
Kaki jenjang berbalut gamis panjang itu melangkah pelan menuju meja resepsionis setelah beberapa menit yang lalu memantapkan hatinya untuk masuk kedalam bangunan tinggi dan kokoh didepannya.
K.Z Group, perusahaan terbesar milik keluarga Khanza yang sebelumnya dipegang oleh pemiliknya yaitu Tuan Aryan, namun kini perusahaan itu sudah beralih pada sang asisten sekaligus putra angkat beliau, Dhafa Resmana Khanza.
Sementara Tuan Aryan sendiri saat ini sehari harinya hanya berada dimansion menghabiskan seluruh waktunya bersama istri dan putra tercintanya. Hanya sesekali pria itu datang kekantor itupun jika ada sesuatu yang tidak bisa diwakilkan oleh siapapun.
Terkadang pria paruh baya itu menemani sang istri jika Ustazhah Syifa ada acara dakwah diluar kota, dan tentunya dengan sang suami dan anak tercinta yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi.
Baby Arsyif yang kini sudah menginjak usia hampir satu tahun itu terlihat sangat menggemaskan dengan tubuhnya yang gembul tapi berisi. Balita kecil itu sudah bisa berjalan walau belum terlalu lancar. Tingkah lucunya membuat semua orang merasa gemas dan merindukannya.
Seperti dua hari yang lalu, Tuan Aryan dan Ustazhah Syifa baru saja pulang dari luar negeri tepatnya dari Korea, menyambangi putranya Arfan yang menempuh pendidikan disana. Pria muda itu terus merengek pada orangtuanya untuk datang ke Korea karena rasa rindunya pada adik kecilnya yang begitu menggemaskan. Ustazhah Syifa yang memang sangat menyayangi Arfan, dia mengabulkan permintaan putranya itu.
Kembali ke Pipit, gadis itu sudah sampai didepan meja resepsionis. Namun mendadak tubuhnya gemetar dan keringat dingin merembes disela sela dahinya.
"Assalamualaikum, selamat pagi." Sapanya pada wanita cantik yang dilihatnya sedang sibuk dengan laptopnya.
Mendengar ada suara menyapanya, wanita cantik yang diketahui bername tag Naura itu mengembangkan senyum ramahnya dan berdiri untuk menyambut tamu didepannya.
"Selamat pagi nona, selamat datang dikantor kami, ada yang bisa saya bantu." Jawabnya dengan begitu formal namun dengan senyuman ramahnya, mata wanita itu menatap dalam kearah Pipit. dia tahu siapa sosok didepannya ini, karena beberapa hari sebelumnya Dhafa, sang presdir sudah membuat pengumuman pada seluruh karyawannya.
"Kalian perhatikan baik baik foto ini, jika sewaktu waktu gadis ini datang kemari, tolong perlakukan dia dengan sopan dan layak, dia adalah adikku." Ucap Dhafa yang diangguki oleh seluruh karyawannya.
"Maaf, apa Tuan Dhafa ada ?" Tanyanya dengan hati hati dan rasa takut akan diusir seperti cerita di novel novel online yang dia baca. (Pipit terlalu mendramatisir keadaaan antara dunia novel dan dunia nyata 🤣).
"Tuan Dhafa sedang ada diruangan meeting Nona, anda bisa menunggunya diruangan beliau. Mari saya antar." Jawab Resepsionis.
Eh aku nggak diusir ? Bathinnya melongo.
"Nona.." Naura mengibas ngibaskan telapak tangannya didepan wajah Pipit saat dia melihat gadis didepannya itu malah terbengong.
Dia melamun ? Adik Tuan Dhafa memang sangat lucu, tapi anggun. Bathinnya dengan bibir tersenyum simpul, (Dia belum tahu sifat asli Pipit yang bar bar..haha)
"Eh..i-iya."
"Mari saya antar keruangan beliau." Kembali mempersilahkan Pipit dengan mengulurkan tangan kanannya.
"Eh, tidak usah mbak, saya nunggu disini saja kalau memang dia masih meeting."
"Tapi nona.." Wajah gadis itu berubah pucat, dia takut sesuatu terjadi jika gadis itu menolak ajakannya, yang pasti apa yang ditakutkan adalah berhubungan dengan pekerjaannya saat ini.
Melihat perubahan wajah Naura yang sepertinya terlihat takut, Pipit melangkah mendekati wanita itu dan mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Jangan khawatir mbak, nanti aku akan bicara padanya. Sungguh aku ingin disini, pasti diruangannya akan sangat membosankan."
"Anda yakin nona ?"
"Hmm.."
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan anda, kalau anda butuh apa apa, anda bisa menghubungiku nona." Tawarnya dengan senyuman manis.
"Oke, ehm bolehkah aku meminta sesuatu padamu ?"
"Silahkan Nona."
"Itu..tolong jangan begitu formal padaku, kamu bisa memanggilku dengan sebutan nama saja, aku Pipit." Ucapnya kemudian mengulurkan tangan kanannya.
Dia gadis yang baik.
Naura tersenyum lalu menyambut uluran tangan Pipit.
"Saya..eh aku Naura."
"Oke Naura mulai sekarang kita berteman ya."
Setelah berbasa basi Naura berpamitan karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan. Sementara Pipit sendiri duduk diruang tunggu yang ada didepan meja resepsionis sembari memainkan ponselnya, apalagi jika bukan membaca novel online milik Author kesayangannya.
"Apa jadwalku masih penuh Ram ?"
"Tidak adaTuan, tapi Tuan Azriel meminta anda untuk bertemu nanti malam direstoran milik Nona muda." Jawab Rama.
Dhafa seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wajah Rama dengan intens.
"Ada apa dia ingin bertemu denganku ? Kenapa nggak langsung kirim pesan padaku saja."
"Saya kurang tahu Tuan, tadi asisten Rio mengatakan pada saya seperti itu."
Rio
"Anak itu." Desisnya pelan. " Ya sudah katakan aku akan kesana." Imbuhnya lalu kembali berbalik hendak melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
"Tuan.." Panggilnya lagi dengan nada agak tinggi.
"Ada apa lagi ?" Berhenti lagi dengan mata yang menatap sang asisten dengan pandangan khasnya dingin menusuk. "Apa dia juga memintaku untuk membawakan hadiah ?"
__ADS_1
"Ti-tidak Tuan."
Percayalah saat ini kedua kaki Rama seakan tidak mempunyai tulang, lihat saja pandangan mata Dhafa terlihat menyeramkan.
"Lalu ? Kau akan menerima hukumanmu jika info yang kau bawa tidak menguntungkan bagiku karena sudah menyita waktu berhargaku. Kau mengerti."
Rama mengangguk dengan keras dan berulang ulang.
"Katakan."
"Itu...dibawah ada." Seru Rama dengan gugup.
"Siapa !"
"Dibawah ada nona Pipit Tuan."
Dhafa membelalakkan kedua matanya dengan sorotan matanya yang semakin dingin menusuk.
"Kenapa tidak bilang dari tadi hah." Pekiknya dengan rahang yang mengeras pertanda saat ini dia sedang menahan amarahnya.
"Saya..." Ucapnya terpotong kala sang bos sudah tidak ada dihadapannya lagi, hanya terlihat punggungnya yang tengah berlari seakan tengah dikejar kejar setan.
"Hah...bagaimana aku mau bilang, dari tadi akupun tidak diberi kesempatan untuk berbicara." Jawabnya lesu kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruangannya yang ada didepan ruangan bosnya.
Sementara itu Dhafa saat ini sudah berada dilantai dasar dengan nafas yang tersengal sengal. Dadanya bergemuruh dengan detakan jantungnya yang terasa begitu kencang. Dia gugup dan sedikit canggung, seakan hendak bertemu dengan presiden saja.
Dari jauh dia melihat sosok gadis yang saat ini dia rindukan itu sedang memainkan ponselnya. Dengan langkah pelan dan hati yang mendadak gugup, Dhafa menghampiri adiknya dengan kantong mata yang sudah memburam karena genangan airmata yang sudah menumpuk.
"Acha.." Panggilnya lirih dengan hati yang bahagia, adiknya sudah mau menginjakkan kakinya dikantornya dan itu perubahan yang sudah begitu besar.
Mendengar namanya dipanggil, sontak Pipit menengadah keatas menatap wajah pria yang saat ini sudah berdiri didepannya dengan pelupuk mata yang berkaca kaca, bahkan airmata itu siap untuk jatuh jika dia mengedipkan mata.
Pipit berdiri dengan sikap canggung dan gugup, jujur saja ini pertama kalinya dia bertemu lagi dengan pria itu setelah pertemuannya satu minggu yang lalu dirumah Akia.
"Kamu datang juga sayang." Tanyanya dengan nada suara yang sangat lembut, yang langsung membuat para karyawan yang mendengarnya merasa syok seketika, pasalnya mereka tidak pernah mendengar bosnya itu berkata dengan nada lembut.
"Itu..aku.."
Ucapan Pipit langsung berhenti saat pria itu langsung memeluknya dengan sangat erat, menyalurkan seluruh perasaan dihatinya selama ini. Kerinduan dan rasa bersalah yang begitu besar pada sosok gadis yang ada didalam pelukannya ini.
"Aku..."
__ADS_1
"Diamlah, biarkan abang memelukmu sebentar saja, abang sangat merindukanmu adikku."
TBC