
Akia melirik Dhafa yang saat ini juga ikut berdiri didepan pintu ruangan bersama dengan dirinya. Tatapan mata Dhafa menghunus tajam dengan seringaian iblis khas miliknya. Pria itu memang sangat ahli mengintimidasi musuhnya, hingga tanpa sadar musuhnya pun dibuat ketakutan hanya dengan menatap matanya.
Dan sekarang formasi mereka berdua sangatlah kuat, jangan remehkan kekuatan keduanya. Walaupun mereka hanya berdua dan tidak sebanding dengan jumlah musuhnya. Namun banyak kabar burung yang mengatakan jika Akia dan Dhafa adalah sepasang iblis berwajah manusia.
Pria yang menjadi sosok sebagai pemimpin mereka memberikan isyarat pada teman temannya untuk menyerang Ajia dan Dhafa. Dan tanpa menunggu perintah kedua kalinya, mereka langsung menyerang Akia dan Dhafa dengan membabi buta.
Akia menggenggam tangan Dhafa kuat, dia melakukan salto dengan berpijak pada paha Dhafa. Dengan bertumpu pada kedua tangan Dhafa, gadis itu memberikan tendangan bertubi tubi pada kelima orang yang menyerangnya.
Kelima musuh tersebut langsung terpental dan ambruk kelantai rumah sakit dengan tangan yang memegang dada mereka. Bahkan ada yang sampai pingsan karena tendangan kaki Akia yang kuat dan kencang sukses mendarat dikepalanya.
Pemimpin mereka terperangah melihat sebagian anak buahnya tergeletak. Dan kini hanya tersisa 5 orang lagi beserta dirinya. Pria itu terlihat menelan salivanya dengan susah payah, melihat bagaimana ganasnya kedua orang yang sekarang berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya dengan mata yang menatap penuh dengan seringaian iblis itu.
"Kalian akan menyesali apa yang sudah kalian lakukan ini." Ucapnya lalu segera beranjak pergi dari sana.
Akia menepuk nepuk kedua tangannya, seakan membersihkan kotoran yang menempel ditelapak tangannya.
"Cih..cuma segitu aja udah berlagak sok kuat. Menyedihkan." Umpat Akia dengan wajah masih penuh dengan kekesalan.
Dhafa terkekeh dengan tingkah sahabatnya.
"Bahkan gue nggak sempat melakukan apapun tadi."
Akia mendelik, lalu mendengus kasar.
"Gimana mau bertindak, kalau yang kita hadapi hanyalah seekor curut saja. Sekali tendang langsung..tuiiinggg." Akia memperagakan gerakan menendangnya lalu disusul dengan gerakan seakan korbannya terlempar jauh.
Dhafa benar benar tidak bisa lagi menahan tawanya yang sedari tadi dia tahan. Pria itu sampai menggelengkan kepalanya melihat raut kekesalan diwajah sahabatnya. Dengan gemas Dhafa mengacak ngacak pucuk kepala Akia.
__ADS_1
Disaat keduanya sedang bercanda, tiba tiba datang seorang pria yang mempunyai wajah lumayan tampan. Wajahnya nampak kusut dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Sepertinya jika dilihat dari keadaannya, pria itu habis melakukan olahraga malam, alias berlari.
"Ma..af no..na,,apakahhh bos..saya..memang benar hah..hah..ada disini ? Hosh..hosh..hosh." Tanyanya dengan nafas yang turun naik, bahkan bicaranya juga sampai terputus putus.
Dhafa dan Akia saling melemparkan pandangan , sebelum akhirnya mereka berdua tertawa bersamaan.
"Hei, siapa loe. Kenapa wajahmu terlihat begitu jelek begini." Ejek Akia dengan senyuman mengejek.
Pria itu mendengus karena ejekan gadis didepannya itu. Jika saja bukan gadis ini yang menolong bosnya, pasti saat ini dia sudah memberikan hukuman pada gadis angkuh ini.
"Saya Vino nona, asisten Tuan Alex." Ucapnya memperkenalkan diri dengan menahan kekesalannya pada Akia.
"Apa buktinya jika loe itu adalah orang kepercayaannya pria sekarat itu. Bisa saja loe itu hanya menipuku dan ternyata loe adalah salah satu dari pria yang barusan datang kemari." Ketusnya dengan tatapan mata tidak percaya.
Vino mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras dengan mata yhang sudah memerah. Pria itu tidak sedetikpun mengalihkan pandangan matanya dari Akia.
"Gue punya cara supaya kami bisa percaya kalau loe memang anak buah pria sekarat itu."
"Alex atau siapapun itu, yang jelas apa loe mau nerima tantangan dari gue." Ketusnya dengan bibir menyeringai.
Vino menatap curiga saat melihat seringaian aneh muncul dibibir Akia, namun bagaimana lagi Vino tidak mempunyai pilihan lain. Yang terpenting saat ini baginya adalah bertemu dengan Alex. Dia ingin melihat langsung kondisi bosnya, dan juga dia harus segera menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
"Katakan apa maumu nona." Jawabnya demgan nada malas, pria itu sungguh tidak ingin berlama lama berhadapan langsung dengan gadis didepannya.
Akia tersenyum sinis, lalu melirik kearah Dhafa. Nampak pria itu menggeleng perlahan, pasalnya Dhafa sangat hafal apa yang ada dipikiran Akia saat ini.
Mengabaikan larangan Dhafa, Akia tetap melanjutkan niatannya. Gadis itu membungkuk menarik sesuatu yang terselip dikaki kanannya. Dan ketika dia mengangkatnya, ternyata benda itu adalah sebuah pisau belati yang sangat runcing dan tajam.
__ADS_1
Akia melempar belati miliknya tepat dihadapan kaki Vino, membuat pria itu merasa bingung dengan hati yang diliputi perasaan yang tidak enak.
"Gue mau loe bunuh diri loe sendiri dengan pisau itu. Jika loe mati maka gue percaya kalau loe itu memang benar anak buah pria sekarat itu, tapi jika loe nggak mau melakukannya, maka dengan senang hati gue yang akan ngebunuh loe." Ucapnya dengan nada santai.
Vino membelalakkan matanya dengan sempurna, bagaimana bisa gadis didepannya ini memberikan pilihan yang sangat sulit untuknya.
"Apa anda sedang bercanda nona. Bagaimana mungkin saya melakukan tindakan konyol ini." Pekiknya dengan suara keras.
Akia menggendikkan kedua bahunya acuh, lalu menatap sinis Vino.
"Mungkin saja, dan itu bisa loe lakukan."
Vino benar benar merasa geram, saat ini dia sedang tidak ingin bermain permainan konyol, karena yang terpenting baginya adalah kondisi bosnya.
"Saya tidak perlu bermain permainan yang konyol ini nona, jika anda tetap menghalangi saya, maka jangan salahkan saya untuk tidak bertindak kasar." Geramnya dengan wajah penuh amarah.
Saat ini Vino tidak mempunyai banyak waktu, karena pihak musuh sudah mengetahui kabar tentang bosnya saat ini. Tanpa menghiraukan permintaan Akia, Vino hendak menerobos masuk.
Namun lagi, langkah pria itu kembali terhalang oleh sosok yang benar benar membuat kesabarannya habis.
"Kalau loe memang anak buah Alex, seharusnya loe tidak akan merasa takut dengan tantangan yang kami berikan. Kecuali kalo memang loe bukan anak buah Alex." Cetus Dhafa tajam.
Vino menghela nafasnya, diia begutu terlihat zangat frustasi. Lalu pria itu berbalik dan berjalan ketempatnya semula. Terlihat Vino membungkukkan badannya meraih belati yang tergeletak dilantai.
Vino memandang wajah Akia dan Dhafa dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Vino memejamkan kedua matanya lalu setelah itu membukanya kembali. Dengan penuh keyakinan Vino menggenggam erat belati tersebut.
Lalu dengan sangat pasti, Vino menghujamkan pisau belati itu tepat kearah perutnya. Pria itu tidak perduli lagi dengan bagaimana dirinya nanti. Yang ada dipikirannya saat ini, dia merasa bangga karena bisa menjadi salah satu anak buah kepercayaan Alex selama ini.
__ADS_1
Jaga diri anda baik baik bos, ternyata hanya sampai disini saya menemani anda. Selamat tinggal Bos.
TBC