Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Malu malu sayang


__ADS_3

Gadis itu menatap wajah tampan yang kini berada tepat didepannya dengan perasaan tidak menentu. Jujur dirinya saat ini merasa malu dan sedikit gugup. Ada perasaan canggung didalam hatinya, pasalnya secara tiba tiba dia kini sudah menjadi milik pria didepannya.


Azriel menatap wajah istrinya yang sedari tadi hanya menunduk malu dan tidak berani menatapnya. Pria itu tersenyum geli dengan tingkah imut istrinya, sungguh sangat jauh berbeda dengan sikap Akia yang dulu. Selalu angkuh, arogan dan bar bar.


"Apa yang kamu lihat dibawah sana sayang ? Suamimu ada di depanmu." Bisiknya lembut ditelinga Akia.


Akia bergeming namun masih enggan menatap wajah suaminya. Membuat Azriel sedikit merasa gemas melihatnya.


"Apa wajahku sangat jelek sampai kamu tidak ingin menatapnya? "


"Tidak kau sangat tampan." Ceplosnya tiba tiba, namun sedetik kemudian dia sadar dan kembali menunduk dengan wajah yang sudah memerah. " Emm..ma-maksud aku.."


Azriel terkekeh geli, menggoda istrinya ternyata membuat hatinya menjadi senang. Walaupun sangat kasar Akia tetap saja hanya seorang gadis polos pada umumnya. Dia pernah mengenal cinta tapi hanya satu kali, itupun harus kandas ditengah jalan karena kekasihnya yang mengkhianatinya. Bahkan saat Akia berpacaran dengan Brian, kekasihnya dulu, tidak sekalipun pria itu menyentuhnya, sekedar mencium pipinya pun Akia tidak memperbolehkannya.


Azriel menarik lembut lengan istrinya lalu mendekap erat pinggang kecil milik Akia. Akia tersentak dengan wajah yang sangat pucat, gadis itu berusaha melepaskan diri dari dekapan tangan kekar suaminya.


"Mas..tolong jangan begini. Aku malu." Ucapnya lirih dengan kepala yang terbenam di dada bidang Azriel.


"Kenapa harus malu ? Kita kan sudah sah sebagai pasangan suami istri. Jadi wajar saja jika aku memeluk istriku sendiri." Godanya lagi.


"I-iya..tapi semua orang melihat kearah kita." Gugupnya dengan jantung yang berdetak keras, bahkan Azriel sampai bisa merasakannya karena dada mereka yang bersentuhan.


"Kau takut ? Apa malu ?" Selorohnya lagi sembari menahan tawa.


"Mas..please." Wajah gadis itu mendongak, manatap iba pada suaminya. Sungguh saat ini dia benar benar merasa malu yang teramat sangat.


Karena kasihan akhirnya pria itu melepas dekapannya. Lalu mengecup singkap pucuk kepalanya yang berbalut hijab.


"Jangan menunduk lagi, atau aku akan menciummu disini."


Akia mengangguk keras supaya dia bisa bebas dari jerat pria itu.


Astaghfirullah, baru setengah hari menjadi istrinya dia sudah membuatku gila, apalagi sekarang aku mengabdikan seluruh hidupku padanya untuk selamanya. Bisa mati berdiri aku. Dan jantungku..rasanya seperti mau pecah. Jantung oh jantung please berhentilah berdetak kencang, aku tidak kuat lagi rasanya.


"Kamu kenapa ?" Tanya Azriel dengan bibir yang mesam mesem.


"Hah..ng-nggak apa apa."


"Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini." Bisiknya terdengar merdu ditelinga Akia.


"Mas sudah ih..berhenti menggodaku. Aku benar benar malu."


"Hahaha..kau lucu sekali sayang." Pria itu tidak kuat lagi menahan tawa, lalu kembali menarik lengan istrinya dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Mau dibawa kemana aku mas ?"


"Ayo, kamu belum melihat dua kekasihku bukan ? Kamu bahkan belum menyapanya loh."


"Ke..ka..sih." Terbata Akia mengucapkan satu kata itu. Hatinya tiba tiba bergemuruh, namun ditahannya perasaan itu dengan terus melangkah mengikuti arah tujuan suaminya.


Mereka terus melangkah lalu berhenti tepat didepan empat orang yang nampak bercengkerama.


"Assalamualaikum." Salam Azriel pada keempat orang itu.


"Waalaikumussalam wr.wb."


Abah Ahmad tersenyum sumringah melihat kedatangan putra dan menantunya itu. Begitu pula dengan ummi Hana yang langsung memeluk menantu kesayangannya. Akia yang melongo hanya bisa tertunduk malu saat Sadar siapa yang Azriel maksud dengan kekasih.


"Sayang, selamat ya atas pernikahan kalian. Ummi senang karena akhirnya kalian bersatu." Ucap wanita itu dengan rona wajah bahagia, lalu mengecup lembut kening menantunya dengan kasih.


Akia menatap haru wajah wanita yang kini sudah menjadi mertuanya. Wajah cantiknya terlihat sangat bercahaya dimata gadis itu. Seketika Akia menunduk malu saat mengingat bagaimana sikap buruknya dulu pada kedua mertuanya itu.


"Kenapa sayang ?" Tanya Ummi Hana lembut saat mendapati menantunya yang tiba tiba menjadi sedih.


"Akia minta maaf atas semua perilaku buruk yang pernah Akia lakukan selama ini Ummi. Rasanya kesalahan Kia begitu besar, mungkin juga pernah menyakiti hati Ummi dengan tingkah laku Akia selama ini." Lirih gadis itu berucap dengan mata yang sudah berkaca kaca.


Ummi Hana nampak mengurai senyuman indahnya melihat sikap menantunya yang memang sudah berubah. Wanita berhijab itu membawa tubuh menantunya kedalam pelukannya lalu mengusap punggungnya dengan lembut.


Semua yang disana hanya bisa terdiam dan ikut larut dalam momen bahagia itu. Tidak terkecuali Azriel yang tiada henti tersenyum dan memasang wajah bahagia.


"Abah kok bisa kenal dengan Kyai Lutfi ?" Tanya Akia hati hati saat keduanya sudah melepaskan pelukannya masing masing.


"Kyai Lutfi ini sahabat Abah saat masih sekolah dulu. Dan sampai sekarang kami masih berhubungan baik." Jawab Abah Ahmad dengan senyum simpulnya.


"Jadi selama ini abah ?" Ucapan Akia terpotong saat melihat anggukan kepala Azriel.


"Abah sudah tahu jika selama ini kamu ada di ponpes milik Kyai Lutfi, dan Abah menitipkanmu pada beliau agar selalu menjagamu disini." Jawab Azriel santai.


Akia terperangah dengan mulut yang menganga. Azriel yang melihat respon istrinya langsung menutup mulut Akia dengan telapak tangannya.


"Bibirnya dikondisikan sayang." Bisiknya lirih.


"Jadi mas juga sudah tahu ?" Tanya gadis itu dengan muka yang berubah cemberut.


"Mas juga baru tahu kemaren malam saat mau kesini. Pantas saja Abah terlihat santai melihat mas begitu panik saat kehilangan jejakmu sayang. Kamu itu pintar sekali bersembunyi ya." Godanya dengan pura pura memasang wajah marah.


"Maaf."

__ADS_1


Mereka tergelak bersamaan melihat bagaimana Akia yang terlihat takut dengan kemarahan Azriel, padahal pria itu hanya sedang menggodanya saja.


"Riel sudah jangan terus menggoda istrimu itu. Kau tidak kasian apa le ?." Tegur abah Ahmad pada putranya yang sedari tadi tiada henti menggoda menantunya.


Azriel menatap penuh cinta wajah istrinya yang berada disampingnya itu. Merangkul pundaknya dengan mesra.


"Maaf, mas hanya bercanda."


"Sudah Riel, bawa istrimu istirahat, kasian nampaknya dia sangat lelah." Perintah Abah Ahmad pada putranya yang langsung diangguki kepala oleh Azriel.


Hari sudah menjelang petang saat Azriel sampai disebuah hotel berbintang yang dia sewa untuk mereka menginap. Tadi setelah berpamitan dengan kedua orangtua mereka, Azriel langsung membawa istrinya pergi dari ponpes milik Kyai Lutfi karena memang istrinya yang sudah terlihat sangat lelah.


Akia meremas kedua tangannya yang terasa dingin, gadis itu terlihat sangat gugup saat suaminya membuka pintu kamar hotel mereka. Mematung dan terdiam tanpa mengikuti langkah suaminya yang sudah masuk kedalam kamar.


Azriel mengernyit saat menyadari jika sosok istrinya tidak ada disampingnya. Menoleh kebelakang, betapa dia ingin tertawa karena saat ini wajah istrinya yang terlihat sangat pucat dan hanya berdiri mematung didepan pintu tanpa sedikitpun niat untuk masuk kedalam.


Menyadari jika saat ini istrinya terlihat sangat gugup, Azriel akhirnya memutuskan untuk kembali berjalan kearah pintu. Tanpa aba aba, pria itu membawa tubuh istrinya masuk kedalam kamarnya.


"Aaaakkh.." Pekik Akia saat dia merasakan tubuhnya melayang, dengan refleks gadis itu melingkarkan kedua tangannya dileher kokoh Azriel yang saat ini sedang menatapnya.


Dengan pelan dan hati hati, Azriel meletakkan tubuh istrinya diatas ranjang. Lalu pria itu duduk didepan Akia dengan posisi berjongkok.


"Apa kamu malu ?" Tanyanya dengan senyuman indah di bibirnya yang tipis.


Perlahan Akia mengangguk dengan kepala tertunduk. Azriel lalu berdiri dan kini berganti posisi duduk disamping Akia.


"Jangan malu, sekarang kita adalah pasangan sah, dan aku berhak atas dirimu. Begitupun juga aku, kamu berhak atas semua yang ada padaku. Percayalah lambat laun kita akan terbiasa, akupun sebenarnya malu, tapi aku ingin membiasakan diriku dengan adanya kamu disisiku." Ucapnya lembut.


"Aku.."


"Aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap. Aku akan selalu menunggu sampai kau siap menjadi milikku seutuhnya."


"Bukan begitu, aku siap hanya.."


Azriel menaikturunkan alisnya menunggu lanjutan ucapan istrinya.


"Aku...hah..masih banyak pertanyaan yang tersimpan dihatiku mas, dan aku belum tenang jika kau belum memberi jawabannya untukku."


Sudut bibir Azriel terangkat mendengar ucapan istrinya. Pria itu lalu mengecup singkat pucuk kepala istrinya.


"Mandilah dulu, setelah itu kita berbicara, akan aku jawab semua pertanyaan yang mengganjal dihatimu sayang." Ucapnya lalu membiarkan istrinya massuk kedalam kamar mandi.


TBC

__ADS_1


Satu bab lagi insya Allah malam jika sempat ya, selamat beraktifitas para pembaca setiaku..semoga selalu diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah..Aamiin.


__ADS_2