Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Mencoba memahami


__ADS_3

Suasana didalam mobil nampak begitu kaku dan hening, membuat aura sedikit terasa seram. Azriel masih fokus dengan laju mobilnya, sementara Akia hanya membisu dengan mengalihkan pandangan matanya keluar jendela mobil. Sesekali pria itu melirik istrinya yang masih asik membisu.


Azriel mendesah pelan, sungguh hatinya merasa perih dengan sikap Akia yang dingin. Lebih baik istrinya itu memukulnya ataupun mengomel padanya, daripada mendiaminya seperti ini. Pria itu tidak tahan jika harus berdiam diaman seperti ini.


"Sayang, bicaralah jangan diam saja." Pinta Azriel dengan suara lembut.


Akia melirik sekilas dengan bibir yang masih membisu. Dapat dia dengar desahan lirih yang keluar dari bibir suaminya.


Azriel nampak pasrah, akhirnya dia membiarkan sementara istrinya yang sedang merajuk. Ini memang salahnya, seharusnya dia mengatakan pada Akia dari awal. Tapi bagaimana lagi, dia melakukan ini semua juga demi keselamatan istrinya itu.


Mobil Azriel melaju kencang menuju kerumahnya, membuat Akia mengrenyit heran. Gadis itu berpaling menatap wajah Azriel dari samping.


"Ini bukan arah jalan menuju mansion papa."


"Aku tahu, kita akan pulang kerumah kita sayang." Ucap Azriel dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.


Dia sangat merindukan istrinya, hampir sebulan lebih menahan rindu pada sang istri membuatnya hampir gila, padahal mereka berada didalam satu rumah. Azriel memang menahan keinginannya untuk menyentuh Akia, dia ingin rencana yang sudah disusun berjalan dengan sukses.


"Putar balik, aku ingin pulang kemansion papa." Ketus Akia.


"Sya.."


"Aku bilang putar balik, jika kau tidak mau Putat balik, aku akan lompat dari mobil."


Azriel memandang sendu kearah Akia, namun pria itu tidak menuruti keinginan istrinya. Tangannya bergerak memencet tombol kunci mobilnya membuat Akia menjadi geram.


"Kau." Desisnya menahan amarah.


"Marahlah, aku lebih suka melihat kau marah dan melampiaskan padaku, tapi aku tidak akan pernah mengijinkanmu untuk pergi dariku dan tinggal dimansion papa. Kita akan pulang tapi kerumah kita." Ucap Azriel tegas dan tidak dapat ditolak.

__ADS_1


Akia ingin rasanya mencekik leher suaminya itu, dia masih sangat kesal. Dia ingin pulang kemansion papanya untuk menjernihkan pikirannya yang masih tersulut emosi. Tapi sikap suaminya malah membuat emosinya semakin besar.


"Aku akan menjelaskannya nanti sampai dirumah. Kau tidak perlu menahan emosi sayang, kau bisa melampiaskannya padaku saat sudah dirumah nanti. " Ucap Azriel seakan tahu apa yang dipikirkan istrinya.


Akia pasrah dan hanya bisa mengikuti kemauan suaminya. Walau kesal masih menyelimuti hati dan pikirannya.


Beberapa menit kemudian mobil mereka sudah memasuki pekarangan rumah Azriel. Keduanya langsung turun dari mobil. Namun langkah kaki Akia terhenti saat dia mengingat bagaimama Azriel mengusirnya tempo hari.


Tahu apa yang saat ini dipikirkan istrinya, dengan cepat pria itu mengangkat tubuh Akia ala bridal style dan membawanya masuk dan langsung kekamar mereka. Sementara Akia hanya terdiam dengan mata yang enggan menatap wajah suaminya.


Bahkan saat mereka sampai dikamarpun, Akia masih enggan menatap wajah Azriel. Rasa kecewa dan kesal masih menyelimuti hatinya. Akia sebenarnya mengerti jika apa yang dilakukan suaminya adalah demi melindungi dirinya. Namun tetap saja gadis itu merasa kecewa akan sikap Azriel yang seakan akan tidak menghargainya sebagai seorang istri.


Padahal jika suaminya itu mau berbagi cerita padanya, dengan senang hati dia akan membantu dan pasti juga akan menuruti perintahnya jika suaminya mengatakan untuk dirumah saja dan tidak ikut dalam pertarungan antara dia dan Marco. Karena bagaimanapun kodratnya adalah sebagai wanita yang wajib menuruti perintah suaminya tanpa membantah apapun yang dikatakannya.


Azriel menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. Melihat sikap dingin istrinya tentu saja membuatnya merasa sedih. Dan pria itu sadar jika semua yang terjadi karena keegoisannya semata. Alih alih ingin melindungi istri dan keluarganya, dia mengabaikan perasaan istrinya yang mungkin akan kecewa jika suatu saat kebohongannya terbongkar. Dan apa yang dia takutkan menjadi kenyataan, Akia kini merasakan kekecewaan yang begitu besar terhadapnya.


Akia menatap punggung suaminya yang sudah menghilang dibalik pintu kamar milik mereka. Ada helaan nafas berat keluar dari hidungnya yang mancung. Dengan gontai gadis itu melangkah pelan menuju kamar mandi dan berendam dengan air hangat disana.


Sembari berendam, gadis itu mencerna kembali ingatan demi ingatan yang berkelebat dikepalanya. Satu persatu peristiwa yang beberapa hari ini terjadi didalam kehidupan mereka. Akia mulai sadar jika mungkin yang dilakukan suaminya adalah semata mata untuk melindunginya.


Mengingat itu membuat gadis itu mendesah pelan. Pikirannya berkecamuk, mungkin sikapnya sangat keterlaluan karena menuduh suaminya yang tidak tidak.


Apa aku terlihat egois karena hanya memikirkan perasaanku saja. Mungkin hatinya juga terlihat terluka, aku dapat melihat jelas sorot matanya yang mengandung kesedihan yang mendalam. Ah sudahlah, aku harus melupakan kejadian ini dan menerimanya dengan lapang, lagipula dia melakukan ini juga karena perduli padaku. Satu lagi aku sangat bahagia karena ternyata dia tidak melupakanku.


Akia tersenyum lega, sekali lagi dia mencoba berdamai dengan keadaan. Hanya itu yang bisa dia lakukan, dengan begitu hatinya merasa lega dan bebas dari beban berat yang selama ini menghantuinya.


Sementara itu didapur, Azriel sudah siap dengan semua peralatan dapur. Dia sudah siap untuk bertempur dengan semua bahan bahan yang sudah dia siapkan untuk membuat makanan kesukaan istrinya. Bukan makanan mewah dan mahal, hanya nasi goreng seafood. Itulah makanan favorit istrinya sedari dulu.


Saat dia sedang asik berkutat dengan kegiatannya, tiba tiba dia dikejutkan dengan adanya sepasang tangan mungil yang melingkar diperutnya. Sontak Azriel langsung menghentikan kegiatannya dan berbalik menghadap sosok gadis didepannya yang nampak tersenyum dengan sangat indah.

__ADS_1


"Kok berhenti ? Mas lagi bikinin aku nasi goreng kesukaanku bukan ?" Kedua mata gadis mengerjap dengan sangat lucu, terlihat begitu menggemaskan dimata Azriel.


Namun bukan itu yang membuat Azriel merasa kaget, sikap istrinya yang mendadak berubah sangat manis dan manja. Perlahan Azriel menyentuh dahi Akia dengan punggung tangannya. Tentu saja itu adalah tindakan bodoh yang pria itu lakukan. Lihatlah sekarang wajah istrinya terlihat cemberut dengan pipi yang menggembung.


"Tidak panas, apa yang terjadi padamu sayang ?"


"Mas, kau meledekku ya." Sungutnya dengan suara manja, namun kedua tangannya masih betah melingkar dipinggang kekar suaminya.


"T-tidak..cuma.."


"Cuma meledekku."


Azriel gemas sendiri, dengan lembut mengecup sudut bibir istrinya yang langsung membuat pipi gadis itu memerah karena malu.


"Aku suka dengan sikap kamu yang manis dan manja begini sayang." Bisiknya dengan hati yang bahagia. Walaupun dia terkejut namun dia senang, setidaknya sikap istrinya itu menunjukkan jika saat ini tidak ada lagi kemarahaan didalam hati Akia.


"Mana nasi gorengnya ? Aku lapar sekali mas." Lagi gadis itu berucap dengan sangat manja.


"Duduklah disini Ratuku, sebentar lagi makanan kesukaanmu akan segera tiba." Ucapnya sembari mendekatkan bibirnya ditelinga istrinya. "Setelah ini aku yang akan gantian memakanmu sayang. Sudah cukup satu bulan aku puasa, malam ini aku tidak akan melepaskanmu walau cuma sedetik."


Glek


Akia menelan salivanya kasar, mencoba mencerna ucapan suaminya yang terdengar frontal. Jika sudah berucap seperti itu, bisa dipastikan jika dia tidak akan bisa tidur dengan pulas, pastinya karena suaminya itu akan benar benar membuktikan ucapannya. Menghajarnya habis habisan hingga pagi menjelang. Jika sudah begini, gadis itu menyesali sikapnya yang manis pada suaminya tadi.


Sementara Azriel dengan hati yang berbunga bunga, segera menyelesaikan kegiatannya. Dan sepiring nasi goreng seafood ala Azriel berhasil sajikan pada istrinya yang langsung diterima dengan senang hati oleh Akia. Bahkan Azriel enggan memalingkan pandangan matanya pada Akia yang nampak sangat lahap memakan hasil kreasinya.


Aku sangat mencintaimu, istriku.


TBC

__ADS_1


__ADS_2