
Beberapa hari berlalu semenjak kepulangan Azriel dari rumah sakit, tapi kecanggungan masih terjadi diantara keduanya. Bukan Akia tapi Azriel yang berusaha untuk menjaga jarak diantara keduanya. Pria itu tidak ingin terlalu dekat dengan gadis yang menurut semua orang adalah istrinya.
Walaupun semua bukti sudah diperlihatkan padanya, termasuk surat surat pernikahan mereka, tapi ternyata tidak cukup untuk membuat hatinya merasa tergerak untuk menerima kenyataan tersebut.
Akia mencoba untuk memahami hal itu walau urung hatinya terasa sakit dan perih. Gadis itu mencoba bersabar dan selalu yakin jika suatu saat suaminya akan kembali mengingat saat saat kebersamaan mereka dulu.
Seperti pagi ini lagi lagi Akia harus menelan pahit sikap Azriel yang selalu dingin padanya. Bahkan pria itu tidak menyapanya sama sekali saat mereka duduk dimeja makan seperti kali ini.
"Assalamualaikum.." Sapa Rio membuyarkan keheningan yang terjadi dimeja makan.
Keduanya menoleh serentak, senyuman manis tercetak dibibir Akia melihat kedatangan Rio.
"Waalaikumussalam, mari sarapan bersama Yo." Ajaknya ramah.
Rio tersenyum lalu menarik bangku disebelah Azriel menghadap kearah Akia. Sementara Azriel mencebik melihat keakraban mereka.
Dia tersenyum sangat manis jika ada Rio, tapi denganku selalu berkata ketus dan dingin. Bathin Azriel.
"Sya, kau terlihat rapi apa ada acara ?" Tanya Rio berbasa basi.
Akia tersenyum namun lalu mengangguk mengiyakan pertanyaan Rio.
"Hari ini Luna melahirkan Yo, jadi aku ingin menjenguknya dirumah sakit."
Rio manggut manggut lalu meneruskan acara makannya.
"Apa perlu diantar Sya ?" Lagi dia berucap menawarkan diri membuat Azriel kembali mendengus.
"Tidak per..."
"Aku akan mengantarnya, lagipula dia punya suami, jadi tidak perlu orang lain yang mengantarnya." Ketus Azriel dengan suara dingin khas miliknya.
"Aku bisa sendiri, tidak perlu diantar." Jawab Akia tidak kalah ketus.
"Aku tidak butuh jawaban, perintahku adalah mutlak." Tegas Azriel sembari menatap tajam wajah istrinya.
Rio tersenyum dengan mata yang terus memperhatikan sepasang suami istri yang terus saja berdebat. Misinya pagi ini berhasil, yaitu membuat Azriel merasa cemburu padanya dengan berpura pura menawarkan tumpangan pada Akia. Rio tahu dilubuk hati Azriel yang paling dalam pria itu mengakui Akia sebagai istrinya, hanya saja dia tidak menyadarinya.
__ADS_1
Suara decitan kursi yang ditarik mengalihkan pandangan keduua oria tersebut. Nampak Akia berdiri dari duduknya dengan wajah yang terlihat masam.
"Aku sudah kenyang." Ucapnya singkat lalu berbalik menuju kamar untuk mengambil tasnya.
Mood gadis itu berubah buruk, pasalnya pria itu selalu saja memaksakan kehendaknya. Dengan kesal Akia berjalan kearah pintu keluar berniat untuk pergi lebih dahulu daripada suaminya. Namun baru saja dia meraih kunci mobil yang ada didalam tasnya, sebuah tangan kokoh menarik tangannya sehingga membuatnya menabrak dada bidang milik seorang pria.
"Aku sudah bilang jika aku yang akan mengantarmu, apa kamu tidak mendengar ucapanku ?" Bisik Azriel ditelinga istrinya yang terdengar begitu dingin, yang mana sebenarnya membuat Akia bergidik takut, namun sekuat tenaga gadis itu menutupi rasa takutnya.
Akia mendengus lalu pasrah saja saat suaminya membawanya masuk kedalam mobil Azriel. Muka cantiknya terlihat masam dan jutek.
Dari dulu dia selalu berbuat seenaknya. Menyebalkan sekali, Ya Allah boleh ga sih kalau aku menjitak kepalanya itu. Sedikit sentilan mungkin tidak akan membuatku menjadi istri durhaka bukan..Hihihi..,Akia terkikik geli membayangkan jika apa yang ada didalam khayalannya itu bisa dia buktikan.
"Kenapa tertawa sendiri ? Apa ada sesuatu yang membuatmu merasa lucu." Ketus Azriel yang sedari tadi terus memperhatikan tingkah istrinya yang tertawa sendirian.
"Ekhem..tidak ada apa apa." Dehemnya lalu kembali memasang wajah datar.
Azriel menggelengkan kepala melihat tingkah absurd istrinya, lalu pandangannya kembali fokus pada jalanan.
Selang duapuluh menit mobil yang dikendarai Azriel telah sampai dirumah sakit milik keluarga Khanza dimana Luna sahabatnya kini sedang melahirkan. Akia melepas safety belt yang melingkar erat dipinggang kecilnya lalu bergerak turun dari mobil. Namun belum sempat kakinya menapak tanah, kepalanya menoleh kearah suaminya.
"Kau tidak ikut turun mas ?" Tanya Akia pada suaminya yang sedari tadi hanya diam saja.
"Nanti saja, aku sedang ada urusan yang penting. Sampaikan salamku pada temanmu itu." Ucapnya lembut.
Akia mengrenyitkan dahinya mendengar nada suara Azriel yang begitu lembut, tidak seperti biasanya yang terlihat dingin dan ketus. Namun gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya, tidak terlalu memperdulikan hal itu.
"Oke..aku turun dulu, assalamualaikum." Ucapanya lalu turun dari mobil setelah sebelumnya mencium telapak tangan suaminya.
Azriel terpaku ditempatnya mendapatkan perlakuan istrinya yang begitu manis, lagi bayangan bayangan itu kembali muncul. Kilasan bayangan seorang gadis yang selalu tersenyum saat melihatnya, perlakuan manis seorang gadis yang setiap hari mencium punggung tangannya seperti yang dilakukan oleh Akia, namun seperti sebelum sebelumnya wajah gadis itu terlihat samar dan buram.
Azriel memegang kepalanya yang terasa sakit, keringat dingin mulai merembes dikeningnya, nafasnya pun nampak tersengal sengal. Perlahan pria itu memejamkan matanya berusaha menetralkan deru nafasnya. Perlahan rasa sakit dikepalanya mulai menghilang. Lalu pria itu secepat kilat melajukan mobilnya menjauh dari pelataran rumah sakit menuju kesuatu tempat. Ada seseorang yang menunggunya saat ini.
***
Seorang pria nampak tersenyum sumringah menyambut kedatangan seseorang yang saat ini keluar dari mobilnya. Nampak raut wajahnya yang ceria namun penuh dengan seringaian yang penuh misteri. Didalam kepalanya begitu banyak terdapat berbagai macam rencana licik yang membahayakan.
"Selamat datang bos, tidak kusangka jika kau benar benar datang. Maaf karena aku tidak sempat menjengukmu waktu dirumah sakit. Kau sendiri tahu jika asistenmu Rio itu selalu mempunyai banyak cara untuk mencegahku menemuimu."
__ADS_1
Azriel mendengus lalu berjalan masuk kedalam ruangan yang nampak begitu sepi. Hanya ada dirinya dan juga Marco ditempat itu. Juga beberapa anak buah pria itu yang berjaga jaga diluar ruangan.
"Kau membuatku kesal Marco, kau bahkan tidak sekalipun menjengukku. Apakah segitu bencinya kau padaku ? Bukankah sudah kukatakan jika bukan aku penyebab kecelakaan yang menimpa Riva, tapi semuanya karena takdir."
"Maaf bos, aku khilaf." Sahutnya pelan.
Azriel menghela nafasnya dalam lalu menatap pada bawahannya itu.
"Sudahlah lupakan saja, sekarang bagaimana dengan transaksi kita yang ada di Paris ? Aku benar benar lupa bahkan aku sendiri masih bingung kenapa aku hiisa ada dinegara ini. Bukankah sebelumnya kita ada di Paris. Aku mencoba bertanya pada Rio, tapi dia seakan enggan untuk menjawab pertanyaanku."
Marco menyeringai tipis, sungguh perkataan Azriel membuatnya senang bukan main. Ini adalah kesempatan langka, saatnya dia melaksanakan rencananya.
"Tentu saja dia tidak akan memberitahumu bos, sebab..."
Kening Azriel berkerut, mencoba menelisik apa yang akan diucapkan oleh bawahannya itu.
"Apa sebabnya ? Jangan coba coba mempermainkan diriku Marco. Kau tahu apa akibatnya jika kau melakukan itu." Desisnya tajam menusuk.
Marco tersenyum lalu meminum segelas wine yang diberikan oleh anak buahnya.
"Tentu saja aku tahu apa akibat dari perkataanku jika aku mengatakan hal yang tidak benar bos. Tapi aku sendiri takut jika kau sendiri yang malah ketakutan jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya."
"Apa maksudmu ? Katakan dengan jelas."
"Bisnis kita yang ada diParis gagal karena pihak kepolisian yang sudah mencium gerak gerik kita bos. Karena itu kita mengalami kerugian yang sangat besar."
"Bagaimana bisa gagal."Teriak Azriel dengan suara yang begitu keras.
"Semua ini karena asistenmu itu ?"
"Maksudmu ? Rio yang melakukan ini ? Kau jangan bicara sembarangan, aku tahu betul bagaimana dia." Sentak Azriel dengan mata yang sudah menggelap.
"Tapi kenyataannya seperti itu bos. Rio yang sudah melaporkan semua transaksi yang sudah Kira rencanakan." Ucap Marco dengan sedikit senyum licik yang tercetak disudut bibirnya. " Dan kau tahu kenapa dia tidak memberitahumu keberadaanmu sekarang ini ? Itu karena dia ingin menyingkirkanmu lalu menguasai Black Dragon sepenuhnya tanpa campur tanganmu lagi bos." Imbuhnya yamg semakin membuat hati Azriel memanas.
Pandangan mata Azriel semakin menggelap, bahkan kedua tangannya nampak terkepal kuat sampai memperlihatkan otot ototnya yang kekar. Pria itu sungguh tidak percaya jila sahabatnya itu menusuknya dari belakang, mengkhianati kepercayaan yang selama ini dia berikan pada Rio.
Sementara itu Marco nampak girang didalam hatinya, pria itu berhasil melakukan rencananya. Menghasut mantan bosnya dengan mudah, dengan begitu dia tidak perlu bersusah payah untuk mengotori tangannya melenyapkan orang orang yang ada disekitar Azriel. Karena dengan sendirinya dia yakin jika mantan bosnya itu akan melakukan apa yang dia rencanakan kali ini.
__ADS_1
TBC