Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Baby Azzam Dan Azura


__ADS_3

Akia membuka kedua matanya untuk kedua kalinya, lagi dia tersenyum melihat pemandangan indah yang terpampang didepan matanya. Tadi setelah sadar wanita itu diminta untuk kembali istirahat oleh Azriel dan tanpa bantahan Akia menuruti perintah suaminya karena bagaimanapun dia memang masih sangat lemah.


Namun sebelum tidur Akia sempat mendengarkan cerita Azriel tentang bagaimana Pipit sahabatnya yang dengan ketulusan hatinya mendoakan keselamatannya. Dan tentu saja Akia meneteskan airmatanya haru tidak menyangka sahabatnya yang dia kenal selengekan ternyata mempunyai hati yang begitu tulus dan penuh kasih.


Dan sekarang saat dia membuka mata, Azriel nampak setia duduk disampingnya dengan bibir yang komat kamit membaca ayat ayat Allah. Senyuman tipis muncul dibibirnya kala menikmati suara merdu suaminya.


"Mas.." Panggilnya lirih.


Azriel menghentikan bacaannya lalu menoleh kearah istrinya, tersenyum sangat manis hingga membuat Akia terpesona.


"Ummi sudah bangun ? Badannya udah enakan ?"


Nyess


Hati Akia terasa sejuk seketika saat suaminya memanggilnya dengan panggilan Ummi. Entah kenapa padahal terlihat sederhana tapi sukses membuat hatinya begitu hangat.


"Kamu memanggilku.."


"Ummi ? Apa kamu tidak suka ?" Potongnya sambil menatap penuh memuja pada istrinya.


"Aku menyukainya mas, sangat menyukainya."


Azriel tersenyum lalu mencium kening istrinya dengan lembut.


"Mulai sekarang mas akan memanggilmu Ummi dan panggil suamimu ini demgan sebutan Abi. Tapi jika kita sedang berdua kamu masih harus tetap memanggilku mas, dan aku akan tetap memanggilmu ratu, apalagi jika kita sedang..." Ucapnya dengan nada menggoda.


"Mas aku baru saja melahirkan, tapi kamu sudah berpikiran kearah sana." Gerutu Akia yang tahu apa maksud ucapan suaminya.


Azriel terkekeh, sungguh dia begitu bahagia bisa kembali menggoda istrinya.


"Terima kasih sudah memberikan aku dua anak yang tampan dan cantik seperti umminya. Dan maafkan mas yang tidak ada disampingmu saat kamu dalam kesakitan ratu." Sesalnya dengan wajah yang muram.


Akia meraih tangan suaminya lalu mengecupnya lembut.


"Yang terpenting sekarang aku dan kedua anak kita selamat mas, dan Allah mengabulkan doa doamu selama ini. Sungguh aku tidak menyangka jika kita dianugerahi baby twins mas. Padahal diawal kehamilan kita tahu hanya ada satu anak didalam perutku."


"Kun Fayakun, Jadi maka jadilah, jika Allah sudah berkehendak maka tidak ada satupun makhluk dimuka bumi ini yang bisa menghindarinya. Bukankah sudah aku katakan jika kita hanya cukup yakin dengan kebesaran Allah sayang ?"


Akia mengangguk setuju, kemudian kembali latut dalam pelukan suaminya dan tidak ingin melepasnya.


"Ekhem, kalian ini bermesraan tidak tahu tempat, setidaknya hargai kami para orangtua yang masih ada disini." Celetukan suara Papa Aryan mengagetkan keduanya.


Pasangan couple A itu saling pandang lalu tersenyum geli karena mereka lupa jika disana ada kedua orangtua mereka, terutama Azriel.

__ADS_1


"Kamu ini selalu saja mengganggu mereka mas." Ucap Ustazhah Syifa pada suaminya yang disambut gelak tawa oleh semua orang disana.


"Bagaimana keadaanmu sayang ?" Tanya Ummi Hana pada menantunya.


"Alhamdulillah baik Ummi."


"Kamu sudah melihat kedua anakmu ?"


"Belum Ummi."


"Sabar ya, mereka berdua sedang diberi imunisasi oleh dokter dan pemeriksaan lanjutan."


Akia mengangguk sembari tersenyum, rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan kedua buah hatinya. Dan keinginannya segera terwujud saat pintu ruangan terbuka dan masuk dua suster yang membawa kereta bayi rumah sakit.


"Permisi, bapak ibu, adik bayinya sudah selesai diperiksa ya, dan bisa untuk segera mendapatkan ASI." Kata Suster dengan ramah.


Dengan senang hati Akia meminta pada suster untuk membawa kedua anaknya untuk dibawa kepadanya. Dan seketika airmatanya menetes saat melihat rupa kedua putra dan putrinya yang terlihat tampan dan cantik dengan tubuhnya yang gembul berisi.


"Ini abang dan ini adek Ummi." Sela Azriel sembari memberikan putra sulungnya pada istrinya, sementara sang putri dia berikan pada ummi Hana.


"Buah hati Ummi, selamat datang didunia sayang. Semoga engkau berdua menjadi anak yang sholeh dan sholehah, saling menyayangi dan saling terikat satu sama lainnya." Dia Akia disela sela tangisnya.


"Aamiin." Sahut semua yang ada dikamar tersebut.


"Kamu sudah menyiapkan mereka nama belum le ?" Tanya Kyai Ahmad pada putranya.


"Dan putri kami Azura Rena Ridwana, aku ingin dia selalu menjadi perempuan yang selalu ceria namun tetap memberikan ketenangan, ketentraman untuk keluarganya bagaikan langit biru, berwarna cerah tapi selalu membuat tenang hati kala menatapnya."


"Subhanallah, nama yang sangat bagus nak." Sahut papa Aryan.


"Baby Azzam dan Azura, apapun itu kami sangat menyayangimu nak." Ucap Akia sambil memandangi kedua anaknya yang satu dipangkuannya dan satu lagi digendong oleh Ummi Hana.


"Dimana Pipit mas ?" Tanya Akia heran pasalnya disana hanya ada kedua orangtua dan mertuanya.


"Tadi dia bilang ingin kekantin." Jawab Azriel singkat. " Tenanglah nanti dia pasti akan kesini, lagipula dia belum bertemu dengan kedua ponakannya kan ?" Sambung Azriel kala melihat raut wajah istrinya yang berubah suram.


***


Sementara itu dikantin...


Pipit sedang duduk disebuah bangku kayu yang ada dikantin rumah sakit tersebut. Didepannya sudah tersedia satu mangkok bakso yang masih terlihat asapnya. Muka gadis itu terlihat sangat berbinar, mencium aroma bakso sudah membuatnya tergiur.


"Subhanallah nikmatnya." Celetuknya setelah satu suap bakso sudah masuk kedalam mulutnya.

__ADS_1


Pipit begitu menikmati suapan demi suapan bakso hingga dia tidak menyadari adanya sosok yang sudah duduk disebelahnya. Pria itu tersenyum geli melihat bagaimana lahapnya Pipit yang sedang menikmati makanannya.


"Tidak kusangka gadis alim sepertimu ternyata doyan makan juga ya." Celetuk Dhafa dengan senyum jahilnya.


Pipit menghentikan suapannya kemudian menoleh kearah samping. Dapat dia lihat pria yang dia tahu kakak sahabatnya itu sedang duduk sembari menikmati segelas kopi hitam.


"Bicara denganku ?" Tanyanya sembari menunjuk pada dirinya sendiri.


Dhafa mendengus lalu menyeruput kopi miliknya. Sementara Pipit kembali menikmati bakso miliknya dengan sikap cueknya tanpa memperdulikan Dhafa yang menatap jengah padanya.


"Terima kasih."


"Hah.." Pipit kembali menoleh, menatap tidak percaya pada sosok pria disebelahnya. " Anda mengatakan sesuatu ?"


"Telingamu masih berfungsi dengan baik kan ?" Dengusnya kesal.


Dalam diam Pipit tersenyum namun gadis itu masih bertingkah acuh.


"Terima kasih sudah membantu adikku, dan menyelamatkan kedua keponakanku." Kata Dhafa dengan suara pelan. "Kamu tahu Akia adalah hidup dan nyawaku, entah akan bagaimana hidupku nanti jika sampai terjadi sesuatu padanya. Dan kamu sudah menyelamatkan mereka bertiga." Imbuhnya yang langsung membuat Pipit tertegun.


"Bukan aku yang menyelamatkan adik dan keponakanmu, tapi Allah yang sudah menyelamatkan mereka." Jawab Pipit tegas, dia tidak ingin orang beranggapan bahwa dialah penyelamat Akia.


Mendengar itu membuat sudut bibir Dhafa terangkat membentuk sebuah lengkungan lebar.


"Apapun itu aku mengucapkan terima kasih, berkat aksimu yang cepat bertindak akhirnya adikku bisa melahirkan dengan selamat." Ucapnya lagi lalu berdiri dari duduknya kemudian berjalan keluar kantin meninggalkan Pipit dan kopinya yang masih setengah. " Kamu boleh memanggilku dengan sebutan kakak, Dan maafkan sikapku selama ini yang selalu jutek padamu."


Pipit membisu dengan mulut ternganga, gadis itu sedikit merasa syok.


Benarkah dia Dhafa ? Rasanya aneh melihatnya ramah dan murah senyum. Tapi jujur dia sangat tampan saat tersenyum begitu. Astaghfirullah apa yang ada diotakku ini.


Pipit memukul mukul kepalanya berusaha menghilangkan bayangan wajah Dhafa yang tersenyum padanya. Namun kemudian gadis itu tersenyum sendiri mengingat bagaimana sikap Dhafa yang ramah padanya, padahal biasanya pria itu selalu bersikap dingin padanya tiap bertemu muka dengannya dirumah Akia.


"Begitu senangnya dirimu sampai sampai tersenyum sendirian seperti orang gila." Celetuk seseorang yang langsung membuyarkan lamunan gadis itu.


Pipit langsung memasang wajah jutek saat melihat sosok pria yang selalu membuatnya kesal dan naik darah. Siapa lagi jika bukan Rio si pria es kedua setelah Dhafa. Dengan santai gadis melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Rio yang sudah duduk didepannya.


"Dia sudah punya kekasih, jadi jangan sekali kali kali berusaha menjadi perusak hubungan orang." Cetus Rio dengan dingin.


Pipit kembali menghentikan suapannya lalu mengepalkan kedua tangannya. Seketika nafsu makannya hilang setelah mendengar perkataan Rio. Dengan menatap tajam Rio, gadis itu mengeluarkan kata kata yang tidak disangka oleh pria itu.


"Apa anda pikir saya manusia seperti itu ? Sungguh naif sekali pikiran anda tuan, asal anda tahu saya bukanlah anak kecil yang tidak tahu mana perbuatan benar dan mana perbuatan salah. Saya cukup tahu diri jadi anda tidak perlu khawatir, dan saya harap anda tidak perlu mengurusi kehidupan pribadi saya. Permisi." Sentak Pipit kemudian berlalu dari hadapan Rio yang saat ini memandang penuh arti pada gadis itu.


Rio masih memandang kepergian Pipit yang semakin menjauh, sudut bibirnya terangkat tipis membayangkan bagaimana gadis itu terlihat marah akan perkataannya.

__ADS_1


Aku tahu kamu bukan gadis seperti itu, hanya saja aku merasa takut jika kamu mempunyai rasa padanya. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku memiliki perasaan takut seperti ini.


TBC


__ADS_2