
Dingin, datar dan kejam, semua itu adalah sifat identik yang biasanya dimiliki oleh CEO ataupun seorang Mafia yang berkuasa. Seperti dalam cerita cerita novel yang kebanyakan penuh dengan kehaluan seorang authornya.
Tapi sepertinya isu tersebut memang benar berlaku dikehidupan nyata. Sosok yang dingin, datar dan kejam nyatanya memang dimiliki oleh salah satu dari sekian pria dimuka bumi ini, siapa lagi jika bukan dimuka es Dhafa.
Pria itu sehari seharinya selalu memasang wajah dinginnya dengan sorot matanya yang tajam menusuk jantung hingga membuat musuh musuhnya menyerah sebelum berperang.
Tapi jangan salah sangka, sikapnya seperti itu tentu karena ada sebabnya, pria itu bersikap dingin karena selain memang itu sudah dari sananya, tapi juga karena tuntutan pekerjaannya.
Dia pemegang salah satu kerajaan bisnis terbesar dari beberapa kerajaan bisnis lainnya dipasar dunia. Dan untuk menjadi seorang penerus tentunya harus memiliki jiwa kepemimpinan yang tidak mlempem seperti kerupuk layu.
Dia harus kuat, kuat dalam arti tangguh, pintar dan juga memiliki otak yang cerdas dan licik. Karena seorang pemimpin perusahaan yang besar pasti mempunyai musuh musuh yang ingin menjatuhkan perusahaannya.
Bersaing dari yang sehat maupun yang tidak sehat, Dhafa harus mengantisipasi semua hal supaya keamanan perusahaan yang sudah diamanahkan padanya selalu terjaga dengan baik.
Maka dari itu dia harus membentengi dirinya dengan sifat dingin dan kejamnya, hingga membuat lawannya pun merasa ketakutan hanya dengan mendengar namanya saja.
Tapi jangan salah, sedingin dinginnya pria es dia hanya akan mencair dan berubah hangat bahkan lebih terkesan manja pada orang orang yang dia sayangi.
Seperti hari ini, pasti banyak orang yang tidak menyangka jika yang ada dihadapan mereka ini adalah si pria es dengan segala kekejamannya dan juga sifat dinginnya yang melebihi kutub es.
Bagaimana tidak , Dhafa yang saat ini sedang sibuk berkeliling memutari seluruh Mall hanya untuk menemani sang adik tercinta. Memborong semua pakaian sepatu, tas dan juga beberapa keperluan Pipit yang lainnya.
Bahkan pria itu rela membawa berpuluh puluh kantong dikedua tangannya yang besar dan kokoh. Dan jangam lupakan wajah sumringah yang selalu menghiasi wajah tampannya semenjak dia keluar dari kantornya.
"Tunggu dek." Serunya pada Pipit yang membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
Keningnya berkerut dengan wajah yang sudah terlihat lelah.
"Masih ada satu yang harus kita cari, Abang baru saja ingat." Ucapnya santai.
Pipit melotot, yang benar saja. Mereka sudah hampir seharian penuh berburu barang dan hampir semuanya adalah barang barang branded. Dan apa dia bilang tadi, masih ada satu yang belum dia beli.
Pipit menepuk keningnya dengan hati yang kesal. Kedua kakinya memang sudah terasa sangat pegal dan rasanya kayak mau copot saja. Menghentakkan kakinya dilantai putih khas sebuah Mall dengan mimik yang kesal.
"Kakiku pegal abang, rasanya seperti mau lepas ini." Gerutunya mendramatisir keadaan.
Dhafa menoleh dan benar saja dia melihat raut wajah adiknya itu yang memang nampak kelelahan. Mengurai senyuman manis sangat manis hingga membuat Pipit terpana.
Andai dia bukan kakakku, Ya Allah aku pasti sudah jatuh cinta padanya.
Pipit membeo dalam hati, abangnya ini memang dikaruniai wajah yang rupawan. Gadis itu sampai berdecak kagum akan pahatan Maha Suci Allah dalam bentuk rupa didepannya ini.
Tapi masih cakepan Rio sih. Kikiknya menahan tawa.
"Satu lagi ya, abang janji setelah ini kita pulang."
"Tapi..."
"Please ya sayangku, satu saja." Pintanya dengan mimik manja khas pria es.
Pipit tidak bisa menahan tawanya lagi, wajah Dhafa sungguh terlihat sangat menggemaskan. Semenjak gadis itu memutuskan untuk berdamai dan menerima Abangnya, Dhafa langsung mengikis dinding pemisah diantara mereka. Bahkan pria itu yang paling agresif, hingga seketika rasa canggung diantara keduanya menghilang.
"Jika sikap Abang begini padaku, aku yakin pacar Abang akan cemburu dan salah paham." Godanya pada pria didepannya ini.
"Tidak akan."
"Sok tahu."
"Pasti tahulah, dia itu wanita yang sangat hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dari segi apapun." Jawabnya sembari membayangkan wajah Aqila yang selalu mengurai senyuman indahnya jika sedang bersamanya.
"Ya Allah, dasar bucin."
"Bucin ? Apa tu." Tanyanya dengan kening berkerut.
"Ya Allah abangku ini selain pintar ternyata otaknya juga lemot." Cibirnya.
"Hei enak saja kalu ngomong. Abangmu ini adalah orang yang sangat pintar dengan IQ diatas rata rata."
"Tapi sayangnya lemot, bucin saja nggak tahu."
"Tahu kok." Serunya dengan PD.
__ADS_1
"Apa !"
"Itu..ehmm."
"Dih, gitu bilang pintar, nih Acha kasih tahu ya bang, bucin itu singkatan dari budak cinta."
"Ya..itu maksud abang, budak cinta. Tadi abang sedikit lupa aja, mungkin sedikit amnesia dek." Jawabnya santai.
Pipit kembali menepuk keningnya. " Terserah abang saja deh, Acha nyerah."
Dhafa mengulum senyum, rasanya sangat menyenangkan bisa bercanda dan menggoda adiknya seperti ini. Mereka bahkan terlihat sangat dekat satu sama lainnya dan jujur Dhafa begitu bersyukur atas doa doanya yang selama ini dikabulkan oleh Allah.
Dhafa membawa adiknya masuk kedalam galery yang menjual berbagai macam perhiasan. Dan itu membuat Pipit kembali melotot, dia tahu barang barang disini tidak ada yang dibawah 1 juta, semuanya diatas 10 juta.
"Abang.." Panggilnya lirih sembari melangkah ragu.
"Ayo." Ucap Dhafa sembari menarik lembut tangan adiknya dan mengajaknya melangkah masuk.
Melihat jika yang datang adalah anak dari pemilik Mall, seorang pria paruh baya yang masih terlihat bugar menyambut kedatangan Dhafa dengan wajah sumringah.
"Selamat siang Tuan Muda, saya sangat bahagia anda bisa berkunjung ditoko kami." Sambutnya dengan ramah dan sedikit menundukkan kepalanya.
Dhafa tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pertanda menyambut sapaan pria yang bernama Deni tersebut.
"Jangan berlebihan pak Deni, oh ya tolong bawakan saya perhiasan keluaran terbaru yang ada disini."
Seakan mendapat titah baginda Raja, Pak Deni langsung bergerak cepat memenuhi permintaan sang Tuan Muda. Pria itu bahkan hanya bergerak selama 5 menit saja. Karena hidup mati tokonya terletak bagaimana dia melayani pria yang terkenal dengan kekejamannya itu.
Dhafa memandangi 5 bentuk perhiasan berupa kalung yang berjejer rapi didepannya. Semuanya nampak begitu indah dan elegan.
"Kamu suka yang mana dek ?"
"Hah..aku ?" Tanyanya dengan menunjuk mukanya sendiri.
Dhafa mengangguk dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.
"Nggak ada bang."
"Pasti mahal sekali, sayang uangnya bang
Mending dikasihin sama anak anak yatim piatu saja." Bisiknya pelan ditelinga Dhafa, takut menyinggung Pak Deni jika sampai pria itu mendengar ucapannya.
Dhafa terkekeh kemudian mengacak pucuk kepala Pipit yang terbalut hijab.
"Abang pasti akan memberikan bantuan untuk mereka tapi untuk saat ini abang ingin membahagiakan adik abang yang cantik ini." Ucap Dhafa lembut.
Pipit tersenyum dengan ata yang sudah berkaca kaca, lalu...
Cup
"Makasih abang."
Dhafa terpaku namun sejurus kemudian dia tersenyum dan balas mengecup lembut kening adiknya. Setelah itu dia menyuruh adiknya untuk memilih perhiasan yang dia sukai.
Pipit tidak tertarik dengan bentuk perhiasan yang ada didepannya, gadis itu malah tertarik pada sepasang kalung yang terlihat sangat simpel namun elegan.
"Bisa lihat ini pak ?"
"Silahkan nona, kebetulan kalung ini tinggal satu pasang saja dari dua pasang. Dan ini sangat limited, anda beruntung karena kami masih memilikinya."
Pipit tersenyum kemudian meraih sesasang kalung berbahan batu safir bermata satu.
"Kenapa memilih sepasang dek ?"
Pipit mendongakkan kepalanya pada abangnya dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.
"Aku ingin memberikannya satu pada kakak iparku. Abang nggak keberatan kan ?"
Dhafa bersorak bahagia dalam hatinya, tentu saja dia tidak menolak, itu berarti adiknya sudah sepenuhnya menerima dirinya.
"Tentu saja abang tidak keberatan. Pak Deni tolong bungkuskan ini ya."
__ADS_1
"Baik Tuan Muda."
"Kamu tunggu disini ya, abang mau ketoilet dulu."
Pipit mengangguk pelan dan setelah kepergian abangnya, gadis itu memanggil pak Deni supaya mendekat.
"Pak..pak..sini deh."
"Ada apa Nona ? Anda butuh sesuatu ?"
"Emm..nggak sih pak, saya cuma mau nanya."
"Silahkan nona."
"Itu..ngomong ngomong itu kalung harganya berapa ya pak."
"Saya yakin anda pasti akan terkejut nona."
"Benarkah, saya makin penasaran ingin mengetahuinya pak."
Dengan sungkan Pak Deni mengatakaan nominal yang harus dibayar oleh Dhafa.
"Masya Allah, yang benar pak ? Sa-satu M ?" Pekiknya dengan raut wajah terkejut.
Pak Deni hanya tersenyum simpul melihat wajah syok gadis itu.
"Harga segitu bukan apa apa dimata Tuan Muda, nona. Bahkan untuk seorang pemilik Mall ini barang barang dengan harga segitu hanya kecil dimata Tuan Muda. Masih banyak barang barang lainnya yang lebih mewah dan mahal dari harga kalung ini."
"Oh.." Manggut manggut, namun sepersekian detik kemudian dia memekik lagi. " Bapak tadi bilang apa ? Pemilik Mall ini, jadi abang saya itu bosnya Mall ini."
Pak Deni mengangguk.
"Dia benar benar Sultan." Gumamnya pelan namun masih bisa didengar oleh Pak Deni.
"Memang anda tidak tahu jika abang nona ini orang yang sangat kaya."
"Hehhehe, nggak pak, dari kecil kami sudah terpisah dan baru beberapa hari ini bertemu kembali." Sahutnya dengan wajah berubah sedih.
"Maafkan saya nona, sudah membuat anda sedih." Ujarnya dengan wajah bersalah.
"Tidak apa apa pak, saya sudah bahagia kok."
"Wah, kalau gitu aku harus menguras habis isi dompet abang, buat gantiin tanggung jawabnya yang selama ini sudah terlewati." kikinya dengan tertawa geli, jiwa matrenya seketika muncul, sementara Pak Deni hanya menggelengkan kepalanya.
"Kuras saja dek, abang rela kok, yang penting adik abang ini bahagia. Nih dompetnya." Entah kapan datangnya, tiba tiba suara Dhafa sudah ada disana dengan tangan yang menjulur memberikan dompetnya pada Pipit.
Pipit yang kepergok sedang menjahili abangnya itu hanya tersenyum kikuk. Tangan mungilnya meraih dompet Dhafa, lagi lagi dia melotot saat melihat berpuluh puluh lembar uang merah yang ada didalam dompet itu.
Pipit menarik selembar warna merah dan memberikannya kembali pada abangnya, tentu saja tingkahnya malah membuat kening Dhafa berkerut.
"Katanya maau dikuras kok cuma ngambil selembar saja."
Pipit menyengir dengan wajahnya yang terlihat lucu.
"Hehe..nggak bang, tadi cuma bercanda saja. Satu lembar sudah cukup kok."
Dhafa menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang selengekan tersebut, begitu juga dengan Pak Deni. Pria itu kagum dengan sikap Pipit yang tidak mudah tergoda oleh uang, padahal bisa saja dia mengambil semua uang yang ada didompet Dhafa.
"Ayo pulang." Ajaknya.
"Abang.."
"Hmm."
"Acha laper." Cicitnya lirih.
Dhafa seketika menepuk keningnya. " Astaga, abang lupa jika kita belum makan dari siang. Ayo kita cari makan dulu."
Keduanya keluar dari galery tersebut dan kembali berjalan menuju restoran yang ada didalam Mall tersebut.
TBC
__ADS_1