
Mansion Khanza
"Assalamualaikum pah, mah."
Suara lesu milik Dhafa terdengar saat pria itu masuk kedalam ruang keluarga. Nampak disana Tuan Aryan dan Mama Syifa yang sedang bercengkerama seketika menoleh kearahnya. Setelah mencium tangan kedua orang tuanya, Dhafa menjatuhkan pantatnya disofa.
Tuan Aryan nampak mengrenyit melihat putranya yang berwajah lesu. Suami istri itu saling melemparkan pandangan bingung, lalu mama Syifa memberi isyarat pada suaminya untuk menghibur putra sulungnya.
"Kenapa wajahmu terlihat kusut begitu Fa, udah kayak baju nggak disetrika setahun saja." Celetuk Tuan Aryan yang langsung diberi pukulan kecil oleh istrinya.
Tuan Aryan tergelak karena pukulan istrinya yang bahkan tidak terasa apapun dikulitnya.
"Mas hanya geli saja, lihatlah putra kita sayang, sudah seperti orang yang patah hati saja." Ledek Tuan Aryan sambil menatap wajah Dhafa yang benar benar kusut.
Dhafa mendengus kasar, pulang bukannya dimanja oleh kedua orangtuanya, tapi malah diledek habis habisan. Tau begini tadi dia akan pulang keapartemennya saja.
"Dimana bocil kesayangan Fa ma." Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Mama Syifa menunjuk kearah seorang pemuda tampan yang tengah bermain asik dengan seorang bayi berusia 2 bulan. Arfan, pemuda itu nampak sekali terlihat bahagia menggoda adik kecilnya.
Ya, istri Tuan Aryan itu sudah dua bulan yang lalu melahirkan seorang bayi laki laki yang diberi nama Arsyif Maulana Khanza.
"Mama ambil minum dulu ya." Ujar Maama Syifa lalu berdiri dari duduknya dan menuju dapur.
"Kenapa kamu memecatnya Fa." Tanya Tuan Aryan penuh selidik. " Bukankah kinerja Akila sangat bagus ?"
Dhafa menatap papanya dengan pandangan penuh arti, lalu menghembuskan nafasnya kasar. Papanya ini selalu mengetahui hal sekecil apapun, padahal dia saja belum sempat memberitahunya.
"Dhafa tidak memecatnya pa."
"Lalu ?"
"Dia mengundurkan diri." Jawabnya lesu.
Kening Tuan Aryan berkerut. " Harusnya kamu bisa mencegahnya bukan."
"Dhafa sudah berusaha pa, tapi dia tetap pergi walaupun aku sudah berusaha setengah mati melarangnya. Bahkan Dhafa tidak menandatangani surat pengunduran dirinya."
Tuan Aryan menghela nafas panjang. "Bagaimana dia tidak pergi, jika kamu bukannya mencegah kepergiannya, tapi malah menghinanya. Semua orang jika mendapat penghinaan seperti yang kamu ucapkan juga nggak bakalan ada yang bisa menerimanya. Apalagi jika hinaan itu diucapkan oleh orang yang dicintainya. Tanpa papa harus memberitahumu, kamu pasti sudah tahu apa maksud ucapan papa Dhafa." Ucap Tuan Aryan panjang lebar dengan suara tegasnya.
__ADS_1
Dhafa tersentak, bagaimana papanya bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa wajahmu terlihat kaget begitu, kamu pikir papa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hah."
Dhafa tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Orang orang mengenalmu sebagai Dhafa si macan putih, dan kamu pun ditakuti oleh musuh musuhmu. Hanya mendengar namamu saja sudah membuat tubuh mereka panas dingin. Hanya saja papa tidak menyangka manusia kejam seperti dirimu ternyata orang yang payah dalam urusan cinta." Ejek Tuan Aryan pada putranya, yang langsung membuat siempunya yang diejek melotot sempurna.
"Kamu berani melotot pada papamu ?" Hardik Tuan Aryan dengan sorot mata menatap tajam putranya.
Dhafa cengengesan. "Nggak pa, mana berani Dhafa."
Tuan Aryan menggelengkan kepalanya akan tingkah Dhafa yang memang payah jika sudah dalam urusan wanita. Bahkan seumur hidupnya pria itu tidak pernah menjalin hubungan percintaan dengan lawan jenis. Jangankan berpacaran, disentuh oleh wanita saja putranya itu sudah panas dingin keringetan.
Hanya ada 3 wanita selain Luna dan Arumi yang bisa menyentuhnya. Mereka adalah Mama Syifa, Akia dan Akila. Selain mereka, Dhafa akan memberikan reaksi yang sangat luar biasa, bahkan pernah suatu hari Dhafa hampir menghukum seorang wanita yang tidak sengaja menyentuhnya, beruntung ada Akia disampingnya, jika tidak sudah pasti wanita tersebut akan terkena imbasnya.
"Jangan terlalu menyakitinya Fa, kamu akan menyesal nanti jika dia pergi darimu. Mungkin sekarang nampak biasa saja tapi jika kamu terus saja bertahan dengan egomu itu, papa tidak akan bisa membantumu jika suatu saat dia benar benar pergi darimu.
Belajarlah dari kesalahan papa, jika memang kamu mencintainya, jangan membuang buang waktu lagi. Segera bawa kemari calon menantu papa.
Pikirkan matang matang apa yang papa katakan Dhafa. Kamu sudah bukan anak kecil yang harus papa bimbing tiap kamu melakukan kesalahan. Usiamu bahkan hampir mencapai 30 tahun, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
"Usiaku baru 28 tahun pa." Ucap Dhafa tidak terima.
"Lagi suntuk ya bang."
Suara celetukan Arfan membuat Dhafa menoleh kesamping dimana pemuda itu duduk disofa sebelahnya.
Dhafa mengacak rambut Arfan dengan gemas.
"Bagaimana sekolahmu, abang dengar kamu dapet beasiswa prestasi ya." Bukannya menjawab, Dhafa malah melemparkan pertanyaan pada Arfan.
Arfan menyengir kuda lalu menggaruk pelipisnya.
"Kok abang bisa tahu sih."
Dhafa terkekeh geli, adiknya itu memang tampan tapi sayang sifatnya begitu polos.
"Apa kamu lupa siapa abangmu ini ? Hal sekecil apapun bisa abang lakukan dalam sekejap mata." Jawabnya dengan nada sombong.
__ADS_1
Arfan memutar bola matanya jengah, namun sekian detik wajahnya berubah serius.
"Abang, ada yang mau Arfan bicarakan."
"Katakan saja, akan abang dengarkan."
"Pihak sekolah waktu itu mengajukan pertukaran siswa antar negara dan Arfan termasuk salah satu dari siswa tersebut."
"Kemana ?"
"Korea bang." Jawabnya dengan suara lirih, ada nada keraguan tapi sarat akan keinginan yang begitu kuat ditiap kata katanya.
Dhafa sontak menoleh, lalu tersenyum lebar.
"Apa yang membuatmu ragu ?" Tanya Dhafa mencoba menebak.
Arfan menghela nafasnya pelan.
"Arfan tidak bisa meninggalkan kakak Bang, dan juga papa dan mama. Apalagi sekarang mama ada adik Arsyif yang pastinya akan membuat mama semakin kerepotan bukan."
Dhafa tersenyum lalu menepuk pundak Arfan.
"Kalau memang kamu ingin kesana, Abang akan bicara sama papa. Abang yakin papa pasti akan mendukungmu sama seperti abang yang akan mendukung setiap keputusanmu asalkan itu demi kebaikan dirimu Arfan."
"Tapi bang mama..."
"Jangan khawatirkan mama, ada Akia dan juga abang yang akan selalu menjaga orangtua kita. Tapi pendidikanmu sangat penting Arfan, selagi ada kesempatan emas kenapa kamu malah ragu untuk melangkah." Ucap Dhafa panjang lebar.
Arfan mengangguk setelah agak lama pemuda itu berpikir.
"Dengar abang sangat bangga padamu, dan abang yakin suatu saat kamu akan menjadi orang yang sukses. Jaga diri disana dan hindari pergaulan bebas. Abang tahu bagaimana kehidupan disana Dek."
"Makasih bang."
"Oke, kalau begitu abang mau kekamar dulu, badan abang terasa lengket semua. Jangan lupa jagain si bocil kesayangan abang ya." Ujarnya lalu melangkah menuju kamar.
Arfan menatap punggung Dhafa yang semakin jauh dan pada akhirnya menghilang dibalik tangga. Dia sungguh merasa bersyukur bisa menjalani kehidupan ditengah tengah keluarga yang begitu menyayanginya. Walaupun bukan saudara kandung, tapi ikatan mereka melebihi saudara kandung. Terlebih perlakuan papa Aryan yang tidak pernah membeda bedakan mereka.
Kehangatan dikeluarga ini membuat Arfan rindu akan hangatnya sosok mendiang sang kakek tercinta. Tanpa sadar airmata menetes mengalir dikedua pipinya.
__ADS_1
Kakek, Arfan sangat rindu sama kakek.
TBC