Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Ketahuan


__ADS_3

Aku tidak pernah berharap terlalu jauh untuk selalu berada disampingmu. Karena aku sadar jika aku tidaklah pantas untukmu. Terlalu banyak perbedaan diantara kita, dan jujur itu membuatku sedikit merasa kecil jika dibandingkan dengan dirimu yang memiliki kesempurnaan.


M**aaf...bukannya aku tidak menginginkan mu, namun kenyataannya memang kita tidak bisa bersatu. Lupakanlah aku, dan carilah perempuan lain yang lebih baik dariku. Perempuan yang bisa menjadikanmu bukan hanya imam didunia ini, tapi juga imam disurga nanti.


Bukan diriku yang hanya seorang gadis arogan yang masih terjebak dengan kenangan masa lalu. Maaf..karena kenyataannya aku masih belum bisa lari dari kisah masa lalu ku. Aku tidak ingin kau terbebani dengan kisah hidupku yang terlalu rumit. Maafkan atas keputusanku yang lebih memilih untuk mundur dan tidak melanjutkan perjodohan ini. Carilah gadis lain yang pasti baik dan sesuai dengan dirimu.


Aku pergi dan tolong jangan mencari ku..


^^^Akia^^^


Azriel masih terus membaca sepucuk surat yang Akia kirim padanya. Kedua matanya terpejam dengan hati yang teriris sembilu. Terasa perih dan ngilu saat gadis yang selama ini dia cari ternyata kembali meninggalkannya lagi.


Kenapa kau pergi Sya ? Aku terlalu lelah setelah sekian lama mencarimu. Dan saat aku baru saja merasa bahagia karena akhirnya bisa menemukanmu kenapa sekarang kau justru kembali pergi.


Azriel menatap awan putih yang nampak dari jendela kaca pesawat yang saat ini dia tumpangi dengan perasaan yang tidak menentu. Berkali kali pria itu melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Menghembuskan nafasnya kasar saat dia merasa waktu sangatlah lama berputar.


"Riel.."


Pria itu menoleh sekilas pada sosok yang duduk disebelahnya. Lalu kembali pada kegiatannya semula yaitu merenung dengan satu tangan yang menopang dagunya.


"Tenanglah Akia pasti kita temukan." Hibur Rio dengan tatapan iba terlihat jelas disana.


"Entahlah Yo, gue merasa jika kali ini kita tidak akan bisa bertemu dengannya." Ucapnya lirih.


"Tidak mungkin, Dio selalu memberi info yang benar, tidak mungkin dia meleset bukan." Sangggah Rio.


"Semoga saja begitu Yo. Gue hanya sedikit ragu, loe sendiri tahu bagaimana sifat Akia selama ini. Gadis itu selain tangguh dia juga pintar. Dia pasti sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk membuat siapapun tidak bisa menemukannya."


"Kita berdoa semoga kali ini kita tidak terlambat."


Azriel mengangguk pelan, berusaha tenang dan sabar, namun kegusaran dihatinya semenjak dia berangkat terlihat makin terasa. Bahkan saat ini detak jantungnya ikut bergetar hebat, seakan itu adalah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi.


Pria itu sekuat tenaga menghilangkan prasangka buruk, dan selalu berpikir positif. Dia yakin jika kali ini akan bisa menemukan keberadaan Akia.


***


Sementara itu...

__ADS_1


"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu ?"


........


"Baiklah, terima kasih. Tetap kau pantau dia, berhati hatilah dan jangan sampai ketahuan."


Akia mematikan sambungan telponnya, menyeringai tipis saat kepalanya mengingat sesuatu.


"Nak..."


"Eh Pak Min..ada apa ?"


"Apa kau baik baik saja ?" Tanya pria paruh baya itu, semenjak kepergian Akia dari rumahnya, gadis itu meminta pada dirinya supaya tidak memanggilnya dengan sebutan Nona muda, namun Akia menyuruhnya memanggil dengan sebutan nak. Baginya itu terasa menghangatkan untuk dia dengar.


"Aku baik pak ? Oh iya ada sesuatu yang ingin Kia katakan pada pak Min."


"Katakan saja nak.."


"Kau benar pak, kecurigaanmu terbukti. Pria itu berhasil menyusulku sampai ke kota ini. Beruntung Kia mengikuti saran pak Min dengan meninggalkan jejak palsu. Kita berpura pura sampai tempat itu, setelah aman kita akhirnya bisa kembali melanjutkan perjalanan kita yang sempat tertunda." Ucapnya sembari memandangi sawah yang membentang luas di desa itu.


Saat ini Akia tengah berada di sebuah desa tempat tinggal adik Pak Min. Bukan tempat tinggal Abah Umar yang dari awal mereka rencanakan. Akia terpaksa merubah rencana mereka yang ingin menenangkan dirinya di desa tempat Abah Umar tinggal.


Dengan terburu buru, mereka akhirnya langsung merapikan kembali barang bawaan mereka yang belum sempat mereka tata. Kembali melanjutkan perjalanan dimalam hari supaya tidak ketahuan oleh mata mata Azriel.


Dan sampailah mereka disini, tinggal dirumah sederhana disebelah rumah adik Pak Min. Ya, rumah kecil milik warga disana yang sengaja dijual oleh pemiliknya karena mereka akan pindah kerumah baru.


Pemandangan desa yang begitu menyejukkan hati Akia, setiap hari dia bisa melihat warga pulang dan pergi ke sawah mereka untuk bercocok tanam. Tidak jauh dari tempatnya saat ini ada sebuah pondok pesantren yang tidak begitu besar namun cukup terkenal didaerah tersebut.


Dan ditempat ini pula konon katanya ada sebuah tempat terapi khusus untuk orang yang menderita sakit lumpuh seperti Akia. Bukan tempat pengobatan khusus dari Dokter ataupun yang lainnya, tapi sebuah pengobatan terapi pijat untuk merespon urat urat kaki yang tidak berfungsi. Dan pengobatan disana dilakukan oleh seorang ustazdah yang kebetulan ada di pondok pesantren tersebut.


Sementara itu...


Azriel memandang sebuah rumah didepannya yang nampak terlihat kosong. Dahinya sedikit berkerut saat dia mencocokkan rumah didepannya dengan alamat yang tertera di kertas yang dia pegang. Berkali kali mata tajam nya membandingkan apa yang dilihatnya.


"Mereka tidak salah rumah kan Yo ?" Tanyanya pada Rio.


Rio melangkah mendekat lalu melihat kertas yang berada. ditangan Azriel. Sama halnya seperti Azriel, pria itu berkali kali memandang rumah didepannya dengan kertas yang dipegang.

__ADS_1


"Ini benar Riel, tapi kok sedikit aneh ya."


"Maksud loe ?"


"Lihat, rumah dan alamat yang tertera disini adalah tempat yang sama, tapi rumah didepan kita kenapa terlihat kosong ? Bahkan seperti tidak berpenghuni." Ucapnya heran.


Mereka mendekati rumah yang sudah terlihat tua itu, Rio menyentuh ujung gagang pintu mencoba untuk mengetuk pintu. Matanya menyipit saat pintu itu terbuka dengan sendirinya.


"Riel..pintunya nggak terkunci." Teriaknya pelan.


Azriel menoleh, lalu bergegas menghampiri Rio. Setelah memberi perintah pada anak bukannya untuk berjaga didepan pintu, kakinya melangkah masuk kedalam rumah dengan diikuti Rio dibelakangnya.


"Apa mereka yakin ini tempatnya ya Riel ? Tapi kenapa kosong begini ?"


Azriel memandang sekeliling ruangan, lalu kakinya melangkah kearah benda yang membuatnya tertarik untuk melihatnya.


"Dio tidak salah Yo, mereka memang disini, tapi sepertinya mereka sudah pergi." Ucapnya lirih namun masih terdengar jelas ditelinga Rio.


"Maksud loe ?" Tanyanya heran.


"Kemari dan lihatlah." Perintahnya pelan.


Rio menghampiri Azriel yang saat ini tengah berdiri didepan sebuah meja makan.


"Lihat, ini bahkan masih terlihat baru, itu berarti mereka belum lama pergi dari sini. Mungkin mereka pergi semalam supaya tidak ada yang melihat mereka." Ucapnya sambil menunjuk pada empat buah cangkir berisi minuman.


"Kenapa Akia pergi lagi dari sini Riel ? Bukankah gerakan kita tidak ada yang mencurigakan."


Azriel nampak menghela nafasnya yang terasa kasar.


"Ada dua kemungkinan untuk hal itu Yo. Pertama Akia sudah memprediksi jika gue pasti akan segera bertindak untuk mencari keberadaannya. Dan kedua dia pasti sudah menempatkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi gerak gerik kita. Kita kalah satu langkah darinya Yo. Gue nggak percaya jika dia lebih pintar dalam masalah seperti ini." Ucapnya dengan terkekeh pelan.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang."


"Biarkan saja dulu, kita buat dia merasa senang dulu. Gue yakin dia masih ada didekat sini, kita akan berpura pura mundur, sambil mencari titik lemahnya. Gue yakin saat ini ada yang sedang mengawasi keberadaan kita disini. Feeling gue nggak pernah salah Yo. Kita ikuti maunya, selanjutnya serahkan saja sama gue."


"Tapi Riel..."

__ADS_1


"Tenang Yo, gue ada rencana..."


TBC


__ADS_2