
"Jason."
Pria itu menoleh keasal suara, seketika tubuhnya menegang dan kaku dengan mata yang menatap sosok didepannya dengan tatapan tidak percaya. Setelah lebih dari 3 tahun lamanya dia tidak bertemu dengan pria itu, dan sekarang mereka dipertemukan kembali dalam keadaan yang tidak terduga.
Alex, pria itu tidak pernah tahu jika Jason, sahabatnya itu adalah bagian dari keluarga Khanza. Sudah lama sekali dia mencari sahabatnya yang dikabarkan menghilang. Dan sekarang rasanya dia tidak percaya bisa kembali bertemu dengan Jason.
"Alex." Suaranya berucap lirih, ada binar kerinduan disetiap tatapan matanya.
Jason bergegas menghampiri pria yang berdiri diambang pintu. Setelah sampai keduanya saling berpelukan saling menumpahkan rasa rindu dan bahagia.
"Kemana saja kau selama ini ? Apa kau tahu aku mencarimu kemana mana, tapi jejakmu sama sekali tidak bisa kulacak. Kau menghilang seakan ditelan bumi."
Jason tersenyum, matanya menatap wajah tampan pria didepannya ini. Walaupun mereka berbeda umur, tapi Jason sudah menganggap Alex seperti adiknya sendiri.
"Sudahlah, tidak penting apa alasanku menghilang, yang penting sekarang adalah aku senang pada akhirnya kita bisa bertemu kembali dan kau pun dalam keadaan baik baik saja."
"Ya kau benar Jas."
Jason lalu mengajak Alex untuk bergabung dengan yang lainnya. Semua mata menatap heran pada keduanya yang nampak terlihat sangat akrab. Begitupun dengan Akia, gadis itu memicingkan matanya melihat bagaimana keduanya begitu dekat.
"Kalian berdua saling kenal ? Papa dan bang alex ?" Tanya Akia penuh selidik.
Jason menatap Akia lalu bergantian pada Alex. Setelahnya pria itu mengulum senyuman dengan tangan yang merangkul pundak Alex.
"Tentu saja kami saling kenal Sya, Alex adalah kerabat papa." Ujar Jason.
Akia menatap tak percaya pada keduanya, Alex yang melihat itu langsung membenarkan ucapan Jason.
"Jason benar Sya, kami memang saling kenal. Dia sahabatku yang menghilang. Akupun sudah pernah mengatakan padamu bukan."
Akia mengangguk anggukkan kepalanya. " Oh jadi dia yang waktu itu pernah kau katakan menghilang ya dan kau sudah seperti orang gila karena mencarinya."
Alex melotot mendengar ucapan Akia, sementara Jason hanya tersenyum tipis namun terlihat jelas jika senyumannya itu bernada mengejek.
"Benarkah yang diucapkan Akia itu Lex ?"
Alex mendengus kasar dengan wajah yang memerah karena malu.
"Sya, bisa nggak kalau mulutmu itu tidak berbicara sembarangan, masa iya kamu ngebuka kartu aku disini sih. Mau ditaruh dimana mukaku Sya." Gerutu Alex dengan muka cemberut.
"Dikantongin aja bang." Balas Akia santai yang mana langsung disambut dengan gelak tawa oleh keduanya.
Alex menarik nafas kasar, hatinya sedikit kesal. Tanpa berniat sedikitpun membalas ucapan Akia, pria itu berjalan kearah meja yang sudah tersedia dengan berbagai makanan, lalu duduk disana dan langsung melahap apapun yang ada diatas meja.
Azriel yang menyadari jika Alex tengah merajuk, pria itu segera menghampiri istri tercintanya. Dengan lembut dibelainya sayang ujung kepala Akia lalu mengecupnya dengan penuh perasaan. Tentu saja ulah Azriel membuat semua orang menatap jengah padanya, namun tidak dengan Arumi dan Luna. Kedua gadis itu nampak histeris melihat betapa romantisnya sosok Azriel.
Kedua suami mereka, Ryan dan Chiko hanya menghela nafas panjang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa didepan suaminya sendiri istri mereka mengidolakan sosok Azriel. Padahal mereka pun termasuk pria pria romantis jika bersama istrinya.
"Sayang, berhentilah bersikap seperti itu, kamu tahu sikapmu seoalah olah aku ini tidak pernah romantis padamu." Ucap Ryan pada Luna, istrinya.
__ADS_1
"Memang tidak pernah, selama ini mas hanya bersikap lembut saat sedang dirumah saja."
"Hei itu juga romantis sayang." Sahut Ryan tidak terima.
Luna mencebik. "Tapi tidak pernah berani menunjukkannya jika sudah diluar rumah. Tidak seperti mereka berdua." Gerutunya lagi.
Ryan tersenyum lalu dengan lembut meraih kepala istrinya lalu mengecup keningnya singkat.
"Itu aku lakukan karena aku tidak ingin orang lain melihat bagaimana romantisnya aku terhadap istriku yang cantik ini. Aku hanya ingin kamu saja yang menikmatinya, bukan orang lain." Bisiknya lembut ditelinga Luna, membuat gadis itu tersipu.
"Lihat sayang, pipi mama merah, padahal sudah setiap hari papa bersikap romantis sama mama, tetap saja mama merasa malu." Ucapnya pada putra kecil mereka.
Luna tertawa karena tingkah lucu suaminya tersebut. Lalu gadis itu masuk kedalam pelukan suaminya yang selalu membuatnya merasa nyaman dan tenang.
"Aku mencintaimu mas."
"Kami juga mencintaimu mama." Ucap Ryan menirukan suara anak kecil.
Kembali pada Azriel, pria itu menatap wajah cantik istrinya setelah dia memberikan kecupan mesra padanya. Senyuman lebar tidak pernah hilang dari wajahnya yang sangat rupawan.
"Apa kamu merasa senang ? Setidaknya setelah menggoda Alex." Ucapnya dengan menaikturunkan alisnya.
Akia tertawa lebar, sungguh wajahnya berkali kali lipat berubah sangat cantik saat dia tertawa lepas seperti sekarang ini.
"Tentu mas aku senang sekali. Kamu tahu sudah lama sekali aku tidak menggodanya seperti tadi."
Azriel mencubit gemas hidung mancung istrinya.
"Assalamalualaikum..apa kabarnya baby twinsnya Abi ini ? Cepat besar ya sayang, Abi sama Ummi sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan kalian. Baik baik didalam sana, jangan nakal dan jangan bikin ummi kesusahan ya, jaga ummi ya nak." Ucap Azriel lalu mencium lembut perut rata istrinya.
Akia terharu akan perhatian kecil dari suaminya itu, walaupun baru beberapa minggu usia kehamilannya, tapi Azriel yakin jika anak yang dikandungnya nanti adalah baby twins.
"Mas kan belum tahu kalau baby kita twins, kenapa kamu sangat yakin sekali. Bahkan kemaren kita sudah memeriksanya dan hasilnya hanya ada satu calon baby kan." Tanya Akia untuk kesekian kakinya.
Azriel tersenyum lalu beranjak berdiri dari jongkoknya. Diraihnya tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"Kun fayakun, Jadi maka jadilah, jika Allah sudah berkehendak maka apapun tidak ada yang mustahil terjadi didunia ini sayang. Begitupun dengan anak kita, jika Allah menginginkan baby kita kembar, maka Allah pasti akan memberikan kita sepasang bayi kembar. Kita hanya harus yakin dan yakin."
"Aku hanya takut kamu kecewa mas." Ucapnya lirih mengingat bagaimana suaminya itu begitu yakin jika dia mengandung anak kembar.
"Mas sangat yakin akan kebesaran Allah SWT. Bukankah Allah selalu mengabulkan permintaan hamba hambanya yang bertaqwa. Lalu kenapa kita masih ragu padaNya Ratu."
Akia terdiam tanpa berniat membalas kembali ucapan suaminya tersebut, karena apa yang dikatakan oleh Azriel semuanya adalah benar. Jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada sesiapapun didunia ini yang bisa menyangkalnya, apalagi dia yang hanya seonggok makhluk hidup yang begitu kecil dihadapanNya.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, kasian anak kita Ratu. Sekarang ayo kita bergabung dengan yang lainnya. Ini hari bahagia kita, jangan tunjukkan wajah sedihmu itu. Lihatlah kesana (Menunjuk kearah dimana semua orang berkumpul dan tertawa bersama) mereka sangat bahagia menyambut kehamilanmu. Jangan buat mereka sedih dengan wajahmu yang terlihat redup itu." Goda Azriel dengan tersenyum simpul.
Akia mencubit gemas perut sixpack suaminya yang terasa keras. Membuat Azriel terkekeh karena cubitan istrinya tidak berpengaruh apapun padanya.
Akia semakin mengeratkan tubuhnya pada tubuh suaminya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu mas, terima kasih sudah memberikan cinta yang begitu besar untukku. Kesabaranmu dalam membimbingku, dan penantianmu yang begitu lama saat menungguku kembali. Aku sangat bahagia, mendapatkanmu didalam hidupku membuat warna hidupku berubah terang dan penuh kehangatan.
Aku yang hanya seorang gadis urakan tidak kenal arah, tapi Allah begitu baik padaku dengan mendatangkanmu didalam hidupku. Mewarnai hari hariku yang gelap dan kosong.
Aku mencintaimu suamiku, Azrielku, Darelku, sangat mencintaimu." Ucapnya dengan isakan lembut didada Azriel.
Azriel sendiri begitu sangat terharu dan merasa bahagia sekali. Pria itu semakin erat membawa tubuh wanitanya kedalam pelukannya.
"Akupun sangat mencintaimu istriku, Anzhaku, ratuku dan bidadari syurgaku. Semoga Allah merestui pernikahan kita dan membawa hubungan kita sampai kejannahnya."
Keduanya saling berpelukan mencurahkan rasa bahagia yang memenuhi relung hati mereka. Hingga tanpa disadari keduanya kini malah menjadi tontonan gratis semua orang yang ada disana.
"Ekhem,...sampai kapan kalian berdua akan berpelukan seperti itu. Acara ini tidak akan dimulai jika kalian berdua masih asik dengan dunia kalian sendiri. Diteruskan nanti saja kalau sudah ada dikamar peluk pelukannya."
Suara bariton milik Papa Aryan membuat keduanya tersadar lalu saling melepaskan pelukan mereka. Mereka berdua tersenyum kikuk saat melihat wajah jengah orang orang yang ada disana. Namun kemudian gelak tawa memenuhi taman belakang saat melihat bagaimana merahnya wajah Akia dan Azriel.
"Mas, kamu ini tiada henti menggoda putriku ya. Lihat wajahnya yang merah karena malu." Celetuk mama Syifa yang membuat tawa mereka semakin keras.
Mama Syifa lalu menggandeng lengan Akia dan membawanya melangkah menuju kemeja makan. Dua wanita hamil itu begitu sangat dekat dan saling menyayangi. Lagi lagi Azriel tersenyum melihat pemandangan indah itu, tidak ingin ketinggalan momen bahagia itu, Azriel berjalan pelan menyusul langkah istrinya dan mama mertuanya.
TAMAT
Note:
Sungguh indah jika kita selalu bisa menerima dan memaafkan masalalu bagaimanapun buruknya kesalahan kita dimasa lalu. Hati kita pun akan terasa damai dan tenang saat kita bisa berdamai dengan keadaan. Percayalah kebahagiaan akan selalu mengikuti kita jika hati kita bebas dari dendam dan sakit hati. Mungkin sulit untuk mengikhlaskan dan memaafkan apa yang sudah terjadi pada kita.
Tapi kita harus yakin dengan. saling memaafkan semua yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi mudah dan yang gelap menjadi terang. Kita hanyalah makhkuk kecil dihadapan Allah yang begitu besar. Dengan ikhlas dan memaafkan kesalahan orang lain, maka Allah akan membuat jalan kita menjadi mudah tanpa halangan.
Terima kasih untuk para sahabatku yang sudah setia mengikuti jalan cerita Rindu Suara Azhan. Author begitu terharu dengan antusiasme para sahabat. Maafkan jika masih ada kesalahan didalam cerita ini. Maafkan juga jika cerita ini tidak sesuai dengan keinginan kalian.
So Rindu Suara Azhan musim pertama sudah selesai, dan akan dilanjut musim kedua yaitu kisah perjalanan cinta D.A.R (Dhafa Akila dan Rio). Ikuti terus ya lanjutan ceritanya. Akhir kata assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Prolog
Dhafa menatap wajah gadis didepannya itu dengan tatapan tajam nya dan rahang yang mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat hingga terlihat urat urat tangannya yang menonjol keluar.
"Kamu begitu sombong dan percaya diri hingga berani keluar dari perusahaan ini. Memang apa yang kamu miliki hingga dengan entengnya kamu akan melamar diperusahaan lain hhah. Kamu harus ingat, dulu kamu masuk keperusahaan ini saja karena dekomendasi dari adikku Akia, jika saja bukan karena dia aku tidak akan menerima gadis bodoh sepertimu untuk menjadi sekretarisku." Ucap Dhafaa dengan kata kata yang menusuk tajam.
Akila mencoba memberanikan dirimya menatap wajah tampan didepannya ini. Wajah yang selama ini memenuhi ruang hatinya, dan wajah orang yang juga berkali kali membuat harga dirinya jatuh.
Akila tersenyum miring, melihat bagaimana angkuhnya pria didepannya.
"Karena saya bodoh maka tolong degan segenap hati Tuan menandatangani surat pengunduran diri saya, dan biarkan saya pergi dari sini. Maaf sudah membuat anda repot dengan tingkah saya selama ini."
Dhafa semakin menggeram. " Kau berani mengaturku."
Akila menghela nafas. " Tuan saya sudah sangat lelah berdebat dengan anda. Sekarang tanpa atau dengan ijin anda saya akan tetap mengundurkan diri saya. Terima kasih dan saya permisi undur diri."
Akila berbalik lalu tangannya meraih handle pintu, namun baru saja ointu terbuka dan belum sempat kaakinya melangkah keluar, suara nerat Dhafa kembali terdengar.
__ADS_1
"Sekali kamu melangkah satu langkah dari ruanganku, maka aku akan selamanya menganggapmu sebagai pengkhianat Akila. Dan kamu tahu apa konsekuensinya sebagai pengkhianat. Dia akan dicoret bahkan perusahaan akan membuat daftar hitam supaya kamu tidak akan diterima diperusahaan manapun."
Akila kembali menghela nafas kanjang, hatinya sudah bulat lalu dengan pasti gadis itu meneruskan langkahnya keluar dari ruangan presdir meninggalkan Dhafa yang nampak terlihat sangat marah.