Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Tiga pria gesrek


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian...


Suasana Ballroom hotel milik K.Z Group terlihat sangat penuh dengan tamu undangan yang datang pada acara pernikahan salah satu keluarga dari pengusaha ternama tersebut. Dekorasi yang dirangkai pun terlihat sangat wah dan elegan.


Tentu saja sangat wah, secara ini adalah acara sakral yang diadakan oleh keluarga sultan, jadi mereka tidak pernah tanggung tanggung dalam mengeluarkan dana demi lancarnya acara tersebut. Bagi mereka kenyamanan tamu adalah yang paling utama dari apapun juga.


Di tengah tengah ruangan nampak disusun sebuah meja lengkap dengan enam kursi, dua kursi saling berhadapan dan 2 kursi diujung meja yang juga saling berhadapan. Ditempat inilah nanti akan dilaksanakan acara sakral nanti oleh salah satu pengantin laki laki.


Jika ada yang bertanya, pernikahan siapakah ini, hingga dilaksanakan dengan begitu mewahnya. Bahkan souvenir cantiknya pun berupa jam tangan yang disekelilingnya berlapiskan emas 24 karat, dengan kisaran harga satu jamnya adalah 3,5 juta rupiah. Harga yang begitu fantastik hanya untuk sebuah jam tangan.


Begitulah pertanyaan yang ada ditiap benak para tamu, pasalnya nama sang pengantin tidak tercantum dikartu undangan. Dan mereka hanya menebak jika ini pasti pernikahan putra sulung Tuan Aryan, yaitu Dhafa Resmana Khanza.


Pertanyaan itu akan segera terjawab dengan datangnya sosok pengantin pria yang berjalan menuju meja tempat ijab qabul dilaksanakan, dengan diapit oleh Kyai Ahmad dan juga Ummi Hana. Dan wajah terkejut nampak menghiasi para tamu, pasalnya praduga mereka ternyata semuanya salah. Karena pengantin yang sedang berjalan itu bukanlah Dhafa, melainkan Rio.


Sementara yang tengah dibicarakan, yaitu Dhafa hanya bisa mengulum senyum tipis saat mendengar para tamu yang berkasak kusuk. Pria itu hanya memasang wajah santai dan datar khas miliknya.


Lain Dhafa lain Rio, pria itu hanya memandang kesal kearah pria yang sebentar lagi resmi menjadi kakak iparnya itu. Disampingnya nampak Azriel, terlihat menahan senyum melihat wajah kesal sahabat sekaligus adik angkatnya itu.


"Udah jangan kesal begitu Yo, pengantin itu harusnya bahagia. La ini kamu bukannya seneng malah kayak benang kusut gitu." Goda Azriel yang duduk disampingnya dengan senyuman jahilnya.


"Semua ini gara gara kakak ipar kamu itu Riel. Coba kalau dia mencantumkan nama pengantinnya, pasti tidak ada tamu yang kasak kusuk udah kayak ibu ibu kompleks yang lagi ngegosip." Omel Rio yang kali ini malah dia yang terdengar seperti ibu ibu komplek tukang gosip.


Azriel tertawa namun tidak sampai membuat para tamu memandangnya, dia merasa geli dengan tingkah Rio yang mendadak berubah cerewet.


"Dia juga akan jadi abang ipar kamu kalau kamu lupa yo."


"Dan sialnya memang seperti itu, coba kalau dia bukan abang istriku pasti.."


"Pasti apa." Celetuk Dhafa yang tiba tiba sudah nongol dibelakang Rio dan Azriel.


"Astaga, dia udah kayak setan aja tiba tiba nongol."


"Dasar adik ipar durhaka kamu, lihat saja nggak bakalan aku restui nikah sama Achaku baru tahu rasa." Ancamnya dengan wajah datar.


"Eh jangan donk, masa iya ga jadi nikah. Udah nggak nahan nih." Ceplosnya tanpa sadar karena panik melanda.


Azriel dan Dhafa saling berpandangan hingga akhirnya keduanya saling tertawa lepas bersamaan. Dan tentu saja momen langka ini tidak akan disia siakan oleh para tamu. Sangat jarang sekali melihat ketiga pria yang terkenal dengan sifat dingin dan kejam itu, kini menampilkan wajah sumringah dengan tawa yang terdengar sangat lepas.


"Jadi loe belum belah duren nih ceritanya." Bisik Dhafa ditelinga Rio.


"Belumlah, kan nungguin loe b**o." ketus Rio.


"Loe itu yang bego, ngapain belum belah duren, kan kalian sudah sah menikah kali." Ketus Dhafa tidak mau kalah.


"Ya kan gue mau nikahin dia lagi sama wali kandungnya, selama itu belum dilaksanain gue udah berjanji tidak akan menyentuh dia." Curhat Rio dengan tampang melas.


Dhafa kembali terlekeh, hingga keluar airmata, begitupun dengan Azriel. Walaupun dihatinya jujur dia merasa terharu dengan kesabaran Rio yang rela menunggu adiknya.


"Kok loe bisa kuat sih, kalau gue mana kuat man." Ucap Dhafa disela sela tawanya.


"Kita pisah kamar sih."

__ADS_1


"Apa !" Teriak dua pria itu bersamaan.


"Jangan kencang kencang dodol." Rio menatap sekeliling dengan wajah panik, takut obrolan mereka terdengar oleh para tamu undangan.


"Katakan kenapa loe berdua pisah kamar." Tanya Dhafa penasaran.


"Nggak usah gue bilang, loe pasti udah tahu, apalagi loe Riel." Jawabnya sembari melirik Azriel yang sudah mesam mesem.


"Maksudnya ?" Tanya Dhafa polos.


"Dia takut nggak kuat Fa, maklum disodorin ikan asin tiap hari tanpa bisa memakannya pasti bikin dia kelabakan, Ya nggak yo." Rio mengangguk lemah karena memang itu kenyataannya.


Dhafa yang tadinya lemot, kini mulai konek, dan seketika dia kembali tertawa hingga menampilkan giginya yang berjejer rapi.


Kedatangan penghulu membuat ketiganya menghentikan obrolan receh mereka. Dan sama sama saling duduk diposisi masing masing.


"Bisa kita mulai acaranya ?" Tanya pak penghulu.


"Bisa pak." Jawab Rio tegas.


"Cepet pak, pengantinnya sudah tidak sabar mau malam pertama." Cerocos Dhafa membuat para tamu yang mendengarnya tergelak. Entahlah pria itu semenjak mendengar cerita Rio barusan, dia semakin tertarik untuk menjahili pria yang sebentar lagi menjadi keluarganya itu.


Dhafa menggenggam erat tangan Rio yang terasa dingin berkeringat, membuat Dhafa mengrenyitkan dahinya.


Eh dia bisa gugup juga. Cemen gitu aja kok gugup. Ejeknya dalam hati.


Segera ijab qabul dilaksanakan dan dijawab Rio dengan tegas dan satu kali tatikan nafas.


"Bagaimana para saksi ?"


"Sah."


"Sah."


"Silahkan pengantin wanitanya untuk segera menemui suaminya." Ucap Pak penghulu.


Dikamar...


Dua wanita cantik sedang duduk bersama menemani sang mempelai wanita yang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin lengkap dengan hijab yang bertengger dikepalanya. Wajah cerah terlihat jelas disana, menunjukkan jika saat ini dia benar benar sangat bahagia.


"Duh yang bentar lagi jadi istri, senangnya sampai sinar matahati pun kalah sama senyuman kamu yang terang benderang itu Pit." Celetuk Akia dengan tersenyum jahil.


Pipit meroling matanya malas mendengar gombalan sahabatnya.


"Sejak kapan kamu berubah jadi wanita yang suka ngegombal gitu Kia."


"Sejak kapan ya ? Kayaknya sejak sahabat aku ini yang bentar lagi melepas masa lajangnya sih." Kikiknya geli.


"Kalian ini, apa memang selalu seperti ini kalau bertemu ?" Tanya Aqila sambil menatap keduanya.


"Jangan kaget ya Qila, kami ini ibaratnya sepasang cewek bar bar yang klop." Ucap Akia dengan tergelak.

__ADS_1


Tok


Tok


"Ya, masuk." Seru Akia pada seseorang yang mengetuk pintu kamar hias.


"Maaf Nona, tapi mempelai wanitanya disuruh untuk keruang utama." Jawab sang pembawa berita.


"Oke, makasih ya." Jawab Akia dengan melemparkan senyuman manis.


"Ayo, sepertinya Ijab Qabulnya sudah selesai. Selamat ya sahabatku ini akhirnya resmi menyandang Nyonya Rio, dan sebentar lagi Aqila juga menyandang Nyonya Dhafa." Godanya lagi sembari menatap keduanya.


"Thanks." Jawab Pipit dengan mata yang sudah berkaca kaca dan wajah penuh haru, sementara Aqila hanya tersenyum dengan pipi yang sudah merona.


Ketiganya lalu melangkah menuju altar pelaminan. Akia dan Aqila memang bertugas sebagai Bridesmaid untuk Pipit sesuai permintaan sang pengantin.


Dan kini keduanya memakai baju kebaya couple yang terbuat dari brukat rancangan pria melambai Sis Merry.


Pintu masuk Balroom terbuka dan menampilkan tiga bidadari yang langsung menghipnotis para tamu undangan. Tidak terkecuali tiga pria tampan yang nampak terpesona oleh cantiknya pasangan mereka masing masing.


Azriel berjalan melangkah disusul oleh dua pria lainnya, mengulurkan tangan kanannya pada sang istri yang langsung disambut oleh Akia dengan senyuman indahnya.


"Kamu selalu membuatku jatuh cinta Ratu, bidadari syurgaku, kekasih hatiku. Kamu sangat sangat cantik sekali. Tidak ada yang tahu jika istri cantikku ini sudah mempunyai dua baby."


Akia merona, suaminya ini selalu membuatnya terbang melayang.


"Abi, dimana Baby twins kita ?"


"Disana." Tunjuknya pada dua balita mereka yang sedang bersama dengan kakaknya Azriel, kak Salwa dan juga anak kembar mereka, Arza dan Arzu.


Sementara Rio pun tidak kalah terpesona oleh kecantikan istrinya. Tangannya meraih jemari istrinya dan membawanya kebibirnya. Mengecupnya singkat lalu menggandengnya dengan sangat posesif menuju altar pelaminan.


Daaan Dhafa pun simuka es tidak mau kalah, dengan senyuman menawannya dia melangkah mendekati calon istrinya dengan tatapan penuh damba.


"Rasanya aku sudah tidak sabar lagi untuk segera membuatmu halal untukku sayang." Bisiknya ditelinga Aqila.


"Satu bulan lagi, bersabarlah." Jawab Aqila sembari memandang wajah tampan didepannya yang sudah membuatnya berkali kali merasakan jatuh cinta.


"Ya, satu bulan lagi. Setelah itu aku tidak akan pernah melepaskanmu satu detikpun dari sisiku sayang. Jadi kamupun harus bersiap siap dari sekarang." Ucao Dhafa dengan tampang mesumnya.


"Dasar mesum."


"Pria mesum ini calon suamimu kalau kamu lupa Nyonya."


Aqila tersenyum lalu bergelayut manja dilengan kekar Dhafa, membuat pria itu merasa bahagia. Dia merasa dirinya sudah sepenuhnya milik gadis disebelahnya ini.


"Dan sayangnya aku tidak lupa Tuan Dhafa yang terhormat." Jawab Aqila dengan berbisik pula ditelinga Dhafa.


"Oh ayolah jika kamu seperti ini aku akan membawamu sekarang kedepan penghulu." Gerutu Dhafa dengan wajah frustasi.


Aqila terkekeh lalu mengajak tunangannya untuk menuju kearah Baby Twins yang sedang bercanda dengan kakak kembarnya yang lain.

__ADS_1


TBC


Yang Kangen sama Couple A besok ya insya Allah, author bikin part-nya. Selamat beristirahat.jangan lupa tinggalkan jejak oke..🤗😘


__ADS_2