
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
Taqoballahu mina waminkum, taqoballahu yaa kariim.
Minal aidhin wal Faizin, mohon maaf lahir dah bathin.🙏
Selamat hari raya Idhul fitri 1442 hijriah, maafkan segala kesalahan ku yang sengaja ataupun tidak disengaja ya sahabat. Di hati yang fitri ini mari saling memaafkan dan memulai hidup baru dengan hati yang bersih. Saling melupakan kesalahan dimasa lalu dan berdamai dengan keadaan.😘😘
Maaf author tidakb bisa membalas satu persatu komentar kalian, tapi author selalu senang dan terharu dengan komentar kalian yang begitu mendukung author. Lewat tulisan ini author mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya atas dukungan dari kalian semua sahabat auhtor. Tanpa kalian author bukan lah siapa siapa hanya seorang penulis receh yang berniat menghibur kalian dengan tulisan tangan kecil ini. Sekian dan terima kasih. Dan jangan lupa jaga selalu kesehatan karena sehat itu mahal.🙏🤗
💕 💕 💕
Dug
Klontang
Vino begitu terperanjat sontak membuka kedua matanya. Jantungnya masih berdetak dengan begitu kencang, dengan keringat sebesar biji jagung yang masih menetes dipelipisnya. Sungguh jika disuruh memilih, lebih baik dia langsung ditembak mati daripada mengalami kejadian yang justru membuat detak jantungnya terasa berhenti.
Vino menatap pisau belati yang teronggok dengan begitu mengenaskan dilantai tersebut. Beruntung tidak ada satu orangpun yang lewat dilorong tempat mereka berdiri saat ini, jika tidak sudah pasti benda tajam itu akan dengan senang hati menusuk mangsanya.
"Apa maksud anda nona ?" Tanya Vino setelah menetralkan deru nafasnya.
Akia menggendikkan kedua bahunya acuh, dengan wajah yang menyeringai penuh makna.
"Bagaimana anda bisa tidak tahu, jelas jelas anda menyuruhku unyuk mengakhiri hidupku sendiri. Dan sekarang anda sendiri yang menyelamatkan saya. Apa anda hendak mempermainkan kesetiaan saya ?"
"Gue berubah pikiran, sepertinya loe memang anak buah pria sekarat itu. Sorry." Ucapnya santai lalu berjalan menjauh dengan wajah tidak bersalah.
Vino cengo dengan mulut terbuka, sungguh baru kali ini dia bertemu dengan sosok wanita yang aneh menurutnya. Bagaimana tidak aneh, menyuruhnya melakukan hal yang berbahaya, namun dengan seenak hati menghentikannya, udah gitu wajahnya tidak menunujukkan rasa bersalah sedikitpun.
"Berhenti menatapnya dengan matamu yang kotor itu, jika tidak jangan salahkan aku jika kedua matamu menjadi buta." Suara dingin dan mencekam khas milik Dhafa terdengar ditelinga Vino, membuatnya sedikit susah bernafas.
Dasar tidak dia ataupun gadis itu, dua duanya senang sekali membuat jantungku langsung berhenti berdetak.
Sementara itu Akia yang saat ini sudah berada diTaman rumah sakit, tidak bisa lagi menahan tawanya yang sudah dari tadi dia tahan. Bahkan perut gadis itu sampai terasa sakit.
"Dia..bagaimana bisa sebodoh itu. Mau saja melakukan hal konyol begitu." Gumamnya pelan.
"Bukan hanya dia, setiap orang akan melakukan apapun demi orang yang sangat berharga dihidupnya. Sama seperti Vino yang menganggap Alex begitu berharga dihatinya. Dan berhenti berbuat jahil sama orang, untung saja loe cepat, jika tidak gue yakin pria tadi sudah tinggal nama." Ucap Dhafa yang tiba tiba sudah berada dibelakang gadis itu.
Akia menoleh kebelakang, lalu mendengus kasar.
"Gue hanya menguji kesetiaan dia saja. Gue nggak mau sampai kejadian seperti tadi terulang untuk kedua kalinya."
"Masih ada cara lain untuk menunjukkan bukti kesetiaan seseorang, tapi tidak dengan melakukan hal yang berbahaya seperti tadi."
__ADS_1
Akia melirik sinis. " Loe ganggu kesenangan gue."
Dhafa terkekeh, sungguh gadis didepannya ini terlihat sangat menggemaskan.
"Tapi jujur gue penasaran dengan sosok Alex tadi. Seperti bukan orang sembarangan, buktinya sampai ada orang yang menginginkan kematiannya. Gue rasa kejadian dia berada dipinggir tebing juga ada kaitannya dengan orang orang tadi." Tebak Akia dengan wajah yang berubah serius.
"Gue akan menyelidikinya." Ucap Dhafa cepat.
Akia mengangguk, lalu mengajak Dhafa untuk kembali ketempat semula, mereka takut jika sewaktu waktu ada orang yang datang tiba tiba seperti tadi. Mereka memutuskan untuk pergi dari rumah sakit itu setelah Alex siuman.
💕 💕 💕
Mata yang terpejam itu akhirnya secara perlahan membuka. Alex nampak memicingkan matanya saat sinar lampu rumah sakit yang terlampau silau masuk kedalam rongga matanya. Pria itu mengerjap lalu melihat kesekeliling ruangan.
Ada beberapa orang yang ada disana, salah satunya adalah Vino. Alex sedikit menyunggingkan senyuman tipis. Namun dia sedikit heran dengan keberadaan dua orang yang sedang berdiri menyender ditembok.
"Bos, anda sudah siuman."
Suara Vino mengalihkan perhatiannya, Alex hanya menganggukkan kepalanya pelan. Kepalanya masih terasa sedikit pusing.
"Siapa mereka Vin ?" Tanya Alex dengan memberikan isyarat mata pada Vino.
"Mereka nona Akia dan juga sahabatnya Dhafa Bos. Mereka yang sudah menyelamatkan anda."
Cantik
Alex memberi isyarat pada Vino untuk memanggil mereka, dan Vino yang mengerti keinginan bosnya langsung memanggil keduanya untuk mendekat.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku, sebagai balas budiku..."
"Gue nggak ingin ada timbal balik balas budi dari loe. Gue ngelakuin ini murni karena rasa kemanusiaan aja." Potong Akia cepat sebelum Alex menyelesaikan ucapannya.
Alex tersenyum, bahkan terlihat sangat manis membuat Vino sedikit heran demgan bosnya itu. Selama ini dia belum pernah melihat bosnya itu menyunggingkan senyum walau hanya sekilas. Pria didepannya ini terlalu dingin dan kejam, dan jauh dari kata ramah.
"Terima kasih, kalian..." Ucapnya lembut.
"Gue Akia dan ini abang gue, Dhafa." Lagi Akia memotong ucapan Alex.
Dhafa melotot mendengar Akia menyebut dirinya abang gadis itu. Dengan pelan dia mencekal lengan Akia lalu berbisik.
"Abang siapa ? Abang bakso ?" Bisiknya geram, membuat Akia terkikik geli.
"Emang loe pantes jadi abang bakso."
Dhafa mendengus, niatnya ingin sedikit marah justru malah hilang mendengar ledekan gadis tersebut. Kini dia malah asik menikmati wajah Akia yang terlihat ceria, jarang jarang dia bisa melihat momen begini.
__ADS_1
"Dengar Tuan Alex, gue nggak tahu siapa loe sebenarnya ataupun bagaimana pribadi loe. Dan juga orang orang yang menginginkan kematian loe. Hanya saja karena tidak ingin kejadian seperti tadi yerulang kembali, maka kami berdua memutuskan untuk ikut menjaga loe sampai keadaan loe pulih kembali." Ucap Akia dengan menatap tajam pada Alex.
Alex menghela nafas secara perlahan, lalu menghembuskannya kasar.
"Kalian tidak usah memaksakan diri, nanti akan ada anak buahku yang berjaga jaga disini. Aku sudah terlalu banyak membuat kalian repot."
"Terserah loe." Jawab Akia singkat.
Gadis itu tidak ingin memaksakan keinginannya jika Alex saja tidak memberinya ijin. Namun tetap dia akan mengawasi semuanya dati kejauhan.
Setelah kejadian tersebut mereka menjadi akrab dan memulai hubungan. Alex yang mempunyai sifat dewasa dari Dhafa dan Akia, membuat gadis itu merasa nyaman saat bersamanya. Dan itu disalah artikan oleh Alex yang mengira jika gadis itu menyukainya.
Namun sayang saat dia mengutarakan maksudnya, gadis itu hanya menanggapinya dengan senyuman lembut. Dan dengan pelan Akia mengatakan jika dia hanya mengangap Alex sebagai seorang kakak saja. Dan didalam hatinya hanya mencintai satu orang saja, yaitu Azriel.
💕 💕 💕
Puk
Tepukan kasar dipundaknya sontak membuat Alex langsung tersadar dari lamunannya. Dipandangnya wajah gadis didepannya yang selalu memenuhi ruang hatinya itu. Perlahan Alex tersenyum sebelum menepuk gemas ujung kepala Akia.
"Bukannya masuk malah bengong disini bang." Celetuk Akia.
Alex tersenyum cengegesan sembari menggaruk belakang kepalanya.
"Ayo masuk, papa sudah menunggu kalian. Kebiasaan dari dulu selalu ngaret." Gerutu gadis itu lalu berjalan masuk mendahului Alex dan juga Vino.
Alex lagi lagi tersenyum, lalu melangkah masuk menyusul Akia yang sudah agak jauh didepannya. Dia memandang sekeliling mansion dengan seksama, dulu dia sering datang kemari sebelum Akia dikabarkan menghilang. Setelah itu dia tidak pernah lagi kesini.
"Alex.."
Suara bariton milik Tuan Aryan mengagetkan dirinya. Dengan segera pria itu menghambur cepat merangkul pria paruh baya tersebut.
"Apa kabar paman."
"Kabarku baik bagaimana denganmu ? Kamu sudah lama sekali tidak datang kemari ya."
"Maaf paman." Ucapnya kikuk.
Tuan Aryan terkekeh melihat bagaimana canggungnya pria didepannya ini. Setelah berpelukan sebentar, dia mengajak pria yang sudah seperti anaknya itu masuk ketaman belakang mansion. Tempat diadakannya pesta kecil kecilan.
Disana sudah berkumpul seluruh anggota keluarganya dan juga sahabat sahabat Akia. Namun ada satu orang yang membuatnya sedikit mengrenyitkan dahinya.
Dia sedang apa disini ?
TBC
__ADS_1