Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Membulatkan tekad


__ADS_3

Akia menatap pusara didepannya dengan hati yang terasa sesak. Airmatanya bergulir deras di pipinya yang putih. Tangannya mencengkeram kakinya yang tidak dapat merasakan apa apa.


"Ma, keputusanku sudah benar kan ma ? Aku tidak salah kan ma ? Hiks hiks . Ma Kia kesini ingin meminta ijin sekaligus pamit sama mama. Mungkin beberapa waktu kedepan Kia tidak akan berkunjung kesini, tidak menengok mama. Tapi mama jangan khawatir, walaupun Kia tidak ada disini, Kia akan senantiasa mendoakan mama. Semoga mama selalu bahagia disana."


Semilir angin tiba tiba menerpa pipi gadis itu, Akia terkejut, dia seakan merasa ada sosok yang mencium pipinya. Dengan pelan dia menyentuh pipinya yang terasa dingin.


"Terima masih ma, sudah merestuiku, Kia sayang mama. Selamanya dihati Kia hanya ada mama seorang."


"Nona..."


Akia menoleh lalu tersenyum tipis saat melihat kedatangan sosok dibelakangnya.


"Kau sudah datang ? Apa ada yang mengikutimu ?" Tanyanya pelan sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Anda jangan khawatir nona, tidak ada yang mengikuti saya. Tuan Dhafa sudah memberi ijin pada saya."


Akia kembali tersenyum, lalu menyentuh lengan gadis didepannya.


"Terima kasih Akila, kau sudah membantuku." Ucapnya tulus.


Akila, gadis itu berjongkok didepan Akia. Lalu tangannya menggenggam erat kedua tangan Akia.


"Nona jangan berkata seperti itu, seharusnya saya yang mengucapkan terima kasih padamu. Tanpa bantuan anda mungkin saat ini saya tidak akan ada di posisi seperti ini. Anda sudah seperti saudara buat saya, dan sudah kewajiban saya untuk membantu nona." Ucapnya tulus.


"Jika kau mengganggapku sebagai saudaramu, maka jangan bersikap formal padaku. Panggil aku seperti biasa." Pintanya.


Akila tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


"Kau bawa apa yang aku minta ?"


Akila mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang tidak terlalu besar lalu memberikannya pada Akia. Akia membuka amplop tersebut lalu memeriksa semua benda didalamnya. Tersenyum lebar pertanda puas dengan hasilnya.


"Kalau memang luar biasa Kila, aku tidak menyangka kau bisa melakukan ini, ternyata kecurigaanku padamu tidak salah. Kau memang mempunyai bakat itu."


Akila tersipu, hatinya tersentuh mendengar pujian bosnya itu.


"Jangan memujiku seperti itu kak, ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan pertolonganmu padaku. Aku bahkan bisa membuatkanmu lebih dari ini."


Akia tertawa lalu mengusap pelan kepala gadis itu.


"Aku lebih senang kau memanggilku seperti itu, mulai sekarang kau adalah adikku."

__ADS_1


Akila menatap wajah gadis didepannya dengan mata yang sudah berkaca kaca, lalu tanpa disangka dia memeluk erat Akia.


"Terima kasih, aku sudah lama bermimpi untuk memiliki seorang kakak. Dan kau mewujudkan mimpiku."


Akia tersenyum lembut, lalu membalas pelukan Akila.


"Sudahlah kau membuatku menangis."


Lalu mereka tertawa bersamaan, namun tawa Akila berhenti seketika dan wajahnya berubah menjadi sedih. Melihat itu tentu saja membuat Akia merasa heran.


"Kenapa ? Kau tiba tiba murung begitu." Tanyanya heran.


"Apa kau benar benar akan pergi ?"


Akia mengangguk lemah. "Aku sudah mengatakannya padamu kan Kila ? Dan aku harap kau menepati janjimu untuk tidak memberitahukan pada siapapun tentang hal ini. Terutama pada Dhafa, kau harus sebisa mungkin mencari alasan jika dia bertanya padamu. Dia sosok pria yang tidak gampang percaya jika dia sudah merasa curiga pada siapapun."


"Aku berjanji kak, akan aku jaga rahasia ini dari siapapun. Kapan kau akan berangkat ?"


"Malam ini juga aku berangkat. Tapi sebelum itu aku ingin menemui seseorang. Sekarang pergilah, aku tidak ingin Dhafa sampai curiga padamu. Akan sangat sulit bagiku untuk pergi jika sampai dia tahu rencanaku." Tukas Akia yang langsung diangguki kepala oleh Akila.


"Jaga dirimu baik baik kak, dan jangan lupa untuk selalu memberi kabar padaku. Kau bisa mengirimiku email jika kau takut memberi pesan padaku lewat telpon." Pinta Akila dengan suara serak akibat terlalu lama menangis.


"Pergilah Akila, aku titip sahabatku Dhafa padamu. Tolong hibur dia jika kau melihatnya bersedih setelah kepergianku. Walaupun dia terlihat dingin dan kejam, tapi sebenarnya hatinya baik, dia bahkan anak yang sangat cengeng. Tolong jangan biarkan dia sampai terpuruk. Bisakah kau berjanji padaku ?"


"Aku akan melakukan apapun yang kakak inginkan. Aku pergi kak." Janjinya tulus, lalu gadis itu segera meninggalkan tempat itu saat dirasa waktu makan siang tinggal sebentar lagi.


Akia menatap punggung Akila yang semakin menjauh, lalu menghela nafasnya pelan. Menatap lama pada berkas berkas yang saat ini berada ditangannya. Lagi lagi dia tersenyum puas saat melihat hasil dari kerja keras Akila. Gadis itu benar benar bisa diandalkan.


"Aku tidak menyangka jika pada akhirnya aku benar benar harus pergi." Ucapnya pelan sambil menatap empat lembar tiket pesawat dengan nama yang berbeda beda di tiap lembarnya.


"Nona....anda sudah siap ?" Suara seseorang membuyarkan lamunan gadis itu lalu menatap intens pada sosok yang berdiri didepannya.


"Pak Min ? Apa kau yakin dengan keputusanmu ? Masih ada waktu untuk membatalkan niatmu itu, kau pasti tahu kan apa akibatnya jika melanggar perintah dari papa ?" Tanya Akia pada sosok didepannya yang ternyata adalah Pak Min, sekurity rumahnya.


"Tidak ada yang lebih penting bagi saya kecuali kebahagiaan anda nona. Dan itu sudah menjadi tugasku untuk melaksanakan janji saya pada Nyonya untuk selalu menjaga dan melindungi anda. Tolong beri saya kesempatan untuk menunaikan janji saya nona. Itu sudah menjadi bakti saya pada Nyonya yang selama hidupnya selalu membantu saya disaat saya sedang kesusahan. Hati nyonya begitu baik dan mulia, Nyonya selalu menolong orang orang susah seperti kami nona." Ucapnya tulus.


Akia tersenyum bahagia melihat bakti tulus para bawahannya. Dia merasa sangat bangga bisa mempunyai seorang ibu seperti mamanya.


Ma lihatlah, bahkan disaat kau sudah tidak ada didunia ini mereka tetap mencintaimu. Kau selalu ada dihati mereka ma. Aku sangat bahagia karena terlahir dari rahimmu ma.


"Baiklah pak, ayo kita berangkat. Tapi kita harus menjemput seseorang dulu pak. Setelah dari sana kita langsung berangkat. Apa pak Min sudah memastikan jika tidak ada yang mengikuti kita ?"

__ADS_1


"Anda tenang saja nona, saya sudah berhasil mengecoh para bodyguard anda. Dan saya pastikan jika mereka saat ini sedang kebingungan." Ucapnya dengan wajah sumringah membayangkan bagaimana terkejutnya para bodyguard yang Tuan Aryan perintahkan untuk selalu menjaga dan mengawasi nona mudanya.


"Melihat wajah senangmu membuatku curiga padamu pak Min. Apa yang sudah kau lakukan pada para bodyguard itu pak ?"


Lalu pak Min menceritakan semua yang sudah dia lakukan pada bodyguard suruhan Tuan besarnya itu, tentu saja semuanya atas bantuan Mbok Inem dan juga para pelayan yang lain.


***


Dilain tempat...


"Hei kau yakin jika itu adalah nona kita ?" Tanya salah satu bodyguard itu pada temannya.


"Aku yakin, bukannya kamu juga disana saat nona keluar dari rumahnya ? Kenapa kau bertanya seolah olah kau tidak tahu apapun." Sungut temannya dengan wajah kesal.


"Iya sih, tapi aku kok jadi curiga pada nona ya. Lihatlah gerak geriknya dari tadi kok santai begitu, biasanya nona selalu memasang wajah kesal tiap melihat kearah kita. Tapi seharian ini nona bahkan tidak melihat kearah kita sekalipun."


"Iya ya, kau benar. Ayo kita lihat siapa tahu dugaanmu itu salah." Balasnya dengan wajah agak panik.


"Semoga saja dugaanku salah, bisa mati kita berdua ditangan Tuan Aryan jika sampai kita lalai dalam tugas kita."


Lalu keduanya segera menghampiri sosok yang mereka duga adalah sang nona muda dan juga Pak Min, tentunya dengan hati yang dag dig dug.


"Nona.." Sapanya dengan memberanikan diri menyentuh pundak sang nona.


"Hei apa yang kau lakukan ? Kau mau melecehkannya ya !! Kurang ajar kalian tidak akan aku ampuni." Teriak seorang pria yang berada disebelah wanita itu dengan wajah sangarnya.


Kedua bodyguard tersebut terkejut luar biasa, wajah mereka sangat pucat. Keduanya saling berpandangan dengan wajah yang sudah seperti mayat hidup.


"Sepertinya kita berdua akan mati dalam waktu dekat ini kawan." Ucapnya dengan tubuh yang gemetar ketakutan. "Bagaimana kita bisa bertindak ceroboh seperti ini ?"


"Semoga dewi keberuntungan masih berpihak pada kita kawan. Ayo kita harus menghadap Tuan Aryan. Bagaimanapun hasilnya kita hadapi saja, yang penting sekarang kita harus laporkan ini pada Tuan besar."


Dengan langkah gontai keduanya lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu sebelum para warga mengeroyok mereka berdua. Perasaan terkejut belum sepenuhnya hilang dari wajah mereka. Ya, mereka terkejut luar biasa saat melihat jika wanita yang dia duga adalah nona mereka ternyata orang lain dengan pakaian dan rambut yang hampir mirip dengan anak majikannya. Mereka saling menyalahkan diri mereka sendiri yang bisa begitu ceroboh dalam menjalankan tugas.


Sementara itu setelah kepergian kedua bodyguard tersebut, kedua orang itu saling melemparkan senyum penuh arti. Lalu sang pria meraih ponsel disaku celananya dan mengetik sebuah nomor di layar ponsel. Menempelkan ditelinganya setelah terdengar bunyi nada sambung.


"Halo, pak kami berdua sudah melakukan tugas yang kau berikan. Dan kami berhasil melakukannya."


Tanpa menunggu jawaban diseberang pria itu memutuskan panggilannya, lalu mengajak wanita tersebut untuk segera pergi dari sana. Dan ajaib, wanita itu ternyata bisa berjalan dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun.


TBC

__ADS_1


__ADS_2