
Hari menjelang sore saat sepasang pengantin baru menginjakkan kaki mereka di apartement Rio. Suasana masih sama, canggung melanda mereka berdua dan pria itu juga masih dengan ekspresi yang sama, kusut dan uring uringan.
Namun sebisa mungkin Rio menutupinya dari sang istri . Dan kini mereka sedang berada didapur, menata barang belanjaan yang mereka beli sebelum pulang kemari.
Tadi ditengah perjalanan, Pipit memberi tahu jika beberapa kebutuhan mereka sudah habis dan mengajak suaminya untuk membeli barang barang yang dibutuhkan.
"Kamu ingin sesuatu abang ?" Tanya Pipit menoleh pada suaminya yang sibuk membantu membereskan barang belanjaan mereka, gadis itu berusaha mencairkan suasana yang mendadak canggung semenjak kejadian semalam.
Mendengar pertanyaan istrinya, sontak saja pria itu langsung menegakkan tubuhnya dan menghampiri sang istri. Melihat Pipit dengan tatapan mata buasnya, membuat gadis itu bergidik merinding.
"Ada sayang, abang memang sedang membutuhkan sesuatu yang bisa mendinginkan kepalaku." Jawabnya santai dengan senyuman nakal.
"Apa ?" Tanyanya polos.
Rio menarik pinggang ramping istrinya yang berbalut Long Tunik dengan dipadukan rok panjang warna Grey dan juga pasmina warna senada dengan rok.
"Aku ingin dirimu."
Blush
Wajah Pipit langsung merona dengan jantung yang berdebar sangat kencang.
"Kenapa semalam tidak menungguku hm ?" Bisiknya sensual ditelinga Pipit.
"Aku pikir abang pasti lama, lagipula tubuhku juga sangat lelah sekali. Jadi aku istirahat lebih dulu, apa kamu marah ? Maaf." Cicitnya sembari menatap manik suaminya yang hitam pekat.
Rio tersenyum dan mengecup sudut bibir istrinya kilas, menimbulkan rona merah kembali disana.
"Apa sekarang masih lelah ?" Suara Rio terdengar sangat lembut mendayu ditelinga Pipit.
Bagaikan terhipnotis, pipit menggelengkan kepalanya sembari menggigit kecil bibir bawahnya membuat kobaran api gairah suaminya tersulut kembali.
"Berarti kita bisa.."
"Abang ini sudah mau sore, masa iya kita.." Menundukkan kepalanya sembari meremas kemeja bagian depan suaminya.
__ADS_1
"Memang kenapa ? Kita masih mempunyai waktu 2 jam kedepan sebelum Ashar sayang." Jawab Rio santai sembari menatap kedua mata istrinya dengan tatapan penuh arti.
Rio mengangkat tubuh Pipit ala bridal style menuju kamar mereka tanpa memperdulikan lagi barang belanjaan mereka yang teronggok mengenaskan dilantai dapur. Sesampai didalam kamar Rio menutup pintu kamar menggunakan kakinya dan terus berjalan menuju ranjang besarnya.
Wajah cantik berbalut hijab itu menunduk malu dengan tangan yang sesekali meremas ujung tuniknya. Keringat dingin membanjiri wajahnya yang cantik dan memerah karena malu dengan degupan jantungnya yang berdetak seirama dengan lagu disco.
Rio duduk disebelah sang istri, tersenyum simpul melihat tingkah laku istrinya yang terlihat menggemaskan dimatanya.
Tangan besarnya meraih jemari tangan istrinya yang terlihat kecil baginya, membawanya kedalam bibirnya dan mengecup punggung tangan Pipit dengan lembut. Mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari sang suami membuat hati gadis itu semakin berbunga dan bersemu. Detakan jantungnya semakin bertalu dengan begitu kencang dan dahsyat.
"Aku mencintaimu istriku." Ungkapnya dengan menatap manik mata istrinya dengan tatapan penuh damba.
Mengangkat kepala Pipit yang menunduk menggunakan jari telunjuknya.
"Apa kamu malu ?"
Mata bening istrinya menatap dalam hingga terasa sampai kerelung hatinya, membuatnya merasa sejuk dan damai. Senyuman manis membingkai wajah cantik dengan kedua tangan yang bergerak melingkar dilehernya yang kokoh.
Tahu bahasa isyarat sang istri yang tidak menolak keinginannya, membuat rasa bahagia pria itu membuncah. Dengan perlahan namun pasti dia mulai mendekatkan wajahnya kewajah cantik sang istri. Melantunkan sebait doa kemudian meniupkannya diubun ubun sang istri.
Hijab pasmina panjang itu terlepas dari kepala Pipit dan Rio menghempaskannya kesembarang arah.
"Kamu cantik sayang." Bisiknya penuh kemesraan dan gairah yang sudah memuncak. Deru nafasnya pun mulai memburu seiring tubuh istrinya yang sudah seperti seorang bayi, hanya ada dua benda yang masih menutupi tubuh indahnya.
Mendorong tubuh kecil itu hingga berbaring diatas ranjang besarnya. Dan merangkak naik hingga mengunci tubuh istrinya dalam kungkungannya.
"Aku bahagia, sangat bahagia bisa mendapatkan seorang istri seperti dirimu. Ana Uhibbuki, istriku, bidadari syurgaku. Tetaplah disampingku sampai aku lelah berada didunia ini hingga akhirnya Allah mengambil nyawaku, dan aku juga berharap untuk bisa bersamamu sampai diJannahNya nanti."
"Aku juga bahagia bisa mendapatkan suami yang hebat seperti engkau abang. Uhibbuka fie kulli lahdzotin tamuuru fie hayati. (Aku mencintaimu sepanjang waktu dalam hidupku). Selamanya rasa cintaku ini hanya untukmu sampai keJannahNya, Aamiin."
Rio merasa hati dan jiwanya seakan ingin meledak mendengar ungkapan cinta sang istri. Tidak ingin berlarut larut dalam keharuan, pria itu segera menyelesaikan tugasnya untuk menjadikan Pipit seutuhnya miliknya hingga tiada siapapun bisa mengambilnya darinya.
***
Malam Pukul 19.00...
__ADS_1
Pipit memandang dengan tatapan puas kearah meja makan yang kini sudah terisi dengan berbagai macam hidangan. Hanya makanan rumahan sederhana namun terasa begitu spesial karena di masak dengan penuh cinta.
Ikan gurame bumbu kuning, lengkap dengan sayur tumis taoge dan tahu, tidak lupa sambal terasi kesukaannya. Pipit adalah orang Jawa , jadi lidahnya pun sudah terbiasa dengan rasa makanan pedas, baginya seenak apapun makanan jika tidak ada rasa pedas, baginya tetap terasa hambar.
Gerakan sesuatu yang tiba tiba melingkar dipinggangnya membuat gadis itu terpekik kaget. Dengan spontan memukul sesuatu yang ternyata adalah sepasang lengan milik suaminya.
"Abang, hampir saja membuatku jantungan." Gerutunya dengan hati yang berdebar, entah kenapa tiap suaminya menyentuh tubuhnya , jantungnya memompa dengan cepat.
Dibelakang Rio terkekeh dengan gerutuan istri tercintanya, mengecup pipi sang istri berulang kali dari belakang sembari memeluk tubuh mungil didepannya.
"Apa semua makanan yang ada diatas meja yang memasaknya adalah kesayanganku ini." Bisiknya sembari meletakkan dagunya dipundak sang istri.
Pipit mengangguk sembari mengulas senyuman tipis.
"Apa kamu tidak lelah istriku, bahkan kamu tidak istirahat sama sekali setelah kegiatan kita tadi yang menguras tenaga." Godanya sembari mengecup kembali pipi sang istri.
"Jangan membahasnya, aku malu." Lirihnya dengan pipi yang sudah merona.
"Kenapa harus malu, disini hanya ada kita berdua." Godanya lagi.
"Abang.." Rajuknya dengan suara manja.
"Oke..oke, aku tidak akan lagi membahasnya. Tapi nanti malam lagi ya, rasanya bikin aku ketagihan sayang."
"Abang.."
"Hahahaha, iya iya..ayo kita makan sayang. Suamimu sudah lapar. Tapi sebelum itu, (memutar tubuh istrinya supaya menghadap padanya, dan menatapnya dengan tatapan serius) Aku berterima kasih karena kamu sudah menerimaku dan juga memberikanku kebahagiaan yang tiada terkira. Aku pikir hidupku akan selamanya kosong , tapi begitu bertemu denganmu, seketika hidupku berubah menjadi berwarna. Terima kasih sayang mulai sekarang aku adalah milikmu dan kamu juga milikku. Selamanya."
Airmata gadis itu membuncah keluar dengan derasnya, perasaan haru dan bahagia menyelimuti dirinya. Diapun merasa sangat bahagia hingga untuk sekedar berkata kata pun terasa sulit.
Keduanya berpelukan erat saling meluapkan kebahagiaan yang memenuhi seluruh rongga hati mereka. Tubuh keduanya begitu dekat bahkan begitu merekat layaknya sebuah lem.
Keharuan mereka terpecahkan oleh nyaringnya suuara merdu yang berasal dari perut sang istri, membuat pria itu terkekeh dan menyudahi acara peluk pelukannya. Dengan telaten dan penuh kelembutan, Rio melayani sang istri selayaknya dia adalah seorang ratu.
Menemaninya makan hingga berakhir dengan acara suap suapan dengan tatapan keduanya yang sarat akan cinta yang begitu besar dan kuat.
__ADS_1
TBC