
Assalamualaikum..maaf ya sahabat,,hehe author datang lagi. Maafkan aku yang akhir akhir ini bisa up satu eps saja, dan itupun malam. Siang hari sungguh aku di sibuk kan dengan baby yang semakin hari semakin aktif..hingga tidak sempat untuk author memegang ponsel...curhat dikit gpplah..hhehππ Bahkan novelku yang Aira terpaksa berhenti sebentar,,waktu ku begitu tersita..ππ
Maaf ya aku selalu membuat kalian kesal dengan menggantung cerita..bukan maksudku sih,,sebenarnya kemaren mau langsung selesai eehh waktunya tinggal sedikit dan author takut jika tidak masuk dalam up harian, jadi ya terpaksa digantung dulu..ππ
Maafkan ya..semoga selalu sehat..jangan lupa tinggalkan jejak.
****
Suasana rumah sakit terlihat heboh dengan suara teriakan seorang gadis dan pria yang saat ini baru saja keluar dari dalam mobil mewah. Mengabaikan kondisinya yang bersimbah darah, gadis itu terus saja berlari sembari berteriak kencang.
"Dokter ! Suster ! Tolong..."
Beberapa perawat pria dengan sigap segera berlarian kearah mobil yang disana sudah ada satu pria yang sedang mengangkat tubuh pria lainnya.
"Tuan,,biar kami yang membantu anda."
Rio tanpa mengatakan apapun lagi, segera membaringkan tubuh Azriel yang terus mengeluarkan darah segar dari kepalanya. Bahkan tubuh pria itu terlihat sangat bergetar, dadanya terasa Sesak melihat penderitaan yang terjadi pada sahabatnya.
Dokter ahli langsung melakukan tugasnya dengan dibantu oleh 3 orang Dokter lainnya. Semuanya adalah Dokter ahli yang ada dirumah sakit tersebut. Akia langsung menghampiri sang dokter yang hendak masuk ke ruang operasi.
"Dok,,,tolong selamatkan suami saya." Isaknya dengan tubuh yang bersimbah darah.
"Nona, sebaiknya anda juga dirawat. Tubuh anda juga penuh luka luka." Ucap sang dokter sembari melihat tubuh Akia yang penuh luka disekujur tubuhnya.
"Saya tidak apa apa dokter, tolong beri perawatan yang sebaik mungkin untuk suami saya." Harapnya dengan airmata yang terus berderai.
"Tapi nona,,tubuh anda juga perlu penanganan segera."
"Tapi..."
"Sya,,menurutlah. Lihat tubuhmu, kau juga perlu penanganan. Kita serahkan Azriel sama dokter, percayalah semua akan baik baik saja." Tegas suara Rio membuat gadis itu terdiam, benar apa yang dikatakan Rio. Baru sekarang dia merasakan tubuhnya yang begitu nyeri dan sakit.
Rio segera memanggil beberapa perawat untuk membantu menangani istri sahabatnya itu. Akia yang sudah terlihat lemah hanya bisa menurut saat dua orang perawat membawanya ke dalam ruangan pasien.
Rio terpaku melihat istri sahabatnya yang nampak begitu syok dengan keadaan Azriel yang begitu mengenaskan. Tubuh sahabatnya itu sekarang berada diruang operasi dan sedang ditangani oleh beberapa dokter ahli.
Kini sudah hampir 2 jam lamanya Azriel berada didalam, dan sampai sekarang belum ada satupun dokter yang keluar untuk sekedar memberitahu keadaan pria itu.
Disana bahkan sudah berkumpul seluruh keluarga Akia dan Azriel. Guratan cemas dan khawatir terlihat jelas, bahkan Ummi Hana nampak terlihat menangis sembari mengucap istighfar berkali kali.
Rio pun tidak kalah terkejut saat mendapat kabar jika sahabatnya itu mengalami kecelakaan. Dia yang saat itu sedang menjalankan perintah Azriel untuk mengatasi permasalahan kantornya dengan segera berlari menuju luar kantor saat salah satu karyawannya memberitahu dirinya jika saat ini presdir mereka sedang mengalami kecelakaan tepat didepan kantor.
Dhafa melihat kearah Akia yang nampak duduk dikursi tunggu dengan pandangan mata yang terlihat kosong. Gadis itu begitu syok hingga dia tidak bisa berkata sepatah katapun. Disebelahnya nampak Mama syifa yang menangis pilu melihat putrinya yang begitu rapuh.
"Yo, apa yang terjadi ? Kenapa kalian bisa kecolongan seperti itu." Tanya Dhafa dengan wajah datar nya.
Rio menghela nafas kasar, mencoba menetralkan amarah yang sedari tadi memenuhi hatinya.
"Ini salahku." Ucapnya lirih.
"Apa maksudmu ?"
Rio menatap wajah Dhafa, lalu mendegus kasar.
"Ikut aku, akan ku cerita kan semuanya."
__ADS_1
Mereka berjalan menuju arah Taman rumah sakit. Sesampainya disana, Rio kembali menghela nafasnya dalam.
"Sekarang tidak akan ada yang bisa mendengar pembicaraan kita. Kau bisa memulai ceritamu Yo."
"Semua berawal beberapa hari yang lalu setelah kejadian yang menimpa Nyonya Viona dan putrinya."
"Maksudmu ?"
Flashback on
Setelah kepergian Dhafa dari kantornya, esoknya Azriel berniat untuk pergi menemui istrinya yang saat ini sedang berada dimansion papanya. Tadi saat dia menelponnya, istrinya berkata bahwa saat ini dia sedang ada dimansion papa Aryan dengan Viona dan Jason yang berada disana.
Kemaren Viona membatalkan niatnya untuk kemansion mantan suaminya itu, karena mendadak Jason berkata jika tiba tiba dia ada urusan mendadak dan meminta untuk Viona kembali kerumah mereka saja.
Azriel sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, saat ingatannya kembali melayang pada kejadian kemaren dimana anak buah Marco yang menyerang Viona sehingga menyebabkan istrinya itu ikut terlibat. Bahkan kali ini tatapan matanya begitu tajam mengerikan. Saat dia baru saja melangkah satu kaki, suara dering ponsel menghentikan langkahnya.
"Marco." Desisnya pelan tapi masih terdengar ditelinga Rio. Walaupun tidak ada inisial pemanggil tapi dia yakin jika yang menelponnya saat ini adalah Marco.
Dengan cepat Azriel mengangkat panggilan telponnya. Suara pria itu bahkan terdengar sangat dingin saat berbicara pada Marco.
"Apa maumu ? Aku sudah muak dengan tingkah mu Marco. Kepalamu terlalu penuh dengan hati yang selalu dipenuhi kesalahpahaman sehingga membuatmu selalu ingin membalas dendam dengan apa yang sudah terjadi dimasa lalu. Sudah berulang kali aku katakan, jika yang terjadi pada Riva adalah takdir Allah."
π Kau selalu berceramah seakan akan kau itu orang yang begitu suci El. Padahal kau sendiri adalah orang yang penuh dengan dosa. Apapun yang kau katakan tidak akan berpengaruh padaku sama sekali El. Bagiku kaulah pembunuh Riva, jika saja saat itu kau bisa menahan ucapanmu, maka aku yakin saat ini Riva masih tetap hidup.
Azriel menggeram mendengar perkataan Marco. Kedua tangannya mengepal dengan kuat, dengan wajah yang penuh amarah. Sekuat kuatnya imannya, tetap saja dia hanya lah manusia, walaupun hatinya berusaha sabar, tapi jika sudah menyangkut nyawa seseorang yang sangat dicintainya, pria itu juga akan melakukan hal sama seperti orang lain. Melakukan apapun demi melindungi sang istri tercinta.
π Kau tahu El, awalnya aku hanya ingin bermain main denganmu saja dengan memberi ancaman pada orang orang disekitarmu. Tapi istri kecilmu itu sudah membuat hati seorang Marco tersinggung, bahkan aku sangat marah. Beraninya dia ikut campur urusanku, siapapun tidak ada yang boleh lolos dari terkaman seorang Marco.Hahaha
"Kau tidak waras Marco, tidak hanya istriku, siapapun bahkan aku juga akan melakukan hal yang sama jika ada yang meminta tolong padaku. apalagi meminta tolong dari orang seperti dirimu." Geram Azriel dengan suara dinginnya.
"Satu centi saja kau berani menyentuh istriku, kali ini aku tidak akan mengampunimu Marco. Aku akan mencarimu dimanapun kau bersembunyi."
π Hahahha..aku akan menunggu saat saat itu El. Pasti sangat menyenangkan bosku, ups mantan bosku. Huaahahahhaha.
Azriel menatap geram pada ponselnya yang saat ini panggilan telpon mereka sudah terputus.
"Riel.." Panggil Rio dengan suara lirih, pria itu mulai merasa khawatir, pasalnya tatapan mata Azriel saat ini sama seperti beberapa tahun silam saat keduanya masih menjadi seorang mafia.
"Hubungi anggota Black Dragon."
Deg
Apa yang dia takutkan terjadi juga, Azriel kini mulai kembali menjadi sosok yang menyerikan.
" Tapi Riel..."
Suara Rio tercekat saat tatapan tajam mata Azriel yang menatapnya dengan sangat mengerikan.
"Kau ingin kubunuh Yo."
Yup..sifat iblis itu kembali lagi, walaupun Rio sempat merasa gemetar, tapi pria itu sebisa mungkin menyadarkan sosok didepannya yang sudah mulai kehilangan kendali. Apapun resikonya akan Rio ambil, asalkan Azriel tidak akan kembali pada sosoknya yang dulu.
"Ingat janjimu Riel, jangan sampai kau me...."
"Persetan dengan janjiku Yo, lakukan saja perintahku. Saat ini keselamatan istriku lebih penting daripada janjiku sendiri." Geramnya dengan mencengkeram kuat kerah leher Rio, hingga membuat pria itu merasa sesak.
__ADS_1
"Kau mengkhawatirkan keselamatan istrimu, apa kau sendiri tidak khawatir jika nanti Akia akan membencimu karena kau sudah mengingkari janjimu padanya. Kau sudah berjanji kalau segenting apapun kau tidak akan pernah menyentuh dunia itu lagi."
Kedua mata Azriel meredup dengan cengkeramannya yang mulai melemah. Tatapan pria itu berubah sendu, lalu beralih duduk disofa dengan langkah gontai. Telapak tangannya mengurai rambutnya kebelakang dengan kasar.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Yo. Aku begitu mengkhawatirkannya. Begitu mudah untukku menangani seorang Marco, jika saja aku tidak terikat dengan janjiku." Keluhnya dengan nada frustasi.
"Pasti ada cara untuk melawannya Riel, apa kau lupa jika Dhafa sudah menawarkan bantuannya pada kita. Aku yakin orang orang yang dipilih Akia adalah orang orang yang tidak kalah hebat dari orang orang kita." Ucap Rio dengan wajah tenang.
"Kau benar Yo, aku akan menghubungi istriku." Ucapnya sembari menelpon istrinya, namun beberapa kali dia menelpon, nomor istrinya itu tidak bisa dia hubungi.
"Kenapa dia tidak bisa dihubungi Yo." Tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Bukankah kau menyuruhnya untuk datang kesini ? Mungkin saja dia sedang dijalan Riel."
"Aku lupa. " Sahutnya sembari menepuk keningnya. " Baiklah aku akan menunggunya diluar."
Pria itu berdiri lalu berjalan menuju arah lobby. Berdiri diluar kantornya dengan kemeja yang digulung setengah lengan.
Belum lama dia berdiri disana, ponselnya kembali berdering, memperlihatkan sang istri yang menelponnya. Dengan senyum cerah pria itu mengangkat ponselnya lalu mengucapkan salam.
Namun keanehan terjadi saat Akia justru memintanya untuk beralih pada panggilan video. Belum sempat menjawab, gadis itu langsung mematikan ponselnya sepihak. Dan detik berikutnya panggilan video call dari istrinya terlihat di ponsel nya.
Kening pria itu sedikit berkerut saat melihat raut wajah khawatir istrinya.
" Ada apa sayang ? Wajahmu terlihat panik."
πMas jangan kemana mana, sebelum aku sampai disana. Pergilah masuk kembali kedalam.
" Ada apa Sya ? Apa semua baik baik saja ?"
πMas aku mohon kali ini saja dengarkan aku. Please.
" Oke..oke..mas masuk kedalam ya. Kamu jangan khawatir. Hati hati dijalan."
Tidak ingin berdebat, Azreil kembali masuk kedalam, walaupun hatinya bertanya tanya kenapa dengan sikap istrinya. Namun baru saja dia sampai dipintu masuk lagi lagi ponselnya berdering. Dan kali ini kedua mata pria itu membelalak lebar saat melihat isi pesan yang dikirim ke ponsel nya.
Pesan bergambar yang memperlihatkan istrinya yang saat ini sedang berada diseberang kantornya.
π¬ Ucapkan selamat tinggal pada istrimu El.
Azriel langsung kembali berlari keluar, dari sana dapat dia lihat istrinya yang sedang keluar dari mobilnya. Tadinya istrinya kekeh untuk berjalan kearahnya, tapi setelah dia membujuknya, akhirnya gadis itu menuruti perintah nya.
Dengan wajah yang masih khawatir, Azriel berjalan menyeberang jalan untuk menjemput istrinya. Matanya sedikit menyipit saat melihat Akia yang justru berlari kearahnya. Suara bising kendaraan membuatnya tidak mendengar apapun yang diucapkan Akia.
Hingga tiba tiba kedua matanya beralih pada satu kendaraan yang terlihat melaju kencang diantara kendaraan lainnya dan menuju kearahnya. Awalnya dia terlihat santai, namun detik berikutnya kedua matanya membola saat mobil itu membelokkan lajunya kearah istrinya.
Mengabaikan keselamatannya, Azriel lalu berlari kencang menuju arah istrinya, walaupun sedikit terlambat, namun dia bersyukur saat tangannya berhasil meraih lengan istrinya. Menarik kuat lengan itu lalu melemparnya kesamping. Masih dapat dia dengar suara teriakan istrinya sebelum akhirnya kedua matanya perlahan menutup dengan bibir yang menggumam lirih.
Aku mencintaimu Sya.
TBC
Bab nya panjang sekali,,hampir 2000 kata..untuk mengibbati rasa penasaran sahabat sahabat aku ini..πππ
Love kalian semua..
__ADS_1