
Assalamualaikum
Rindu suara azhan musim kedua sudah up ya..kali ini author akan menceritakan kisah perjalanan cinta Akila yang penuh dengan drama kehidupan yang pastinya akan mengobrak abrik perasaan pembaca..hehe 😄😄😄
Yuk langsung aja ya..jangan lupa tinggalkan jejak. Semoga suka ya 😘
💕 💕 💕
"Assalamualaikum..ibu."
Suara merdu milik seorang gadis berambut lurus panjang menjuntai terdengar halus disebuah rumah sederhana yang jauh dari kata mewah. Hanya sebuah rumah kecil dengan beberapa ruangan. Satu ruang tamu, 3 kamar dan dapur yang bercampur dengan meja makan dan kamar mandi kecil.
"Kakak sudah pulang."
Suara anak laki laki kecil menyahut dari arah dapur berbarengan dengan tubuhnya yang mungil muncul dengan wajah sumringah. Tidak lama kemudian disusul dengan seorang gadis remaja yang tidak kalah cantiknya dengan gadis tersebut.
"Kakak Kila kok sudah pulang ? Hari masih sangat siang." Amanda fitria, gadis remaja yang saat ini duduk dikelas 2 SMP itu menyambut kedatangan kakaknya dengan mengurai senyuman manis dibibirnya.
"Kakak bawa es krim buat Adit nggak ?" Kali ini suara kecil milik sang adik bungsu menimpali ucapan kakaknya.
Akila, mengusap kepala Manda (panggilan untuk adik perempuannya) dengan lembut penuh kasih. Lalu beralih pada sikecil Aditya Ginanjar, dengan senyuman indahnya menghiasi bibirnya.
"Nggak donk, kakak nggak pernah lupa dengan es krim kesukaan Adit." Ucapnya dengan berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan adik bungsunya itu, lalu tangannya meraih kantong plastik berisi es krim didalam tasnya.
Adit terlihat sangat girang, bocah kecil berusia 6 tahun itu begitu senang walau hanya mendapat oleh oleh sebungkus es krim kesukaannya.
"Makasih kak."
"Upahnya buat kakak apa donk ? Masa cuma ucapan makasih aja nih." Goda Akila pada sang adik.
"Kakak genit." Cicitnya namun tetap saja bocah itu mendekatkan bibirnya pada pipi sang kakak.
Cup
Akila terkikik geli melihat tingkah lucu adiknya yang langsung berlari sehabis menciumnya. Sementara Amanda menatap jengah pada sang kakak.
__ADS_1
"Kenapa dek, mau cium kakak juga ?" Godanya karena melihat sang adik yang serius sekali menatap dirinya.
Amanda memutar bola matanya jengah, gadis itu menadahkan tangannya pada sang kakak yang disambut tatapan bingung Akila.
"Es krim buat aku mana kak ? Masa adek doang yang dapet." Ujarnya seakan mengerti tatapan mata kakaknya.
Akila tertawa pelan lalu mencubit gemas pipi tembem Amanda.
"Kamu mau juga, tapi sayang udah habis. Kakak cuma beli satu aja."
"Isshh..kakak mah pilih kasih, masa cuma Adit aja yang dibeliin." Ucapnya dengan tangan yang bersidekap didada, namun wajahnya memasang mode cemberut.
Melihat adiknya merajuk membuat gadis itu mengulum senyum. Dengan gemas Akila mencium kening sang adik lalu menyodorkan sebungkus es krim cokelat kesukaannya.
"Mana mungkin kakak lupa sama adik adik kakak. Tentu saja kakak juga beliin Manda."
Seketika wajah gadis remaja itu berubah sumringah. Dengan cepat dia mengambil es krim cokelat kesukaannya lalu mencium pipi kakak tercintanya.
"Makasih kakak, Manda mau kedapur dulu. Oh iya ibu lagi dikebun katanya mau metik sayur." Ucapnya sambil berjalan kearah dapur.
Akila menghela nafas panjang dengan tatapan mata yang berubah sendu. Gadis itu tahu maksud ucapan adiknya. Ibunya pasti pergi kekebun sayur milik juragan Darto, orang terkaya dikampungnya. Apalagi jika bukan untuk bekerja sebagai buruh pemetik sayuran milik juragan Darto.
Pekerjaan orang orang dikampungnya kebanyakan adalah petani dan berkebun. Seperti halnya ibunya yang menggeluti pekerjaannya sebagai tukang buruh tani. Dan pekerjaan itu sudah lama digeluti oleh ibunya semenjak meninggalnya sang ayah 5 tahun yang lalu.
Terkadang ibunya juga berjualan kue keliling saat uang mereka tidak cukup untuk makan. Sungguh miris sekali kehidupan mereka, dan beruntung Akila adalah gadis yang sangat pintar sehingga dia mendapat beasiswa untuk anak berprestasi disekolahnya.
Itulah kehidupan keluarga Akila jauh sebelum dia bekerja diperusahaan K.Z.Group milik Tuan Aryan. Setelah dia bekerja disana, kehidupan mereka sedikit demi sedikit mulai berubah. Dia bisa mencukupi kebutuhan sehari hari dan juga membiayai sekolah kedua adiknya. Dan yang pasti ibunya sudah tidak lagi bekerja keras untuk menghidupi mereka berempat.
Namun sang ibu adalah tipe orangtua yang tidak ingin bergantung pada orang lain sekalipun itu adalah anaknya. Walaupun kehidupannya sudah mulai berubah lebih baik, tetap saja wanita paruh baya itu selalu melakukan pekerjaannya seperti biasa, menjadi buruh memetik sayuran di kebun milik Juragan Darto.
Juragan Darto sendiri selain orang kaya dikampung itu, beliau adalah sosok orang yang sangat dermawan. Sikapnya begitu ramah pada warga warga disana. Maka tidak heran jika beliau disegani di kampung Duren tersebut.
Akila tersadar dari lamunannya tersebut lalu dia segera beranjak dari duduknya menuju kekamarnya. Setelah mengganti baju kerjanya dengan pakaian santai, Akila keluar dari kamarnya lalu menuju dapur.
Hari sudah menjelang sore, dan pasti sebentar lagi ibunya akan segera pulang. Dengan cepat Akila membuat masakan untuk menu makan malam mereka. Hanya masakan sederhana, yaitu tumis kangkung, ikan goreng dan sambal ikan teri.
__ADS_1
Benar saja, selesai dia memasak tepat bersamaan dengan ibunya yang baru masuk kedalam rumah lewat pintu belakang. Sang ibu tentu saja terkejut mendapati sang putri sulungnya yang sudah ada dirumah, sementara hari masih menunjukkan pukul 3 sore.
"Assalamualaikum..Kila kamu sudah pulang nak." Sapa ibu Ningrum pada putrinya.
Akila menoleh lalu tersenyum, bergegas gadis itu meninggalkan pekerjaannya mencuci peralatan bekas memasaknya, lalu meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangannya yang terlihat sangat kasar. Maklum pekerjaan ibunya adalah sebagai buruh, jadi wajar jika tangannya kasar.
"Ibu capek ya, istirahat dulu bu, Kila sudah bikinin teh hangat buat ibu."
Alih alih menjawab pertanyaan ibunya, Akila malah menyuruh ibunya duduk dikursi kayu. Dengan lembut gadis itu memijit kaki Bu Ningrum yang sudah mulai keriput.
Bu Ningrum tersenyum haru dengan pandangan mata terarah pada wajah cantik putrinya. Wajah putri sulungnya itu begitu mirip dengan mendiang suaminya, Pak Deni. Dengan lembut tanganya membelai sayang kepala Akila.
"Apa ada masalah dikantor nak ?"
Akila tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Pekerjaanmu baik baik saja ?"
Kembali dia menjawab dengan anggukan kepalanya, namun kedua tangannya masih sibuk memijit kedua kaki ibunya.
"Lalu kenapa kamu sudah pulang nak ? Tidak seperti biasanya yang pulangnya sore bahkan kadang sampai malam." Tanyanya dengan nada lembut.
"Nggak apa apa bu, tadi ada meeting dengan klien penting dan itu tidak lama, makanya Tuan Dhafa menyuruh Kila pulang aja, soalnya sudah tidak ada pekerjaan lagi." Ucapnya menjelaskan pada ibunya dengan disertai senyuman.
"O begitu, ibu pikir kamu dipecat nak."
Deg
Hati gadis itu mendadak berdenyut sakit, wajahnya sekilas berubah sedih, namun dengan cepat dia mengendalikannya, jangan sampai ibunya menyadari raut wajahnya yang nampak sedih.
"N-nggak kok bu, memang pekerjaan Kila sudah selesai. Ayo bu segera mandi setelah itu kita makan bersama, Kila sudah masak makanan kesukaan ibu." Ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Bu Ningrum tersenyum lembut lalu menganggukkan kepalanya. Wanita paruh baya itu beringsut dari duduknya menuju kamar mandi setelah meminum teh hangatnya sedikit.
Akila menatap sendu punggung ibunya yang sudah menghilang dibalik kamar mandi, helaan nafas berat keluar dari hidungnya yang mancung. Tidak terasa airmata mengalir pelan dikedua pipinya. Namun dengan cepat gadis itu menghapusnya supaya tidak kepergok oleh yang lainnya.
__ADS_1
Ibu maafkan aku. Kila sudah berbohong sama ibu.
TBC