Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Bertemu


__ADS_3

Pagi hari sebelumnya dikota Jakarta...


" Kau hanya pembawa sial, abangmu pergi karena membencimu."


"Tidak paman, kau pasti berbohong. Abang sangat menyayangiku...hiks.."


"Itu sebelum kedua orangtuamu meninggal. Dan kau tahu abangmu itu sekarang pergi meninggalkanmu disini sendiri karena dia membencimu. Kau penyebab kedua orangtuamu meninggal."


"Kau bohong paman..hiks."


"Hahaha kau pikir untuk apa paman berbohong padamu bocah. Kau memang pembawa sial, karena kau kakakku meninggal. Kau pembawa sial, dan kau patut dibenci. Bahkan abangmu langsung pergi dan tidak ingin bertemu lagi denganmu."


"Nggak paman.."


"Kau bocah pembawa sial..pembawa sial...pembawa sial."


"Tidak."


"Tidak."


"Tidaaaaakkk.....!"


"Hah..hah..hah..astaghfirullah hallazhim."


Pipit terbangun dengan wajah dan tubuh yang banjir dengan peluh dan keringat. Nafasnya pun nampak naik turun, sejenak dia melirik kearah dinding. Waktu masih pukul 2 dini hari.


Mimpi itu lagi. Bathinnya.


Pipit segera turun dari pembaringan dan segera menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian dia sudah kembali dan segera mengambil sajadah beserta mukenanya, menunaikan sholat sunnah tahajud.


Hampir 30 menit lamanya gadis itu berpasrah pada Yang Kuasa dan kini dia mulai membereskan peralatan sholatnya.


Pipit membuka pintu balkon kamar dan seketika membuat angin pagi yang sejuk masuk kedalam kamar. Gadis itu melangkah menuju balkon kamarnya yang ada dirumah Akia, menghirup dalam angin pagi yang terasa begitu sejuk.


"Sudah bangun."


Suara familiar membuat kedua matanya sontak terbuka dan menoleh kearah samping dimana sosok pria yang sudah sah menjadi suaminya itu tengah berdiri sembari menatap kearahnya.


"Kenapa diluar ? Angin pagi sangat dingin sekali." Ujar Rio lagi.


Pipit tersenyum canggung namun masih tetap membisu membuat Rio mendesah pelan.


Semenjak perkataan Abah Ahmad tadi malam, mereka akhirnya memutuskan bukan mereka lebih tepatnya Pipit ingin tidur dikamarnya sendiri. Walaupun dia tau jika sebenarnya mereka sudah resmi sebagai suami istri, namun tetap saja perasaan dan hatinya masih ada yang mengganjal.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu ?" Lagi pertanyaan Rio yang untuk kesekian kalinya tidak mendapatkan jawabannya, membuatnya kembali mendesah pelan.


Ingin rasanya aku berlari kearahmu dan memelukmu istriku. Tapi aku tidak mempunyai keberanian lebih.


Padahal saat ini mereka sedang dalam posisi bersebelahan tanpa batas penghalang. Walaupun kamar mereka berbeda, tapi balkon mereka menjadi satu, bahkan disana ada sebuah taman kecil dan juga satu set sofa panjang dan meja kecil.


Rio memandang sendu pada gadis disebelahnya yang saat ini sedang larut dalam pikirannya, entahlah mungkin gadis itu melamun. Dia yang baru kali ini merasakan jatuh cinta jadi belum tahu bagaimana caranya menghibur seorang wanita.


Tolong jangan bersedih sayang.


Merasa takut kalau dia mengganggu waktu Pipit, secara perlahan pria itu berbalik hendak kembali masuk kedalam kamarnya.


"Jangan pergi, tolong tetaplah disini sebentar saja." Pinta Pipit lirih yang langsung membuat langkah Rio berhenti seketika.


Namun pria itu merasa kaku untuk berbalik ataupun kembali ketempat semula. Yang dia lakukan hanya berdiri mematung dengan jantung yang berdetak sangat kencang dan ingin melompat keluar saking gembiranya dia.


Dia menahanku ? Dia memintaku untuk disini ? Apakah ini mimpi ?

__ADS_1


Rio masih berdiri mematung dengan pikiran yang traveling kemana mana, hingga dia dikagetkan oleh sepasang tangan lembut yang melingkar diperutnya dan juga kepala seseorang yang menyender dipunggungnya.


"Tetaplah disini, aku mohon temani aku." Bisik gadis itu lirih.


Pipit sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya. Seakan ada magnet dikakinya yang membawanya melangkah menuju pria itu dan pada akhirnya berakhir dengan memeluk tubuh besar dan kekar milik Rio. Dia merasakan kenyamanan saat memeluk pria itu, dan jangan lupakan jantungnya yang berdisko ria selayaknya disebuah club.


Hening


Tidak ada yang bersuara ataupun ingin bersuara.


Rio sibuk dengan pikirannya sendiri, dan Pipit yang juga sibuk dengan pikirannya sendiri.


Hingga pria itu merasakan punggungnya panas dan..basah.


Dia terkejut dan seketika sadar dari lamunannya. Segera berbalik menghadap wajah Pipit yang nampak sembab karena menangis.


Mendongakkan wajah wanitanya lalu menatapnya intens. Bertanya melalui sorotan matanya yang setajam elang.


"Aku bermimpi buruk."


Suara lirih itu terucap dengan airmata yang semakin mengalir deras, dan disusul dengan isakan kecil yang lambat laun menjadi besar.


"Aku membencinya, sangat membencinya. Bolehkan aku mempunyai rasa benci dan kecewa ini, walau aku tahu islam mengajarkan kita untuk selalu memberikan maaf dan ampunan...hiks.


Aku sangat membencinya, rasa benci ini begitu besar dan selalu datang dalam mimpiku. Aku sangat menyayanginya tapi juga sangat membencinya.


Bolehkah aku...hiks..hiks."


Rio langsung memeluk erat tubuh istrinya yang kecil itu dengan begitu erat. Membenamkan kepalanya didekapannya seakan ingin memberikan gadis itu kenyamanan dan ketenangan.


Tidak ada yang dia katakan, karena saat ini istrinya tidak butuh kata kata, dia hanya butuh sandaran dan juga dekapan seseorang dan orang itu adalah dirinya, pria yang sudah sah menjadi suaminya.


"Tidurlah, aku akan menjagamu." Bisiknya ditelinga Pipit saat tangisan gadis itu sudah reda.


Tanpa membantah Pipit menuruti perintah Rio dan semakin mengencangkan pelukan mereka hingga tidak lama kemudian gadis itu kembali terlelap dalam mimpinya setelah lelah menangis.


Rio memandang sedih wajah sembab istrinya dan perlahan dia mengusap sisa airmata Pipit yang sudah mulai kering.


Hidupmu penuh misteri Pit, apa yang membuatmu hingga kamu merasa kecewa seperti ini. Aku baru tahu ternyata dibalik sikap tengilmu, kamu menyimpan sejuta luka dan trauma.


Rio mengecup lembut kening Pipit memandang sayang wajah manis istrinya hingga kemudian rasa kantuk menyerangnya dan diapun ikut terlelap menyusul sang istri dengan posisi keduanya yang duduk sambil berpelukan.


***


Siang hari..


Mobil yang ditumpangi oleh Dhafa sudah masuk dipelataran parkir rumah Azriel. Dengan segera pria itu langsung turun disusul oleh Aqila dan juga Rama setelahnya. Tergesa dan dengan langkah terburu pria itu berjalan cepat menuju kedalam rumah.


Disana diruang keluarga sudah berkumpul semua orang yang sepertinya sedang menunggu kedatangan kakaknya Pipit. Mereka juga tidak tahu jika sebenarnya Dhafalah orang yang mereka tunggu, makanya saat pria itu masuk wajah heran terlihat jelas disana.


Hanya Abah Ahmad yang terlihat memasang wajah tenang, pasalnya dia sudah tahu akan hal itu. Semalam sahabatnya Kyai Lutfi sudah menceritakan semuanya padanya.


"Dhafa ada apa ? Kenapa wajahmu terlihat sangat panik ?" Tanya Tuan Aryan pada putra sulungnya itu.


Mengabaikan pertanyaan papanya, Dhafa malah sibuk menoleh kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu yang justru dengan sikapnya itu semakin membuat semua orang yang disana menatapnya bingung.


"Apa yang kamu cari kak ?" Kali ini Akia yang melemparkan pertanyaan padanya.


"Dimana gadis itu ?"


"Siapa ? Gadis siapa yang kakak maksud."

__ADS_1


"Temanmu Pipit."


"Ada apa dengannya, apa kamu tahu kak kami disini sedang menunggu kakaknya yang akan datang untuk menjadi wali nikahnya, walaupun sebenarnya mereka sudah resmi sih. Tapi kami memutuskan untuk kembali menikahkan mereka karena Kyai Lutfi bilang jika kakak kandungnya ternyata masih hidup." Ucap Akia panjang lebar.


Dhafa menghela nafas panjang saat mendengar apa yang diucapkan oleh adiknya itu. Dia tahu jika adiknya itu sudah menikah, karena saat ada di Semarang Kyai Lutfi sudah menceritakan semuanya padanya.


"Tapi kami bingung sampai siang ini dia kok tidak muncul juga, padahal Kyai Lutfi bilang kalau kakaknya itu sudah dalam perjalanan kesini. Tadinya saat mendengar suara mobil, kami pikir itu adalah dia, nggak tahunya malah kakak."


Dhafa terdiam lalu memandang wajah Aqila yang nampak menganggukkan kepalanya pelan. Setelah mengumpulkan semua keberaniannya Dhafa akhirnya mengeluarkan suaranya yang bahkan hampir tidak terdengar oleh semua orang disana.


"I-itu aaa..aku Sya." Ucapnya gagap.


"Kakak ngomong apa sih, maksudnya aku itu gimana ? Kok aku jadi bingung, nggak cuma aku deh kayaknya, semuanya juga bingung loh." Ucap Akia.


Dhafa memejamkan kedua matanya berusaha menguasai diri, setelah dirasa sudah tenang, dengan lantang pria tampan itu berucap.


"Akulah orangnya Sya, aku kakak kandung Pipit."


Hening


Suasana hening dengan semua mata yang melotot dan mulut terbuka. Tidak ada yang bersuara ataupun sekedar ingin bertanya, semua nampak memasang wajah terkejut. Hingga...


Prang


Klontang


Suara gelas pecah dan juga nampan yang terjatuh membuyarkan keterkejutan mereka dan sontak menatap kearah sumber suara.


Disana diujung meja dapur berdiri sosok Pipit dengan tubuh yang nampak bergetar hebat dan aliran deras airmata dengan wajah yang pucat pasi karena syok.


"Ap-pa yang ka..kau katakan." Tanyanya dengan mulut bergetar.


Dhafa nampak berjalan pelan menuju Pipit dengan airmata yang juga sudah ikut membanjiri wajah tampannya.


"Aku berkata benar, kamu adikku dan aku kakakmu Pit. Tidak aku tidak pernah memanggilmu dengan sebutan Pipit tapi kamu adalah adikku Aca, Acaku, kesayanganku."


Deg


Dia tahu panggilan kesayangan dari abang Fa.


"Tidak ! Kamu bohong itu tidak mungkin." Perlahan Pipit berjalan mundur menjauhi Dhafa, membuat pria itu mengrenyit heran.


"Aca, kenapa kamu menjauh, ini kakakmu, abang Fa." Panggilnya pada gadis itu yang terus melangkah mundur, bahkan gadis itu tidak sadar jika dia sampai menginjak pecahan beling.


Melihat kaki istrinya berdarah sontak Rio langsung berlari hendak menolong, namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan istrinya.


"Tidak, berhenti disana, semuanya berhenti disana." Sarkasnya tajam mengarah pada Dhafa dan juga Rio.


"Sayang."


"Aca."


Panggil keduanya serentak.


"Aku membencimu, kau bukan abangku. Jangan sebut namanya dihadapanku, aku membencinya... aku membencinya !" Teriak gadis itu histeris lalu berlari kekamarnya tanpa memperdulikan rasa sakit dikakinya dan juga darah yang mengalir akibat luka terkena pecahan gelas.


Sementara Dhafa tampak mematung dengan raut wajah sedih dan juga bingung dengan sikap gadis itu.


Dia membenciku ? Kenapa membenciku ?


TBC

__ADS_1


__ADS_2