Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Kenangan


__ADS_3

"Apa ! Bagaimana bisa ! Memang apa yang kalian lakukan sampai dia pergi pun kalian tidak tahu hah !"


Suara menggelegar milik Tuan Aryan terdengar keras sampai diluar ruangan. Dhafa yang saat itu memang sedang menuju ruangan bosnya dengan segera mempercepat laju langkahnya.


"Cepat kalian cari keberadaannya, jangan berani pulang jika kalian belum bisa menemukan putriku." Sentak Tuan Aryan dengan keras.


"Tuan." Panggil Dhafa pelan. " Apa terjadi sesuatu ?"


Tuan Aryan menoleh, setelah mematikan sambungan telponnya. Pria paruh baya itu menghela nafasnya dengan kasar.


"Akia kabur Fa." Ucap Tuan Aryan.


Dhafa kaget, berkas berkas di tangan ya sampai terjatuh.


"Dhafa !"


"Ah, maaf Tuan atas kelalaian saya. Tapi bagaimana bisa Akia kabur ? Maksud saya dengan kondisinya seperti itu." Sahut Dhafa masih ditengah syoknya. Pria itu lalu memunguti berkas berkas nya yang jatuh berceceran dilantai.


"Entahlah, aku sendiri bingung. Pasti ada yang membantunya." Jawab Tuan Aryan.


"Anda jangan khawatir Tuan, saya akan mencoba mencarinya." Ucap Dhafa cepat.


"Tapi kita ada meeting penting hari ini Fa, apa kau lupa ?"


"Astaga, maaf Tuan saya lupa." Sesal Dhafa sembari menepuk keningnya. Pria itu berpikir cepat, lalu tersenyum sumringah setelah menemukan ide.


"Tuan.." Panggil Dhafa dengan wajah yang ceria, membuat bosnya sedikit mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kau malah tersenyum, apa kau tidak tahu jika saat ini aku sedang khawatir." Ketus Tuan aryan dengan tatapan yang mematikan.


"Tuan saya punya ide, saya jamin anda pasti akan menyetujuinya." Sahutnya dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.


***


Akia memandang sungai yang airnya sangat besar mengalir deras. Letak sungai itu tepat berada disebelah pondok tempat favorit nya dan juga favorit seseorang yang sudah belasan tahun meninggalkan dunia ini.


Suasana disana masihlah tetap seperti sebelumnya. Tidak ada satupun yang berubah, bahkan letak pohon ataupun Taman tidak ada yang berubah sedikitpun. Suasananya masih tetap asri dan menenangkan, karena setiap satu minggu sekali Akia menyewa seseorang untuk membersihkan tempat ini.


Akia memandang gelang yang melingkar dilengannya. Gelang kenang kenangan pemberian dari seseorang yang sangat berarti dalam hiddupnya. Gadis itu mengusapnya dengan perasaan penuh arti. Entah apa penyebabnya, setetes airmata jatuh di pipinya yang putih.


Kak Dariel, kau bilang ingin datang menjemput ku, dan menikah denganku. Tapi tak kusangka takdir membuat kita harus berpisah. Jika saja kau masih ada didunia ini, mungkin aku akan mencarimu sampai ke pelosok dunia. Tapi kau pergi meninggalkanku sampai aku tidak bisa menggapai mu.

__ADS_1


Kak, apa kau bisa melihatku dari atas sana ? Kau pasti bersedih bukan melihat kondisiku seperti ini. Andai saja kau terus ada disampingku, mungkin aku akan bahagia melewati hari hari ku yang kelam ini.


Aku rindu kak, sangat rindu, Gumamnya dalam hati dengan perasaan yang perih.


Dia teringat bagaimana dengan senyum bahagianya pria itu menyematkan gelang sederhana itu ditangannya yang mungil. Waktu itu mereka masih sama sama kecil, Dariel yang berusia 12 tahun, sedangkan dia adalah gadis kecil yang masih berusia 7 tahun.


Akia bahkan ingat dulu tempat ini masih berupa Taman biasa dan belum ada pondok disana. Dia masih mengingat jelas pertemuan pertamanya dengan sosok pria kecil dengan senyuman menawannya.


Flashback On


"Kakak tampan.." Panggil Akia kecil pada sosok bocah laki laki yang saat itu sedang berdiri didepan sebuah tampan.


Bocah laki laki itu menoleh, memandang sinis pada bocah perempuan berusia sekitar 7 tahunan.


"Siapa kau ! Berani sekali menginjakkan kakimu ditempat favorit ku. Tempat ini milikku, dan tidak kuijinkan siapapun menginjakkan kakinya disini." Ujarnya dengan nada sombong dan angkuh serta dengan sorot matanya yang dingin.


Akia kecil bukannya takut, tapi justru malah tertawa. Dengan manja gadis kecil itu malah bergelayut di lengan kecil bocah yang belum dia ketahui namanya itu.


"Kakak tampan jangan marah, nanti tampan nya hilang loh. Nanti aku jadi ga suka. Ini kan tempat umum, siapa saja boleh berada disini." Sahutnya manja.


Bocah itu mengrenyit. " Kata siapa ini tempat umum, apa kau tidak tahu siapa aku bocah ?"


Akia menyanggah dagu nya dengan satu tangannya, membuat bocah itu merasa gemas dengan tingkah lucu bocah perempuan didepannya. Mendadak bocah laki laki itu terkekeh, lalu mengusak pucuk kepala Akia.


Bocah laki laki itu juga merasa heran sendiri, bagaimana bisa bocah perempuan didepannya ini bisa dengan mudah mengambil hatinya.


"Kau itu lucu sekali. Siapa namamu ?" Tanyanya dengan bibir tetap tersenyum manis, membuat wajahnya yang masih belia terlihat sangat tampan.


"Namaku Anzha, kakak sendiri siapa ? Maaf kakak jangan dekat dekat ya, apalagi menyentuh ku, kita bukan muhrim. Kata mama kita tidak boleh bersentuhan dengan orang yang bukan muhrim kita." Cerocos gadis itu dengan polosnya.


Bocah laki laki itu tertegun,memandang intens wajah perempuan cilik itu yang memakai hijab. Pipinya yang gembul dan putih membuat wajahnya terlihat cantik.


"Namaku Dariel, baiklah aku tidak akan menyentuhmu. Oh iya, kakak punya sesuatu untukmu."


Pria itu melepas gelang kecil yang berada dilengannya, lalu memakaikannya ditangan Akia.


"Ingat ! Gelang ini kau harus tetap memakainya, jangan sampai kau menghilangkannya. Kakak akan mengambilnya jika kau sudah besar nanti, tunggu aku, aku akan menjemputmu dan menikah denganmu. Apa kau mengerti ?"


Akia kecil mengangguk sembari tersenyum.


"Apa kau berjanji kak ?"

__ADS_1


"Ya aku berjanji, hingga saat itu tiba kakak harap kau masih setia menungguku. Oh iya apa kau menyukai tempat ini ? Jika kau suka, aku akan membangun sebuah pondok ditempat ini, dan kita akan bertemu lagi ditempat ini nanti." Ujarnya dengan tegas.


"Bos ! Kita harus pergi, mereka semakin dekat." Tiba tiba salah satu anak buahnya mendekatinya dengan raut wajah panik.


"Baiklah." Jawabnya dengan suara berubah dingin.


Dariel menatap bocah cilik didepannya lalu tersenyum kembali.


"Dengar, kakak harus pergi, jaga dirimu baik baik. Ingat janjiku, kakak akan menjemputmu disini." Akia mengangguk.


Dariel lalu bergegas pergi dari tempat itu, bahkan pria itu nampak setengah berlari. Akia kecil yang melihatnya hanya bisa terdiam walaupun dihatinya dia merasa bingung. Tidak berselang lama muncul beberapa orang berpakaian serba hitam daan kacamata hitam melintas didepannya.


Tiba tiba dia mendengar suara tembakan dan disusul dengan suara dentuman yang sangat keras. Sontak saja membuat Akia berjongkok sembari memegang kedua telinganya. Gadis itu nampak meringkuk ketakutan, sampai sebuah tangan memegang pundaknya. Dia terkejut lalu menoleh, senyumnya sontak terbit ketika melihat sang mama tengah berdiri dibelakangnya dengan senyuman manisnya.


"Sya, apa yang kau lakukan disini nak ? Mama mencarimu kemana mana sayang. Ayo kita pulang, papa sudah menunggu loh dari tadi."


Akia kecil mengangguk perlahan.


"Mama tadi ada denger suara keras nggak, kayak suara bom gitu ?" Tanyanya polos.


"Oh iya tadi mama juga denger. Kayaknya ada kecelakaan mobil deh didepan. Ya sudah yuk kita pulang, nanti papa kelamaan nunggunya sayang."


Akia mengikuti langkah mamanya pergi dari tempat itu dengan sebuah tanda tanya yang begitu besar.


Keesokan harinya sebuah surat kabar dan media ramai memberitakan sebuah kecelakaan besar yang dikabarkan merenggut seluruh penumpangnya. Diantara penumpang itu terdapat seorang bocah remaja dengan usia berkisar 12 tahunan. Dan tempat kejadian tersebut berada dekat dengan Taman tempat Akia dan Dariel bertemu.


Akia kecil syok saat melihat berita tersebut, dia yakin jika bocah remaja yang diberitakan tersebut adalah Dariel. Entah kenapa dilubuk hatinya yang paling dalam dia merasakan sakit dan sesak yang begitu besar. Dia baru pertama kali mengenal orang luar selain keluarganya. Dan detik itu pula dia langsung kehilangan orang yang begitu berarti baginya.


Hari berlalu sangat cepat dan tahun pun terus berganti. Semenjak kepergian Dariel, Akia berubah jadi gadis yang pendiam dan jarang keluar rumah. Bahkan dia hanya mempunyai sedikit teman, salah satunya adalah Luna dan Dhafa. Karena Arumi dan Chiko dia mengenalnya saat sudah masuk bangku SMA.


Setiap hari Akia selalu datang keTaman. Tempat kenangan antara dirinya dan Dariel. Bahkan pria itu menepati janjinya untuk membangun sebuah pondok disana dan membuat Taman itu semakin indah.


Hanya kesepian yang dia rasakan tiap dia datang ketempat itu. Tempat kenangan terakhirnya bersama orang yang tanpa dia sadari sudah memenuhi ruang hatinya. Orang yang tanpa dia sadari sudah mencuri hatinya dan dia jatuh cinta padanya.


Flashback Of


Akia memejamkan kedua matanya, hatinya kembali sesak tiap dia mengingat kenangan pahit masa kecilnya. Dia begitu merindukan pria itu. Terlalu sakit rasanya merindukan orang yang sudah tiada.


Akia kembali memandang arus deras sungai didepannya. Entah apa yang dia pikirkan, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu.


"Percuma kalau mau bunuh diri dengan terjun kebawah sana. Yang ada tubuh malah hancur, ya kalau langsung meninggal, gimana kalau nggak, kan kasihan. Udah bunuh dirinya sia sia, badan malah tambah semakin sakit. Kalau mau mati mending langsung tembak aja kepala pakai pistol. Sudah jelas langsung keatas sana."

__ADS_1


TBC


__ADS_2