Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Terpengaruh hasutan


__ADS_3

Marco menatap puas wajah didepannya yang saat ini sedang menahan amarah karena hasutan yang dilontarkan olehnya terhadap Rio. Dia begitu senang dan menganggap jika ini adalah awal kemenangan untuknya, tanpa dia menyadari jika seseorang sudah mengawasi gerak geriknya saat ini.


"Jika yang kau katakan itu benar maka aku sendiri yang akan menghabisinya saat ini juga Marco. Walaupun Rio adalah sahabat yang paling berarti bagiku, tapi pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Dan Aku tudak pernah bisa mentolerir sebuah pengkhianatan." Ucap Azriel dengan sorot mata dinginnya.


"Ya, pengkhianat tetap saja pengkhianat bos, dan kita harus membasmi seorang pengkhianat. Tapi bagaimana jika ternyata istrimu juga berkhianat padamu bos ? Apa kau juga akan menghabisinya ?" Hasutnya lagi dengan seringaian lebar dibibirnya.


"Apa maksud perkataanmu ?" Kening Azriel semakin berkerut menatap pada Marco.


Pria itu tertawa, sungguh dia begitu senang menyadari jika bosnya sungguh teramat bodoh. Percaya begitu saja dengan apa yang dia katakan.


"Apa kau tidak menyadarinya bos ? Jika Rio dan istrimu ternyata mempunyai sebuah hubungan dibelakangmu. Sungguh kau itu pria yang sangat bodoh bos."


"Berani kau mengataiku bodoh ! Kau cari mati ya." Sentak Azriel yang langsung mencengkeram kerah baju Marco, tatapannya saat ini sangat tidak bersahabat.


"Eeittss..tenang bos. Aku akan menjelaskannya padamu." Kilah Marco sembari melepaskan tangan Azriel yang mencengkeram kuat lehernya sehingga membuatnya terasa sesak.


Pria itu mendengus lalu melepas kasar tangannya yang sedari tadi mencengkeram leher Marco.


"Cepat katakan kalau tidak kau yang akan menerima akibatnya."


"Jangan tersinggung bos, maksudku begini. Apa kau tidak sadar jika selama ini Rio selalu datang kerumahmu bahkan hampir setiap hari. Dengan berbagai alasan yang sebenarnya tidak masuk akal. Yang masalah pekerjaanlah, atau melihat keadaanmu atau sebagainya. Bahkan dia juga sering mengantar istrimu itu untuk bepergian. Apa kau tidak menangkap gelagat yang aneh dari keakraban mereka berdua bos."


Azriel terdiam mencerna setiap kata yang diucapkan pria itu. Dalam hatinya dia sedikit membenarkan perkataan Marco, mengingat dia sendiri yang sering melihat bagaimana akrabnya Akia pada Rio, seperti tadi pagi saat dimeja makan. Akia begitu akrab dengan asisten sekaligus sahabatnya itu. Gadis itu selalu menunjukkan sikap ramah dan ceria pada Rio, berbeda halnya jika saat bersama dengannya Akia selalu bersikap dingin dan ketus.


Melihat Azriel yang hanya terdiam semakin membuat Marco lebih gencar untuk menghasut pikiran Azriel lebih dalam.


"Bahkan beberapa hari yang lalu salah satu anak buahku tidak sengaja melihat kebersamaan antara Rio dengan istrimu disalah satu pusat perbelanjaan. Mereka nampak begitu mesra dan akrab, selayaknya pasangan pada umumnya. Jika kau tidak percaya kau boleh melihat video ini bos, kebetulan anak buahku merekam saat pertemuan mereka." Ucapnya lagi sembari memutar sebuah video dimana disana terlihat Akia dan Rio yang nampak ngobrol dengan akrabnya.


Wajah tampan itu semakin menggelap dengan rahang yang semakin mengeras, bahkan bunyi gemeletuk giginya terdengar begitu keras, pertanda jika saat ini dia benar benar begitu murka.

__ADS_1


"Aku benar benar akan menghabisinya dengan tanganku sendiri jika yang kau katakan itu adalah benar."


"Aku bisa menjaminnya dengan nyawaku bos."


"Baiklah aku pegang kata katamu Marco, besok aku akan menyelidikinya." Ucapnya dengan helaan nafas kasar keluar dari hidungnya yang mancung.


Brakk !


"Tidak perlu menunggu sampai esok hari Riel, kau bisa melakukannya sekarang juga."


Suara pintu yang didobrak bersamaan dengan suara khas milik Rio terdengar membahana diruangan itu, membuat keduanya serentak menoleh kearah sumber suara. Betapa terkejutnya mereka berdua, terutama Marco. Bagaimana bisa sosok didepannya ini bisa mengetahui pertemuannya dengan Azriel yang sudah susah payah dia rahasiakan.


Bola mata pria itu memutar mencari keberadaan para anak buahnya yang tidak nampak didepannya.


"Kau mencari anak buahmu Marco, percuma, mereka semua sudah tidak sadarkan diri." Ucapnya dengan nada sinis. "Aku sudah bilang bukan jangan coba coba berbuat nekad, atau aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghabisimu. Mungkin kau bisa memafaatkan kondisi Azriel yang sekarang ini, tapi jangan lupa jika disisinya masih ada aku yang tidak akan pernah bisa terpengaruh oleh hasutan mulut berbisamu itu."


Marco terkekeh penuh arti, lalu memandang penuh ejek kearah Rio.


Rio menatap tajam wajah tampan didepanya yang hanya diam membisu dengan wajah yang memerah. Dia sudah menduga jika Marco sudah mencuci otak dan pikiran Azriel.


"Riel.."


"Apa benar yang dikatakan Marco Yo." Tanyanya dengan nada dingin tidak bersahabat.


Rio menghela nafas dalam sembaru memijit pelipisnya. Mendadak kepalanya terasa pusing.


"Tanyakan pada hatimu maka kau akan tahu jawabannya Riel. Aku tidak punya kuasa untuk menjawab pertanyaanmu itu."


Azriel menggeram lalu beranjak berdiri dengan rahang yang mengeras.

__ADS_1


"Aku tidak perlu mencari jawabannya Yo. karena aku sudah tahu jawabannya. Tidak kusangka jika selama kau menikamku dari belakang. Kau sudah seperti saudara bagiku, bahkan aku rela memberikan nyawaku untukmu. Tapi kenapa kau masih tetap saja mengkhianatiku."


Rio mendengus dengan tetap memasang wajah tenang. Diliriknya wajah Marco yang tersenyum penuh kemenangan. Perlahan pria itu berjalan mendekat kearah Azriel.


"Jangan karena amnesia membuat mata hatimu menjadi buta Riel. Seharusnya kau bisa membedakan antara siapa yang kau sebut pengkhianat dan siapa pengkhianat yang sebenarnya."


"Jangan menutar mutar kata Yo, akui saja jika yang dikatakan Marco adalah benar. Padahal aku berharap jika yang dikatakan olehnya adalah kebohongan."


"Jika kau sudah beranggapan seperti itu lalu untuk apa kau bertanya lagi oadaku Riel ?" Sarkasnya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Baiklah jika itu sudah menjadi pilihanmu Yo, dan ini juga pilihanku." Ucapnya lalu dengan tiba tiba dia menarik sebuah senjata yang dia sembunyikan dibelakang tubuhnya.


Walau kaget Rio tetap berusaha tenang saat moncong senjata api itu mengarah tepat dikepalanya. Kedua matanya tetap mengarah tajam oada Azriel.


"Bagiku pengkhianat tetaplah pengkhianat, walaupun kau adalah orang yang sangat berharga dihidupku, tapi aku tetap akan menghukummu Yo. Maafkan aku."


Azriel memejamkan mata sejenak berusaha menetralkan perasaan hatinya yang berkecamuk. Antara sakit, sedih dan kecewa bercampur jadi satu. Sementara dibelakang Marco semakin menyeringai penuh kemenangan. Dia tidak sabar untuk melihat pertunjukan gratis yaang akan terjadi sebentar lagi didepan matanya.


Ini baru awal El, aku tidak sabar untuk melihat bagaimana kau menghabisi seluruh keluargamu satu persatu. Dan melihat bagaimana hancurnya dirimu saat kehilangan mereka, dan tepat disaat itu aku akan demgan mudah menghabisimu. Hahahah


Rio nampak terdiam dengan helaan nafas yang terdengar begitu keras. Dia pasrah jika saat ini nyawanya harus melayang ditangan sahabatnya karena hasutan pria iblis yang berdiri dibelakang Azriel.


Klek


Bunyi senjata yang sudah siap untuk menembus kepalanya, Azriel melayangkan pistolnya dan siap untuk menarik pelatuknya sampai sebongkah kayu tiba tiba melayang mengenai tangannya sehingga membuat pistol tersebut mental jatuh ketanah. Azriel terkejut setengah mati, satu detik lagi psitol itu akan tepat mengenai kepala Rio, namun semua gagal karena datangnya seseorang disana. Pria itu mengedarkan pandangannya ketiap penjuru dengan mata yang memerah. Begitupun Marco, pria itu merasa geram karena rencananya kali ini untuk membuat Rio tewas gagal.


Sebuah tangan meraih pistol yang jatuh tepat dibawah kakinya. Menempelkannya dibibirnya lalu meniupnya pelan. Bibirnya sedikit terangkat saat mendapati wajahnya Azriel yang memerah menahan amarah.


"Sebelum kau membunuhnya, maka aku yang akan lebih dulu membunuhmu." Ucapanya lalu dengan gerakan kilat mengarahkan senjata api itu tepat kearah Azriel dan menarik pelatuknya.

__ADS_1


Dor


TBC


__ADS_2