Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Calon Suami


__ADS_3

"Assalamualaikum.." Sapa Pipit mengucap salam ketika dia membuka pintu kamar rawat Akia.


"Waalaikumussalam wr.wb." Jawab semua orang yang ada didalam serentak.


Pipit tersenyum lalu berjalan kearah semua tetua untuk memberi salam dan tidak lupa mencium kedua pipi sahabat terkasihnya, Akia.


"Bagaimana keadaanmu ?" Tanyanya dengan wajah yang ceria.


"Aku baik dan itu semua berkat dirimu Pit."


"Jangan memujiku Kia, itu semua bukan karenaku, tapi karena kasih sayang yang diberikan Allah untukmu dan juga kedua anakmu."


Akia tersenyum tulus sembari menggenggam erat tangan Pipit. Sementara Pipit mengalihkan pandangannya pada sosok bayi imut nan tampan yang saat ini ada dipangkuan Akia.


"Boleh aku menggendongnya ?"


Akia mengangguk lalu memberikan baby Azzam pada Pipit.


"Assalamuaalaikum baby..." Pipit menghentikan perkataannya lalu melihat kearah Akia.


"Namanya baby Azzam Pit, dan adiknya baby Azura."


"Hai baby Azzam kesayangan aunty yang gantengnya maksimal. Nanti kalo udah gede jadi pacarnya aunty ya." Ucapnya konyol yang langsung mendapat lemparan bantal kecil dikepalanya dari Akia.


"Enak aja kalau ngomong, akunya yang ogah punya mantu kayak kamu Pit. Lagian kalau Azzam sudah besar pastinya kamu udah nenek nenek Pit." Ketus Akia yang disambut gelak tawa semua orang yang ada disana, tak terkecuali Pipit sendiri.


Gadis itu bahkan sampai membayangkan jika nanti Azzam besar berdampingan dengan dirinya yang sudah nenek nenek, membuatnya terkikik geli.


"Habisnya putramu ganteng banget kia, bikin aku gemes tau nggak. Rasanya pengen tak bawa pulang ke Semarang aja." Cetusnya yang seketika membuat raut wajah Akia berubah sedih.


Menyadari itu Pipit mengulum senyum tipis.


"Jangan sedih, lawong aku pulangnya juga masih lama, nunggu baby Azzam agak gedean dulu. Kyai Lutfi pasti ngerti kok." Sahut Pipit yang seketika membuat wajah sahabatnya itu kembali ceria.


"Trus kamu disini gimana Pit ? Maksud aku pekerjaan kamu." Tanya Ustazhah Syifa pada Pipit.


Mendengar itu membuat Akia tersadar jika selama disini itu berarti Pipit tidak mempunyai pekerjaan. Padahal gadis itu juga mempunyai kebutuhan hidup yang harus dia cukupi.


"Bagaimana kalau kamu mengurus restoku saja Pit ? Nanti disana akan ada karyawanku yang membantumu."


"Bukankah restomu sudah dipegang sama Vino ya sayang ?" Tanya Azriel heran.


"Pria labil itu sudah mengembalikan lagi padaku mas, dia lebih nyaman berada disisi bang Alex daripada mengurus resto. Aku sendiri juga heran, di kasih kerjaan yang santai malah maunya berurusan dengan senjata dan darah." Sungut Akia dengan wajah sedikit kesal.


"Tidak udah repot repot begitu Kia, aku sudah ada pekerjaan yang cocok dibidang aku. Bukannya menolak permintaanmu tapi aku merasa memang tidak cocok berkutat dengan kertas dan pena." Tolak Pipit dengan halus.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu kamu bekerja dimana Pit ?" Tanya Akia penuh selidik.


Mendengar hal itu membuat Pipit tersenyum simpul.


"Dimana lagi memangnya bidang yang cocok denganku selain mengajari anak anak mengaji ? Memang terlihat sepele tapi aku merasa ada kebahagiaan tersendiri dihatiku saat melihat antusias anak anak dalam mencari ilmu agama."


"Subhanallah, sungguh mulia hatimu nak." Ujar Ummi Hana. " Kamu tahu setelah mendengar cerita Azriel tentangmu ingin rasanya ummi membawamu ke Kuningan dan menjadikanmu menantu kami. Tapi sayang kami sudah tidak punya putra lagi setelah dibontot itu." Seloroh ummi yang langsung mendapat pelototan mata dari anak dan menantunya.


"Ummi melupakan sesuatu ? Tanya Kyai Ahmad. "Kita masih punya satu putra lagi loh." Sambungnya.


"Maksud abah ?"


Kyai Ahmad melirik kearah sosok pria yang berdiri bersender ditembok dengan acuhnya sembari memainkan ponselnya, siapa lagi jika bukan si Rio.


"Ya Allah kenapa ummi lupa sama sibontot kedua itu ya." Kekehnya yang disambut gelak tawa semuanya.


Rio memang sudah tidak mempunyai keluarga lagi didunia ini selain Azriel dan kedua orangtuanya. Dan kebetulan usia anak itu 2 tahun dibawah Azriel jadi Kyai Ahmad dan Ummi Hana sepakat untuk mengangkatnya jadi anak mereka.


"Gimana ? Kamu mau sama anak Ummi yang satu itu ? Tapi dia agak berbeda, lebih kaku dari anak ini." Bisik ummi pada Pipit sembari melirik bergantian kearah Rio lalu kearah Azriel.


Pipit hanya diam sambil tersenyum tipis, tidak mungkin kan dia langsung berkata tidak. Dia seorang wanita tentu dia tidak ingin menyinggung perasaan hati wanita lembut ini. Walaupun sorot matanya terlihat sangat membenci pria itu, Pipit masih kesal dengan perkataan Rio padanya sewaktu dikantin tadi.


"Oh iya Kia, maaf tapi aku harus pulang sebentar ya, sudah waktunya untuk mengajari anak anak, kasihan mereka pasti sudah menunggu dimasjid." Pamitnya sembari melihat jam ditangannya, memang waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore hari, dan juga gadis itu ingin segera pergi dari tempat itu supaya terhindar dari permintaan kedua orangtua Azriel.


Setelah mendapatkan persetujuan dari semua pihak Pipit melangkah keluar meninggalkan rumah sakit menuju kearah masjid besar yang tidak jauh dari kediaman Azriel dan Akia.


Dengan keberanian yang tinggi serta karena niat yang benar benar tulus, akhirnya Pipit mencoba berbicara sama ketua pengurus masjid. Dan alhamdulillah mereka menyambut uluran tangan Pipit dengan senang hati. Dan mulailah semenjak dari situ Pipit menjadi guru pengajar anak anak disana.


Gaya belajar Pipit yang humoris namun tetap tegas membuat anak anak distage nya merasa senang. Dan dalam waktu sebentar mereka sudah sangat dekat guru baru mereka. Pipit memang diberi kepercayaan untuk mengajar diusia 5 sampai 7 tahun.


Selama 2 jam Pipit mengajar disana dan kini dia bersiap siap untuk pulang kerumah Akia. Disaat gadis itu sedang menunggu taksi online mendadak datang seorang pria muda yang memakai baju koko dan peci hitam menghampirinya.


"Ustazhah mau pulang ?" Tanyanya.


Pipit sontak menoleh kearah sumber suara disampingnya. Nampak ustadz Adi salah satu pengajar di majelis tersebut berdiri agak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Assalamualaikum ustadz." Sapa Pipit ramah.


Ustadz Adi terkekeh pelan. " Maaf saya lupa, assalamualaikum." Sambungnya dengan menahan malu.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh." Sahut Pipit dengan senyum tidak hilang dari bibirnya.


"Mau bareng nggak ? Kebetulan saya lagi bawa mobil dan sepertinya jalan arah pulang kita juga sama. Itu jika ustazhah tidak keberatan." Ajak Ustadz Adi sembari tersenyum canggung.


"Terima kasih ustadz, tapi saya sudah memesan taksi online." Tolak Pipit dengan halus.

__ADS_1


"Sudah malam, tidak baik perempuan memesan taksi loh. Jangan khawatir saya tidak akan macam macam, niat saya cuma baik." Ajak Ustadz Adi lagi dengan halus.


Tidak enak menolak membuat Pipit sedikit berpikir keras. Setelah menimang nimang gadis itu akhirnya menyetujui ajakan ustadz Adi.


"Baiklah, saya i...."


"Dia akan pulang denganku."


Suara berat dan dingin milik seseorang yang begitu familiar membuat keduanya berbalik kebelakang. Seketika gadis itu membelalakkan kedua matanya saat melihat sosok Rio yang sudah berdiri dibelakang mereka dengan sorotan mata tajamnya.


"Maaf anda siapa ya ?" Tanya Ustadz Adi sopan.


"Saya calon suami gadis yang ada disebelah ustadz, perkenalkan saya Rio." Ucap Rio sembari mengulurkan tangan kanannya yang disambut ramah oleh ustadz Adi.


"Saya Adi, baiklah berhubung ustazhah sudah ada yang menjemput saya undur diri. Maaf mas saya tidak tahu jika ustazhah sudah mau menikah." Ucap utadz Adi dengan senyum kikuk.


"Tidak apa apa ustadz, saya mengerti." Sahut Rio dengan senyum ramah namun terlihat seram dimata Pipit.


Ustadz Adi segera pergi dari mereka berdua, timbul sebersit rasa kecewa saat mengetahui jika Pipit sudah akan menikah.


Baru aja mau melangkah tapi sudah dipaksa berhenti..haah..sabar Adi bukan jodohmu.


Meninggalkan ustadz Adi, kita beralih pada kedua orang yang masih betah dalam kediaman mereka. Pipit yang merasa kesal karena dengan seenaknya pria ini mengaku sebagai calon suaminya. dan Rio yang merasa kesal karena gadis itu sudah berani ngobrol dengan pria lain.


"Ayo pulang." Ajaknya singkat namun penuh penekanan.


"Pulang saja aku sedang menunggu taksi." Ketus Pipit tanpa menatap wajah Rio.


Rio menghela nafas panjang.


"Apa aku harus menyentuhmu dan menggendongmu supaya kamu mau ikut denganku ?" Tanya Rio sembari melangkah maju kearah gadis itu.


Wajah Pipit seketika memucat, perlahan gadis itu mundur dengan jantung yang berdetak kencang.


"K-kamu mau apa ?"


"Mengajakmu pulang." Jawab Rio santai sambil terus melangkah maju.


"Ayo pulang." Ketus Pipit cepat lalu berbalik menuju mobil Rio yang sudah terparkir didepan masjid.


Enak saja dia mau menyentuhku, memang dia pikir aku gadis apaan. Gerutu Pipit dalam hati.


Sementara rio menyunggingkan senyuman tipis melihat bagaimana gadis itu langsung menurut padanya hanya dengan sedikit mengancamnya.


Kamu memang harus diancam seperti ini supaya menurut padaku.

__ADS_1


TBC


__ADS_2