
Akia terkejut setengah mati, karena kedatangan seseorang yang entah sejak kapan sudah berada disana. Suaranya begitu membuatnya terkejut, hingga tanpa sadar secara refleks dia menekan tombol rem kursi rodanya berubah on.
Akia menjerit saat kursi rodanya tiba tiba bergerak meluncur kebawah. Gadis itu nampak pasrah sembari menutup kedua matanya. Yang ada dipikirannya saat ini adalah tubuhnya yang hancur membentur bebatuan dibawah sana, karena dapat dilihat bagaimana tinggi dan curamnya sungai itu.
Akia masih memejamkan kedua matanya rapat, namun kemudian alisnya berkerut saat dia merasakan laju rodanya yang berhenti. Dengan gemetar gadis itu mencoba membuka kedua matanya. Dan gadis itu kembali terperangah ketika melihat pria itu menahan kursi rodanya dan perlahan menariknya untuk kembali ketempat yang lebih aman.
"Apa kau gila hah ! Kau memang berniat untuk mati ya ! Astaghfirullah.. Ya Allah."
Sentaknya keras sesaat mereka sudah berada ditempat aman, namun kemudian pria itu mengucap istighfar berkali kali sembari mengusap peluh yang membanjiri wajahnya.
"Loe yang gila ! Loe pikir akal gue pendek hah sampe gue harus berpikiran untuk bunuh diri. Loe sendiri yang sudah bikin gue kaget, sampe gue nggak sengaja nekan rem kursi roda gue. Dan sekarang loe malah nyalahin gue. Dimana otak loe." Pekiknya dengan nafas yang ngos ngosan.
Akia nampak menetralkan nafasnya yang nampak naik turun. Gadis itu sangat emosi, ketenangannya terganggu oleh kedatangan pria tersebut.
"Sejak gue ketemu loe, nasib gue selalu sial, ngerti nggak loe." Ketusnya dengan wajah sinisnya.
Akia memutar arah kursi rodanya lalu bergerak melaju meninggalkan pria itu yang masih terbengong karena rasa syoknya.
"Akia." Panggilnya saat sadar gadis itu sudah melaju menjauh darinya.
Azriel, pria itu kembali berlari menyusul Akia yang sudah pergi dengan amarah dihatinya. Menahan belakang kursi roda saat dia berhasil menyusul Akia.
"Lepas !" Sentak Akia kasar.
"Diam !" Sentak Azriel tidak kalah kasar.
Akia mencebik lalu memalingkan wajahnya. Entah kenapa sifat kasarnya selalu kalah dengan nada suara Azriel yang dingin.
"Kenapa kamu kabur dari rumah ? Tidakkah kau tahu jika papamu sangat mengkhawatirkan mu ?" Tanyanya halus dengan posisi yang sudah berjongkok didepan gadis itu.
"Papa yang nyuruh loe nyari gue ?" Tanyanya sinis.
"Jujur iya, papa yang nyuruh aku, tapi ada hal lain selain aku menyetujui perintah papamu."
Akia terdiam mendengar penuturan Azriel, melihat gadis didepannya membisu membuat pria itu tersenyum miris.
"Kau tidak ingin tahu apa yang menyebabkan aku sampai meninggalkan pekerjaanku dan memilih mencarimu ?"
"Gue tidak butuh rasa simpati loe." Ketusnya.
__ADS_1
"Setidaknya kau harus tahu jika aku sangat khawatir padamu. Saat papamu menelponku dan mengatakan bahwa kau menghilang, aku sangat panik dan langsung pergi mencarimu. Dan aku tahu jika kau pasti ada disini, makanya aku segera menuju tempat ini." Ucapnya lagi.
Akia masih membisu, namun jujur didalam hatinya dia tidak bisa menampik jika saat ini dia merasa bahagia. Entah kenapa, tapi dia merasa jika dia seakan merasakan kehadiran sosok orang yang sangat berarti dihatinya, Dariel.
"Gue nggak kabur, gue cuma rindu tempat ini." Ucapnya lirih.
Mendengar itu membuat Azriel tersenyum, dengan pelan dia bangkit berdiri lalu berjalan ke ada belakang gadis itu. Kedua tangannya yang kokoh mendorong pelan kursi roda Akia menuju ke sebuah rumah kayu yang ada Di taman tersebut.
"Tapi setidaknya kau harus mengabari papamu, jadi beliau tidak akan panik." Ucapnya dengan tangan masih mendorong pelan.
Akia mengrenyit heran, kenapa pria ini seakan hafal dengan seluk beluk tempat ini.
"Darimana loe tahu gue ada disini ?" Ucapnya setelah tersadar dari lamunannya.
Azriel tersenyum. " Segala hal tentangmu aku selalu mengetahuinya. Bahkan aku tahu jika kau selalu ketempat ini hampir setiap hari." Sahutnya santai.
"Siapa loe sebenarnya ? Tidak mungkin loe tahu semua hal tentang gue. Bahkan tempat ini tidak ada yang mengetahuinya selain gue dan.."
"Dariel.." Sahut Azriel cepat memotong ucapan Akia.
Akia terhenyak, bagaimana bisa pria itu dengan mudah menebak perkataannya.
"Bagaimana loe bisa tahu.."
Akia terdiam, namun otaknya berputar mengingat kejadian kemaren. Dan tersadar ketika dia ingat jika memang dia yang memberitahu pria itu.
"Masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah." Ceplos Azriel sembari memandang sekeliling.
Akia mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Azriel.
"Apa maksud loe !"
Azriel menoleh, lalu kembali tersenyum tipis. Pria itu mendekati Akia lalu duduk dibangku panjang yang ada diluar pondok.
"Akia, apa kau tidak mengenalku ? Setidaknya cobalah kau mengingat ingat wajahku. Mungkin ada bagian dari wajahku yang bisa kau kenal." Tanyanya penuh arti.
Akia menatap heran dengan pertanyaan pria disampingnya. Spontan dia menatap wajah Azriel, namun tidak ada yang aneh di wajah pria itu. Hanya satu, mata birunya selalu membuatnya teringat dengan sosok Dariel.
"Ti-tidak ada yang gue kenal dari loe. Lagipula kenapa loe bertanya seperti itu." Tanyanya mencoba menutupi rasa gugupnya.
__ADS_1
"Kau benar benar tidak mengenalku ?" Tanya Azriel dengan sorot mata sedih.
"Sudah gue bilang, gue nggak kenal sama loe." Ketusnya dengan setengah berteriak. " Pergi loe, gue butuh sendiri. Gue nggak mau diganggu." Sentaknya lagi.
Akia memalingkan wajahnya mencoba menyembunyikan airmatanya yang mendesak ingin keluar. Namun sekuat tenaga gadis itu menahannya, supaya airmatanya tidak mengalir.
"Tidak ! Papamu sudah memberiku amanah, dan aku harus menjalankannya. Maka dari itu, kamu harus pulang bersamaku." Tegasnya dengan wajah berubah dingin.
"Gue mohon, gue lagi pengen sendiri. Tolong tinggalin gue disini. Please." Pintanya lirih.
"Maaf, tapi tidak ada penolakan."
Pria itu bangkit lalu segera membawa gadis itu pergi dari tempat itu. Sementara Akia hanya bisa terdiam pasrah tanpa bisa melakukan perlawanan. Toh percuma juga dia melawan, sudah pasti tenaganya kalah dibandingkan dengan tenaga pria itu. Belum lagi dengan kondisinya yang saat ini tidak memungkinkan dia untuk melawan.
***
Waktu yang sama disebuah Taman.
Seorang gadis masih asik bergulat dengan kamera yang tengah digenggamnya. Aktifitas yang setiap hari dia lakukan. Menjepret sana sini dan membidikkan kameranya dengan sangat lihainya. Nampak gadis itu tersenyum puas saat melihat hasil bidikkan kameranya.
Sempurna. Bathinnya.
"Ok ! Pemotretan kali ini sampai disini. Terima kasih atas partisipasi nya, kalian luar biasa. Lihatlah hasilnya sangat sempurna." Teriaknya dengan wajah yang terus mengurai senyuman puas.
"Lun, kau memang luar biasa. Tidak sia sia aku menyewa seorang fotoghrafer handal sepertimu. Aku sangat puas dengan hasilnya. Ingat ini harus sudah selesai sebelum undangan kami selesai dicetak. Aku percaya padamu." Ucap kliennya dengan wajah yang terlihat puas.
"Siap bos ! Aku tidak akan mengecewakanmu." Sahutnya dengan gerakan tangan memberi hormat.
Sepasang kekasih itu nampak tersenyum lebar melihat ulah gadis yang berprofesi sebagai fotografer itu. Lalu setelah menyelesaikan sesi pemotretan prewedding terakhirnya mereka lalu segera pergi dari tempat tersebut.
Luna, ya gadis itu memang Luna salah satu sahabat Akia. Profesi yang sudah dia geluti selama 3 tahun belakangan ini. Cita citanya dari dulu dan dia harus bahagia saat keinginannya akhirnya terkabul.
Dan itu semua juga tidak jauh dari campur tangan sahabatnya Akia. Dia yang merekomendasikan pada salah satu rekan bisnisnya yang bergerak dibidang Production House, tempat yang banyak menaungi artis artis terkenal ibukota. Dan juga bergerak dibidang Wedding organizer. Dan Luna harus berterima kasih karena berkat sahabatnya kini dia bisa mengembangkan bakatnya.
Gadis itu masih asik memandangi satu persatu hasil bidikan kameranya. Bibirnya tidak henti hentinya tersenyum. Gadis itu sungguh merasa puas dengan hasil jerih payahnya. Tidak sia sia dia harus berguling kesana kemari di tanah demi mendapat event yang bagus.
"Luna."
Gadis itu menoleh spontan saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya dengan bibir yang masih mengurai senyuman manis. Namun senyuman di bibirnya langsung menghilang kala dia menatap wajah sosok dibelakangnya.
__ADS_1
"Kau !"
TBC