Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Kecurigaan Akia


__ADS_3

Akia sampai dirumahnya sudah dari satu jam yang lalu, namun yang membuat gadis itu heran adalah suaminya sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya. Penasaran gadis itu mulai mencari tahu, dan pertama kali yang dia hubungi adalah Rio.


"Assalamualaikum Yo, apa kau tahu dimana mas Azriel saat ini, sudah satu jam lamanya sejak pertemuan tadi tapi sampai sekarang dia belum kembali."


"Aku akan mencari tahu Sya, kau jangan khawatir. Tenangkan dirimu."


"Baiklah Yo..tolong ya."


Gadis itu mematikan panggilan ponselnya, menunggu dengan harap harap cemas. Hingga satu jam lamanya, namun Riopun tidak kunjung memberinya kabar. Gemas dengan tingkah keduanya, membuat gadis itu kehilangan kesabarannya. Bergegas meraih kembali kunci motornya lalu melaju kencang membelah padatnya arus lalu lintas disore hari.


Akia masih sibuk mengendarai motornya dijalanan ibu kota, mencari sosok suami dan juga Rio yang belum ada kabar. Saat dia berhenti dipinggir jalan, tanpa sengaja matanya menangkap siluet tubuh seseorang yang tengah masuk kedalam sebuah restoran Jepang diseberang jalan.


Keningnya berkerut dengan beribu pertanyaan menumpuk dihatinya.


Kak Dhafa ? Sedang apa dia disini ? Bukankah ini masih jam kantor, apa dia bertemu dengan klien ?, Gumam gadis itu dalam hati.


Semakin penasaran Akia akhirnya kembali menstater motornya lalu memutar jalan demi sampai diseberang jalan. Sedikit kesal lantaran jalan untuk memutar ternyata lumayan jauh. Setelah 5 menit lamanya akhirnya gadis itu berhasil sampai didepan restoran, bertepatan dengan Dhafa yang baru keluar dari dalam restoran tersebut.


"Kak Dhafa, sedang apa disini ?"


Pria itu sedikit terkejut lalu memasang wajah datar. Namun mata jeli Akia tidak bisa dibohongi. Walau sekilas tapi tadi dia sempat melihat raut wajah Dhafa yang sedikit pucat dan gugup.


"Emm..itu ada meeting dengan klien barusan, dan beliau minta bertemu direstoran ini."


"Kemana Akila ? Biasanya jika ada meeting penting bukannya sekretaris atau asistenmu turut serta ya." Selidik Akia yang membuat Dhafa salah tingkah.


"Itu..Akila sedang ada tugas dikantor yang tidak bisa ditinggalkan, jadi ya kakak sendiri yang terpaksa bertemu klien hari ini."Jawabnya dengan senyum kaku.


Akia ber oh ria, mencoba percaya dengan penjelasan kakaknya, walau dalam hatinya gadis itu masih merasa curiga pada Dhafa.

__ADS_1


"Kamu sendiri sedang apa disini ? Dan siapa yang mengijinkanmu memakai motor ini lagi ?" Celetuk Dhafa mencoba mengalihkan perhatian Akia.


"Aku..sedang mencari seseorang. Ya sudah aku pergi dulu ya..assalamualaikum." Pamit Akia lalu kembali melajukan motornya untuk pulang kerumah, gadis itu mulai lelah, berlama lama dijalanan mencari sosok suaminya.


Aku tidak tahu apa yang saat ini kau coba sembunyikan dariku kak, tapi aku harap itu bukan sesuatu yang nanti akan membuatku kecewa padamu.


Sementara Dhafa masih menatap intens punggung Akia yang semakin menjauh dan pada akhirnya hilang dari pandangannya. Tangannya meraih ponsel yang ada disakunya, mengetik sebuah nomor lalu menempelkannya ditelinganya.


"Halo...aku hampir saja ketahuan Akia, berhati hatilah dan jangan sampai rencana kita berantakan."


Maaf Sya, aku terpaksa melakukan ini, kuharap kau akan mengerti suatu saat nanti.


Pria itu lalu masuk kedalam mobilnya lalu melajukan kendaraannya kembali kekantornya.


***


Tapi senyuman itu seketika menguap saat dia melihat sosok pria yang saat ini sedang duduk diruang tengah. Senyuman dibibirnya berganti dengan amarah yang seketika menguasai kepala dan hatinya. Kedua tangan gadis itu mengepal kuat.


"Kau ! Sedang apa dirumahku hah !" Bentaknya kasar pada pria yang sedang tersenyum sinis padanya.


Marco, pria itu menyilangkan kakinya angkuh sambil menatap pada sosok gadis didepannya.


"Aku ?" Tanyanya sembari menunjuk pada diri sendiri.


Akia mendengus dengan kilatan mata yang memerah.


"Memangnya siapa lagi orang yang ada disini selain kau pria busuk." Umpat Akia dengan ketus. "Cepat pergi dari rumahku jika tidak...."


"Aku yang menyuruhnya datang kesini Sya." Ucap suara bariton yang menggema diruangan itu. Nampak seorang pria tampan yang sedang berjalan turun dari arah tangga. "Apa kau tidak suka ? Jika kau tidak suka kau boleh kembali pulang kemansion papamu."

__ADS_1


Akia terhenyak mendengar ucapan suaminya, rasa sesak dan tidak percaya memenuhi benaknya.


"Kau mengusirku hanya karena pengkhianat ini ? Aku sungguh tidak percaya." Ketusnya.


"Dia bukan pengkhianat Sya, dan kau tahu jelas siapa pengkhianat dirumah ini. Pergilah aku tidak ingin kau ada dirumah ini lagi." Usirnya dengan tatapan mata tajam menusuk hati.


"Kau akan menyesalinya Riel, baiklah aku akan pergi. Dan ingat aku pastikan jika aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki dirumah ini lagi sebelum kau sendiri yang datang padaku."


"Kau terlalu percaya diri nona." Sahut Marco dengan senyuman sinisnya.


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan memenangkan pertarungan ini. Silahkan kau ambil suamiku, tapi jika aku tahu kau mencoba mengganggu kembali keluargaku yang lain, aku pastikan jika nyawamu yang akan melayang ditanganku Marco." Ancamnya lalu berlari keatas menuju kamarnya untuk mengambil barang barangnya.


Sepuluh menit kemudian Akia turun dengan membawa tas ranselnya. Azriel dan Marco sedikit mengrenyit saat melihat Akia yang hanya membawa tas saja.


"Kau tidak membawa kopermu ? Apa kau berharap jika El akan menjemputmu nona ? Kau terlalu percaya diri sekali ternyata." Ejek Marco dengan kekehan sinisnya.


Akia melirik tajam kearah Marco lalu bergantian kearah Azriel yang hanya diam dengan tatapan mata yang masih terarah padanya.


"Aku bukan orang miskin yang tidak mampu membeli pakaian. Dan aku tidak butuh membawa barang barang yang ada sangkut pautnya dengan suamiku yang lemah dan pengecut. Jika perlu buang saja semua barang barangku yang ada disini, aku tidak lagi membutuhkannya." Jawabnya ketus, lalu bergerak kearah pintu.


Gadis itu dengan perasaan dongkol dan marah meraih kunci motornya lalu melajukan mobilnya kencang kearah mansion papa Aryan. Gadis itu bahkan enggan memakai mobil pemberian suaminya, dia benar benar muak dengan tingkah Azriel yang semakin berubah.


Sementara Azriel hanya menatap punggung istrinya yang kini semakin menjauh hilang dari pandangan matanya. Tatapan matanya terlihat sendu, seakan merasa sedih dengan kepergian istrinya. Entah apa yang ada dipikiran pria itu, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Marco yang berdiri dibelakang Azriel nampak menyeringai penuh misteri. Ada rona kepuasan tercetak jelas disana.


Lihat saja El, secara perlahan kau akan kehilangan satu persatu anggota keluarga yang paling kau sayangi. Dan hari ini aku sudah berhasil membuatmu mengusir istrimu dari rumahmu sendiri. Dan secara perlahan kau sudah berhasil aku kendalikan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2