Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Aku berubah Karena kecewa


__ADS_3

Kedua anak manusia berbeda jenis itu nampak terdiam larut dengan pikiran masing masing. Jika Rio diam dengan sikapnya yang cuek dan datar seperti biasa, lain halnya dengan Pipit. Gadis itu terus memasang wajah gelisah. Sesekali dia melirik tajam penuh kebencian pada pria disebelahnya.


"Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu bisa jatuh cinta padaku." Sarkas Rio tanpa berpaling kearah Pipit.


Gadis itu mendengus dengan terus mengucap istighfar dalam hati.


"Cinta ! Jangan mimpi." Ketusnya sinis.


"Kenapa kamu terlihat kesal begitu."


"Tentu saja aku kesal, semua ini gara gara kamu, idiot."


Rio membelalak dengan rahang yang mengeras.


"Apa katamu, ini salahku ? Bukankah kamu sendiri yang datang kekamarku, kenapa bisa salahku. Dasar gadis aneh."


"Tentu saja salahmu, harusnya kamu tu bangun gitu, masa iya kamu ga ngerasa ada yang berbeda gitu."


"Salahkan saja dirimu sendiri, siapa suruh tidur sambil jalan, kamu ini benar benar cewek aneh. Bagaimana bisa kamu punya kebiasaan aneh begitu, untung cuma kekamarku, gimana kalau sampai keluar rumah ? Bisa bisa malah preman yang memakanmu." Gerutu Rio dengan wajah kesal, entah kenapa hatinya merasa kesal akan kebiasaan gadis tersebut.


"Kamu itu..."


"Ekhem.."


Suara deheman keras membuat keduanya menghentikan perdebatan receh mereka dan langsung menatap sekeliling. Sejenak Pipit lupa jika disana mereka berdua sedang disidang oleh para tetua dan juga Akia berserta suaminya, Azriel.


"Sudah selesai berdebatnya." Cetus Tuan Aryan dingin dan datar membuat Pipit menelan salivanya susah.


Glek


"Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan hal seperti ini Yo." Kali ini suara dingin Azriel terdengar dengan sorot mata tajamnya menatap kedua orang didepannya.


Rio mendesah, kenapa susah sekali menjelaskan pada orang orang didepannya ini.


"Aku sudah bilang Riel, aku tidak melakukan apapun sama gadis aneh ini. Kalian juga tahu pakaian kami lengkap tidak kurang satu apapun."


"Lengkap kamu bilang ? Apa kamu yakin ? Aku rasa hanya Pipit saja yang lengkap Yo." Sinis Azriel dengan senyuman miring.


"Astaga Riel, kenapa kamu nggak percaya sih." Rio memijit keningnya yang terasa sakit.


"Bagaimana kami bisa percaya jika apa yang kami lihat tidak sesuai dengan kenyataan. Siapa tahu kalian itu sudah sepakat untuk berbohong bukan."


Pipit semakin gelisah, gadis itu meremas ujung hijabnya dengan wajah yang pucat. Dia memandang wajah sahabatnya yang saat ini nampak mengulum senyum tipis.

__ADS_1


"Kia, kamu percaya padaku kan ? Aku tidak mungkin melakukan hal hina seperti itu. Kamu tahu betul bagaimana diriku kan. Kakak Syifa kamu juga tahu bagaimana aku kan ?" Tanyanya sembari menatap bergantian dua orang didepannya itu dengan wajah penuh harap harap cemas.


Ustazhah Syifa menatap iba pada gadis yang sudah dia anggap seperti adiknya itu. Dia percaya sepenuhnya jika Pipit adalah gadis sholehah, tapi masalahnya adalah keadaan yang sebenarnya memenangkan rasa percayanya.


"Ekheem." Suara Tuan Aryan kembali menggema dan langsung membuat Pipit kembali menghela nafasnya yang tiba tiba terasa sesak.


"Tidak ada yang perlu dibahas lagi, apapun alasan kalian nyatanya kita semua sudah melihat hal yang tidak pantas untuk kita lihat. Dan demi menghindari terjadinya sesuatu maka kami memutuskan untuk menikahkan kalian berdua."


Jder


"Apa !" Pekik Pipit tanpa sadar dengan wajah yang memerah.


Gadis itu menatap wajah semua orang tidak terkecuali Rio yang tetap memasang wajah datarnya. Tentu saja hal itu membuat Pipit semakin merasa geram.


Astaghfirullah, Ya Allah ampuni hamba. La haula walaa quwwata illa billah.


Lalu pandangan matanya beralih pada Akia, sahabatnya yang saat ini menatapnya sendu.


"Apa kamu juga tidak percaya padaku Kia ? Kamu akan membiarkanku menikah dengan orang yang bahkan baru beberapa hari aku kenal ?" Tanyanya sendu.


Akia menghela nafas dalam, jujur saja hatinya juga ikut sedih dan tidak setuju dengan keputusan papanya, tapi bagaimana lagi dia tidak bisa melawan semua ucapan papanya apalagi ini sudah keputusan bersama.


"Aku ingin membantumu tapi aku tidak bisa Pit, kamu tahu sendiri tidak ada yang berani membantah keputusan papa. Aku hanya bisa berharap kamu menerima keputusan ini dengan ikhlas dan bisa menjalani kehidupan rumahtanggamu dengan baik."


"Apa yang kamu takutkan sayang ? Lagipula dari awal kami juga sudah menginginkanmu untuk jadi menantu kami. Ya walaupun dengan cara seperti ini tapi kami bahagia karena keinginan kami bisa terwujud." Sela Ummi Hana yang diangguki kepala oleh Kyai Ahmad.


"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu ?" Tanyanya dingin pada Rio yang masih tetap dengan keterdiamannya.


"Aku tidak bisa membantah keputusan orang yang lebih tua dariku." Jawabnya datar.


Gadis itu kembali menghirup udara panjang panjang, dadanya kian terasa sesak, seakan ada batu besar menghimpitnya. Matanya menatap nanar semua orang yang kini menyudutkan dirinya, dan sikapnya tidak luput dari pandangan mata Akia yang kini justru terlihat sangat khawatir.


"Pit.." Panggilnya lirih.


Pipit menoleh kearah Akia dengan raut wajah yang sudah berubah, dingin dan datar menunjukkan sisi asli seorang gadis yang biasa orang kenal karena sikap cerobohnya dan selengekan.


Deg


Apa itu, sorot matanya menyiratkan hati yang sangat terluka. Bathin Akia.


"Kenapa ? Kamu kasihan padaku, tidak perlu bersusah payah Kia, ini sudah biasa bagiku, bahkan aku sudah pernah mengalami hal yang lebih dari ini." Ucap Pipit dingin yang sontak membuat semua orang terkejut tidak terkecuali Rio sendiri.


Pipit membetulkan posisi duduknya lalu mengusap kasar airmata yang sudah menganak sungai.

__ADS_1


"Silahkan lakukan apapun yang kalian inginkan, karena jika aku menolak pun pasti akan sia sia.Namun sungguh jangan menyesal dikemudian hari jika yang terjadi dirumah tanggaku tidak sesuai dengan keinginan kalian. Aku sudah berusaha menolak dan menjelaskan apa yang sedang terjadi." Ucapnya dingin dengan sorot mata penuh luka.


"Pit kenapa kamu biccara seperti itu, apa yang terjadi ? Kenapa kamu tiba tiba berubah seperti bukan Pipit sahabatku." Tanya Akia sedih.


Pipit menghela nafas panjang mencoba menenangkan debaran emosi dihatinya. Dipandangnya wajah Akia dengan pandangan mata kecewa.


"Manusia bisa berubah karena keadaan Kia, dan salah satunya karena rasa kecewa. Dan bukankah kamu juga pernah mengalaminya sendiri ? Tidak perlu aku jelaskan kejadian yang sudah lalu bukan."


"Pipit." Cicit Akia tidak percaya sahabatnya bisa berkata seperti itu, sama seperti dirinya semua orang pun nampak tercengang mendengar ucapan Pipit.


"Aku kecewa karena kalian terutama dirimu yang tidak mempercayai perkataanku Kia." Ucapnya setelah itu gadis itu berdiri dari duduknya hendak melangkah pergi, namun sebelum dia melangkah pergi Pipit kembali mengucapkan kata kata yang membuat semuanya terdiam.


"Ini hidupku, tidak ada satu orangpun yang boleh mengaturnya. Jika keberadaan dan perilakuku disini membuat nama baik kalian tercemar, jangan khawatir aku akan segera pergi dari sini. Sungguh aku tidak bisa menikah dengan orang yang aku sendiri tidak begitu mengenalnya. Maaf Akia tapi aku tidak bisa membantumu untuk merawat kedua anakmu. Permisi assalamualaikum."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Pipit langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Sementara yang lainnya masih terbengong. Rio, pria itu nampak mengepalkan kedua tangannya hingga urat uratnya menonjol keluar.


Ucapan Pipit tanpa sadar sudah membuatnya merasa terhina dan dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


Lihat saja aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dalam waktu yang sangat singkat. Jangan panggil aku Rio jika aku tidak bisa melakukannya.


Akia nampak sedih mendengar ucapan sahabatnya, sebenarnya bukan maksudnya bersikap seperti itu. Dia yakin dan sangat mempercayai jika sahabatnya tidak mungkin melakukan hal hina seperti itu, karena dia sendiri tahu kebiasaan Pipit gadis itu yang tidak pernah hilang.


Namun dia hanya tidak bisa melawan keputusan papa dan ayah mertuanya. Apalagi suaminya juga mendukung keputusan tersebut.


"Jangan khawatir mama akan bicara dengannya." ucap Ustazhah Syifa mencoba menenangkan hati putrinya, kemudian beranjak berdiri meninggalkan semuanya menuju kamar Pipit.


***


Sementata itu..


Dhafa membuka map hijau yang ada di hadapannya, pria itu membacanya dengan sangat teliti. Keningnya semakin berkerut saat melihat apa yang tertera didalam map tersebut.


"Kau yakin ini akurat Ram ?" Tanyanya pada asistennya.


" Saya yakin 99% akurat bos." Jawabnya pasti.


"Kamu tahu apa konsekuensinya jika semua ini palsu ?"


"Saya yakin bos." Jawabnya tidak kalah tajam.


Dhafa menghela nafas panjang, menatap berkas itu satu persatu. Ada rasa tidak percaya tapi tidak dia pungkiri jika saat ini dia juga merasa sangat bahagia.


"Pantas saja selama ini aku merasa seakan akan aku mempunyai ikatan bathin tiap bertemu dengannya. Dan juga matanya terlihat begitu familiar. Aku tidak menyangka jika semua ini ada hubungannya denganku. Adikku satu satunya ternyata masih hidup." Gumamnya dengan mata yang berkaca kaca.

__ADS_1


TBC


Siapa kira kira adiknya ya ? ada misteri dibalik bencana.


__ADS_2