
Azriel menatap bangunan didepannya dengan kening berkerut. Matanya melirik kesamping dimana Rio yang saat ini sedang berdiri. Setelah satu minggu lamanya dia dirawat dirumah sakit, hari ini pria itu akhirnya diperbolehkan pulang kerumah.
Walaupun ada begitu banyak pertanyaan yang membuatnya bingung, Azriel tetap saja menuruti keinginan Rio yang memintanya pulang kerumah yang dia sendiri tidak tahu rumah siapa. Sungguh pria itu benar benar melupakan semua hal yang terjadi dimasa sebelum peristiwa kecelakaan yag menimpa Riva.
"Ini rumah siapa Yo." Tanyanya singkat.
"Rumahmu Riel." Tidak kalah singkat pria itu menjawab pertanyaan bos sekaligus sahabatnya itu.
Azriel mendengus mendengar jawaban singkat yang dilontarkan pria disampingnya itu. Tanpa kembali berucap sepatah katapun pria itu berjalan menuju kearah pintu dengan langkah yang agak tertatih.
Kakinya masih lumayan terasa sakit, sementara tangan kanan dan kepalanya masih diperban. Selain kaki dan kepalanya, tangan pria itu juga mengalami cidera. Walaupun tidak separah kepalanya, tapi cukup untuk membuat tangannya digendong.
"Yo, kenapa Marco tidak menjawab panggilanku ? Bahkan dia sama sekali tidak menjengukku saat dirumah sakit."
Rio lagi lagi mengacuhkan pertanyaan pria itu, membuat Azreil sedikit geram karena diabaikan oleh pria yang berstatus bawahannya sekaligus sahabatnya itu.
"Kau berani mengabaikanku Yo." Desisnya geram.
Rio menghentikan langkahnya lalu berpaling pada Azriel dengan tatapan penuh arti. Niat untuk melangkah masuk dia urungkan demi menjawab pertanyaan Azriel.
"Sampai kapanpun aku tidak pernah berani mengabaikanmu Riel. Hanya saja tidak ada gunanya kau mencari orang yang tidak penting bagimu. Bahkan orang yang kau cari itu adalah seorang pengkhianat, bukankah kau sendiri juga tau akan hal itu Riel."
Azriel termangu mendengarkan perkataan Rio. Pria itu kehabisan kata kata hanya untuk sekedar membalas ucapan Rio. Sejenak pria itu berdiri didepan pintu hingga tanpa sadar jika Rio sudah berlalu meninggalkannya masuk kedalam rumah.
Pria itu mendengus lalu menyusul langkah Rio masuk kedalam rumah. Baru saja sampai didepan pintu, lagi dia dibuat terkejut dengan adanya seorang gadis yang beberapa hari lalu berada dirumah sakit dan mengaku sebagai istrinya. Bahkan Rio pun nampak terlihat akrab dengan gadis itu.
Namun ada yang aneh didalam hatinya, melihat keakraban mereka justru membuat sisi lain dihatinya terasa terbakar. Ada kemarahan yang dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
"Hei ! Kenapa kau juga ada disini Nona ? Bukankah tidak bagus untuk seorang gadis tinggal satu rumah dengan seorang pria. Aku yakin jika kau bukan gadis nakal seperti gadis pada umumnya." Sarkasnya dengan suara yang sedikit keras.
Pletak.
Azriel meringis saat spatula kayu itu mendarat dikepalanya karena ulah gadis itu. Matanya melotot menatap tajam Akia yang saat ini sedang berdiri didepannya dengan spatula ditangannya.
"Kau berani memukulku ?" Dengusnya.
"Bukan hanya memukulmu, bahkan aku bisa mengganti otak dikepalamu itu biar bisa kembali normal. Enak saja bilang aku gadis nakal. Asal kau tahu tentu saja aku ada dirumah ini, secara ini rumah suamiku, jadi aku berhak tinggal disini." Ketusnya lalu berjalan pergi meninggalkan pria itu.
"Siapa suamimu."
"Tanya saja pada dinding yang bisa bicara. Atau tanya pada rumput yang bergoyang." Teriaknya dari arah dapur, gadis itu kembali pada mode galaknya seperti sebelum menikah dengan Azriel.
__ADS_1
Azriel speechless dengan ucapan Akia, membuatnya menggaruk kepalanya bingung. Sementara Rio nampak menahan senyum melihat bagaimana seorang Azriel yang tidak berdaya menghadapi istrinya sendiri walaupun dia tidak menyadarinya.
"Kau berani menertawakanku ? Bagaimana bisa seorang ketua mafia kejam sepertiku bisa kalah hanya dengan seorang wanita. Sungguh memalukan." Desisnya.
Rio melangkah menuju Azriel dengan masih menahan tawa. Menepuk pundak pria dengan berucap.
"Kau butuh jawaban bukan, berbaliklah maka kau akan menemukan jawabannya."
Azriel mengrenyitkan dahinya, bingung dengan maksud ucapan Rio. Namun tak urung dia menuruti ucapan Rio. Berbalik dan mencari sesuatu. Spontan matanya membelalak lebar saat melihat sebuah foto didinding yang begitu besar terpampang didepannya. Foto pernikahannya dengan gadis yang memukulnya dengan spatula tadi.
Jadi aku benar benar sudah menikah ? Dengan gadis galak itu ? Bahkan dia sudah berani memukulku.
Pria itu mendengus lalu berbalik dan melangkah menuju dimana Akia dan Rio nampak duduk dimeja makan. Lagi hatinya terasa terbakar saat melihat bagaimana gadis itu terlihat ceria saat bersama Rio.
"Kau berkata jika aku adalah suamimu, tapi kau sendiri terlihat begitu akrab dengan sahabatku." Dengusnya sembari duduk disebelah gadis itu.
Akia memutar bola matanya jengah. sementara Rio terlihat mesam mesem.
"Bukankah kau sendiri yang tidak mengakuiku sebagai istrimu. Jadi buat apa aku akrab denganmu.Lebih baik aku dekat saja dengan pria yang jelas jelas menyukaiku." Cebiknya lalu berdiri dari duduknya.
Belum sempat gadis itu berdiri dengan sempurna, tangannya sudah dicekal oleh Azriel lalu menghempaskannya untuk kembali duduk dibangkunya.
"Mau kemana ?"
"Tetap disini, aku lapar." Perintahnya tegas.
"Kau bisa ambil makananmu sendiri."
"Kau berani membantah suamimu."
"Sejak kapan kau merasa sebagai suamiku ? Bukankah kau sendiri bilang jika kau belum menikah."
Azriel mendengus menyadari jika ucapannya mungkin melukai hati gadis itu.
Eh tapi sejak kapan aku terlihat lembek dengan seorang wanita.Tapi jujur saat didekatnya aku merasakan ketenangan.
"Tetaplah disini, aku lapar. Aku tidak bisa mengambil sendiri makananku." Ucapnya dengan nada yang berubah menjadi lembut.
Akia akhirnya mengalah, bagaimanapun pria disampingnya ini adalah suaminya yang sangat dia cintai. Walaupun Azriel tidak mengingatnya, namun kewajibannya sebagai seorang istri tetaplah harus dia jalankan.
Sementara didepan mereka diam diam Rio mengabadikan moment tersebut dengan hati yang sedikit bahagia. Melihat sikap Azriel barusan, dia yakin jika dilubuk hati Azriel yang paling dalam, pria itu bisa merasakan jika Akia memang istrinya.
__ADS_1
Malam semakin beranjak naik, sepulangnya Rio Akia masuk kedalam kamarnya yang dimana Azriel sudah duduk diatas ranjang dengan menatapnya tanpa berkedip. Sebenarnya pria itu hendak membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, namun niat untuk meminta tolong pada gadis itu tertutupi dengan rasa gengsi yang begitu besar didalam dirinya.
Akia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terlihat segar dan harum. Bahkan aroma wangi tubuhnya menyeruak keluar memenuhi kamar tersebut membuat Azriel sedikit memejamkan mata menghirup aroma tersebut.
Aku merasa familiar dengan wangi ini. Begitu lembut dan memabukkan.
Pria itu membuka matanya dan melihat kearah Akia yang saat ini sedang menyisir rambut panjangnya. Lagi pria itu terpesona dengan kecantikan alami yang terpancar dari wajah Akia.
Dia begitu cantik dan mempesona. Benarkah jika dia adalah istriku ? Ini seperti mimpi, kenapa aku tidak bisa mengingatnya.
Azriel tersadar dari lamunannya, lalu pria itu membuka kancing kemejanya satu persatu. Namun dia agak kesusahan lantaran dia membukanya dengan satu tangan kirinya.
Akia yang melihat suaminya nampak kesusahan mendengus kasar. Dengan segera beranjak mendekati Azriel, menepis tangannya dengan sedikit kasar dengan bibir yang sudah mengerucut.
"Apa susahnya meminta tolong jika memang tidak bisa melakukannya sendiri." Ketus Akia dengan bibir yang masih mengerucut kedepan, membuat Azriel sedikit gemas melihatnya.
Lihatlah dia begitu menggemaskan, ingin rasanya aku mencium bibirnya yang seksi itu.
Entah keberanian darimana hingga membuat pria itu membuktikan ucapannya didalam hati. Dengan perlahan kepalanya menunduk mendekati wajah Akia dengan tangan kirinya yang meraih tengkuk gadis itu. Pria itu mendaratkan ciumannya pada bibir Akia yang sedari tadi menggoda imannya.
Akia membelalakkan matanya lebar saat pria itu menciumnya lembut. Dadanya bergemuruh hebat, jujur dia sangat merindukan sentuhan suaminya itu. Namun dia merasa jika saat ini bukan saatnya untuk bersenang senang. Mengingat jika saat ini tugasnya adalah untuk menuntun kembali Azriel yang saat ini tengah kehilangan memori ingatannya.
Akia sejenak membiarkan pria itu melakukan apa yang diinginkannya. Setelah dirasa cukup, gadis itu melepas paksa ciuman itu lalu kembali memasang wajah datar. Membuat pria itu sedikit kecewa. Entah kenapa lagi penolakan gadis itu membuat sudut hatinya terasa sakit.
"Aku akan membantumu untuk membersihkan diri." Ucap Akia berusaha menutupi kegugupannya.
Dia berdiri lalu menuntun tubuh suaminya yang hanya terdiam menuju kearah kamar mandi.
"Aku bisa mandi sendiri, kau bisa pergi." Ucapnya dengan nada dingin.
Akia mendengus, gadis itu tetap melakukan kewajibannya tanpa mengindahkan perintah suaminya.
"Jangan pura pura kuat, padahal sendirinya tidak kuat."
"Jangan pura pura kuat, padahal sendirinya tidak kuat."
Kalimat itu spontan terlintas diingatannya, dia seperti tidak asing dengan kalimat tersebut. Namun lagi pria itu hanya terdiam sembari membiarkan gadis itu membantunya membersihkan tubuhnya. Membiarkan gadis itu melepaskan seluruh pakaiannya hingga dia kini benar benar polos tanpa baju yang menempel ditubuhnya.
Azriel terus menatap gadis didepannya yang saat ini sedang melakukan tugasnya dengan lembut dan telaten. Bahkan dia tidak mendapati rasa canggung dalam diri gadis itu saat melakukan tugasnya. Ada sedikit terbersit rasa bersalah dalam dirinya saat mengingat bagaimana perlakuannya pada gadis itu waktu dirumah sakit.
"Maaf.."
__ADS_1
TBC