Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2 . Akhir segala akhir


__ADS_3

Satu tahun kemudian...


Suasana mansion kediaman Khanza terlihat ramai untuk kesekian kalinya. Hari ini dimansion mewah dan besar itu sedang diadakan acara kecil kecilan menyambut kelahiran bayi mungil berjenis kelamin laki laki. Buah cinta hasil pernikahan putra sulung Tuan Aryan, Dhafa Resmana dan Aqila yang bernama Niel Arkhana Resmana Khanza.


Bayi tampan yang tepat berusia 40 hari itu nampak terlihat anteng berada digendongan papanya. Wajah mungilnya sangat mirip dengan wajah sang papa yang terlihat sangat tampan bahkan masih diusia kecil. Membuat sang istri cemberut karena tidak ada satupun dari dirinya yang melekat diputra pertamanya itu.


"Sudahlah jangan cemberut begitu, lihatlah putra kita sangat tampan."


Aqila menatap jengah wajah suaminya namun raut wajahnya menunjukkan kekesalan dirinya.


"Aku yang mengandung sampai 9 bulan lamanya, aku juga yang merasakan sakit saat melahirkan dia. Tapi kenapa tidak ada satupun dariku yang menempel padanya, menyebalkan." Gerutunya.


Dhafa tertawa terbahak, menatap bergantian wajah anak dan istrinya. Dhafa meletakkan putranya diatas ranjang dengan hati hati, lalu dengan lembut pria itu menarik tubuh istrinya untuk dibawa kedalam pelukannya. Mencium keningnya lembut dan durasi yang sangat lama.


"Itu pertanda jika kamu sangat mencintai suamimu ini sayang. Sama seperti aku yang sangat mencintaimu, jangan mempermasalahkan putra kita yang mirip aku ataupun kamu, dia tetap putramu dan selamanya milik kita berdua."


Aqila menatap wajah sang suami dengan tatapan dalam dan mata yang sudah berkaca kaca.


"Love you yank."


"Love you to baby."


"Ck, kalian ini dibawah sudah pada siap dan menunggu kalian, tapi yang ditunggu malah asik bermesraan." Suara Akia membuyarkan momen romantis sepasang suami istri tersebut.


"Sya, bisa nggak sih kamu tu ketuk pintu dulu kalau mau masuk, siapa tahu kakak lagi iya iya sama istri kakak gimana." Sungut Dhafa yang langsung mendapatkan cubitan kecil dari Aqila.


Sementara Akia memutar bola mata jengah melihat sikap kakaknya yang sama sekali tidak mempunyai urat malu tersebut. Dengan langkah lebar dan wajah kesal, wanita cantik itu menghampiri Baby Arkhan yang sedang terlelap. Tanpa ba bi bu, Akia langsung mengangkat bayi mungil itu dan membawanya keluar dari kamar sang kakak, tidak perduli teriakan keras Dhafa yang mampu mengguncang bumi.


"Kalian kalau mau iya iya, sok sana biar ponakan aunty yang ganteng ini tak culik dari sini." Ucapnya santai sembari berjalan keluar.


"Sya, anak gue itu et dah ni bocah." Cerocos Dhafa dengan muka kesal.


Aqila menatap keduanya dengan wajah yang mengulum senyuman manis. Dengan lembut dan manja dia bergelayut dilengan kokoh milik suaminya.


"Ayo yank, kita juga harus kebawah."


"Iya iya dulu yank."


Aqila melotot dengan sempurna, tidak menyangka jiwa mesum suaminya muncul disaat saat penting seperti ini. Dengan kesal wanita itu menghempaskan lengan Dhafa dengan kasar.


"Noh iya iya sama sabun sana, heran deh sama jiwa mesum kamu yang makin hari makin parah yank."


Dhafa hanya termenung sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menatap kepergian istrinya dengan perasaan bingung.


"Salahku dimana coba, kan aku cuma mau iya iya doank, habis itu baru turun. Emang perempuan apa apa selalu mau memang sendiri." Sungutnya kesal tanpa sadar jika dirinya juga pengennya selalu menang sendiri.


Pada akhirnya pria tampan itu pun turun kebawah menyusul istri dan anaknya yang sudah duluan turun kesana. Mengedarkan pandangannya, pria itu mengulas senyuman saat melihat sosok yang berdiri diambang pintu, sepertinya sosok itu baru sampai terlihat dari tas ranselnya yang melekat dipunggungnya.


"Assalamualaikum.." Sapanya pada semua penghuni rumah.

__ADS_1


Sontak semua berpaling kearah sumber suara, dan jeritan histeris keluar dari seorang wanita dengan tubuhnya yang langsung berlari menyerbu kearah sosok tersebut.


"Arfaaaannn..kesayangan kakak miss you so much baby." Teriak Akia membuat semua mata membelalak sempurna melihat sisi bar bar wanita itu keluar. tidak terkecuali para sahabatnya.


Arfan, pemuda itu menatap jengah akan sikap kakak perempuannya yang tidak pernah berubah. Dengan malas pemuda tampan itu membalas pelukan kakaknya dengan setengah hati.


"Kak, sudah aku bilang jangan memanggilku baby kesayangan lagi. Aku tu sudah besar tahu, ni jenggotnya juga udah numbuh." Gerutunya sembari memperlihatkan bulu bulu halus didagunya.


Akia terkikik dengan gemas wanita itu menangkup kedua pipi adiknya lalu menggelengkannya berulang kali, membuat Arfan kembali berdecak kesal.


"Abang, tolongin napah ni bawa istrinya kesana gitu." Meminta tolong pada Azriel yang sibuk dengan kedua bayi kembarnya.


"Sudah terima saja Ar, itu tandanya kakak kamu sayang loh sama Arfan." Bukannya membantu pria itu malah mendukung sang istri.


"Ck, laki bini sama aja."


Pemuda itu hanya pasrah saat kakaknya itu menariknya dan memonopoli tubuhnya. Tidak membiarkan sedikitpun dia menjauh dari jangkauan kakaknya, menempel terus layaknya perangko.


"Kakak issh, aku tu juga kangen sama mama sama papa. Mau nengok sibontot tu." Keluhnya sembari melihat wajah kakaknya yang cuek. " Kakakku yang paling cantik kayak bidadari tapi boong, adikmu yang ganteng kayak lee min hoo ini pengen kesana dulu ya. Nanti janji deh habis dari sana Ar kesini lagi. oke." Melancarkan jurus rayuan mautnya berharap sang kakak mau melepaskannya.


Akia memutar bola matanya jengah akan sikap narsis sang adik.


"Janji ya."


"Siap janji bos."


Setelah mendapatkan ijinnya, pemuda itu langsung menghambur menuju kemama dan papanya. Melepaskan rindu yang membuncah dihatinya lalu berjalan menuju abangnya.


"Tahun depan selesai bang, minta doanya ya."


"Kamu tahu, abang sangat bangga padamu. Dengan otak jeniusmu itu kamu mampu menempuh pendidikan yang harusnya masih berjalan hingga 5 tahun mendatang, tapi kamu sanggup menyelesaikannya hanya dalam kurun waktu 2 tahun. Jenius." Ucap Dhafa bangga.


"Semua juga berkat dukungan abang, mama dan papa juga kakak bar barku itu." Kikiknya dengan senyuman geli.


"Tidak, semua murni karena usahamu Ar, kamu mampu membuktikan kemampuanmu jika kamu pasti bisa. Tidak sia sia kamu sampai pergi kesana. Kalau begitu tahun depan kamu bisa langsung membantu abang untuk mengurus perusahaan papa."


Arfan tersenyum sembari menatap wajah Tuan Aryan yang kini juga menatapnya dengan tatapan penuh rasa bangga. Setelah perbincangan singkat dengan abangnya, Arfan berjalan mencari keberadaan adiknya Arsyif yang sedang bercanda dengan baby sitternya.


Acara 40 hari baby Arkhan berjalan dengan lancar, Dhafa mengundang ibu ibu pengajian dan juga anak anak yatim piatu untuk datang di acara Aqeqah putranya. Dan setelah acara pengajian selesai dan semua tamu sudah pulang, acara dilanjutkan dengan kumpul kumpul semua anggota keluarga dan juga para sahabat.


Taman belakang menjadi tempat terakhir untuk mereka berkumpul. Geng bar bar Arumi, Luna, Chiko, Dhafa dan Akia berkumpul dengan pasangan masing masing dan juga tentunya dengan para buntut mereka.


Arumi yang masih dengan sikap bar barnya, Chiko yang berubah menjadi pria, suami dan ayah siaga namun penuh kelembutan. Luna yang kini dengan tampilan barunya yang memakai hijab, dan Ryan yang selalu bersikap lembut padanya dengan usianya yang semakin dewasa membuatnya menjadi laki laki penuh wibawa.


Dhafa si bucin akut dan jangan lupakan Ratu kita Akia yang tetaplah seorang Akia yang tidak pernah berubah, hangat namun terkesan bar bar. Bahkan sesekali wanita itu bertindak usil dan jahil, untung saja selalu ada Azriel yang menjadi pawangnya jika sewaktu waktu wanita itu berulah.


Daannn jangan lupakan pasangan ideal kita, Rio dan Pipit yang saat ini juga sedang menggendong balitanya yang berusia 3 bulan. Ya jarak bayi Rio dan Dhafa hanya beberapa bulan saja. Bayi perempuan yang mereka namai Princes Humaira Arsani.


Disana dipojok ruangan Tuan Aryan menatap penuh rasa bahagia menyelimuti hatinya. Tidak pernah dia sangka disisa usianya yang sudah tidak muda lagi, dia mendapatkan kebahagiaan yang begitu sempurna.

__ADS_1


Menatap kearah samping dimana sosok wanita lembut yang menjelma sebagai istrinya juga melemparkan senyuman manis yang mampu membuat debaran jantungnya selalu berdetak kencang tiap harinya.


Menangkup kedua pipi Syifa dengan tangannya yang besar, kemudian mengecup keningnya lembut dengan durasi yang agak lama.


"Mas.."


"Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan yang tiada terkira sayang. Aku mencintaimu sangat mencintaimu." Bisiknya ditelinga istrinya.


Syifa membalas ungkapan cinta suaminya dengan mencium mesra pipi Tuan Aryan. Pipi pria itu seketika memerah mendapatkan perlakuan manis sang isrti.


Azriel menggenggam tangan kanan Akia sementara tangan kirinya merangkul pinggang ramping istrinya. Mengecup pipinya dengan penuh cinta dan sayang.


"Love you." Bisiknya mesra ditelinga Akia.


Akia menoleh lalu tersenyum manis setelah itu menyatukan keningnya dengan kening sang suami.


"Aku bahagia, karena pada akhirnya semua menemukan kebahagiaan mereka. Lihatlah Abi, wajah wajah bahagia mereka, dulu aku sempat tidak yakin jika kebahagiaan akan datang menjemputku. Bahkan aku sempat terjerumus kedalam pergaulan yang penuh dengan dosa. Tapi dengan cinta, kamu membawaku keluar dari keterpurukanku dan dengan cintamu pula aku akhirnya bisa kembali menemukan arti sebuah kebahagiaan, sebuah kesabaran, dan arti kehidupan yang sesungguhnya.


Sungguh aku tidak akan lagi menyia nyiakan kehidupan yang sudah Allah berikan padaku. Akan aku gunakan kesempatan yang Allah berikan ini dengan hal hal baik. Aku akan mencurahkan seluruh hidupku untuk berada dijalanNya, dengan berbakti penuh pada suamiku dan keluargaku. Aku mencintaimu mas, dan aku harap kamu selalu membimbingku dan jangan pernah lelah ataupun berhenti untuk selalu memberiku cinta yang begitu tulus dan suci." Ucapnya dengan mata yang sudah menganak sungai.


Azriel membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya, pria itu juga merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Teringat jika diapun dulu sempat terjerumus kedalam lubang hitam dan beruntung dia bisa keluar dari lubang itu dan menata kembali hidupnya yang penuh lumpur dosa. Azriel bersyukur dihidupnya yang sekarang dia memperoleh ketenangan jiwa dan juga kebahagiaan yang sebenarnya.


"Assalamualaikum, maaf kami terlambat." Salam seseorang yang langsung disambut oleh sambutan hangat dari semua orang.


"Papa, mama, Jeje." Teriak Akia menyambut kedatangan tamu yang tidak lain adalah Jason dan juga Viona yang saat ini sedang hamil besar. Tidak lupa dibelakang mereka menyusul bocah perempuan cantik.


"Kakak cantik, Jeje rindu." Teriaknya yang langsung menghambur kepelukan Akia.


Semua tertawa senang melihat keakraban dua manusia berbeda umur tersebut. Kembali mereka melanjutkan acara pesta kecil kecilan dengan sesekali diiringai tawa bahagia terdengar ditaman belakang mansion.


# Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan tanpa dosa. Jika dimasa dewasa dia terjerumus kedalam lubang hitam jangan salahkan orangtua ataupun keadaan. Tapi itu semua adalah pilihan takdir, apakah dia akan memilih jalan dijalan kebenaran ataukah dia akan memilih dijalan yang penuh lika liku. Tapi percayalah apapun itu jika kamu sabar dan ikhlas maka kebahagiaan akan menghampirimu dengan sendirinya.


......TAMAT......


-


-


-


-


-


-


Terima kasih untuk para sahabat dan kesayangan aku yang sudah menemaniku sampai ditahap akhir ini. Ambil yang baik baiknya dan buang yang jeleknya. Author berharap semoga kehaluan author ini mampu membuat kesayangan author ini terhibur.


See you

__ADS_1


Selamat jumpa lagi dikarya author lainnya nantinya, nantikan cerita babang Alex yang insya Allah sebentar lagi author rilis..Terima kasih all..love you.


Jangan lupa mampir dikarya ku lainnya ya, AIRA SI GADIS TANGGUH.


__ADS_2