Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Gagal


__ADS_3

"Kenapa wajahmu terlihat kusut seperti itu Yo ? Bukankah harusnya kamu itu merasa bahagia, kamu sudah memiliki Pipit sebagai istrimu."Tanya Azriel dengan kening berkerut saat melihat wajah Rio yang sama sekali tidak terlihat ada semangat hidup.


Semua orang seketika mengalihkan pandangan mata mereka kearah sang pengantin baru pria, tidak ketinggalan Pipit. Gadis itu juga merasa heran, pria yang kini sudah berstatus sebagai suaminya itu nampak uring uringan dari pagi, padahal jelas jelas semalam dia melihat suaminya itu baik baik saja.


Mereka masih menunggu jawaban dari pria yang saat ini sedang menikmati sarapannya dengan lesu. Ya, pagi ini mereka berkumpul bersama di restoran yang ada di hotel tersebut sebelum nanti siang meninggalkan hotel menuju kerumah masing masing.


Pipit yang melihat sang suami masih belum sadar, akhirnya sedikit menyenggol lengan Rio sehingga membuat pria itu sontak menoleh kepadanya. Menatap heran pada sang istri yang sudah mengganggu acara makan paginya, sementara hatinya sedang menahan emosi. Untung saja yang mengganggu dikala moodnya lagi buruk buruknya adalah istri tercinta, coba kalau orang lain, sudah dapat dipastikan nyawanya akan melayang detik itu juga.


"Hmm.."


"Semua pada ngeliatin abang, dari tadi ditanyain sama Azriel tapi kamu nggak jawab jawab." Bisiknya lirih ditelinga Rio.


Seketika Rio mengalihkan pandangan matanya kedepan dan berkeliling, dan benar saja semua mata memandang kepadanya.


"Ada apa." Tanyanya datar.


Pletak


"Sakit dodol." Pekiknya pada pria yang sudah membuat hatinya kesal, siapa lagi kalau bukan si muka es, Dhafa.


"Loe yang ada apa, orang ditanya malah balik nanya." Gerutu Dhafa dengan tatapan tajamnya, namun sayangnya tidak bakal membuat Rio takut.


"Emang nanya apa ?" Tanyanya polos.


"Lama lama gue pites juga loe." Seru Dhafa lagi.


"Gue nanya loe kenapa Yo, muka kusut amat. Bukannya seneng karena udah nikah resmi tapi ini malah udah kayak kaset kusut gitu." Seru Azriel lagi mencoba mengalihkan dua orang yang sedang berantem tersebut.


"Masih nanya, noh tanya saja sama abang loe itu Riel."


"Gue ? Ada apa sama gue. Lagi loe juga adek ipar gue Nyet." Bantah Dhafa tidak terima dia disalahin oleh pria yang berstatus sebagai suami adiknya itu, walaupun kenyataannya memang seperti itu.


"Memang ada apa Yo." Kali ini Abah Ahmad yang mengeluarkan suara lembutnya.

__ADS_1


Rio menghela nafas dalam, kalau sudah menyangkut Abahnya dia harus berusaha sekuat mungkin menetralkan emosinya.


"Nggak ko abah, biasa cuma salah paham sedikit, hanya masalah sepele kok. Bukan sesuatu yang besar." Jawabnya dengan suara rendah, mana berani dia meninggikan suaranya.


"Bener Yo ?" Suara merdu kak Salwa turut menimpali ucapan Abahnya.


"Bener kak, suer deh."


"Suer..suer..udah kayak anak remaja aja Yo." Suami dari kak Salwa pun tidak mau kalah untuk memberikan suaranya demi menggoda sang adik ipar.


"Hahahaha."


Suara gelak tawa memenuhi ruangan VVIP tersebut, membuat Rio pun sejenak melupakan kekesalannya. Dia sadar tidak sepatutnya dia bersikap seperti itu didepan keluarga besarnya apalagi ini didepan makanan yang berarti adalah rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.


Acara sarapan berjalan dengan lancar dan penuh kehangatan. Dua keluarga saling berkumpul dan membentuk ikatan kekeluaragaan yang begitu kuat dan kokoh. Kini semua orang sudah bersiap siap untuk kembali kekamarnya masing masing untuk kembali menikmati istirahat karena siang nanti tepat pukul 12 setelah makan siang mereka akan meninggalkan hotel dan kembali kerumah masing masing.


Azriel masih penasaran dengan sikap Rio yang tidak seperti biasanya. Pria itu menyuruh saudaranya mengikuti dirinya menuju kafe kecil diseberang jalan depan hotel.


Rio menghela nafas lega, dia sudah tidak bisa memendamnya lagi. Dari dulu hanya pada sahabatnya inilah dia menceritakan keluh kesahnya entah itu rahasia ataupun bukan. Pastinya orang yang pertama harus tahu adalah Azriel.


"Jadi tu semalam..."


Flashback On


Rio yang merasa frustasi karena tertunda keinginannya untuk bermesraan dengan sang istri karena datangnya si Muka Es. akhirnya mengalah dan berjalan keluar kamar menyusul langkah Dhafa yang sudah tidak kelihatan lagi.


Setelah berkali kali menyampaikan oesan pada istrinya untuk menunggu dan tidak tidur duluan akhirnya Rio malam itu berjalan menuju lobby hotel yang ada dilantai dasar.


Sesampainya disana, ternyata bukan hanya Dhafa seorang. Tapi ada Tuan Aryan dan Azriel yang sedang bermain catur. Mertua dan menantu itu terlihat begitu akrab, saling bercanda dan tertawa hangat.


Rio yang merasa dibohongi tentu saja merasa kesal, bukannya pria itu bilang jika dia sendirian dan butuh teman. lah ini apa, lawong ada Tuan Aryan dan Azriel duduk disini. Saat dia hendak berbalik, tatapan jeli Azriel sudah keburu melihatnya dan langsung memanggilnya.


"Yo ! kok kamu disini ?" Tanyanya heran.

__ADS_1


"Iya Riel, tadi itu ada orang...."


"Tadi dia bilang suntuk didalam kamar terus Riel, dan berkirim pesan padaku untuk menemaninya bermain. Bukan begitu Yo." Tanyanya dengan tatapan tajam dia arahkan pada adik iparnya itu.


Rio yang tidak terima ingin membalas ucapan Dhafa, namun diurungkannya saat sadar jika manusia didepannya ini adalah manusia licik nomer satu didunia. Bukannya terlihat benar dia bahkan akan semakin terlihat bodoh dengan ucapan ucapan Dhafa yang diputar balik.


B**enar benar manusia lucknut. Geramnya dalam hati.


Dengan perasaan dongkol dia akhirnya duduk diantara mereka bertiga. Dan dengan terpaksa juga dia akhirnya ikut bermain catur walau dengan setengah hati.


Tidak berselang setengah jam, Tuan Aryan dan Azriel menyudahi permainan catur mereka dengan alasan mengantuk dan ingin istirahat. Melihat sahabat dan mertuanya sudah tidak ada disana, Rio pun akhirnya bergegas berdiri dan hendak menuju kamarnya kembali.


"Eh mau kemana loe."


"Tidur." Jawabnya singkat.


"Enak aja, ini permainannya belum selesai dodol." Ketus Dhafa yang memang sengaja mengerjai adik iparnya.


"Noh ada Pak Satpam, main sono sama dia, gue mau tidur." Juteknya dengan wajah bersungut dan berjalan menuju pintu lift.


Dhafa tergelak melihat wajah kesal Rio, rasanya puas sekali dia sudah mengerjai pria itu.


"Lihatlah wajahnya kusut sekali, pasti tadi dia sedang semangat semangatnya mau belah duren, hahahhah.."


Sementara Rio sudah kembali berada didepan kamar hotelnya. Dengan semangat empat lima yang kembali lagi. dia membuka pintu kamarnya dan segera menuju ranjang dimana istrinya pasti masih menunggunya.


Namun seketika badannya lemas kembali, saat melihat bagaimana Pipit yang tidur dengan sangat pulas dan damai. Rio mengacak rambutnya frustasi, mau menggangu tidur istrinya tapi dia tidak tega mengingat jika memang istrinya mengeluh capek dari tadi.


Dengan lesu dia akhirnya masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dan juga menenangkan sahabat baiknya disana. Berkali kali pria itu mengumpati Dhafa yang sudah mengganggunya disaat dia sedang ingin bermesraan dengan istrinya.


Awas saja akan kubalas kau nanti Muka es.


TBC

__ADS_1


__ADS_2