Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S.2. Melepasmu


__ADS_3

Pipit menatap bingung pada Akia lalu beralih pada pria yang semakin dekat dengan mereka.


"Ada apa Yo ? Bukankah kamu baru sampai dari luar kota ya." Tanya Akia pada sosok didepannya yang ternyata adalah Rio sang asisten suaminya sekaligus sahabatnya.


"Tadinya aku mau langsung kekantor, tapi nyatanya ada gadis aneh yang salah naik kemobilku jadi ya sekalian aja aku mampir." Ketusnya dingin.


Akia terkikik geli, lalu mempersilahkan keduanya masuk.


"Dia sahabatku Yo, kamu jangan galak galak sama dia siapa tahu nanti jodoh loh."


"Jodoh ? Sama dia ? Nggak akan." Ucap keduanya serentak.


"Tuh kan, ngomong aja kompakan gitu." Godanya lagi.


"Mana mau aku jodoh sama pria aneh gitu Kia. Dingin kayak es batu." Ejek Pipit sambil melirik sinis kearah Rio.


Sementara Rio sudah mendelik tanda dia tidak terima akan ejekan gadis itu. Enggan meladeni ucapan kedua wanita didepannya, Rio lalu berjalan kearah dapur.


"Pak Mun tolong bikinin saya teh tawar hangat ya." Perintahnya pada kepala art dirumah itu.


"Baik Aden." Jawab pria paruh baya itu sambil membungkukkan sedikit badannya.


Meninggalkan Rio yang sudah duduk disofa dengan anggunnya, Pak Mun lalu berjalan kearah dapur. Membuatkan pesanan tuan keduanya dengan tangannya sendiri. Karena Rio adalah seorang pria dengan tipe pemilih. Dia tidak akan meminum atau memakan apapun selain dari tangan Pak Mun.


Satu jam kemudian Rio bergegas keluar dari rumah Azriel menuju kantornya, karena ada beberapa hal penting yang harus dia selesaikan. Tanpa melirik sekalipun kearah Pipit yang tengah duduk santai disofa, Rio berjalan santai menuju pintu keluar.


"Ya Allah sombongnya, ada gitu ya manusia sombong seperti itu." Gumamnya lirih, namun sayang telinga jeli Rio mampu mendengarnya dengan sangat baik.


"Aku sombong karena bagiku tidak ada gunanya mengobrol dengan makhluk aneh yang tidak penting. Jadi aku harap supaya kau tahu batasanmu nona. Jangan karena anda adalah sahabat dari istri bos saya, anda bisa berbuat seenaknya. Paham." Sarkasnya dengan wajah datar dan dingin.


Pipit menggeram, dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Dengan beraninya dan tanpa punya rasa takut, Pipit mengeluarkan kata kata tajamnya yang bahkan tidak pernah dia ucapkan selama ini.


"Anda terlalu sombong dan angkuh sampai sampai anda lupa jika semua manusia itu tidak ada yang sempurna dimata Tuhan tuan. Bahkan makhluk aneh sekalipun semuanya sama dimataNya. Dan anda pikir saya akan memanfaatkan tali persahabatan saya dengan Akia ? Anda terlalu naif memandang seseorang Tuan. Dan jika saya disuruh memilih, saya lebih baik memilih untuk tidak bertemu dengan anda. Anda pikir saya senang dan bakal terpesona karena ketampanan anda seperti wanita wanita diluaran sana. Sekali lagi anda terlalu naif dan percaya diri tuan. Permisi, masih banyak yang harus saya kerjakan daripada meladeni pria aneh seperti anda." Ketus Pipit dengan raut wajah kesal.


Sementara Rio nampak menggeram dengan wajah yang memerah, belum pernah selama hidupnya ada orang yang berani mengeluarkan kata kata kasar padanya. Tanpa berkata apapun Rio langsung berbalik lalu kembali melanjutkan langkahnya. Moodnya hari ini benar benar berubah buruk setelah berdebat dengan gadis itu.

__ADS_1


Sementara itu....


Dilain tempat seorang gadis masih saja berusaha mencari pekerjaannya. Kedua kakinya tidak merasa lelah kesana kemari mencari pekerjaan. Walaupun hasilnya masih saja tetap sama. Sudah satu bulan lamanya Akila kesana kemari mencari pekerjaan namun tetap saja hasilnya nihil.


Dan pagi ini Akila lagi lagi harus menelan pil pahit saat kantor yang baru saja dia datangi kembali mengangkat tangan alias tidak berani menerimanya sebagai karyawannya. Dan dengan senyuman pula Akila kembali menerimanya dengan ikhlas.


Sementara dari kejauhan sebuah mobil sport lamborghini warna hitam tiada henti mengikuti langkah kaki gadis itu. Dari pagi sampai siang ini Dhafa selalu mengikuti Akila kemanapun gadis itu melangkah. Tatapannya terlihat sangat sedih akan keadaan gadis yang sangat dicintainya itu.


Kenapa kamu sangat keras kepala Akila.


Dhafa menghela nafas panjang, kemudian pria itu turun dari mobilnya dan melangkah pelan kearah Akila. Dimana gadis itu sedang duduk disebuah bangku kecil dipinggir jalan. Nampak sesekali tangannya mengusap keringat yang menetes dikeningnya.


"Sampai berapa lama kamu akan bertahan dengan keras kepalamu ini Akila."


Gadis itu mendongak menatap kearah pria yang sudah berdiri disampingnya. Senyum manisnya selalu menghiasi wajahnya, yang mana membuat Dhafa semakin merasa sesak.


"Sampai kamu berhenti mengikutiku."


Dhafa menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan. Tanpa berkata apapun pria itu mengangkat Akila kedalam gendongannya lalu membawanya masuk kedalam mobilnya.


Tidak perduli dengan teriakan gadis itu yang terus memberontak sambil sesekali memukul mukul punggungnya.


"Apa !"


"Beraninya..."


Cup


Akila mematung dengan wajah yang sudah memerah, sementara Dhafa hanya mengulum senyum tipis melihat bagaimana kekasihnya itu mematung dengan wajah yang sudah memerah.


"Kalau kamu teriak lagi. aku akan dengan senang hati menciummu." Bisiknya ditelinga Akila.


Akila yang tersadar langsung memberikan tatapan mautnya pada pria disampingnya itu.


"Dasar mesum."

__ADS_1


"Kamu akan tahu bagaimana mesumku setelah menjadi istriku Akila." Ucapnya lagi sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Dalam mimpimu." Ketus Akila.


Seketika raut wajah Dhafa berubah sedih.


"Apa kamu tidak ingin menikah denganku ? Apa benar benar tidak ada maaf untukku ?"


Akila terdiam dengan wajah yang sudah berpaling kearah jendela. Tentu saja sikap gadis itu membuat Dhafa mengerti jika gadis pujaan hatinya memang tidak menginginkannya.


"Baiklah jika memang kamu tidak ingin menikah denganku, aku akan menerimanya dengan ikhlas Kila. Aku rasa satu bulan lamanya aku berjuang untukmu, aku mulai mengerti akan sesuatu." Dhafa menghentikan ucapannya sejenak lalu memandang wajah Akila yang sudah berpaling memunggunginya.


"Aku tahu hatimu begitu sakit akan semua sikapku selama ini. Dan untuk itu aku minta maaf walau aku tahu kamu tidak akan pernah memaafkanku. Aku sadar seberapa besar aku berjuang untukmu pada akhirnya aku tidak akan bisa meluluhkan hatimu jika didalam hatimu masih ada kebencian padaku. Dan mulai detik ini aku berjanji tidak akan lagi mengganggumu dan mungkin aku tidak akan perrnah lagi muncul dihadapanmu. Kamu tenang saja, mulai besok kamu bisa bekerja dikantor manapun yang kamu inginkan, karena aku sudah membersihkan nama baikmu. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman selama ini." Ucapnya lembut sembari mengusap ujung kepala Akila dengan penuh kasih sayang.


Melihat Akila yang hanya diam saja membuat hati Dhafa semakin terasa perih. Sesaat pria itu berharap Akila akan mengucapkan sesuatu yang dia harapkan, kenyataannya gadis itu tetap membisu dan sama sekali enggan untuk menatapnya.


Dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu Akila. Sungguh rasanya aku ingin tertawa sekencang mungkin, menertawakan diriku yang pada akhirnya menyerah dengan mudah.


Dhafa tersenyum miring, lalu matanya mulai fokus pada kemudi.


"Aku antar kamu pulang." Lanjutnya.


Sementara Akila sendiri bukannya gadis itu tidak menginginkan pernikahan itu, tapi gadis itu hanya syok saja dengan ajakan tiba tiba dari pria tersebut. Makanya dia memberikan respon yang berbeda dengan apa yang diinginkan oleh hatinya. Namun belum hilang rasa terkejutnya lagi lagi dia dibuat terkejut dengan kelanjutan perkataan Dhafa yang mengatakan jika pria itu menyerah untuk kembali mengejarnya.


Ternyata hanya segitu aja usahamu untuk membuatku luluh Dhafa. Kamu begitu cepat menyerah, sementara aku saja selalu bertahan selama ini akan semua sikap burukmu padaku. Entahlah aku bingung, tapi satu yang aku mengerti, mungkin kamu memang bukan jodohku. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air. Jika nanti kita berjodoh aku yakin kita pasti akan bersama.


Tanpa sadar airmata gadis itu mulai menetes membasahi kedua pipinya. Namun sebisa mungkin Akila menyembunyikan rasa sedihnya dari pria disampingnya itu. Dia tidak ingin Dhafa kembali berpikir jika dia adalah gadis yang lemah.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit lamanya dengan kondisi didalam mobil penuh dengan keheningan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah sampai didepan gang kecil rumah Akila berada. Setelah mengucapkan terima kasih dengan suara lirihnya, Akila langsung turun dan berjalan cepat tanpa menoleh sedikitpun kearah Dhafa, membuat pria itu lagi lagi harus menelan kenyataan pahit.


Kenapa kamu menangis jika kamu menginginkan perpisahan ini Akila. Tolong jangan membuatku ragu akan keputusanku ini. Karena ini semua tidak mudah untuk aku lakukan.


Dhafa menghela nafas panjang yang terasa sesak lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Kemudian pria itu langsung menancap gas mobilnya setelah Akila hilang dari pandangan matanya.


"Aku menyesal Akila, sungguh aku sangat menyesal." Gumamnya lirih.

__ADS_1


Dhafa terus saja melajukan mobilnya menuju suatu tempat yang bisa menghilangkan rasa sedihnya. Kemana lagi jika bukan kerumah adiknya, Akia. Karena dari dulu hanya gadis itu yang bisa membuat hatinya kembali seperti semula.


TBC


__ADS_2