
Ketiga orang itu menatap wajah pria didepannya dengan pandangan heran. Tidak jauh berbeda dengan pria itu yang menatap ketiga makhluk didepannya dengan kening yang berkerut.
"Loe bertiga ngapain disini ?" Tanya Dhafa heran.
"Kita tadinya mau nemuin Kia, tapi nggak jadi." Sahut Chiko sambil menggaruk garuk tengkuk belakangnya.
"Maksud loe nggak jadi kenapa ?" Tanyanya heran.
Chiko menunjuk kedua gadis didepannya dengan dagunya.
"Karena noh, dua makhluk abstral tu. Belum juga ketemu udah pada mewek duluan. Bukannya menghibur yang ada nanti malah bikin Kia makin tambah sedih." Ujarnya yang langsung dapat pelototan tajam dari kedua sahabatnya itu.
"Ck..parah loe pada." Umpat Dhafa kesal.
"Eh dodol sekate kate loe kalo ngomong. Loe sendiri ngapain kesini ?" Seru Chiko kesal dengan sikap Dhafa.
"Gue disuruh bokapnya buat bawa dia ke ruang tamu, noh ada calon lakinya disana." Jawab Dhafa asal, lalu segera melanjutkan langkahnya untuk menemui Akia.
Sesampainya disana, pria itu tersenyum getir saat melihat kondisi sahabatnya yang sangat menyedihkan. Lihat saja kantung mata gadis itu yang terlihat menghitam, pertanda bahwa gadis itu tidak pernah nyenyak dalam tidurnya.
Dhafa berdiri disamping Akia lalu mengusap pucuk kepala Akia dengan lembut.
"Hei, nona cantik. Nggak baik tau bengong sendiri Di taman. Nanti kalo kesambet hantu gimana ?" Ucapnya pelan yang langsung membuat Akia menoleh padanya karena kaget.
"Yang ada hantunya loe. Datang dan muncul semau loe." Ketusnya dingin.
Dhafa terkekeh pelan, lalu dia berjongkok didepan gadis itu.
"Gue ? Hantu ? Ck..mana ada hantu setampan gue." Ucapnya mulai narsis.
Akia meroling kedua matanya malas.
"Loe kenapa jadi narsis gini ya. Loe salah makan ?" Tanyanya dengan tangan yang menempel dikening Dhafa.
Dhafa kembali tertawa, tawa yang selama ini tidak pernah dia perlihatkan kecuali pada Akia seorang. Bahkan ketiga sahabatnya disana sampai kaget karena baru sekarang mereka bisa melihat tawa lepas seorang Dhafa yang terkenal dingin dan kaku.
"Ck, berhenti tertawa, tawa loe udah macam seperti hantu saja. Ada apa loe kesini ?" Ketusnya.
Dhafa mengusak pelan rambut Akia, lalu mengecup pucuk kepala Akia dengan kasih.
"Masuk yuk, ditunggu bokap loe disana." Ajaknya dengan senyuman manisnya.
"Apa dia juga ada disini ?" Tanyanya lirih.
__ADS_1
Dhafa tersenyum karena dia tahu maksud dengan kata "dia".
"Jangan takut, aku akan selalu bersamamu, tidak bukan aku tapi kami."
"Kami ? Maksud loe ?" Tanyanya heran.
"Noh..Liat yang pada berdiri didepan pintu. Makhluk abstral noh pada ga berani nyamperin loe." Ejeknya sambil menunjuk keberadaan ketiga orang itu dengan sudut matanya.
Akia menoleh kearah yang ditunjuk oleh Dhafa, dan mendapati ketiga sahabatnya yang langsung melambaikan tangannya saat gadis itu melihat kearah mereka. Akia tersenyum tipis.
"Dasar, sahabat ga guna, tapi gue sangat menyayangi mereka." Gumamnya lirih,, tapi masih didengar ole Dhafa membuat pria itu mengulum senyum.
"Gue juga sayang sama loe." Bisiknya ditelinga gadis itu.
Akia tersenyum, dia meraih tangan Dhafa lalu memeluknya erat.
"Terima masih, loe emang sahabat gue." Ucapnya penuh haru.
Dhafa mendengus pelan lalu segera berdiri dibelakang Akia. Bukan apa apa, dia hanya menyembunyikan wajah sedihnya supaya gadis itu tidak mengetahui airmata yang sudah lancang keluar dari kedua sudut matanya. Perlahan pria itu mengusap kasar matanya, lalu mendorong pelan kursi roda itu dan masuk kedalam mansion.
***
Wajah pria itu menatap sendu kearah gadis yang selalu dirindukannya. Sama seperti Tuan Aryan, di dalam hatinya ada rasa kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Menyesal karena tidak bisa melindungi orang yang disayanginya.
Azriel mengucap istighfar berkali kali didalam hatinya, guna meredam emosi yang merasuki kepalanya. Netranya menatap tajam wajah gadis yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
"Hai Sya ? Apa kabarmu ?" Tanyanya sungkan. Ini adalah pertemuan resminya yang kedua kalinya setelah acara khitbahnya dulu.
"Ada apa loe kesini. "Ketusnya dingin dengan mata yang enggan menatap wajah pria itu.
"Sya..bicaralah yang sopan pada tamu kita." Ucap Tuan Aryan lembut, sementara Azriel hanya tersenyum tipis.
Akia mendengus kasar, menatap sinis wajah Azirel. Alih alih menuruti perintah papanya, gadis itu malah memberikan tatapan tidak suka pada Azriel.
"Kebetulan loe datang, jadi gue tidak capek capek mencari loe." Ucapnya yang langsung membuat semua orang menatap heran padamu, begitu juga dengan papanya. Pria paruh baya itu menangkap gelagat aneh dari sikap putrinya.
"Katakan." Perintah Azriel pelan.
Akia menatap tajam wajah pria didepannya yang justru terlihat sangat santai.
"Gue mau perjodohan ini dibatalkan."
Sontak Tuan Aryan menatap wajah putrinya dengan tatapan syoknya. Sementara Azriel, ada roman tidak suka terlihat jelas dimatanya.
__ADS_1
"Sya, jangan bercanda nak."
Akia melirik sinis papanya. " Gue tidak sedang dalam keadaan bercanda. Dan setuju ataupun tidak setuju, gue tetap dalam keputusan gue, bahkan seumur hidup gue tidak akan pernah menikah."
Hening, ya, suasana tampak canggung dan hening. Bahkan keempat sahabatnya hanya terdiam tanpa tahu harus melakukan apa.
"Boleh saya bicara empat mata dengan Akia saja om ?" Tanya Azriel pada Tuan Aryan.
"Sila..."
"Tidak ada yang harus dibicarakan kembali. Keputusan gue sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Gue nggak perduli loe pada setuju ataupun tidak, itu bukan urusan gue. Sorry gue permisi." Potongnya cepat lalu membalikkan kursi rodanya menuju kamarnya.
"Katakan padaku ! Apa yang membuatmu ingin membatalkan perjodohan ini ?" Seru Azriel dengan lantang nya, bahkan pria itu sudah berdiri tegak.
Akia menghentikan laju kursi rodanya, sejenak memejamkan kedua matanya.
Karena gue tidak pantas buat loe yang sempurna. Gue cuma gadis cacat dan pasti akan membuat hidup loe susah. Gumam Akia perih.
"Itu bukan urusan loe." Ketusnya dingin dan kembali melakukan kursi rodanya.
"Apa karena kamu cacat dan merasa tidak pantas bersanding denganku ?" Serunya lagi yang membuat Akia lagi lagi harus menghentikan laju kursi rodanya.
Tes
Jatuh sudah pertahanan nya yang sedari tadi ditahannya. Gadis itu menangis dalam diam, sekuat tenaga menahan diri agar mereka tidak mendengar isakannya.
Ya, karena gue tidak pantas buat loe.
Tanpa menjawab pertanyaan Azriel, Akia kembali melanjutkan niatnya untuk kembali kekamar yang ada dilantai bawah. Ya semenjak kepulangannya dari rumah sakit, papanya memindahkan kamarnya dilantai bawah. Dia tidak ingin putrinya mengalami kesusahan.
Akia menutup pintu kamarnya dengan keras, membuat semua orang disana kembali terkejut. Inilah yang tidak dia sukai, semua orang memandang iba padanya, dan menganggapnya sebagai gadis lemah yang harus dikasihani.
Akia tidak suka itu, dia tidak butuh belas kasihan orang lain padanya. Didalam kamar gadis itu melampiaskan emosi nya dengan memukul keras kedua kakinya yang tidak merasakan apapun. Gadis itu terisak dalam diam, menumpahkan segala emosi dan dukanya hanya sendirian didalam kamar.
Hancur sudah hati gadis itu, semuanya hancur. Hati, perasaan, bahkan impiannya ikut hancur karena kondisinya yang memprihatinkan. Impiannya untuk menjadi seorang pembalap profesional hancur karena peristiwa kecelakaan itu. Hanya sesal tak terucap yang selalu menghiasi hari harinya.
Akia menangis dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya gadis itu kelelahan dan tertidur pulas diatas kursi rodanya. Secara pelan seseorang masuk kedalam kamarnya dan menghampirinya. Memandang bekas jejak airmata yang mengalir dikedua pipinya.
Pria itu mengulurkan tangannya lalu mengusap bekas airmata Akia, lalu mengangkat tubuh mungil itu dan membaringkannya diatas ranjang.
Jangan bersedih, akan aku pastikan jika nanti kau akan selalu bahagia.Tetaplah menjadi gadis yang kuat.
TBC.
__ADS_1