perlahan.


"Sya, kau baik baik saja sayang." Azriel mendekat lalu memperhatikan seluruh tubuh istrinya dengan seksama yang mana membuat Akia merasa risih.


"Apa kau mengenalku ? Bukankah aku ini adalah pengkhianat seperti apa yang sudah kau katakan." Ketus Akia sembari melirik sinis kearah Azriel.


Azriel menggaruk pelipisnya sembari meringis pelan.


"Itu..aku.."


"Rio.." Panggil Akia yang langsung memotong ucapan Azriel sebelum pria itu menyelesaikan perkataannya.


Mendengar namanya dipanggil, spontan membuat Rio langsung berpaling dan berjalan kearahnya. Membuat Azriel sedikit terperangah tidak percaya.


"Ada apa Sya ?" Tanya Rio, pria itu juga sedikit heran kenapa istri dari bosnya itu malah memanggil dirinya.


Dengan perasaan berkecamuk dan juga rasa canggung, Rio memberanikan diri untuk bertanya pada gadis itu. Sekilas dia lihat wajah Azriel yang berubah masam dan kecut.


"Ayo kita pulang, urusan kita sudah selesai ditempat ini."


Rio melongo lalu tersenyum kecut. "Tapi Sya, aku..."


"Kau tidak mau pulang ? Its Oke aku bisa pulang sendiri."


"Aku akan mengantarmu sayang, maaf karena sudah membuatmu kesal."


Akia menatap tajam wajah suaminya, dia benar benar bukan hanya kesal saja, tapi gadis itu merasa sangat marah. Selama ini Azriel sudah membohonginya dengan pura pura hilang ingatan.


"Kau sadar jika sudah berbuat salah ? Segitu tidak percayanya kau pada istrimu mas ? Aku tidak menyangka kau bisa berbuat seperti itu. Kau bahkan mengusirku dari rumah." Ketusnya dengan suara bergetar menahan amarah, namun ditahannya, sekuat mungkin gadis itu selalu bersabar dan beristighfar.


"Maafkan aku sayang, tapi aku melakukannya untuk melindungimu Sya." Bujuk Azriel pada istrinya.


"Yang dikatakan suamimu itu benar Sya ?" Celetuk Dhafa yang mana membuat Akia langsung menatap tajam padanya, membuat sang kakak menelan salivanya kasar.

__ADS_1


Mampus, alamat ni bocah ngamuk dah. Cetus Dhafa dalam hati.


"Kau juga bersekongkol dengannya ? Kau tahu jika selama ini dia hanya berpura pura ?" Tanyanya penuh selidik.


Melihat tatapan Akia yang penuh intimidasi, membuat Dhafa mau tidak mau terpaksa menganggukkan kepalanya pelan. Membuat kilatan amarah dimata gadis itu semakin membesar.


"Kau hutang penjelasan padaku kak." Dengusnya kasar.


Dhafa menggaruk pelipisnya kasar dengan senyuman kecut diwajahnya.


"Itu, suamimu saja yang menjelaskannya Sya."


"Aku ingin dengar sendiri dari mulutmu kak." Ucapnya mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.


"Siapa lagi yang tahu rencana kalian ini ? Apa kau memgetahuinya Yo ?"


Rio cepat menggeleng kuat, pria itu memang tidak tahu jika selama ini Azriel hanya berpura pura. Melihat itu membuat Akia menghela nafas kuat, Rio memang berkata jujur. Lalu matanya beralih pada orang yang berdiri disebelahnya.


"Apa kau juga tahu bang ?" Tanyanya yang membuat kaget pria itu.


"Aku tidak tahu menahu masalah ini Sya, yang aku tahu, kakakmu Dhafa menghubungiku untuk datang menyelamatkan suamimu." Ucapnya dengan seringaian licik diwajahnya.


Dhafa melotot, begitu pula Azriel, bagaimana bisa pria itu berkata bohong. Sudah jelas jelas ini semua rencana mereka bertiga, bahkan Alex yang mengusulkan ide ini.


Alex b*****k bagaimana bisa dia bersilat lidah seperti itu. Bathin Dhhafa.


Dia yang membuat rencana, kenapa jadi dia yang memutar balikkan fakta. Seru Azriel.


Sementara Alex, sang tersangka nampak mengulum senyum penuh kemenangan. Menatap penuh arti wajah kedua pria didepannya seakan akan mengatakan sesuatu.


"Kau yakin bang ? Kau tidak sedang berbohong bukan ?" Tanyanya lagi dengan kecurigaan yang masih membuncah didadanya.


Alex tersenyum, lalu menepuk lembut pucuk kepala Akia.


"Kau sudah seperti adikku sendiri Sya, untuk apa aku berbohong padamu ? Apa kau tidak percaya pada abangmu ini ?" Ucapnya mendramatisir keadaan.


Lagi lagi Azriel dan Dhafa mendengus kasar, melihat Alex yang bertingkah lebay dengan drama sandiwaranya.


"Oke,,aku percaya sama abang." Jawab Akia dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.


Azriel berdecak kesal, lalu menarik lengan istrinya.


"Ayo kita pulang sayang." Ucanya datar, namun tangannya langsung ditepis kasar oleh Akia membuatnya langsung menatap dingin pada istrinya.


"Sudah kukatakan aku bisa pulang sendiri, lagipula aku tidak ingin pulang kerumahmu. Kau sudah mengusirku jadi aku akan pulang kemansion papa." Ketusnya sembari memalingkan wajah pada suaminya.


Azriel hilang akal, sungguh sifat keras kepala istrinya saat ini sangat membuatnya hampir kehilangan kesabaran. Dengan cepat dan tanpa aba aba, pria tampan itu mengangkat tubuh Akia dipundaknya layaknya mengangkat sebuah karung beras.


Akia berteriak kencang sembari memukul punggung Azriel berkali kali.


"Hei turunkan aku, sudah kubilang aku akan pulang sendiri." Teriaknya kencang membuat Azriel sedikit memiringkan kepalanya, telinganya terasa sakit mendengar teriakan kencang istrinya.


"Diam dan menurutlah." Tegas Azriel dengan suara khas dingin miliknya.


Akia mendengus kasar, lalu gadis itu terdiam. Bagaimanapun dia sedikit merasa takut mendengar nada suaminya yang dingin dan datar. Segalak galaknya dia tetap saja dia hanyalah seorang wanita yang notabenenya mempunyai hati yang lembut dan lemah.

__ADS_1


Sepeninggal pasangan suami istri yang sudah sukses membuat dramanya sendiri, kini disana masih berdiri para pria yang kini saling menatap tajam.


Dhafa melangkah mendekati Alex dengan aura dinginnya, saat didepan pria itu tanpa disangka sangka langsung memberikan bogeman mentah diperut Alex.


Bugh


"Kau !" Pekiknya dengan mata melotot. " Berani memukulku ! Kau cari mati ya." Tambahnya dengan bibir meringis menahan sakit.


Dhafa memutar bola matanya, jengah dengan sikap lebay pria didepannya itu.


"Itu hadiah untukmu bang. Kau dan Azriel yang sudah membuat rencana, enak saja melemparkan kesalahan pada kami, seakan akan kau itu tidak tahu apa apa."


Alex terkekeh, lalu kekehan itu berubah menjadi tawa yang sangat kencang.


"Hahahha..aku hanya berusaha menyelamatkan diri dari amukan gadis itu Fa. Ayolah, kita berdua juga tahu bagaimana jika Akia sudah mengamuk bukan. Akan sulit sekali untuk membujuknya."


Dhafa berdecak kesal, namun dalam hati diaa membenarkan ucapan Alex.


"Kau selamat, dan aku yang apes."


"Apa yang dikatakan Akia tadi benar ? Jika selama ini Azriel hanya pura pura saja, dan sebenarnya tidak hilang ingatan." Celetuk Rio yang membuat kedua pria itu menoleh padanya.


Mereka mengangguk, membuat Rio menghela nafas panjang.


"Aku merasa menjadi pria yang sangat bodoh, bagaimana bisa hal ini luput dari penglihatanku."


Dhafa terdiam mendengar ucapan pria yang menjadi rivalnya itu.


"Bukan begitu Yo, hanya saja kami memang sengaja melajukan ini supaya Marco tidak menaruh curiga pada Azriel." sahut Alex yang mengerti kegundahan Rio.


"Maksudnya ?"


"Begini, kau adalah satu satunya pria yang sangat dekat dengan Azriel. Kami melakukan rencana ini memang dengan niat untuk menjebak Marco supaya pria itu keluar dari tempat persembunyiannya. Jika kami memberitahumu rencana ini, Marco akan curiga jika Azriel hanya berpura pura. Karena dia bisa melihat wajahmu yang tenang.


Lain halnya jika kau merasa panik dan gelisah, Marco akan mudah percaya. Maka dari itu kami memang menyembunyikan rencana ini pada kalian berdua supaya makin terlihat kuat jika Azriel memang sedang amnesia."


Rio nampak manggut manggut, kini pria itu mengerti dengan perkataan Alex.


"Satu pertanyaan yang mengganggu pikiranku dan sebenarnya ingin sekali kutanyakan dari dulu, kenapa kau terlihat sangat akrab dengan Akia ? Maksudku adalah bagaimana kau mengenalnya ? Selama ini yang aku tahu Akia hanya mempunyai teman para gengnya itu."


Alex terkekeh lalu mendongak kelangit yang tertutup awan gelapnya malam.


Kedua matanya terpejam sesaat dengan tangan yang masuk kedalam kantong celana.


"Kami mempunyai kisah sendiri, tapi yang jelas Akia adalah sosok gadis yang sangat berarti untukku. Aku bahkan rela menyerahkan nyawaku yang tidak berharga ini untuknya, dan apapun yang dia butuhkan aku akan berusaha untuk mewujudkannya." Ucapnya dengan hati yang berdesir kala mengingat kisah masalalunya dengan Akia.


"Ck, dia sudah menikah bang." Celetuk Dhafa tiba tiba.


Alex menoleh, lalu tersenyum lebar.


"Aku tahu dan aku percaya jika Azriel adalah sosok pria yang tepat untuknya. Maka dari itu aku sedikit tenang melepasnya. Pertama melihat Azriel aku merasa jika pria itu adalah sosok yang akan membuat hidup Akiaku menjadi lebih berwarna."


TBC


Assalamualaikum..hai author datang lagi,..maaf ya dua hari ga up, kuotaku habis kawan..😭dan aku baru sempat untuk mengisinya. Jadi maafkan author ya..

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya..


__ADS_2