
Siang hari...
"Minumlah, maaf cuma ada ini saja."
Dhafa mendongak kemudian tersenyum tulus pada gadis didepannya ini. Dengan cepat dia meraih gelas kopi yang diberikan oleh Aqila, kemudian meneguknya perlahan.
"Makasih sayang." Ucapnya tulus.
Aqila membalas senyuman Dhafa dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Sebenarnya hatinya merasa penasaran dengan sikap pria itu yang hari ini terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Namun gadis itu enggan untuk membuka suaranya sekedar untuk bertanya.
"Baiklah aku tinggal dulu ya." Ucapnya yang hendak berdiri menuju arah kitchen untuk membiarkan Dhafa menenangkan diri.
"Bisakah kamu tetap disini ? Tolong temani aku, aku sangat membutuhkanmu sayang." Ucap Dhafa sembari menahan lengan kekasihnya yang hendak pergi.
"Tapi...."
"Please yank, aku mohon."
Melihat raut wajah Dhafa yang terlihat sedih membuat hati gadis itu yang pada dasarnya mempunyai sifat lembut menjadi tidak tega. Setelah helaan nafas kasar keluar dari hidungnya, Aqila akhirnya mendudukkan pantatnya disamping Dhafa.
"Terima kasih."
Pria itu langsung mendekap erat tubuh Aqila yang membuatnya merasa nyaman dan tenang. Kepalanya dia senderkan dibahu Aqila dengan sesekali menghirup aroma wangi gadis itu yang menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah memeluk Aqila pria itu merasa seakan beban berat dihatinya sirna. Hatinya merasa lega dan juga plong. Sadar jika pria disampingnya ini butuh sandaran, secara perlahan Aqila mulai mengusap punggung Dhafa dengan lembut, dan mengecup singkat pucuk kepala Dhafa.
Menyadari sikap Aqila yang memberi perhatian padanya dengan begitu lembutnya, membuat sudut bibir Dhafa terangkat dan pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa begitu berat ? K-kamu bisa membaginya denganku." Tawarnya dengan suara gugup.
Dhafa melepaskan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Aqila, memandang wajah cantik dan lembut didepannya.
"Cukup dengan tetap berada disisiku, kamu sudah membuat hatiku kembali lega Qila. Makasih sudah mau menemaniku, aku sangat mencintaimu."
Mendengar penyataan cinta Dhafa yang baru kali ini terdengar sangat lembut dan serius membuat hati gadis itu menghangat. Runtuh sudah egonya yang selama beberapa bulan ini dia bangun demi membuat pria ini sadar akan bagaimana sebenarnya perasaan hatinya.
Dan sepertinya hari ini dia harus mengakhiri hukuman yang dia berikan pada pria itu, melihat bagaimana selama ini Dhafa yang terus berjuang tiada henti. Pria itu benar benar membuktikan ucapannya yang ingin merubah semua sifat buruknya perlahan lahan.
Aqila mencium kening Dhafa yang membuat pria itu seketika melongo. Sepersekian detik berikutnya senyumnya terbit bersamaan dengan gadis itu yang memalingkan wajahnya yang memerah.
"Kamu nakal ya, tapi aku suka." Bisiknya ditelinga Aqila.
Aqila melotot horor yang membuat Dhafa terkikik geli.
"Mesum.
__ADS_1
"Hahahha, lihatnya wajahmu sangat merah sayang, apa kamu malu ?"
"Dhafa !" Hardiknya dengan wajah kesal.
"Oke..oke..Ya ampun sungguh saat ini rasanya aku ingin menciummu. Tapi sialnya aku sudah berjanji tidak akan melakukan itu sebelum kita berdua sah menjadi sepasang suami istri."
Tanpa diduga Aqila tersenyum sangat manis, dan itu mampu membuat Dhafa lagi lagi harus terpesona akan cantiknya gadis itu.
"Terima kasih sudah membuktikan ucapanmu dan sudah berjuang untukku." Kaya Aqila tulus.
Wajah Dhafa berbinar mendengar perkataan kekasihnya itu.
"Apa itu artinya kamu menerima lamaranku ?"
Aqila mengangguk.
"Kamu mau menikah denganku ?"
Kembali mengangguk.
"Kamu mau hidup bersamaku sampai menua dan menjadi ibu dari anak anakku ?"
Aqila mengangguk lagi, walaupun hatinya kesal karena mendadak pria itu berubah sangat bawel dan cerewet, namun gadis itu tetap memasang senyuman manis.
"Apa kamu...."
"Aku bahagia." Pekiknya yang langsung memeluk kembali tubuh Aqila dengan sangat erat. "Aku mencintaimu." Bisiknya lagi.
"Aku juga mencintaimu, dan tolong jangan sakiti aku lagi. Sungguh aku sangat sakit saat kamu menyakitiku Dhafa." Balas Aqila dengan airmata yang sudah menetes.
"Tidak akan, aku berjanji mulai saat ini tidak akan aku biarkan kamu menangis karenaku. Aku akan menemui ibu besok dengan papa dan mama." Ucapnya kemudian meraih tangan Aqila dan mengecup punggungnya dengan lembut.
"Secepat itukah ?" Tanyanya dengan mulut membuka.
Tuk
"Jangan membuka mulutmu seperti itu, kalau tidak ingin aku khilaf." Ucap Dhafa setelah menyentil bibir Aqila yang terbuka.
Aqila bersungut dengan tangan yang mengusap usap bibirnya, sakit dan nyeri itu yang dia rasakan dibibir seksinya.
"Dengar, aku tidak ingin menunda nunda niat baik ini. Aku ingin secepatnya kita halal Qila, karena aku sungguh sangat menantikan detik detik ini untuk segera bisa bersamamu sampai tua nanti."
Aqila mengangguk pasrah, toh diapun sebenarnya juga ingin cepat cepat hidup bersama kekasihnya ini.
"Baiklah kalau begitu aku harus kembali bekerja ya, masih ada beberapa berkas yang harus aku selesaikan." Ucapnya sembari melepaskan pelukannya dan kembali berkutat dengan lembaran kertas didepannya.
__ADS_1
Saking ingin terus bersama Aqila, pria itu sampai rela harus mengerjakan pekerjaannya di toko milik Aqila, sementara kantor dia pasrahkan sementara pada Rama, sang asisten. Hanya sesekali saja pria itu datang kekantor, yaitu saat menghadiri rapat penting yang tidak bisa diwakilkan.m
"Tapi kamu harus menceritakan padaku kenapa hari ini kamu terlihat sangat sedih. Aku yakin pasti terjadi sesuatu padamu kan ? Aku ingin kamu bercerita dan aku tidak butuh penolakan." Ucapnya tegas.
Dhafa mengangguk sembari tersenyum.
"Aku akan cerita tapi biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku terlebih dulu ya. Aku janji setelah ini akan kuceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat satupun."
Setelah itu dia kembali berkutat dengan berkas berkas didepannya dengan raut wajah yang sudah berubah serius, sementara Aqila segera beranjak menuju kitchen membiarkan pria itu menyelesaikan pekerjaannya.
💕 💕 💕
Tok tok tok
"Assalamualaikum, boleh kakak masuk ?"
Pipit berpaling menatap sosok wanita bercadar yang berdiri ditengah tengah pintu kamarnya. Tersenyum tulus lalu mempersilahkan wanita itu masuk.
"Masuk kak, dan kakak tidak perlu meminta ijin, bukankah kita sudah seperti itu dulu sewaktu kita semua masih dipesantren ?" Tanya Pipit dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.
"Tetap saja kakak harus bersikap sopan Pit. Bagaimanapun ini kan area pribadimu."
"Ada apa kak ?" Tanyanya setelah wanita itu duduk disisi ranjang Pipit dengan mata yang melihat gadis itu membereskan pakaiannya dan memasukkan kedalam tas ranselnya.
"Kamu benar benar ingin pergi Pit ?"
Pipit menghentikan kegiatannya lalu menghembuskan nafasnya sejenak. Kemudian gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya memasukkan pakaiannya yang tinggal sedikit kedalam tas tanselnya.
"Apa kamu yakin ? Apa kamu tidak kasihan denganku dan Akia ?"
"Akia sudah ada suaminya dan juga kedua orang tuanya kak. Dan jangan lupakan ada kakak yang selalu siap menemaninya."
"Lalu bagaimana dengan baby twins A ?" Tanyanya lagi.
"Aku..."
"Kamu tega meninggalkan mereka berdua ? Bukankah selama ini kamu begitu mengharapkan mereka segera hadir didunia ini. Lalu setelah mereka datang kamu akan meninggalkannya."
"Aku..."
"Pikirkan kembali rencanamu Pit, dan renungkan dengan kepala dingin. Kakak dan semuanya akan menunggumu dibawah. Kakak harap kamu membatalkan niatanmu itu."
Ustazhah Syifa berdiri lalu berjalan keluar kamar, diikuti oleh pandangan sendu milik Pipit.
Kamu tidak mengerti kak, dan jika aku jelaskan pun percuma. Kakak tidak akan pernah tahu rasanya hati yang sudah terlanjur kecewa. Maaf kak walaupun berat tapi aku tidak bisa mundur lagi. Maaf. Bathinnya dengan kembali memasukkan sisa pakaiannya kedalam tas.
__ADS_1
TBC